alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Bukan Pekerjaan Mudah

DUA jempol. Untuk Bupati Situbondo, Karna Suswandi. Tak perlu menunggu lama. Ia langsung turba. Sepulang dari pelantikan dirinya. Di Gedung Grahadi, Surabaya. Oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. 26 Februari lalu.

Bung Karna, sapaan karibnya, melihat langsung kondisi di lapangan. Mengamati apa saja potensi daerahnya.

Yes. Ketemu. Taman Nasional (TN) Baluran. Juga kawasan Merak.

Bung Karna manteb. Ia bertekad mengembangkan dua kawasan itu. Menjadi destinasi wisata andalan.

Langkah taktis pun ia lakukan. Pertama, secepatnya menjalin perjanjian kesepahaman. Bersama Kementerian Kehutanan, c.q Dirjen Taman Nasional. Kedua, kepada wartawan Bung Karna mengaku, dirinya sudah melakukan vicon. Video conference dengan Komisi X DPR RI, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, dan Bupati Bondowoso Salwa Arifin. Mereka bersepakat. Menyatu-paketkan destinasi wisata yang ada di masing-masing wilayah.

Di internal pemkab, Bung Karna memberi perintah tegas. Kepada Dinas Pariwisata Situbondo. Agar mempertajam draf program kerja sama (PKS) di beberapa sektor wisata. Begitu PKS beres baru melangkah. Membangun infrastruktur di lokasi. Agar akses menuju lokasi destinasi mudah. Terutama akses menuju Merak dan TN Baluran.

Tidak hanya itu. Bung Karna juga melecut BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah). ”Kinerja BPPD harus benar-benar tampak. Jangan hanya ada, namun tidak terbukti hasilnya. Saya tidak ingin potensi wisata yang ada menjadi tidak dikenal oleh masyarakat akibat promosi yang tidak bagus dan lemah,” sindirnya. (Jawa Pos Radar Situbondo, 12/03/21).

Keputusan membangun pariwisata sangat tepat. Pariwisata memang terbukti sangat efektif untuk memajukan daerah. Dampak ikutannya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Itu sebabnya, banyak daerah yang sekarang menjadikan pariwisata sebagai program andalan. Dan, tidak sedikit yang gagal!

Membangun pariwisata, memang, kelihatannya mudah. Tinggal telepon pejabat ini dan itu di pusat. Tinggal meneken MoU dengan para pihak. Terutama stakeholder pariwisata. Padahal, praktiknya tidak semudah itu. Dan, daerah-daerah yang gagal mengembangkan pariwisata, antara lain, disebabkan mental ”mengharap” kepada pihak lain.

Mereka akhirnya sadar. Ternyata membangun pariwisata itu tidak mudah. Tidak boleh terlalu bergantung kepada pihak lain.

Sementara itu, Banyuwangi beruntung. Menyadari lebih awal. Sebelum dipermainkan oleh harapannya yang melambung tinggi. Akan bantuan pihak lain.

Baca Juga :  Sempurnakan Wisata dari Udara

Ketika mengetahui Pulau Merah bisa ”dijual”, Pemkab Banyuwangi langsung mengajukan MoU dengan Kementerian Kehutanan. Karena Pulau Merah miliknya Perhutani. Ketika itu, pemkab sampai mengundang Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Ke Pulau Merah. Dibuatkan acara di sana. Meriah. Ditunggu bertahun-tahun, tak ada kabar tentang MoU. Pemkab Banyuwangi bergerak sendiri. Membuktikan bahwa Banyuwangi memajukan Pulau Merah. Lewat pengelolaan Pokdarwis. Dengan status Perhutani sebagai pemilik destinasi.

Begitu melihat Banyuwangi terbukti mampu. Bisa membuat Pulau Merah menjadi ”sesuatu”, barulah pemerintah pusat mengucurkan bantuan. Akan menyulap Pulau Merah menjadi destinasi kelas dunia. Dengan desain pengembangannya oleh arsitek top Indonesia.

Beda lagi dengan pengembangan wisata kereta gantung (cable car) di Gunung Ijen. Sudah bertahun-tahun dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian LHK. Namun, sampai sekarang izin pembangunannya belum kunjung keluar.

Selain itu, kota The Sunrise of Java sukses menggelar International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI). Hingga berkali-kali. Diikuti pembalap dunia. Dengan nilai penyelenggaraan excellence. Dari organisasi balap sepeda dunia.

Padahal, tak sepeser pun bantuan pemerintah pusat. Mengucur kepada penyelenggara event ITdBI. Alias dibiayai secara swadaya. Sedangkan untuk event yang sama, Tour de Singkarak, digelontor Rp 25 miliar oleh pemerintah pusat. Dalam setiap penyelenggaraannya.

Toh, lama-lama pemerintah pusat ”malu”. Mereka tidak membantu dana penyelenggaraan ITdBI. Melainkan membantu perbaikan beberapa akses jalan. Yang menjadi rute ITdBI. Seperti akses menuju Ijen.

Begitulah cara Banyuwangi membangun pariwisata. Nyaris tidak menggantungkan bantuan dari pihak lain. Apalagi pemerintah pusat. Termasuk untuk 100 event Banyuwangi Festival yang digelar setiap tahun. semua di-EO-i sendiri. Oleh para ASN di Banyuwangi. Dan, sukses.  

Karena, bagi Banyuwangi, semua dinas adalah dinas pariwisata. Semua tempat adalah destinasi wisata. Bukan hanya ASN yang sibuk. Semua stakeholder bergerak. Para seniman menyiapkan potensi seni. Para tetua adat menyiapkan segala ritual adat di daerahnya masing-masing. Begitu pula sektor pendidikan, dunia usaha, perhotelan, dan restoran.

Banyuwangi sejak awal meyakini konsep 3A: atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Dan, konsep itu harus dihayati oleh siapa pun. Sebelum mengembangkan destinasi wisata di suatu daerah.

Siapa pun, pemerintah atau swasta, harus paham benar konsep 3A. Padahal, 3A harus sudah diterapkan sebelum sebuah destinasi diperkenalkan. Serta dijual kepada wisatawan.

Baca Juga :  Redefinisi Pahlawan Masa Kini

Atraksi merupakan produk utama dalam sebuah destinasi. Ketika wisatawan datang ”what to see” dan ”what to do”. Apa yang bisa dilihat dan apa yang bisa dilakukannya di destinasi tersebut. Atraksi bisa berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan. Seperti sarana permainan dan hiburan, harus unik dan berbeda. Untuk hal itu, ujiannya adalah seberapa besar kemampuan pemkab merangkul para pihak terkait. Misal, dengan DKS (Dewan Kesenian Situbondo). Yang mengampu budaya sampai peninggalan bangunan bersejarah. Belum lagi pihak yang lain.

Sementara aksesibilitas lebih terkait kepada sarana dan infrastruktur. Terutama yang menuju destinasi. Seperti jalan raya, ketersediaan transportasi, dan rambu-rambu petunjuk jalan.

Amenitas beda lagi. Yakni, segala fasilitas pendukung. Yang bisa memenuhi kebutuhan. Dan keinginan wisatawan. Selama berada di destinasi. Yakni sarana akomodasi untuk menginap, restoran, warung, dll. Juga toilet umum, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah.

Wa ba’du. Maaf. Langkah Bung Karna mengajak Probolinggo dan Bondowoso mengembangkan pariwisata secara bersama-sama itu bagus. Bisa jadi alternatif mempercepat berkembangnya destinasi di Situbondo.

Tapi, meninggalkan Banyuwangi rasa-rasanya adalah kesalahan besar. Probolinggo dan Bondowoso memang dekat dengan Situbondo. Tapi, seberapa banyak wisatawan yang bisa ”ditarik” dari kedua kabupaten itu. Berapa sih angka kunjungan wisatanya. Atau, apa sih wisata ke kedua kabupaten itu yang selama ini mampu menyedot banyak wisatawan.

Beda dengan Banyuwangi. Yang sudah membuktikan sebagai kota festival terbaik di Indonesia. Yang menjadi kabupaten pertama di Indonesia, yang menjadi juara dunia di bidang pengelolaan pariwisata. Yang, setiap hari tidak pernah sepi dari kunjungan puluhan kabupaten/kota, provinsi dari seluruh Nusantara. Mereka datang khusus untuk belajar pariwisata. Pun Bali. Yang beberapa kali studi pintar ke Bumi Blambangan.

Ah, membahas pariwisata selalu menarik. Kebetulan saya suka. Dan, kebetulan pula, ikut dalam tim pemajuan pariwisata Banyuwangi. Tapi, tulisan ini tetap harus diakhiri. Kasihan pembaca. Kalau diteruskan terlalu panjang.

 

*) Budayawan, Penyair Banyuwangi

DUA jempol. Untuk Bupati Situbondo, Karna Suswandi. Tak perlu menunggu lama. Ia langsung turba. Sepulang dari pelantikan dirinya. Di Gedung Grahadi, Surabaya. Oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. 26 Februari lalu.

Bung Karna, sapaan karibnya, melihat langsung kondisi di lapangan. Mengamati apa saja potensi daerahnya.

Yes. Ketemu. Taman Nasional (TN) Baluran. Juga kawasan Merak.

Bung Karna manteb. Ia bertekad mengembangkan dua kawasan itu. Menjadi destinasi wisata andalan.

Langkah taktis pun ia lakukan. Pertama, secepatnya menjalin perjanjian kesepahaman. Bersama Kementerian Kehutanan, c.q Dirjen Taman Nasional. Kedua, kepada wartawan Bung Karna mengaku, dirinya sudah melakukan vicon. Video conference dengan Komisi X DPR RI, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, dan Bupati Bondowoso Salwa Arifin. Mereka bersepakat. Menyatu-paketkan destinasi wisata yang ada di masing-masing wilayah.

Di internal pemkab, Bung Karna memberi perintah tegas. Kepada Dinas Pariwisata Situbondo. Agar mempertajam draf program kerja sama (PKS) di beberapa sektor wisata. Begitu PKS beres baru melangkah. Membangun infrastruktur di lokasi. Agar akses menuju lokasi destinasi mudah. Terutama akses menuju Merak dan TN Baluran.

Tidak hanya itu. Bung Karna juga melecut BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah). ”Kinerja BPPD harus benar-benar tampak. Jangan hanya ada, namun tidak terbukti hasilnya. Saya tidak ingin potensi wisata yang ada menjadi tidak dikenal oleh masyarakat akibat promosi yang tidak bagus dan lemah,” sindirnya. (Jawa Pos Radar Situbondo, 12/03/21).

Keputusan membangun pariwisata sangat tepat. Pariwisata memang terbukti sangat efektif untuk memajukan daerah. Dampak ikutannya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Itu sebabnya, banyak daerah yang sekarang menjadikan pariwisata sebagai program andalan. Dan, tidak sedikit yang gagal!

Membangun pariwisata, memang, kelihatannya mudah. Tinggal telepon pejabat ini dan itu di pusat. Tinggal meneken MoU dengan para pihak. Terutama stakeholder pariwisata. Padahal, praktiknya tidak semudah itu. Dan, daerah-daerah yang gagal mengembangkan pariwisata, antara lain, disebabkan mental ”mengharap” kepada pihak lain.

Mereka akhirnya sadar. Ternyata membangun pariwisata itu tidak mudah. Tidak boleh terlalu bergantung kepada pihak lain.

Sementara itu, Banyuwangi beruntung. Menyadari lebih awal. Sebelum dipermainkan oleh harapannya yang melambung tinggi. Akan bantuan pihak lain.

Baca Juga :  Sempurnakan Wisata dari Udara

Ketika mengetahui Pulau Merah bisa ”dijual”, Pemkab Banyuwangi langsung mengajukan MoU dengan Kementerian Kehutanan. Karena Pulau Merah miliknya Perhutani. Ketika itu, pemkab sampai mengundang Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Ke Pulau Merah. Dibuatkan acara di sana. Meriah. Ditunggu bertahun-tahun, tak ada kabar tentang MoU. Pemkab Banyuwangi bergerak sendiri. Membuktikan bahwa Banyuwangi memajukan Pulau Merah. Lewat pengelolaan Pokdarwis. Dengan status Perhutani sebagai pemilik destinasi.

Begitu melihat Banyuwangi terbukti mampu. Bisa membuat Pulau Merah menjadi ”sesuatu”, barulah pemerintah pusat mengucurkan bantuan. Akan menyulap Pulau Merah menjadi destinasi kelas dunia. Dengan desain pengembangannya oleh arsitek top Indonesia.

Beda lagi dengan pengembangan wisata kereta gantung (cable car) di Gunung Ijen. Sudah bertahun-tahun dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian LHK. Namun, sampai sekarang izin pembangunannya belum kunjung keluar.

Selain itu, kota The Sunrise of Java sukses menggelar International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI). Hingga berkali-kali. Diikuti pembalap dunia. Dengan nilai penyelenggaraan excellence. Dari organisasi balap sepeda dunia.

Padahal, tak sepeser pun bantuan pemerintah pusat. Mengucur kepada penyelenggara event ITdBI. Alias dibiayai secara swadaya. Sedangkan untuk event yang sama, Tour de Singkarak, digelontor Rp 25 miliar oleh pemerintah pusat. Dalam setiap penyelenggaraannya.

Toh, lama-lama pemerintah pusat ”malu”. Mereka tidak membantu dana penyelenggaraan ITdBI. Melainkan membantu perbaikan beberapa akses jalan. Yang menjadi rute ITdBI. Seperti akses menuju Ijen.

Begitulah cara Banyuwangi membangun pariwisata. Nyaris tidak menggantungkan bantuan dari pihak lain. Apalagi pemerintah pusat. Termasuk untuk 100 event Banyuwangi Festival yang digelar setiap tahun. semua di-EO-i sendiri. Oleh para ASN di Banyuwangi. Dan, sukses.  

Karena, bagi Banyuwangi, semua dinas adalah dinas pariwisata. Semua tempat adalah destinasi wisata. Bukan hanya ASN yang sibuk. Semua stakeholder bergerak. Para seniman menyiapkan potensi seni. Para tetua adat menyiapkan segala ritual adat di daerahnya masing-masing. Begitu pula sektor pendidikan, dunia usaha, perhotelan, dan restoran.

Banyuwangi sejak awal meyakini konsep 3A: atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Dan, konsep itu harus dihayati oleh siapa pun. Sebelum mengembangkan destinasi wisata di suatu daerah.

Siapa pun, pemerintah atau swasta, harus paham benar konsep 3A. Padahal, 3A harus sudah diterapkan sebelum sebuah destinasi diperkenalkan. Serta dijual kepada wisatawan.

Baca Juga :  Harjakasi: Perumda “Pertambakan” Sebuah Gagasan

Atraksi merupakan produk utama dalam sebuah destinasi. Ketika wisatawan datang ”what to see” dan ”what to do”. Apa yang bisa dilihat dan apa yang bisa dilakukannya di destinasi tersebut. Atraksi bisa berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan. Seperti sarana permainan dan hiburan, harus unik dan berbeda. Untuk hal itu, ujiannya adalah seberapa besar kemampuan pemkab merangkul para pihak terkait. Misal, dengan DKS (Dewan Kesenian Situbondo). Yang mengampu budaya sampai peninggalan bangunan bersejarah. Belum lagi pihak yang lain.

Sementara aksesibilitas lebih terkait kepada sarana dan infrastruktur. Terutama yang menuju destinasi. Seperti jalan raya, ketersediaan transportasi, dan rambu-rambu petunjuk jalan.

Amenitas beda lagi. Yakni, segala fasilitas pendukung. Yang bisa memenuhi kebutuhan. Dan keinginan wisatawan. Selama berada di destinasi. Yakni sarana akomodasi untuk menginap, restoran, warung, dll. Juga toilet umum, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah.

Wa ba’du. Maaf. Langkah Bung Karna mengajak Probolinggo dan Bondowoso mengembangkan pariwisata secara bersama-sama itu bagus. Bisa jadi alternatif mempercepat berkembangnya destinasi di Situbondo.

Tapi, meninggalkan Banyuwangi rasa-rasanya adalah kesalahan besar. Probolinggo dan Bondowoso memang dekat dengan Situbondo. Tapi, seberapa banyak wisatawan yang bisa ”ditarik” dari kedua kabupaten itu. Berapa sih angka kunjungan wisatanya. Atau, apa sih wisata ke kedua kabupaten itu yang selama ini mampu menyedot banyak wisatawan.

Beda dengan Banyuwangi. Yang sudah membuktikan sebagai kota festival terbaik di Indonesia. Yang menjadi kabupaten pertama di Indonesia, yang menjadi juara dunia di bidang pengelolaan pariwisata. Yang, setiap hari tidak pernah sepi dari kunjungan puluhan kabupaten/kota, provinsi dari seluruh Nusantara. Mereka datang khusus untuk belajar pariwisata. Pun Bali. Yang beberapa kali studi pintar ke Bumi Blambangan.

Ah, membahas pariwisata selalu menarik. Kebetulan saya suka. Dan, kebetulan pula, ikut dalam tim pemajuan pariwisata Banyuwangi. Tapi, tulisan ini tetap harus diakhiri. Kasihan pembaca. Kalau diteruskan terlalu panjang.

 

*) Budayawan, Penyair Banyuwangi

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/