Rezeki dari Depan Rumah

Oleh: Samsudin Adlawi

PASAR ikan lazim dengan bau amis. Di mana pun. Tapi tidak dengan pasar ikan di Kampung Mandar, Ke­camatan Banyuwangi. Meski menjual ikan segar, tapi hidung pe­ngunjung tidak tercemari bau amis. ”Ini yang pertama di Banyuwangi. Pa­sarnya bersih. Tidak tercium bau amis sekali. Padahal, ikan yang dijual masih segar dan asinan,” puji Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, saat membuka Banyuwangi Fish Market (BFM) 2022 kemarin.

BFM sendiri adalah bagian dari upaya mengembangkan wisata kuliner di Plengsengan—nama popu­ler wisata kuliner Kampung Mandar. Plengsengan berkembang begitu pesat. Lebih cepat dari destinasi wisata berbasis hasil laut lainnya di Bumi Blambangan. Sebut saja, se­kadar contoh, Blimbingsari dan Mun­car. Kedua tempat itu mengalami stagnasi.

Boleh dibilang, perkembangan destinasi kuliner hasil laut Kam­pung Ujung berkah dari pe­ngem­bangan Pantai Boom menjadi Pantai Marina. Proyek besar itu mencakup bibir pantai di se­pan­jang wilayah Kampung Mandar. Pihak pengembang Pantai Marina harus mengeruk sodetan yang ada di bagian barat Pantai Boom. Pe­ngerukan itu dilakukan agar tidak mengganggu dermaga yacht yang ditempatkan di kolam bagian tengah Pantai Boom (di seberang bekas gudang yang akan disulap menjadi restoran klasik).

Tempat itu dulunya menjadi tempat bersandar perahu-perahu nelayan Kampung Mandar dan sekitarnya. Sebagai kompensasi, perahu-perahu nelayan dipindah ke barat. Tepat di pinggir jalan belakang Kampung Mandar. Selain mengeruk ”pelabuhan baru” untuk perahu nelayan, pengelola proyek Marina Boom juga membangun jalan di sepanjang ”bekalang” Kampung Mandar. Walhasil, jalan yang dulunya sempit berubah menjadi lebih luas. Bisa dipakai lalu-lalang kendaraan roda empat dari dua arah berlawanan.

Jalan cor itu sangat kuat dan ba­gus. Ditambah plengsengan dan dermaga yang paten. Dua nilai lebih itu rupanya menjadi berkah bagi setempat. Terutama yang sejak awal punya rumah di situ. Namanya berkah tidak boleh dilewatkan percuma. Mulai mun­cullah kesadaran warga setempat. Mereka memutar arah rumahnya. Yang dulunya membelakangi pan­tai, kini disulap menghadap ke pantai. Lalu mereka mencoba menjual ikan bakar dan konco-konconya. Ternyata laris. Sebab, tempatnya memang asyik untuk santap kuliner laur. Bersama ke­luarga atau kolega. Terutama di malam hari. Sambil menunggu pesanan ikan bakar rampung dibakar, pengunjung bisa cuci mata. Menikmati puluhan perahu nelayan yang terparkir sedang diper­mainkan ombak. Juga menik­mati jembatan berbentuk lorong Pantai Boom yang ada di seberang.

Awalnya satu-dua orang yang me­lakukan memutar arah rumah­nya. Tidak lama berselang, warga lain­nya ikut melakukannya. Semua menghadap ke pantai. Semua membuka membuka warung ikan ba­kar. Bila kita masuk dari arah utara atau selatan menjumpai pemandangan yang sama: deretan warung ikan bakar. Dan, semuanya laris manis tanjung kimpul.

Baca Juga :  Filosofi Kaya dan Miskin: Memaknai Fenomena Crazy Rich

Bukan hanya tempatnya yang bersih dan nyaman, rasa masakan ikan bakar dan pelengkap pende­ritanya juga menyebabkan pe­ngun­jung ketagihan. ”Bakaran ikan­nya mantap. Bumbu dan sambalnya sangat nendang. Tidak ada duanya di tempat lain,” kata H Suyut, Direktur Jawa Pos Radar Bromo.

Beberapa waktu lalu, Suyut yang pen­cinta berat kuliner hasil laut tanya ke saya: di mana tempat ikan bakar yang enak di Banyu­wangi? Saya arahkan dia ke Plengsengan. Setelah mencarinya lewat Google Map, akhirnya kete­mu. Dia ajak para manajer di kantornya mampir ke Plengsengan. Sepulang dari Bali.

Suyut membandingkan kelezatan ikan bakar Plengsengan dengan ikan bakar di Jimbaran, Sanur, Bali. Kebetulan, sehari sebelum makan di Plengsengan, dia makan bersama saya di Jimbaran. Makan ikan bakar yang terkenal itu. Tapi, bagi lidah Suyut, ikan bakar Jim­baran lewat. Kalah nikmat dari ikan bakar Plengsengan.

Destinasi ikan bakar Plengse­ngan/Kampung Mandar terus berkembang. Selain makin banyak warungnya, kesadaran warga setempat untuk mengembangkan potensi lainnya terus bermunculan. Tentu saja, pertimbangannya, orang pesan ikan bakar beda de­ngan pesan rawon atau soto. Butuh waktu minimal setengah jam menunggu proses pengolahannya. Waktu untuk menunggu itu harus dimanfaatkan. Duduk saja sambil ngobrol bisa bikin boring. Mem­bosankan.

Maka, kini muncullah ide brilian dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kampung Mandar. Mereka memanfaatkan sebuah gang di sekitar warung ikan bakar menjadi destinasi baru. Gang itu bernama Gang Remaja. Gang yang hanya memiliki lebar sekitar dua meter itu disulap menjadi sentra oleh-oleh khas Banyuwangi. Pengelo­lanya anak-anak muda setempat. Melibatkan warga pemilik rumah di gang itu, tentunya. Di sepanjang gang itu tersedia camilan khas Banyuwangi, kopi, olahan ikan, dll. Hasil produksi dari 22 pelaku industri kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Untuk sementara, sebagian ba­rang jualannya dipasok oleh anggota AKRAB (Asosiasi Kuliner, Kaus, Kerajinan, Aksesoris, dan Batik) Banyuwangi. ”Target kami, 200 rumah di sepanjang Gang Remaja dan sekitarnya akan berjualan oleh-oleh khas Banyu­wangi,” beber Ketua Pokdarwis Kampung Mandar Hilman Syah Anwar.

Hilman menjelaskan, tujuan ide awal membuat pusat oleh-oleh berbasis masyarakat hanya satu. Yakni, memajukan pereko­nomian warga di Kampung Man­dar. Selain itu, juga menambah kesi­bukan ibu-ibu setempat. Selama ini, mereka jualan ikan di Pasar Banyuwangi, pukul 01.00 WIB sampai 06.00 WIB. Sekarang, mulai sore hingga malam hari mereka punya kegiatan baru: ber­jualan oleh-oleh di depan ru­mah masing-masing. ”Kami yakin, ke depan masyarakat di sini bisa mendapatkan rezeki dari depan rumahnya sendiri,” tandas pemuda energik itu seperti dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (7/8).

Baca Juga :  Kita Semua Pahlawan

Wa ba’du. Perkembangan Kam­pung Mandar dengan wisata kuliner Plengsengannya sangat membanggakan. Tentu saja. Itu berkah. Namanya berkah harus disyukuri. Cara bersyukur paling sederhana ada dua: Pertama, mempertahankan yang sudah ada. Kedua, mengevaluasinya untuk bekal mengembangkannya.

Pelayanan harus menjadi hal utama dan pertama bahan evalu­asi. Pertimbangannya sangat bisa dinalar. Kini, wisata kuliner bahari Plengsengan sudah menjadi destinasi wisata sangat terkenal. Di mana-mana. Bukan hanya war­ga Banyuwangi yang datang. Melainkan dari banyak daerah/kota dan provinsi di Indonesia.

Jangan sampai ada tamu yang kecewa. Jangan sampai gara-gara setitik nila, rusak susu sak panci. Harus dibangun komitmen bersa­ma para pemilik warung dan para pihak terkait. Mereka harus ber­sepakat: semua tamu harus diser­vis dengan baik. Tamu-tamu harus diservis dengan maksimal. Mereka harus mendapatkan pelayanan kelas wahid.

Untuk destinasi Plesengan yang makin sumpek, rasa-rassanya, se­nyum ramah penjual dan pramusaji saja saat ini tidak cukup. Harus mulai dipikirkan bagaimana mengatur parkir kendaraan pengunjung. Selama ini, kendaraan roda dua dan empat parkir di timur jalan. Tepat di sebelah gu­buk-gubuk lesehan maupun berkursi. Saat pengunjung full, gubuk-gubuk tempat menyantap makanan tertutup deretan ken­daraan yang parkir.

Bagi sebagian orang, mereka nya­man-nyaman saja makan di tempat seperti itu. Dekat dengan kendaraan yang dipakir dan kadang dapat bonus kemtut asap yang akan parkir. Tapi, tidak bagi sebagian pengunjung lainnya. Terutama mereka yang alergi terhadap debu dan polusi asap dari knalpot kendaraan.

Lebih dari itu, deretan kendaraan yang parkir itu menyebabkan kondisi sekitar tempat makan pengunjung terasa sesak. Ditam­bah keberadaan gubuk-gubuknya. Andai, gubuk-gubuk itu diubah menjadi deretan meja panjang lengkap dengan kursi-kursi por­tabelnya, insya Allah, akan terasa lebih lapang. Bisa menam­pung lebih banyak orang yang akan makan. Seperti di Jim­baran, Bali. Deretan meja panjang dijajar di atas pasir pantai Jimbaran. Satu meja panjang itu bisa menam­pung sampai 50 orang saling ber­hadap-hadapan.

Asyik sekali. Menikmati santap ikan bakar sambil menikmati sensasi menginjak pasir laut dan debur ombak. Tidak ada deru ken­daraan. Karena semua ken­daraan harus parkir di kantong parkir. Tak jauh dari lokasi makan.

Saya membayangkan, andai kelak ada kantong parkir di selatan dan utara Plengsengan—yang bisa menampung semua ken­da­raan, pengunjung tidak hanya akan merasakan kenyamanan menyantap ikan bakar. Lebih dari itu. Mereka juga bisa bebas ber­jalan kaki, mengeksplor seluruh potensi Kampung Mandar. Tak terkecuali Gang Remaja. Yang menyediakan oleh-oleh khas Ba­nyuwangi dan Kampung Mandar. (Pekolom Banyuwangi)