Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Man Nahnu
icon featured
Man Nahnu

Tempat Kuliner Paling

Oleh: Samsudin Adlawi*

13 Oktober 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Tempat Kuliner Paling

Share this      

JODOH memang tak mengenal jarak. Tak dinyana, catatan Man Nahnu 192 (edisi pekan lalu, 5/10/2021) menemukan jodohnya. Itu pun, bukan di Banyuwangi. Atau, di kota Jawa Timur lainnya. Melainkan di Jakarta!

”Maaf, saya sedang jalan-jalan nyari sarapan di Jakarta. Paralel dengan tulisan tersebut (Man Nahnu 192), andai yang terkait bidang kuliner, Kadin Banyuwangi berkenan mengadakan lomba kuliner se-Kabupaten Banyuwangi,” tulis H Haris Yudi Helmi. Lewat pesan WA. Kepada Sidrotul Muntaha, Manajer Iklan Jawa Pos Radar Banyuwangi. Lalu, Toha meneruskannya ke telepon genggam saya.

Meski lebih banyak tinggal di Ibu Kota, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Bumi Blambangan itu terus memantau perkembangan kota the Sunrise of Java. Terutama dinamika bisnisnya. Terlebih, bisnis pariwisata di Kota Gandrung. Yang terus menggeliat. Termasuk kuliner, di dalamnya.

Baca juga: Menyelami Batik, Membaca Keris

Haji Yudi tak sekadar melempar ide. Dia jelaskan pula seluk-beluk lombanya. Mulai kriteria sampai pengumuman pemenang. Detail sekali. Tak kalah dengan konsep seorang CEO event organizer. Saya sampai geleng-geleng kepala. Setelah membaca konsep lomba kuliner dari Haji Yudi. ”Wah, ngalah-ngalahi tim event Jawa Pos Radar Banyuwangi,” batin saya.

Tentu saja, Haji Yudi bukan sosok yang asal-asalan melemparkan gagasan. Tapi, mendasarkan idenya dari pengamatan jitu. Bukan amatan sekali-dua kali. Melainkan banyak kali.

Sepertinya, beliau selalu mengamati sekaligus mempelajari perkembangan kuliner. Ketika melakukan perjalanan bisnis keliling berbagai kota. Baik di dalam maupun luar negeri.

Ketika mengusulkan ide lomba kuliner, kriteria yang diusulkan Haji Yudi pun cukup progresif. Ada tiga kriterianya: bangunannya harus menarik, pilihan menunya bervariasi, dan lokasi/tempatnya ramah lingkungan.

Lombanya sendiri harus digelar secara terbuka. Diumumkan secara meluas. Kepada khalayak. Agar sebanyak mungkin tenant kuliner di Banyuwangi bisa ikut. Apalagi, lombanya gratis.

Sedangkan proses seleksi bisa dilakukan berjenjang. Tahap awal, misalnya, peserta mengirim lima foto (foto merek usaha, foto display menu, foto ruang pelanggan, foto daftar menu, dan foto tim kerja). Foto-foto itu kemudian diperiksa oleh panitia dan tim juri. Dilanjutkan penilaian ke lokasi peserta yang lulus seleksi tahap pertama.

Hasil melihat langsung ke lapangan dijadikan dasar juri. Dalam menentukan pemenang. ”Pemenang 1 sampai 3 mendapat sertifikat. Juga hadiah uang tunai dari Kadin,” usul Haji Yudi.

Nilai tambah akan diperoleh peserta lomba. Khususnya, bagi para pemenang. Karena lombanya cukup bergengsi, mereka otomatis akan ”naik kelas”. Blow up selama lomba hingga menjadi juara, menjadi ajang promosi gratis. Bukan hanya itu. Mereka akan menjadi role model. Berkat prestasinya, mereka akan mudah mendapat investor. Dan, sudah semestinya, pemenang akan menjadi kebanggaan keluarga.

Tak kalah pentingnya, lanjut Haji Yudi, panitia pengelenggara lomba. Harus pihak independen. Yang sudah dikenal dedikasi dan profesionalitasnya. Dalam menggelar lomba maupun event dalam bentuk lain.

Alhamdulillah, tim event Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) di­­percaya menjadi panitia. Men­jawab kepercayaan itu, tim JP-RaBa langsung bergerak cepat. Meng­gelar rapat awal. Di Sanggar Genjah Arum, Kemiren. Dengan me­ngundang sejumlah pihak terkait. Cukup lengkap. Dari Kadin Banyu­wangi hadir David Wijaya Tjoek (ketua), Ferdy Elfian, Dede Abdul Ghany, Suhartatik, Ibin Khotibin, Sukanti Swastikawati, dan Bahtiar Dahlan. Hadir pula Kepala Bidang Penataan Ruang pada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya Perumahan dan Pe­mu­kiman Banyuwangi Bayu Ha­dianto. Serta Setiawan Subekti (Iwan), pemilik Sanggar Genjah Arum.

Rapat berlangsung gayeng. Usul-usul yang disampaikan cukup bernas. Melengkapi dan mengembangkan ide-ide dari Haji Yudi. Seperti yang disampaikan Bayu Hadianto. Dia mengusulkan agar perbandingan luasan bangunan dan lahan lapangnya menjadi salah satu syarat. ”Selain juga unsur budaya dan kearifan lokal yang harus menjadi perhatian utama. Bisa berupa interior maupun eksterior bangunan kulinernya,” tegasnya.

Setelah rapat selama hampir tiga jam, akhirnya peserta rapat sepakat. Untuk menyiapkan lomba sepresisi mungkin. Tidak boleh ada kesan asal-asalan—meski lombanya baru pertama digelar. Misal, sertifikat lombanya didesain seeksklusif mungkin. Agar bila dipasang di tembok atau tempat lain tempat kuliner tampak elegan. Dan, memberi nilai tambah. Sebagai tanda ”naik kelas”.

Wa ba’du. Memang, lomba tempat kuliner itu menjadi rangkaian perayaan ulang tahun Kadin Banyuwangi. Namun, lomba tersebut juga menjadi bukti. Bahwa bakti Kadin bagi daerah tercintanya tidak pernah mati. Wa bilkhusus, mendukung pengembangan pariwisatanya.

Sebagai penyelenggara, tim JP-RaBa akan bekerja profesional. Apalagi, salah satu tujuan dari lomba adalah ”mengendalikan” perkembangan tempat kuliner di Banyuwangi. Yang dikendalikan bukan jumlahnya. Melainkan rupa fisik dan lingkungannya. Serta kelengkapan perizinan dan sajiannya.

Tunggu apalagi. Silakan persiapkan tempat kuliner Anda. Segera mendaftar. Siapa tahu, Anda pemenangnya. Kalau toh tidak menang, setidaknya mendapat pengalaman ikut lomba. Media efektif untuk melihat wajah sendiri. Juga wajah orang lain. Sebagai modal untuk perbaikan di masa mendatang.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia