alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Masjid Ikonik

TEPAT di ujung utara double way Jalan Yos Sudarso. Menolehlah ke kiri. Sebuah menara menjulang tinggi. Setia menyambut pandangan mata siapa pun. Yang sedang lewat di Jalan Raya Ketapang–Banyuwangi dan sebaliknya.

Menara itu tampak anggun. Dengan kubah besar di samping baratnya—tepat di ubun-ubun masjid. Sementara kubah kecil di bagian depan selatan menjadi penyeimbang menara. Juga tak kalah indah.

Itulah Masjid Al-Ma’ruf. Seperti tertulis di pagar depan masjid. Juga di mimbar area mihrab. Dengan tulisan menggunakan huruf hijaiah. Tepatnya, kaligrafi khat Kufi Murabba. Jenis khat itu paling banyak digunakan. Terutama di masjid-masjid baru berarsitektur modern. Tampak padu dengan ornamen yang menghiasi bagian-bagian tertentu dari masjidnya. Ornamennya hanya paduan kubus dan kotak persegi panjang. Namun, dengan tata simulasi yang tepat, menjelma jadi ornamen eksentrik. Khas masjid-masjid modern. Khususnya di Timur Tengah. Yang kemudian mulai banyak ditemukan di masjid-masjid di Indonesia.

Masjid Al-Ma’ruf tidak besar juga tidak kecil. Cukupan. Sedengan. Total area masjid hanya 787,51 meter persegi. Keterbatasan lahan itu membuat arsiteknya harus memutar otak. Bagaimana bisa mendirikan masjid di lahan terbatas, tapi harus tampak indah dan artistik.

Tantangan itu diberikan langsung oleh H Haris Yudi Helmi. Kepada tim di perusahaannya. Yang bergerak di bidang konstruksi. Mereka pulalah yang mengerjakan tahapan demi tahapan pembangunan masjidnya. Dengan memperhatikan detail demi detailnya bangunannya.

Hasilnya cukup luar biasa. Berdirilah masjid dua lantai. Luas bangunan lantai satu 357,64 meter persegi. Lantai dua 322,12 meter persegi. Dengan menjaga jarak (sesuai prokes), lantai satu menampung 180 jamaah. Sedangkan lantai dua sebanyak 120 jamaah. Lorong kanan dan kiri 30 orang. Sementara halaman masjid 120 jamaah. Total 450 orang. Atau separo dari kapasitas dalam kondisi normal. Yakni, 900 jamaah.

Masjid yang pembangunannya diinisiasi keluarga besar H Yudi itu kini dalam masa uji coba. Sebelum diresmikan dalam waktu dekat. Dan, Jumat pekan kemarin tercatat sebagai Jumatan pertama di Masjid Al-Ma’ruf. Sukses. jamaahnya meluber sampai lorong dan halaman masjid.

Beruntung saya bisa salat Jumat perdana di Masjid Al-Ma’ruf.  Bisa merasakan langsung keindahan dan kenyamanannya. Meski kalah cepat datang dari jamaah yang lain. Ketika saya datang, ruang dalam masjid sudah penuh. Akhirnya, saya salat di lorong sebelah kanan. Tidak panas. Padahal, matahari sedang terik-teriknya. Angin semilir dari depan masjid merambat pelan. Membelai jamaah di depan dan belakang saya. Juga samping kanan saya.

Meski duduk di lorong, saya bisa mendengar dengan baik materi khotbah Jumat. Yang disampaikan oleh Ketua MUI Banyuwangi KH Moh. Yamin. Sesekali suara Kiai Yamin naik dan turun. Juga suara imam salat Jumat. Beberapa kali terdengar suara beb… beb… beb…. Padahal, suaranya sangat merdu. Dan, lagu bacaannya seperti salah satu Imam Besar Masjidilharam. Siapa ya. Saya lupa namanya. Pokoknya, diantara Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz As-Sudais, Syekh Bandar bin Abdul Aziz Balilah, atau Syekh Abdullah bin Awwad Al-Juhany. Pokoknya, antara tiga nama itu. Atau, malah semua. Saat ini, ada tujuh imam Masjidilharam bersuara merdu. Yang menjadi kiblat para imam masjid di tanah air.

Karena penasaran terhadap suasana dalam masjid, begitu bubaran Jumatan saya langsung masuk ke dalam. Mak nyes. Ternyata benar-benar dingin. Akhirnya saya bisa menikmati dinginnya empat standing AC. Yang menyemburkan hawa dingin dari empat sudut ruangan utama masjid. Masing-masing berdiri di pojok ruangan. Dua di depan kanan-kiri. Dua lagi di belakang. Juga kanan dan kiri.

Cukup lama saya berdiam di situ. Sambil mengamati suasana yang ada dan terasa. Pandangan pertama tertuju pada dinding dan lantai. Semua dari lembaran marmer ukuran jumbo. Sekitar 2 x 4 meter ukurannya. Warnanya putih tulang dengan motif samar hitam di beberapa bagiannya. Penggunaan dinding dan lantai dari marmer sangat tepat. sebab, marmer menyerap panas. Sekaligus memancarkan hangat ketika udara di sekitarnya dingin.

Bagi yang pernah berhaji dan umrah, tentu merasakan ”keajaiban” lantai sekitar Kakbah. Tempat jamaah tawaf dan salat. Marmer yang konon didatangkan dari gunung marmer di Italia itu terasa dingin ketika ditimpa terik matahari. Sebaliknya, berubah hangat saat malam tiba dan atau saat musim dingin. Makanya, belum ada ceritanya jamaah kakinya kepanasan saat tawaf dengan berjalan dan lari kecil mengelilingi Kakbah—sekalipun pada pukul 12 siang.

Alhamdulillah, saya beberapa kali Jumatan di Masjidilharam dan mendapat shaf sekitar Kakbah. Alias di lintasan tawaf. Meski tanpa alas sajadah, pantat dan kaki tidak merasakan panas sama sekali. Padahal, matahari bersinar begitu cemerlangnya di atas saya dan seluruh jamaah.

Kembali ke dinding Masjid Al-Ma’ruf. Pencahayaan masjid unik itu sangat bagus. Cahaya dari luar langsung masuk ke dalam. Menembus dinding kaca tebal berwarna bening. Yang mengelilingi dinding kanan dan kiri serta depan. Kaca setinggi sekitar empat meter itu dibingkai kusen dari stainless steel. Pilihan yang tepat. kusen stainless punya kelebihan dibanding kayu. Selain tidak akan pernah lapuk, juga tidak perlu mengecatnya. Bonusnya, gampang membersihkannya.

Ukuran ruang mihrab begitu luas. Tingginya sekitar 10 meter. Lebar dan kedalaman (dinding depan mihrab) sekitar empat meteran. Sangat lega. Meski ada mimbarnya.

Lantai dua tidak kalah nyaman dan mewah. Pagar pembatasnya kaca tebal. Juga dilengkapi AC berdiri. Dinding kaca lantai dua makin menambah terang seisi ruangan. Bahkan, cahayanya meluber sampai ke lantai satu.

Di luar Jumatan, lantai dua dikhususkan untuk jamaah perempuan. Ada tangga khusus bagi jamaah perempuan. Berada tepat di atas tempat wudu pria dan wanita. Tangga itu berada di ujung. Dekat pintu gerbang. Sehingga jamaah perempuan tidak salipan dengan jamaah pria.

Lantai dua juga disiapkan bagi jamaah dari kalangan difabel. Lho, kok bisa? Bagaimana cara mereka naiknya ya? Kursi roda kan tidak bisa menaiki anak tangga. Jangan khawatir. Masjid Al-Ma’ruf sangat memuliakan kaum difabel. Mereka diberi fasilitas khusus. Bisa naik ke lantai dua menggunakan lift. Saya sempat mencoba lift itu. Berkapasitas empat orang normal. Atau satu kursi roda dengan pendorongnya. Saya naik sampai ke lantai terakhir: lantai tiga. Ternyata lift dalam menara itu tembus ke atap. Dekat kubah besar. Saya langsung teringat saat di Masjid Nabawi. Bakda Salat Subuh, saya langsung naik ke lantai teratas. Menunggu kubahnya bergeser.

Masjid Al-Ma’ruf tampaknya sangat memuliakan jamaahnya. Masjid itu bukan hanya menyediakan dua ruang VIP yang full AC—letaknya persis di balik mihrab. Kamar kecil dan tempat wudunya sekelas masjid hotel berbintang. Sangat bersih dan diatur sedemikian rupa. Membuat jamaah merasa senyaman mungkin.

Di masjid itu juga tersedia 50 loker untuk jamaah menitipkan sandal. Setelahnya jamaah bisa langsung wudu di tempat wudu persis di balik pagar masjid. Ada tujuh keran air di situ. Sebelum wudu, jamaah juga bisa buang air (kecil dan besar) di kamar kecil di sebelah selatannya. Tersedia dua kamar kecil bersebelahan. Masing-masing dilengkapi WC jongkok. WC-nya persis yang ada di Masjidilharam di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Tinggal pilih. Bagi jamaah yang ingin lebih nyaman, bisa buang air di kamar kecil kedua: letaknya dekat teras masjid. Di situ juga ada dua kamar kecil dengan WC duduk. Selain itu, juga ada tempat kencing berdiri. Empat buah. Dan keran untuk wudu sebanyak sembilan buah.

Yang saya jelaskan itu fasilitas untuk jamaah laki-laki. Untuk jamaah peremuan, maaf, saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak berani untuk memeriksanya. Takut dikira mau ngapa-ngapa, atau sengaja ”tersesat” oleh jamaah perempuan. Hahaha…. Pastinya, kondisi tempat wudu dan kamar kecil jamaah perempuan sama bersihnya dengan tempat wudu jamaah pria. Atau, bahkan malah lebih bersih.

Sebab, soal kebersihan menjadi perhatian utama para takmir masjid Al-Ma’ruf. Seperti dikatakan H Yudi, ”soal kebersihan harus menjadi nomor satu di masjid ini. Kita harus berusaha agar Masjid Al-Ma’ruf tetap bersih, demi memberi pelayanan yang terbaik bagi jamaah,” katanya, saat ngobrol dengan saya usai salat Jumat, di ruang VIP 2.

Wa ba’du. Sesuai nama masjidnya: Al-Ma’ruf, keluarga besar H Yudi tampaknya ingin berbagi kebaikan kepada seluruh jamaah masjidnya. Terutama bagi para musafir. Setelah menempuh perjalanan jauh, musafir dari kalangan wisatawan bisa rehat sejenak di Masjid Al-Ma’ruf. Kondisi kamar kecil dan tempat wudu yang bersih dan nyaman, akan menghilangkan penat mereka. Ketika salat pun mereka bisa merasakan sejuknya AC masjid. Dan, bisa memantau waktu lewat empat layar monitor TV 32 inci di lantai satu dan dua.

Lebih penting lagi, mereka bisa salat dengan khusyuk tanpa memikirkan nasib sandalnya. Ada dua tempat penitipan berupa loker lengkap dengan kuncinya. Satu di dekat pintu masuk. Yang kedua di selasar masjid sebelah selatan. Jumlah lokernya 18. Bagi yang handphone-nya kehabisan daya, bisa men-charge-nya di loker khusus. Persis di sebelah loker sepatu/sandal. Ada sembilan lemari kecil lengkap dengan kabel charger untuk beberapa tipe dan merek HP.

Dengan desain arsitekturnya dan fasilitas yang wah, Masjid Al-Ma’ruf sangat layak menjadi ikon wisata religi baru di Banyuwangi. Para wisatawan akan komen: ”belum sempurna kunjungan ke kota the Sunrise of Java, sebelum mampir ke Masjid Al-Ma’ruf”. Dengan begitu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemkab Banyuwangi akan segera memasukkannya ke dalam daftar destinasi wisata Bumi Blambangan.

TEPAT di ujung utara double way Jalan Yos Sudarso. Menolehlah ke kiri. Sebuah menara menjulang tinggi. Setia menyambut pandangan mata siapa pun. Yang sedang lewat di Jalan Raya Ketapang–Banyuwangi dan sebaliknya.

Menara itu tampak anggun. Dengan kubah besar di samping baratnya—tepat di ubun-ubun masjid. Sementara kubah kecil di bagian depan selatan menjadi penyeimbang menara. Juga tak kalah indah.

Itulah Masjid Al-Ma’ruf. Seperti tertulis di pagar depan masjid. Juga di mimbar area mihrab. Dengan tulisan menggunakan huruf hijaiah. Tepatnya, kaligrafi khat Kufi Murabba. Jenis khat itu paling banyak digunakan. Terutama di masjid-masjid baru berarsitektur modern. Tampak padu dengan ornamen yang menghiasi bagian-bagian tertentu dari masjidnya. Ornamennya hanya paduan kubus dan kotak persegi panjang. Namun, dengan tata simulasi yang tepat, menjelma jadi ornamen eksentrik. Khas masjid-masjid modern. Khususnya di Timur Tengah. Yang kemudian mulai banyak ditemukan di masjid-masjid di Indonesia.

Masjid Al-Ma’ruf tidak besar juga tidak kecil. Cukupan. Sedengan. Total area masjid hanya 787,51 meter persegi. Keterbatasan lahan itu membuat arsiteknya harus memutar otak. Bagaimana bisa mendirikan masjid di lahan terbatas, tapi harus tampak indah dan artistik.

Tantangan itu diberikan langsung oleh H Haris Yudi Helmi. Kepada tim di perusahaannya. Yang bergerak di bidang konstruksi. Mereka pulalah yang mengerjakan tahapan demi tahapan pembangunan masjidnya. Dengan memperhatikan detail demi detailnya bangunannya.

Hasilnya cukup luar biasa. Berdirilah masjid dua lantai. Luas bangunan lantai satu 357,64 meter persegi. Lantai dua 322,12 meter persegi. Dengan menjaga jarak (sesuai prokes), lantai satu menampung 180 jamaah. Sedangkan lantai dua sebanyak 120 jamaah. Lorong kanan dan kiri 30 orang. Sementara halaman masjid 120 jamaah. Total 450 orang. Atau separo dari kapasitas dalam kondisi normal. Yakni, 900 jamaah.

Masjid yang pembangunannya diinisiasi keluarga besar H Yudi itu kini dalam masa uji coba. Sebelum diresmikan dalam waktu dekat. Dan, Jumat pekan kemarin tercatat sebagai Jumatan pertama di Masjid Al-Ma’ruf. Sukses. jamaahnya meluber sampai lorong dan halaman masjid.

Beruntung saya bisa salat Jumat perdana di Masjid Al-Ma’ruf.  Bisa merasakan langsung keindahan dan kenyamanannya. Meski kalah cepat datang dari jamaah yang lain. Ketika saya datang, ruang dalam masjid sudah penuh. Akhirnya, saya salat di lorong sebelah kanan. Tidak panas. Padahal, matahari sedang terik-teriknya. Angin semilir dari depan masjid merambat pelan. Membelai jamaah di depan dan belakang saya. Juga samping kanan saya.

Meski duduk di lorong, saya bisa mendengar dengan baik materi khotbah Jumat. Yang disampaikan oleh Ketua MUI Banyuwangi KH Moh. Yamin. Sesekali suara Kiai Yamin naik dan turun. Juga suara imam salat Jumat. Beberapa kali terdengar suara beb… beb… beb…. Padahal, suaranya sangat merdu. Dan, lagu bacaannya seperti salah satu Imam Besar Masjidilharam. Siapa ya. Saya lupa namanya. Pokoknya, diantara Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz As-Sudais, Syekh Bandar bin Abdul Aziz Balilah, atau Syekh Abdullah bin Awwad Al-Juhany. Pokoknya, antara tiga nama itu. Atau, malah semua. Saat ini, ada tujuh imam Masjidilharam bersuara merdu. Yang menjadi kiblat para imam masjid di tanah air.

Karena penasaran terhadap suasana dalam masjid, begitu bubaran Jumatan saya langsung masuk ke dalam. Mak nyes. Ternyata benar-benar dingin. Akhirnya saya bisa menikmati dinginnya empat standing AC. Yang menyemburkan hawa dingin dari empat sudut ruangan utama masjid. Masing-masing berdiri di pojok ruangan. Dua di depan kanan-kiri. Dua lagi di belakang. Juga kanan dan kiri.

Cukup lama saya berdiam di situ. Sambil mengamati suasana yang ada dan terasa. Pandangan pertama tertuju pada dinding dan lantai. Semua dari lembaran marmer ukuran jumbo. Sekitar 2 x 4 meter ukurannya. Warnanya putih tulang dengan motif samar hitam di beberapa bagiannya. Penggunaan dinding dan lantai dari marmer sangat tepat. sebab, marmer menyerap panas. Sekaligus memancarkan hangat ketika udara di sekitarnya dingin.

Bagi yang pernah berhaji dan umrah, tentu merasakan ”keajaiban” lantai sekitar Kakbah. Tempat jamaah tawaf dan salat. Marmer yang konon didatangkan dari gunung marmer di Italia itu terasa dingin ketika ditimpa terik matahari. Sebaliknya, berubah hangat saat malam tiba dan atau saat musim dingin. Makanya, belum ada ceritanya jamaah kakinya kepanasan saat tawaf dengan berjalan dan lari kecil mengelilingi Kakbah—sekalipun pada pukul 12 siang.

Alhamdulillah, saya beberapa kali Jumatan di Masjidilharam dan mendapat shaf sekitar Kakbah. Alias di lintasan tawaf. Meski tanpa alas sajadah, pantat dan kaki tidak merasakan panas sama sekali. Padahal, matahari bersinar begitu cemerlangnya di atas saya dan seluruh jamaah.

Kembali ke dinding Masjid Al-Ma’ruf. Pencahayaan masjid unik itu sangat bagus. Cahaya dari luar langsung masuk ke dalam. Menembus dinding kaca tebal berwarna bening. Yang mengelilingi dinding kanan dan kiri serta depan. Kaca setinggi sekitar empat meter itu dibingkai kusen dari stainless steel. Pilihan yang tepat. kusen stainless punya kelebihan dibanding kayu. Selain tidak akan pernah lapuk, juga tidak perlu mengecatnya. Bonusnya, gampang membersihkannya.

Ukuran ruang mihrab begitu luas. Tingginya sekitar 10 meter. Lebar dan kedalaman (dinding depan mihrab) sekitar empat meteran. Sangat lega. Meski ada mimbarnya.

Lantai dua tidak kalah nyaman dan mewah. Pagar pembatasnya kaca tebal. Juga dilengkapi AC berdiri. Dinding kaca lantai dua makin menambah terang seisi ruangan. Bahkan, cahayanya meluber sampai ke lantai satu.

Di luar Jumatan, lantai dua dikhususkan untuk jamaah perempuan. Ada tangga khusus bagi jamaah perempuan. Berada tepat di atas tempat wudu pria dan wanita. Tangga itu berada di ujung. Dekat pintu gerbang. Sehingga jamaah perempuan tidak salipan dengan jamaah pria.

Lantai dua juga disiapkan bagi jamaah dari kalangan difabel. Lho, kok bisa? Bagaimana cara mereka naiknya ya? Kursi roda kan tidak bisa menaiki anak tangga. Jangan khawatir. Masjid Al-Ma’ruf sangat memuliakan kaum difabel. Mereka diberi fasilitas khusus. Bisa naik ke lantai dua menggunakan lift. Saya sempat mencoba lift itu. Berkapasitas empat orang normal. Atau satu kursi roda dengan pendorongnya. Saya naik sampai ke lantai terakhir: lantai tiga. Ternyata lift dalam menara itu tembus ke atap. Dekat kubah besar. Saya langsung teringat saat di Masjid Nabawi. Bakda Salat Subuh, saya langsung naik ke lantai teratas. Menunggu kubahnya bergeser.

Masjid Al-Ma’ruf tampaknya sangat memuliakan jamaahnya. Masjid itu bukan hanya menyediakan dua ruang VIP yang full AC—letaknya persis di balik mihrab. Kamar kecil dan tempat wudunya sekelas masjid hotel berbintang. Sangat bersih dan diatur sedemikian rupa. Membuat jamaah merasa senyaman mungkin.

Di masjid itu juga tersedia 50 loker untuk jamaah menitipkan sandal. Setelahnya jamaah bisa langsung wudu di tempat wudu persis di balik pagar masjid. Ada tujuh keran air di situ. Sebelum wudu, jamaah juga bisa buang air (kecil dan besar) di kamar kecil di sebelah selatannya. Tersedia dua kamar kecil bersebelahan. Masing-masing dilengkapi WC jongkok. WC-nya persis yang ada di Masjidilharam di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Tinggal pilih. Bagi jamaah yang ingin lebih nyaman, bisa buang air di kamar kecil kedua: letaknya dekat teras masjid. Di situ juga ada dua kamar kecil dengan WC duduk. Selain itu, juga ada tempat kencing berdiri. Empat buah. Dan keran untuk wudu sebanyak sembilan buah.

Yang saya jelaskan itu fasilitas untuk jamaah laki-laki. Untuk jamaah peremuan, maaf, saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak berani untuk memeriksanya. Takut dikira mau ngapa-ngapa, atau sengaja ”tersesat” oleh jamaah perempuan. Hahaha…. Pastinya, kondisi tempat wudu dan kamar kecil jamaah perempuan sama bersihnya dengan tempat wudu jamaah pria. Atau, bahkan malah lebih bersih.

Sebab, soal kebersihan menjadi perhatian utama para takmir masjid Al-Ma’ruf. Seperti dikatakan H Yudi, ”soal kebersihan harus menjadi nomor satu di masjid ini. Kita harus berusaha agar Masjid Al-Ma’ruf tetap bersih, demi memberi pelayanan yang terbaik bagi jamaah,” katanya, saat ngobrol dengan saya usai salat Jumat, di ruang VIP 2.

Wa ba’du. Sesuai nama masjidnya: Al-Ma’ruf, keluarga besar H Yudi tampaknya ingin berbagi kebaikan kepada seluruh jamaah masjidnya. Terutama bagi para musafir. Setelah menempuh perjalanan jauh, musafir dari kalangan wisatawan bisa rehat sejenak di Masjid Al-Ma’ruf. Kondisi kamar kecil dan tempat wudu yang bersih dan nyaman, akan menghilangkan penat mereka. Ketika salat pun mereka bisa merasakan sejuknya AC masjid. Dan, bisa memantau waktu lewat empat layar monitor TV 32 inci di lantai satu dan dua.

Lebih penting lagi, mereka bisa salat dengan khusyuk tanpa memikirkan nasib sandalnya. Ada dua tempat penitipan berupa loker lengkap dengan kuncinya. Satu di dekat pintu masuk. Yang kedua di selasar masjid sebelah selatan. Jumlah lokernya 18. Bagi yang handphone-nya kehabisan daya, bisa men-charge-nya di loker khusus. Persis di sebelah loker sepatu/sandal. Ada sembilan lemari kecil lengkap dengan kabel charger untuk beberapa tipe dan merek HP.

Dengan desain arsitekturnya dan fasilitas yang wah, Masjid Al-Ma’ruf sangat layak menjadi ikon wisata religi baru di Banyuwangi. Para wisatawan akan komen: ”belum sempurna kunjungan ke kota the Sunrise of Java, sebelum mampir ke Masjid Al-Ma’ruf”. Dengan begitu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemkab Banyuwangi akan segera memasukkannya ke dalam daftar destinasi wisata Bumi Blambangan.

Artikel Terkait

Setelah Pomo Martadi, Kini Armaya

Di Balik Muhibah Kata-Kata

Sebelum Perda Janur Makin Layu

Most Read

Artikel Terbaru

/