alexametrics
21.8 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Sumur Marani Timbo

PERISTIWA besar terjadi di Banyuwangi. Tepatnya, di Gedung Juang 45. Sejak 10 Desember hingga 18 Desember 2021. Peristiwa kebudayaan itu sekaligus menjadi penanda digunakannya kembali gedung bersejarah tersebut. Setelah dipugar selama beberapa tahun.

Penampakan Gedung Juang benar-benar baru. Dari awalnya satu lantai, kini menjadi tiga lantai. Lebih mentereng. Lebih terasa aura budayanya. Sepintas, dilihat dari arah depan, tampak hanya berlantai dua. Tapi, begitu masuk ke dalam, di sisi barat ada dua tangga: tangga dari lantai satu menuju lantai dua dan dari lantai dua menuju lantai tiga.

Gedung Juang dibangun pada 1887 oleh VOC. Namanya, ketika itu, sangat Belanda: Societeit de Club. Artinya kurang lebih: Balai Perserikatan Sosial. Tempat masyarakat Eropa dan elite intelektual berkumpul menggelar berbagai acara. Mulai pertunjukan musik, kesenian tradisional, pameran, seminar, lelang, dan sampai pertemuan ilmiah.

Karena kondisi bangunannya sudah uzur, lalu Pemkab Banyuwangi memugarnya. Dengan posisi gedung yang sama. Namun, bangunan barunya lebih fungsional. Bisa untuk menggelar banyak acara. Mulai di lantai satu, dua, sampai lantai tiga.

Arsitek Adi Purnomo menyulap Gedung Juang tidak hanya menjadi lebih anggun. Tapi, juga bisa menjadi tempat tiga kegiatan dalam waktu yang sama. Hal yang sama tidak bisa digelar di Gedung Juang lama—sebelum dipugar. Lantai satu dan lantai dua bisa dijadikan tempat pameran lukisan. Produk UMKM, dll. Sementara lantai tiga dikhususkan untuk kegiatan seni budaya. Bentuknya berupa gedung teater. Dengan dinding dan atap berwarna hitam semua. Sangat cocok untuk kegiatan seminar, sarasehan, dan kuliah umum. Lebih bagus lagi untuk pertunjukan tari, musik, serta teater modern dan tradisional.

Adi Purnomo dikenal sebagai arsitek yang peduli pada kearifan lokal. Pak Mamok—panggilan karib Adi Purnomo, juga yang mengembalikan bentuk Pendapa Sabha Swagata Blambangan ke bentuk aslinya. Pendapa kabupaten Banyuwangi itu pun kini terasa lebih wibawa. Karya-karya arsitektur Pak Mamok sudah tersebar di banyak kota di tanah air. Baik berupa hotel, vila, gedung milik pemerintah, dan juga rumah-rumah unik milik pribadi.

Wa ba’du. Difungsikannya kembali Gedung Juang disambut sukacita para pelaku seni budaya Bumi Blambangan. Apalagi, diawali dengan sebuah kegiatan besar. Yakni, pameran lukisan ArtOs Kembang Langit. Sejak 10 Desember sampai 18 Desember mendatang. Kegiatan itu terasa besar bukan hanya dari sisi materi lukisan yang dipamerkan. Namun, juga acara-acara lain yang digelar di tempat yang sama.

Seperti pertunjukan teater Rengganis, musik jazz patrol Kawitan, dan Joyo Karyo Akustik di gedung teater lantai tiga. Dari dua pertunjukan itu muncul catatan-catatan khusus soal fasilitas Gedung Juang. Khususnya untuk lantai tiga. Teman-teman seniman mengeluhkan dua hal. Keduanya sangat vital. Sangat mendesak untuk segera dilengkapi. Demi menambah kenyamanan lantai tiga. Apa itu?

Pertama, area backstage. Ruangan lantai tiga Gedung Juang saat ini hanya berisi tempat duduk bertrap meninggi ke belakang. Sementara di depan ada area datar dan luas. Yang bisa difungsikan untuk pertunjukan. Entah kelupaan atau bagaimana, di area yang luas itu tidak ada ruangan kosong. Umumnya, sebuah gedung yang juga digunakan untuk pertunjukan dilengkapi ruangan kosong. Baik di belakang maupun di samping kanan atau kiri panggung.

Ruangan kosong itu disediakan untuk para seniman atau artis yang akan manggung. Mulai merias sampai berdandan. Karenanya, harus ada cermin besar—lebih baik lagi kalau dinding-dindingnya cermin. Yang bisa digunakan untuk pemanasan (suara dan gerak) menjelang tampil yang sesungguhnya.

Tidak kalah pentingnya, ruangan tersebut juga harus dilengkapi dengan beberapa kamar mandi. Njagani kalau-kalau ada pemain atau artis yang tiba-tiba kebelet: buang air kecil maumpun BAB. Saat ini, tidak ada kamar mandi di lantai tiga dan lantai dua. Kamar mandi hanya disediakan di lantai pertama. Bayangkan, kalau ada pemain/artis yang kebelet dan tidak bisa ditahan. Mereka harus lari menuruni dua tangga panjang menuju lantai satu. Iya kalau saat kebelet itu semua penonton sudah masuk ruang pertunjukan. Kalau masih ada beberapa yang akan masuk, bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi. Contoh saja yang kebelet kebetulan pemeran pocong. Karena tidak tahan, dia langsung lari keluar ruang pertunjukan. Sepanjang menuruni tangga berpapasan dengan penonton yang akan naik ke lantai tiga. Pasti mereka akan lari terbirit-birit….

Boleh dibilang, ruang khusus di sekitar panggung itu ruang privat. Tidak sembarang orang boleh masuk. Selain banyak barang di dalamnya, kegiatan pemain (mulai make up sampai berdandan) membutuhkan kecermatan. Di saat-saat seperti itu, sangat mungkin beberapa pemain harus berganti-ganti kostum. Karena dibutuhkan gerak cepat, kadang si pemain/artis tak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Mereka buka kostum lama dengan kostum barunya. Bagi, sesama artis/pemain atau tim make up-kostum artis/pemain itu pemandangan biasa. Tapi, tidak bagi mereka yang belum terbiasa. Jantungnya bisa langsung copot!

Gedung Juang baru diawali dengan kegiatan penuh berkah. Yakni, datangnya para suhu seni rupa. Seperti ”Dewa Lukisan” dr Oei Hong Djien (OHD) dan ”Dewi Lukisan” dr Melani W. Setiawan. Seniman Sujiwo Tedjo bahkan membuka pameran ArtOs Kembang Langit dengan monolognya. Lalu ada Nirwan Dewanto (sastrawan Indonesia yang masa kecilnya di Banyuwangi). Agus Sudibyo dari Dewan Pers yang peduli terhadap lukisan juga menyempatkan datang. Ditambah pelukis-pelukis top Indonesia. Seperti Masdibyo, Katirin, Nasirun, dan Awiki. Ketiga nama yang disebut terakhir asli orang Banyuwangi, tapi ngetop di luar kota.

Hebatnya lagi, orang-orang top itu bersedia berbagi ilmu dalam acara sarasehan di dua hari pertama pameran. Dengan murah hati mereka buka kepada para peserta sarasehan. Ilmu dari mereka sangat menarik. Bisa membuka cakrawala pandang dari kejumudan. Dengan model testimoni dan bedah karya, ilmu yang mereka bagikan sangat gamblang. Bisa dijadikan panduan sekaligus pegangan dalam proses kreatif sebuah karya.

Om OHD dan Nirwan Dewanto di hari pertama sarasehan menyampaikan peta seni rupa Indonesia. Terutama di dua tahun terakhir masa pandemi Covid-19. Lalu, mereka membeberkan di mana posisi seni rupa Banyuwangi dalam peta baru seni rupa. Bahkan, disampaikan pula apa yang harus dilakukan oleh perupa Bumi Blambangan

Di hari kedua, Bu Melani yang kata peserta sarasehan masih tampak ayu di usianya yang tidak muda lagi, memaparkan sesuatu yang sepele tapi sangat berharga. Yakni, menampilkan foto-foto geliat seni rupa Indonesia. Baik ketika ia menghadiri pameran lukisan maupun saat berkunjung ke rumah/sanggar pelukis. Foto-foto yang ditampilkan sangat lengkap. Dikumpulkan selama puluhan tahun. Dan, foto-foto itu sudah beberapa kali dipamerkan. Bahkan, kini Bu Melani sedang menyusun buku khusus tentang foto-foto seni. ”Sudah ada ribuan foto wajah pelukis dan seniman di dalam buku itu,” katanya sambil menunjuk ke gambar buku sangat tebal bersampul hijau di tampilan proyektor. Benar-benar sangat menginspirasi!

Ketelatean juga dilakukan oleh Nasirun. Pelukis nyentrik itu memamerkan puluhan manekin yang dipungutinya dari sebuah tempat. Dengan balutan plastik dan benang, manekin-manekin Nasirun itu ditampilkan khusus di lantai tiga—sebelah ruang teater. Di atas manekin-manekin ada lembaran ”kain” selebar dua meteran. Menjuntai dari atas ke bawah. Ternyata itu bukan kain. ”Itu tisu bekas yang dikumpulkan Nasirun,” kata Sujiwo Tedjo kepada Bupati Ipuk dan rombongan saat meninjau pameran. Bahkan, Nasirun sudah mengumpulkan 1.000 kartu undangan. Baik undangan manten maupun undangan-undangan yang lain. Kartu undangan itu disulap menjadi sebuah karya. Seperti apa bentuknya, kita tunggu saja.

Nasirun yang unik dan Masdibyo yang keren juga sama-sama berbagi ilmu di ruang teater. Mereka keluarkan semua ilmunya. Apa adanya. Peserta sarasehan dan bedah karya sangat beruntung. Bisa mendapat ilmu langsung dari kedua maestro itu. Rugi besar bagi yang tidak bisa mengikutinya.

Ya, kemurahan hati orang-orang hebat berbagi pengetahuan di acara ArtOs Kembang Langit bak sumur marani timbo. Dalam rumus ”ngelmu”, seharusnya timba yang mendatangi sumur. Mengambil sebanyak-banyak ilmu dari dari pemilik sumur ilmu. Para pelukis atau kita yang awam seharusnya datang ke tempat Om OHD, Kang Nirwan Dewanto, Bu Melani, Nasirun, dan Masdibyo.

Tapi, ya sudahlah. Mereka tampak happy dan ikhlas membagikan ilmunya kepada perupa dan masyarakat Banyuwangi. Bahkan, bila ada kesempatan ingin kembali ke kota the Sunrise of Java. ”Oh, siap Mas Sam. Pokoknya, saya siap,” jawab Masdibyo ketika saya tawarkan gagasan menggelar residensi perupa di Banyuwangi, dan dia menjadi salah satu pematerinya. Alhamdulillah….

*) Pekolom Banyuwangi

PERISTIWA besar terjadi di Banyuwangi. Tepatnya, di Gedung Juang 45. Sejak 10 Desember hingga 18 Desember 2021. Peristiwa kebudayaan itu sekaligus menjadi penanda digunakannya kembali gedung bersejarah tersebut. Setelah dipugar selama beberapa tahun.

Penampakan Gedung Juang benar-benar baru. Dari awalnya satu lantai, kini menjadi tiga lantai. Lebih mentereng. Lebih terasa aura budayanya. Sepintas, dilihat dari arah depan, tampak hanya berlantai dua. Tapi, begitu masuk ke dalam, di sisi barat ada dua tangga: tangga dari lantai satu menuju lantai dua dan dari lantai dua menuju lantai tiga.

Gedung Juang dibangun pada 1887 oleh VOC. Namanya, ketika itu, sangat Belanda: Societeit de Club. Artinya kurang lebih: Balai Perserikatan Sosial. Tempat masyarakat Eropa dan elite intelektual berkumpul menggelar berbagai acara. Mulai pertunjukan musik, kesenian tradisional, pameran, seminar, lelang, dan sampai pertemuan ilmiah.

Karena kondisi bangunannya sudah uzur, lalu Pemkab Banyuwangi memugarnya. Dengan posisi gedung yang sama. Namun, bangunan barunya lebih fungsional. Bisa untuk menggelar banyak acara. Mulai di lantai satu, dua, sampai lantai tiga.

Arsitek Adi Purnomo menyulap Gedung Juang tidak hanya menjadi lebih anggun. Tapi, juga bisa menjadi tempat tiga kegiatan dalam waktu yang sama. Hal yang sama tidak bisa digelar di Gedung Juang lama—sebelum dipugar. Lantai satu dan lantai dua bisa dijadikan tempat pameran lukisan. Produk UMKM, dll. Sementara lantai tiga dikhususkan untuk kegiatan seni budaya. Bentuknya berupa gedung teater. Dengan dinding dan atap berwarna hitam semua. Sangat cocok untuk kegiatan seminar, sarasehan, dan kuliah umum. Lebih bagus lagi untuk pertunjukan tari, musik, serta teater modern dan tradisional.

Adi Purnomo dikenal sebagai arsitek yang peduli pada kearifan lokal. Pak Mamok—panggilan karib Adi Purnomo, juga yang mengembalikan bentuk Pendapa Sabha Swagata Blambangan ke bentuk aslinya. Pendapa kabupaten Banyuwangi itu pun kini terasa lebih wibawa. Karya-karya arsitektur Pak Mamok sudah tersebar di banyak kota di tanah air. Baik berupa hotel, vila, gedung milik pemerintah, dan juga rumah-rumah unik milik pribadi.

Wa ba’du. Difungsikannya kembali Gedung Juang disambut sukacita para pelaku seni budaya Bumi Blambangan. Apalagi, diawali dengan sebuah kegiatan besar. Yakni, pameran lukisan ArtOs Kembang Langit. Sejak 10 Desember sampai 18 Desember mendatang. Kegiatan itu terasa besar bukan hanya dari sisi materi lukisan yang dipamerkan. Namun, juga acara-acara lain yang digelar di tempat yang sama.

Seperti pertunjukan teater Rengganis, musik jazz patrol Kawitan, dan Joyo Karyo Akustik di gedung teater lantai tiga. Dari dua pertunjukan itu muncul catatan-catatan khusus soal fasilitas Gedung Juang. Khususnya untuk lantai tiga. Teman-teman seniman mengeluhkan dua hal. Keduanya sangat vital. Sangat mendesak untuk segera dilengkapi. Demi menambah kenyamanan lantai tiga. Apa itu?

Pertama, area backstage. Ruangan lantai tiga Gedung Juang saat ini hanya berisi tempat duduk bertrap meninggi ke belakang. Sementara di depan ada area datar dan luas. Yang bisa difungsikan untuk pertunjukan. Entah kelupaan atau bagaimana, di area yang luas itu tidak ada ruangan kosong. Umumnya, sebuah gedung yang juga digunakan untuk pertunjukan dilengkapi ruangan kosong. Baik di belakang maupun di samping kanan atau kiri panggung.

Ruangan kosong itu disediakan untuk para seniman atau artis yang akan manggung. Mulai merias sampai berdandan. Karenanya, harus ada cermin besar—lebih baik lagi kalau dinding-dindingnya cermin. Yang bisa digunakan untuk pemanasan (suara dan gerak) menjelang tampil yang sesungguhnya.

Tidak kalah pentingnya, ruangan tersebut juga harus dilengkapi dengan beberapa kamar mandi. Njagani kalau-kalau ada pemain atau artis yang tiba-tiba kebelet: buang air kecil maumpun BAB. Saat ini, tidak ada kamar mandi di lantai tiga dan lantai dua. Kamar mandi hanya disediakan di lantai pertama. Bayangkan, kalau ada pemain/artis yang kebelet dan tidak bisa ditahan. Mereka harus lari menuruni dua tangga panjang menuju lantai satu. Iya kalau saat kebelet itu semua penonton sudah masuk ruang pertunjukan. Kalau masih ada beberapa yang akan masuk, bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi. Contoh saja yang kebelet kebetulan pemeran pocong. Karena tidak tahan, dia langsung lari keluar ruang pertunjukan. Sepanjang menuruni tangga berpapasan dengan penonton yang akan naik ke lantai tiga. Pasti mereka akan lari terbirit-birit….

Boleh dibilang, ruang khusus di sekitar panggung itu ruang privat. Tidak sembarang orang boleh masuk. Selain banyak barang di dalamnya, kegiatan pemain (mulai make up sampai berdandan) membutuhkan kecermatan. Di saat-saat seperti itu, sangat mungkin beberapa pemain harus berganti-ganti kostum. Karena dibutuhkan gerak cepat, kadang si pemain/artis tak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Mereka buka kostum lama dengan kostum barunya. Bagi, sesama artis/pemain atau tim make up-kostum artis/pemain itu pemandangan biasa. Tapi, tidak bagi mereka yang belum terbiasa. Jantungnya bisa langsung copot!

Gedung Juang baru diawali dengan kegiatan penuh berkah. Yakni, datangnya para suhu seni rupa. Seperti ”Dewa Lukisan” dr Oei Hong Djien (OHD) dan ”Dewi Lukisan” dr Melani W. Setiawan. Seniman Sujiwo Tedjo bahkan membuka pameran ArtOs Kembang Langit dengan monolognya. Lalu ada Nirwan Dewanto (sastrawan Indonesia yang masa kecilnya di Banyuwangi). Agus Sudibyo dari Dewan Pers yang peduli terhadap lukisan juga menyempatkan datang. Ditambah pelukis-pelukis top Indonesia. Seperti Masdibyo, Katirin, Nasirun, dan Awiki. Ketiga nama yang disebut terakhir asli orang Banyuwangi, tapi ngetop di luar kota.

Hebatnya lagi, orang-orang top itu bersedia berbagi ilmu dalam acara sarasehan di dua hari pertama pameran. Dengan murah hati mereka buka kepada para peserta sarasehan. Ilmu dari mereka sangat menarik. Bisa membuka cakrawala pandang dari kejumudan. Dengan model testimoni dan bedah karya, ilmu yang mereka bagikan sangat gamblang. Bisa dijadikan panduan sekaligus pegangan dalam proses kreatif sebuah karya.

Om OHD dan Nirwan Dewanto di hari pertama sarasehan menyampaikan peta seni rupa Indonesia. Terutama di dua tahun terakhir masa pandemi Covid-19. Lalu, mereka membeberkan di mana posisi seni rupa Banyuwangi dalam peta baru seni rupa. Bahkan, disampaikan pula apa yang harus dilakukan oleh perupa Bumi Blambangan

Di hari kedua, Bu Melani yang kata peserta sarasehan masih tampak ayu di usianya yang tidak muda lagi, memaparkan sesuatu yang sepele tapi sangat berharga. Yakni, menampilkan foto-foto geliat seni rupa Indonesia. Baik ketika ia menghadiri pameran lukisan maupun saat berkunjung ke rumah/sanggar pelukis. Foto-foto yang ditampilkan sangat lengkap. Dikumpulkan selama puluhan tahun. Dan, foto-foto itu sudah beberapa kali dipamerkan. Bahkan, kini Bu Melani sedang menyusun buku khusus tentang foto-foto seni. ”Sudah ada ribuan foto wajah pelukis dan seniman di dalam buku itu,” katanya sambil menunjuk ke gambar buku sangat tebal bersampul hijau di tampilan proyektor. Benar-benar sangat menginspirasi!

Ketelatean juga dilakukan oleh Nasirun. Pelukis nyentrik itu memamerkan puluhan manekin yang dipungutinya dari sebuah tempat. Dengan balutan plastik dan benang, manekin-manekin Nasirun itu ditampilkan khusus di lantai tiga—sebelah ruang teater. Di atas manekin-manekin ada lembaran ”kain” selebar dua meteran. Menjuntai dari atas ke bawah. Ternyata itu bukan kain. ”Itu tisu bekas yang dikumpulkan Nasirun,” kata Sujiwo Tedjo kepada Bupati Ipuk dan rombongan saat meninjau pameran. Bahkan, Nasirun sudah mengumpulkan 1.000 kartu undangan. Baik undangan manten maupun undangan-undangan yang lain. Kartu undangan itu disulap menjadi sebuah karya. Seperti apa bentuknya, kita tunggu saja.

Nasirun yang unik dan Masdibyo yang keren juga sama-sama berbagi ilmu di ruang teater. Mereka keluarkan semua ilmunya. Apa adanya. Peserta sarasehan dan bedah karya sangat beruntung. Bisa mendapat ilmu langsung dari kedua maestro itu. Rugi besar bagi yang tidak bisa mengikutinya.

Ya, kemurahan hati orang-orang hebat berbagi pengetahuan di acara ArtOs Kembang Langit bak sumur marani timbo. Dalam rumus ”ngelmu”, seharusnya timba yang mendatangi sumur. Mengambil sebanyak-banyak ilmu dari dari pemilik sumur ilmu. Para pelukis atau kita yang awam seharusnya datang ke tempat Om OHD, Kang Nirwan Dewanto, Bu Melani, Nasirun, dan Masdibyo.

Tapi, ya sudahlah. Mereka tampak happy dan ikhlas membagikan ilmunya kepada perupa dan masyarakat Banyuwangi. Bahkan, bila ada kesempatan ingin kembali ke kota the Sunrise of Java. ”Oh, siap Mas Sam. Pokoknya, saya siap,” jawab Masdibyo ketika saya tawarkan gagasan menggelar residensi perupa di Banyuwangi, dan dia menjadi salah satu pematerinya. Alhamdulillah….

*) Pekolom Banyuwangi

Artikel Terkait

Setelah Pomo Martadi, Kini Armaya

Di Balik Muhibah Kata-Kata

Sebelum Perda Janur Makin Layu

Most Read

Artikel Terbaru

/