alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Tetap Bersemi di Masa Pandemi

BUKAN siapa-siapa. Tidak ada apa-apanya. Dua perasaan itu muncul seketika. Saat saya mengikuti forum-forum seminar. Khususnya, beberapa webinar yang saya hadiri mutakhir ini.

Misal, seminar ”Sastra Arab dan Kontribusinya dalam Upaya Perdamaian di Timur Tengah”. Oleh Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada 10 Juni 2021 lalu. Secara hybrid: luring dan daring.

Narasumbernya dua orang. Hebat semua. Mereka Dr Novriantoni  Kahar (Novri) dan Dr KH Aguk Irawan (Gus Aguk). Dua-duanya alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dua-duanya penulis produktif.

Novri kini mengajar di Universitas Paramadina. Sering mengisi berbagai forum ilmiah. Berbicara tentang pemikiran dan isu-isu keislaman. Ia juga pengamat Timur Tengah. Sedangkan Gus Aguk lebih dikenal sebagai sastrawan. Di Al-Azhar ia belajar akidah-filsafat.

Seminarnya berlangsung tiga jam. Tapi, serasa sebentar. Saya mengikuti paparan dua narasumber dengan khusyuk. Kata demi kata. Kalimat per kalimatnya saya perhatikan. Khususnya, penyampaian Novri. Ia dengan apik menjelaskan perkembangan sastra di Palestina. Novri menampilkan para sastrawan. Sekaligus karya puisi dan novelnya. Dalam bahasa aslinya: Arab.

Saya baru gamblang. Ternyata di Palestina sastrawan terbagi dalam angkatan-angkatan. Seperti di Indonesia. Ada Angkatan Balai Pustaka (1920–1932), Angkatan Pujangga Baru (1933–1942), Angkatan 1945 (1942–1949), Angkatan 1950–1960-an, Angkatan 2000, dst. Masing-masing angkatan punya tokoh dan gaya kepenyairannya.

Sastra di Palestina, kata Novri, terbagi dalam tiga generasi. Yakni, pertama, Generasi Revolusi 1936. Disebut Angkatan Perlawanan (Jailul Muqawamah). Penyairnya, antara lain, Ibrahim Thuqan (1905–1941), Abdul Rahim Mahmud (1913–1948), dan Abdul Karim Al-Karmi atau Abu Salma (1090–1980). 

Bentuk puisi angkatan pertama itu tradisional Arab. Ciri-cirinya setia pada wazn dan qafiyah (patuh pada rima dan irama). Dan, tidak mungkin terjadi pembaharuan (la yumkin al-tajdid). Tugas penyairnya melakukan khitabiyah. Untuk propaganda.

Generasi kedua dikenal sebagai Generasi Romantis (Jailul Ya’zi wal Hazimah). Tahun angkatannya 1948–1956. Penyairnya, antara lain, Yusuf Khatib (1931–2011), Fadwa Tuqan (1917–2003), Salma Al-Khadra Jayyusi (1928–…), dan Harun Hasyim Rasyid (1927–2020). Bentuk puisi generasi itu juga masih tradisional. Tapi, juga ada yang mulai keluar dari bentuk tradisional. Isinya, kebanyakan tentang ratapan, bernada murung, dan tanpa harapan.

Baca Juga :  Keluarga Sebagai Benteng Utama Pencegahan Korupsi

Generasi ketiga yakni Generasi Pujangga Baru Pasca Naskah. Para penyairnya, antara lain, Jabra Ibrahim Jabra (1919–1994), Taufik Zayyad (1929–1994), Samih Al-Qasim (1939–2014), Mahmud Darwish (1941–2008). Sesuai namanya, bentuk puisi generasi itu mulai meninggalkan pola tradisional. Penggunaan simbol dan tradisional lebih banyak. Adapun isinya masih seputar penyesalan atas kenyataan. Tapi tidak lagi ratapan melulu. Sedangkan temanya lebih beragam.

Ratapan. Kemurungan. Keputusasaan. Dan Propaganda. Wajar jika empat tema itu memenuhi puisi dan novel sastrawan Palestina. Kita semua tahu. Bumi Palestina sampai detik ini diliputi perang. Bangsanya tak lelah berjuang mendapatkan kembali negaranya.

Kondisi penindasan dan kecamuk perang adalah kawah candradimuka. Rahim kelahiran karya sastra hebat. Seperti halnya sastra Indonesia di zaman perjuangan dan awal-awal kemerdekaan RI. ”Karya sastra hebat selalu lahir dari ruang gelap,” kata saya ketika diberi kesempatan berbicara oleh moderator.

”Saya sepakat dengan Pak Samsudin, penyair dari Banyuwangi,” kata Novri. Ia lalu menjelaskan, kondisi Palestina dan kenyataan pahit yang dialami para sastrawan palestina. Bahkan, kebanyakan sastrawan di jazirah Arab. Yang negaranya terus mengalami kecamuk perang. Dalam tekanan hebat dan pengalaman pahit akibat perang, penyair dan novelis Palestina melahirkan karya-karya kuat dan hebat. Sangat menyentuh hati. Dan, mengaduk-aduk perasaan. ”Membacanya seakan ikut merasakan. Apa yang sedang mereka rasakan,” kata Novri sambil menutupnya dengan puisi Mahmud Darwish (lihat foto dan teksnya).

Seperti Pak Novri, Gus Aguk mempertegas pernyataan saya. ”Benar sekali apa yang dikatakan Pak Samsudin. Sekarang, kualitas isi dan tema perpuisian Indonesia tidak jelas. Termasuk nama angkatannya: Cebong-Kampret,” tandasnya.

Gus Aguk memang nyentrik. Selama ini dikenal sebagai santri yang sastrawan. Ia memaparkan perkembangan sastra Arab. Mulai Muallaqat (Pra-Islam) sampai sastra modern Arab. Ia pun membuka materi paparannya dengan membaca karya penyair Anis Syausan. Dalam teks aslinya. Berbahasa Arab. Yang tidak hanya modern bentuknya. Tapi, isi puisi penyair milenial asal Tunisia itu juga sangat mengglobal. Berikut cuplikan penutup puisi Anis.

Baca Juga :  Sempurnakan Wisata dari Udara

Sungguh kami cinta negeri ini
namun diantara kami

ada yang membencinya
diantara kami
ada yang nyinyir dan menista
diantara kami

ada yang mengunyah dagingnya
menggerogoti tulangnya
seolah mereka hendak menerkamnya.

Mendengar dan berdiskusi dengan Novri dan Gus Aguk, saya merasa sangat kecil. Tidak ada apa-apanya. Ilmu mereka sangat luar biasa. Meski berlatar belakang pesantren, wawasan mereka begitu luas. Bikin iri saja. Kata saya. Dalam hati.

Saya pun teringat dengan webinar-webinar sebelumnya. Yang sempat saya ikuti. Salah satunya, webinar ”Revitalisasi Bahasa yang Terancam Punah”. Yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur. Khususnya webinar edisi ketiga. Yang menampilkan pembicara hebat-hebat pula: Dr Johnny Tjia (Yayasan Sulinama), Mr Blaine Billings (Universitas Hawaii), dan Adofina M.S. Moybeka (Universitas Tribuana Alor). Mereka menyampaikan hasil pengamatan dan riset yang bagus sekali. khususnya Mr Blaine yang warga AS.

Ilmu berharga juga saya peroleh dari seminar nasional ”Tradisi Lisan dalam Berbagai Perspektif: Dari Banti-Banti Wakatobi hingga Santet Banyuwangi”. Yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya UGM (Universitas Gadjah Mada) Jogjakarta, 22 Februari 2021 lalu.

Bagi penulis, seperti saya, me-recharge pengetahuan menjadi kewajiban. Fardhu ’ain. Tidak bisa ditawar-tawar. Harus terus dilakukan. Kapan saja. Di mana saja. Dalam bentuk dan kegiatan apa saja. Di masa pandemi Covid-19 sekalipun. Ilmu tetap harus bersemi.

Wa ba’du. Dengan begitu, ketika tiba-tiba ingin menulis seputar penilaian terhadap sesuatu, banyak perspektif yang saya pakai. Sehingga, tidak menilai hanya dari satu sudut pandang. Misal, ketika menilai kepemimpinan dan organisasi yang dipimpinnya, saya tidak akan melakukannya secara subjektif. Tapi, memperhatikan parameter apa saja yang biasa digunakan menilai organisasi bernama pemerintahan. Sedangkan penilaian terhadap pemimpinnya, yang terbaik adalah menggunakan KPI (Key Performance Indicator). Dengan banyak indikator penilaiannya.

Langkah yang sama juga akan saya lakukan. Ketika diminta menjadi pembicara dalam diskusi atau seminar. Ah, memangnya, ada yang mau mengundang saya jadi pembicara….

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

BUKAN siapa-siapa. Tidak ada apa-apanya. Dua perasaan itu muncul seketika. Saat saya mengikuti forum-forum seminar. Khususnya, beberapa webinar yang saya hadiri mutakhir ini.

Misal, seminar ”Sastra Arab dan Kontribusinya dalam Upaya Perdamaian di Timur Tengah”. Oleh Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada 10 Juni 2021 lalu. Secara hybrid: luring dan daring.

Narasumbernya dua orang. Hebat semua. Mereka Dr Novriantoni  Kahar (Novri) dan Dr KH Aguk Irawan (Gus Aguk). Dua-duanya alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dua-duanya penulis produktif.

Novri kini mengajar di Universitas Paramadina. Sering mengisi berbagai forum ilmiah. Berbicara tentang pemikiran dan isu-isu keislaman. Ia juga pengamat Timur Tengah. Sedangkan Gus Aguk lebih dikenal sebagai sastrawan. Di Al-Azhar ia belajar akidah-filsafat.

Seminarnya berlangsung tiga jam. Tapi, serasa sebentar. Saya mengikuti paparan dua narasumber dengan khusyuk. Kata demi kata. Kalimat per kalimatnya saya perhatikan. Khususnya, penyampaian Novri. Ia dengan apik menjelaskan perkembangan sastra di Palestina. Novri menampilkan para sastrawan. Sekaligus karya puisi dan novelnya. Dalam bahasa aslinya: Arab.

Saya baru gamblang. Ternyata di Palestina sastrawan terbagi dalam angkatan-angkatan. Seperti di Indonesia. Ada Angkatan Balai Pustaka (1920–1932), Angkatan Pujangga Baru (1933–1942), Angkatan 1945 (1942–1949), Angkatan 1950–1960-an, Angkatan 2000, dst. Masing-masing angkatan punya tokoh dan gaya kepenyairannya.

Sastra di Palestina, kata Novri, terbagi dalam tiga generasi. Yakni, pertama, Generasi Revolusi 1936. Disebut Angkatan Perlawanan (Jailul Muqawamah). Penyairnya, antara lain, Ibrahim Thuqan (1905–1941), Abdul Rahim Mahmud (1913–1948), dan Abdul Karim Al-Karmi atau Abu Salma (1090–1980). 

Bentuk puisi angkatan pertama itu tradisional Arab. Ciri-cirinya setia pada wazn dan qafiyah (patuh pada rima dan irama). Dan, tidak mungkin terjadi pembaharuan (la yumkin al-tajdid). Tugas penyairnya melakukan khitabiyah. Untuk propaganda.

Generasi kedua dikenal sebagai Generasi Romantis (Jailul Ya’zi wal Hazimah). Tahun angkatannya 1948–1956. Penyairnya, antara lain, Yusuf Khatib (1931–2011), Fadwa Tuqan (1917–2003), Salma Al-Khadra Jayyusi (1928–…), dan Harun Hasyim Rasyid (1927–2020). Bentuk puisi generasi itu juga masih tradisional. Tapi, juga ada yang mulai keluar dari bentuk tradisional. Isinya, kebanyakan tentang ratapan, bernada murung, dan tanpa harapan.

Baca Juga :  Rezeki dari Depan Rumah

Generasi ketiga yakni Generasi Pujangga Baru Pasca Naskah. Para penyairnya, antara lain, Jabra Ibrahim Jabra (1919–1994), Taufik Zayyad (1929–1994), Samih Al-Qasim (1939–2014), Mahmud Darwish (1941–2008). Sesuai namanya, bentuk puisi generasi itu mulai meninggalkan pola tradisional. Penggunaan simbol dan tradisional lebih banyak. Adapun isinya masih seputar penyesalan atas kenyataan. Tapi tidak lagi ratapan melulu. Sedangkan temanya lebih beragam.

Ratapan. Kemurungan. Keputusasaan. Dan Propaganda. Wajar jika empat tema itu memenuhi puisi dan novel sastrawan Palestina. Kita semua tahu. Bumi Palestina sampai detik ini diliputi perang. Bangsanya tak lelah berjuang mendapatkan kembali negaranya.

Kondisi penindasan dan kecamuk perang adalah kawah candradimuka. Rahim kelahiran karya sastra hebat. Seperti halnya sastra Indonesia di zaman perjuangan dan awal-awal kemerdekaan RI. ”Karya sastra hebat selalu lahir dari ruang gelap,” kata saya ketika diberi kesempatan berbicara oleh moderator.

”Saya sepakat dengan Pak Samsudin, penyair dari Banyuwangi,” kata Novri. Ia lalu menjelaskan, kondisi Palestina dan kenyataan pahit yang dialami para sastrawan palestina. Bahkan, kebanyakan sastrawan di jazirah Arab. Yang negaranya terus mengalami kecamuk perang. Dalam tekanan hebat dan pengalaman pahit akibat perang, penyair dan novelis Palestina melahirkan karya-karya kuat dan hebat. Sangat menyentuh hati. Dan, mengaduk-aduk perasaan. ”Membacanya seakan ikut merasakan. Apa yang sedang mereka rasakan,” kata Novri sambil menutupnya dengan puisi Mahmud Darwish (lihat foto dan teksnya).

Seperti Pak Novri, Gus Aguk mempertegas pernyataan saya. ”Benar sekali apa yang dikatakan Pak Samsudin. Sekarang, kualitas isi dan tema perpuisian Indonesia tidak jelas. Termasuk nama angkatannya: Cebong-Kampret,” tandasnya.

Gus Aguk memang nyentrik. Selama ini dikenal sebagai santri yang sastrawan. Ia memaparkan perkembangan sastra Arab. Mulai Muallaqat (Pra-Islam) sampai sastra modern Arab. Ia pun membuka materi paparannya dengan membaca karya penyair Anis Syausan. Dalam teks aslinya. Berbahasa Arab. Yang tidak hanya modern bentuknya. Tapi, isi puisi penyair milenial asal Tunisia itu juga sangat mengglobal. Berikut cuplikan penutup puisi Anis.

Baca Juga :  Pen-Pal, Post Crossing

Sungguh kami cinta negeri ini
namun diantara kami

ada yang membencinya
diantara kami
ada yang nyinyir dan menista
diantara kami

ada yang mengunyah dagingnya
menggerogoti tulangnya
seolah mereka hendak menerkamnya.

Mendengar dan berdiskusi dengan Novri dan Gus Aguk, saya merasa sangat kecil. Tidak ada apa-apanya. Ilmu mereka sangat luar biasa. Meski berlatar belakang pesantren, wawasan mereka begitu luas. Bikin iri saja. Kata saya. Dalam hati.

Saya pun teringat dengan webinar-webinar sebelumnya. Yang sempat saya ikuti. Salah satunya, webinar ”Revitalisasi Bahasa yang Terancam Punah”. Yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur. Khususnya webinar edisi ketiga. Yang menampilkan pembicara hebat-hebat pula: Dr Johnny Tjia (Yayasan Sulinama), Mr Blaine Billings (Universitas Hawaii), dan Adofina M.S. Moybeka (Universitas Tribuana Alor). Mereka menyampaikan hasil pengamatan dan riset yang bagus sekali. khususnya Mr Blaine yang warga AS.

Ilmu berharga juga saya peroleh dari seminar nasional ”Tradisi Lisan dalam Berbagai Perspektif: Dari Banti-Banti Wakatobi hingga Santet Banyuwangi”. Yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya UGM (Universitas Gadjah Mada) Jogjakarta, 22 Februari 2021 lalu.

Bagi penulis, seperti saya, me-recharge pengetahuan menjadi kewajiban. Fardhu ’ain. Tidak bisa ditawar-tawar. Harus terus dilakukan. Kapan saja. Di mana saja. Dalam bentuk dan kegiatan apa saja. Di masa pandemi Covid-19 sekalipun. Ilmu tetap harus bersemi.

Wa ba’du. Dengan begitu, ketika tiba-tiba ingin menulis seputar penilaian terhadap sesuatu, banyak perspektif yang saya pakai. Sehingga, tidak menilai hanya dari satu sudut pandang. Misal, ketika menilai kepemimpinan dan organisasi yang dipimpinnya, saya tidak akan melakukannya secara subjektif. Tapi, memperhatikan parameter apa saja yang biasa digunakan menilai organisasi bernama pemerintahan. Sedangkan penilaian terhadap pemimpinnya, yang terbaik adalah menggunakan KPI (Key Performance Indicator). Dengan banyak indikator penilaiannya.

Langkah yang sama juga akan saya lakukan. Ketika diminta menjadi pembicara dalam diskusi atau seminar. Ah, memangnya, ada yang mau mengundang saya jadi pembicara….

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/