alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Panggung Besar

TAK peduli, meski gerakan pajunya agak kaku. Mereka tetap menari. Cuek. Terus menari. Sambil menahan sampur merah di pundaknya. Dan, memainkan sampur di ujung jarinya. Mereka asyik menari. Mengimbangi gerakan beberapa penari gandrung. 

Begitulah cara rombongan muhibah seni budaya dari Dinas Pariwisata Mataram, Nusa Tenggara Barat, menghormati tuan rumah. Mereka menari bersama dan menikmati atraksi seni persembahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, di Fish Market, Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi (23/11/21).

Rombongan dari Mataram tidak datang percuma. Mereka juga menampilkan dua tarian kebanggaan daerahnya. Tari Kembang Setanggi dan tari Janggelan. Kembang Setanggi merupakan tarian khas Mataram. Sementara Janggelan adalah tari garapan baru. Semacam tarian kreasi baru.

Menikmati tari Kembang Setanggi kurang lengkap tanpa mengetahui filosofinya. Tariannya menggambarkan sebuah taman kembang. Tampak sangat indah oleh bunga wangi warna-warni. Taman itu menghiasi jantung ibu kota:  Taman Kota Mataram. ‘’Warna-warni itu sesuai keberagaman suku, etnis, dan agama yang ada di Mataram. Namun (meski bermacam-macam), tetap hidup rukun dalam suasana indahnya kebersamaan yang harmonis, aman, ramah, unggul, dan mandiri,’’ jelas Sekretaris Dinas Pariwisata Mataram Ir Umara Sri Rachmawati.

Kondisi Mataram ternyata tak jauh beda dengan Banyuwangi. Bermacam suku, ras, etnis, dan agama juga hidup berdampingan di Bumi Blambangan. Harmonis. Alhamdulillah. Dari dulu hingga sekarang. Tapi, ada yang membedakan. Yakni, adakah tarian Banyuwangi yang menggambarkan tentang keberagaman seperti tari Kembang Setanggi? Saya mencoba mengingat-ingatnya.

Ah, saya gagal mengingatnya. Kalau pernah menyaksikannya, pasti saya pernah menyaksikannya. Berarti memang….

Pengakuan rombongan muhibah seni budaya dari Mataram pasti membuat warga Kota Gandrung bangga. Diwakili Umara, mereka mengaku bahagia berada di kota the Sunrise of Java: ‘’tak salah kami memilih Banyuwangi sebagai tempat muhibah seni budaya’’.

Muhibah seni budaya dari Mataram itu menginspirasi. Setidaknya bisa melahirkan program baru pengembangan Banyuwangi. Khususnya, strategi pengembangan pariwisata—termasuk seni budaya di dalamnya. Juga menjadi solusi mengatasi stagnasi program yang sudah berjalan dan berulang-ulang.

Sepuluh tahun terakhir, Banyuwangi gencar melakukan promosi. Baik dilakukan sendiri, maupun sinergi dengan pemerintah pusat. Hasilnya seperti kita rasakan bersama: sukses besar! Nama Banyuwangi merbak ke seantero Indonesia. Bahkan di dunia. Berkat kampanye masif destinasi wisata beserta atraksi seni budayanya.

 Satu dasawarsa cukuplah untuk ekspansi. Kini, tiba saatnya menyiapkan panggung di daerah sendiri. Sebut saja Panggung Besar. Tidak usah terlalu mewah. Yang penting tempatnya artistik. Nyaman untuk menampilkan karya seni tari dan atraksi budaya. Bagi pelaku seni Banyuwangi. Juga, utamanya, bagi para seniman tamu. Yang diundang secara berkala. Sebagai tim muhibah seni budaya.

Panggung Besar itu sebaiknya tidak hanya berada di satu tempat. Tetapi tersebar di beberapa lokasi. Tergantung hasil kurasi tim khusus tunjukan dinas terkait.

Panggung Besar itu hanya nama. Sebutan. Karenanya, tempatnya tidak harus luas dan megah. Yang penting, cukup representatif untuk menampilkan sebuah pertunjukan seni dan budaya. Lengkap dengan audio yang memadai, tentunya. Agar siapa pun yang tampil di tempat itu merasa terkesan. Dan pulang membawa kebanggaan sambil berkata: ‘’Banyuwangi memang hebat. Luar biasa’’.

Keuntungan diplomasi lewat Panggung Besar adalah, Banyuwangi bisa mengirit biaya promosi. Sekaligus meraup banyak ‘’devisa’’. Kok bisa? Dengan menyediakan Panggung Besar, otomatis Banyuwangi tidak perlu ke mana-mana. Kalaupun harus pergi ke luar ‘’kandang’’, bisa pilih-pilih. Memilih yang sekiranya bisa berdampak balik bagi kota tercinta ini. Tidak asal berangkat, berangkat, dan berangkat. Tapi, tidak ada umpan balik bagi daerahnya.

Langkah pertama yang kudu dilakukan pemerintah, adalah menyempurnakan kalender event Banyuwangi Festival. Bila selama ini hanya menampilkan potensi seni budaya ‘’yang masih itu-itu’’, maka dengan adanya Panggung Besar, konsepnya harus diubah. Ditambah dan disempurnakan. Misal, Gandrung Sewu kelak tidak lagi melibatkan talent lokal. Tetapi juga memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi tim muhibah seni budaya dari daerah lain berpartisipasi. Konsepnya, penari tamu bisa langsung berbaur dan menari bersama talent lokal. Atau, Gandrung Sewu dibuat dua hari. Hari pertama menampilkan Gandrung Sewu dengan penari lokal. Hari kedua dilanjutkan dengan penampilan Gandrung Sewu ala para duta seni dari berbagai daerah. Pasti akan menarik.

Pun event yang lain. Festival jaranan Butho bisa mengundang duta seni dari daerah lain. Terutama daerah yang memiliki kesenian sejenis jaranan. Seperti Jathilan di daerah Kediri dan sekitarnya. Atau, bahkan jaranan Butho Malaysia yang didirikan tenaga kerja Indonesia di negeri Jiran.  

Panggung Besar juga bisa menampilkan event musik tradisional. Misal, pergelaran angklung masal. Kolaborasi antarseniman musik berbasis bambu di Indonesia. Sebut saja, sebagai contoh: konser angklung Banyuwangi-Bali-Jawa Barat. Atau ditambah daerah lain. Pasti akan menjadi pertunjukan yang dahsyat.

Sangat mungkin, seniman dari luar negeri juga tertarik tampil di Panggung Besar. Bila itu terjadi, tentu akan sangat membanggakan masyarakat Banyuwangi. Selain menjalin silaturahim budaya, seniman dan rakyat Banyuwangi bisa mengenal lebih banyak ragam kesenian di dunia. Bahkan, bisa menjadikannya ‘’sekolah’’ untuk mengasah kreativitas.

Langkah berikutnya, Banyuwangi (c.q. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif), menyebar woro-woro ke seluruh pemerintah kabupaten/kota. Sekaligus menyampaikan undangan untuk mengirim duta seni budayanya ke event-event Banyuwangi Festival. Atau, event di luar Banyuwangi Festival. Tapi, apa ada yang mau datang?

Wa ba’du. Nama besar Banyuwangi menjadi garansinya. Saat ini, siapa dan daerah mana yang tidak mengenal Banyuwangi. Hari ini, siapa dan daerah mana yang tidak ingin berkunjung ke Banyuwangi. Hampir semua orang dan daerah pasti ingin mendatangi destinasi-destinasi di Bumi Blambangan. Juga menikmati suguhan atraksi seni dan budayanya.

Bukankah selama ini sudah ratusan rombongan pemda, pemkot, dan pemprov berkunjung ke Banyuwangi. Datang silih berganti. Mereka belajar tentang bagaimana Banyuwangi memajukan daerahnya. Dari yang tidak dikenal (bahkan, disepelekan) menjadi bertabur prestasi.

Nah, ke depan seyogianya bukan hanya rombongan pejabat dan staf pemerintahan yang datang ke Banyuwangi. Tapi lebih lengkap lagi formasinya. Ditambah rombongan duta seni dalam acara muhibah seni budaya. Wah, itu akan menyempurnakan studi banding pejabatnya. Sekali mendayung seribu pulau terdarati.

Tapi, keputusan ada di tuan rumah. Kapan ia akan membuat Panggung Besar? Ingat, kesempatan (emas) tidak akan pernah datang dua kali. Sekali terlewat, bablas selamanya. Dan, ngaplo yang didapat….

*) Penulis Banyuwangi)

TAK peduli, meski gerakan pajunya agak kaku. Mereka tetap menari. Cuek. Terus menari. Sambil menahan sampur merah di pundaknya. Dan, memainkan sampur di ujung jarinya. Mereka asyik menari. Mengimbangi gerakan beberapa penari gandrung. 

Begitulah cara rombongan muhibah seni budaya dari Dinas Pariwisata Mataram, Nusa Tenggara Barat, menghormati tuan rumah. Mereka menari bersama dan menikmati atraksi seni persembahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, di Fish Market, Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi (23/11/21).

Rombongan dari Mataram tidak datang percuma. Mereka juga menampilkan dua tarian kebanggaan daerahnya. Tari Kembang Setanggi dan tari Janggelan. Kembang Setanggi merupakan tarian khas Mataram. Sementara Janggelan adalah tari garapan baru. Semacam tarian kreasi baru.

Menikmati tari Kembang Setanggi kurang lengkap tanpa mengetahui filosofinya. Tariannya menggambarkan sebuah taman kembang. Tampak sangat indah oleh bunga wangi warna-warni. Taman itu menghiasi jantung ibu kota:  Taman Kota Mataram. ‘’Warna-warni itu sesuai keberagaman suku, etnis, dan agama yang ada di Mataram. Namun (meski bermacam-macam), tetap hidup rukun dalam suasana indahnya kebersamaan yang harmonis, aman, ramah, unggul, dan mandiri,’’ jelas Sekretaris Dinas Pariwisata Mataram Ir Umara Sri Rachmawati.

Kondisi Mataram ternyata tak jauh beda dengan Banyuwangi. Bermacam suku, ras, etnis, dan agama juga hidup berdampingan di Bumi Blambangan. Harmonis. Alhamdulillah. Dari dulu hingga sekarang. Tapi, ada yang membedakan. Yakni, adakah tarian Banyuwangi yang menggambarkan tentang keberagaman seperti tari Kembang Setanggi? Saya mencoba mengingat-ingatnya.

Ah, saya gagal mengingatnya. Kalau pernah menyaksikannya, pasti saya pernah menyaksikannya. Berarti memang….

Pengakuan rombongan muhibah seni budaya dari Mataram pasti membuat warga Kota Gandrung bangga. Diwakili Umara, mereka mengaku bahagia berada di kota the Sunrise of Java: ‘’tak salah kami memilih Banyuwangi sebagai tempat muhibah seni budaya’’.

Muhibah seni budaya dari Mataram itu menginspirasi. Setidaknya bisa melahirkan program baru pengembangan Banyuwangi. Khususnya, strategi pengembangan pariwisata—termasuk seni budaya di dalamnya. Juga menjadi solusi mengatasi stagnasi program yang sudah berjalan dan berulang-ulang.

Sepuluh tahun terakhir, Banyuwangi gencar melakukan promosi. Baik dilakukan sendiri, maupun sinergi dengan pemerintah pusat. Hasilnya seperti kita rasakan bersama: sukses besar! Nama Banyuwangi merbak ke seantero Indonesia. Bahkan di dunia. Berkat kampanye masif destinasi wisata beserta atraksi seni budayanya.

 Satu dasawarsa cukuplah untuk ekspansi. Kini, tiba saatnya menyiapkan panggung di daerah sendiri. Sebut saja Panggung Besar. Tidak usah terlalu mewah. Yang penting tempatnya artistik. Nyaman untuk menampilkan karya seni tari dan atraksi budaya. Bagi pelaku seni Banyuwangi. Juga, utamanya, bagi para seniman tamu. Yang diundang secara berkala. Sebagai tim muhibah seni budaya.

Panggung Besar itu sebaiknya tidak hanya berada di satu tempat. Tetapi tersebar di beberapa lokasi. Tergantung hasil kurasi tim khusus tunjukan dinas terkait.

Panggung Besar itu hanya nama. Sebutan. Karenanya, tempatnya tidak harus luas dan megah. Yang penting, cukup representatif untuk menampilkan sebuah pertunjukan seni dan budaya. Lengkap dengan audio yang memadai, tentunya. Agar siapa pun yang tampil di tempat itu merasa terkesan. Dan pulang membawa kebanggaan sambil berkata: ‘’Banyuwangi memang hebat. Luar biasa’’.

Keuntungan diplomasi lewat Panggung Besar adalah, Banyuwangi bisa mengirit biaya promosi. Sekaligus meraup banyak ‘’devisa’’. Kok bisa? Dengan menyediakan Panggung Besar, otomatis Banyuwangi tidak perlu ke mana-mana. Kalaupun harus pergi ke luar ‘’kandang’’, bisa pilih-pilih. Memilih yang sekiranya bisa berdampak balik bagi kota tercinta ini. Tidak asal berangkat, berangkat, dan berangkat. Tapi, tidak ada umpan balik bagi daerahnya.

Langkah pertama yang kudu dilakukan pemerintah, adalah menyempurnakan kalender event Banyuwangi Festival. Bila selama ini hanya menampilkan potensi seni budaya ‘’yang masih itu-itu’’, maka dengan adanya Panggung Besar, konsepnya harus diubah. Ditambah dan disempurnakan. Misal, Gandrung Sewu kelak tidak lagi melibatkan talent lokal. Tetapi juga memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi tim muhibah seni budaya dari daerah lain berpartisipasi. Konsepnya, penari tamu bisa langsung berbaur dan menari bersama talent lokal. Atau, Gandrung Sewu dibuat dua hari. Hari pertama menampilkan Gandrung Sewu dengan penari lokal. Hari kedua dilanjutkan dengan penampilan Gandrung Sewu ala para duta seni dari berbagai daerah. Pasti akan menarik.

Pun event yang lain. Festival jaranan Butho bisa mengundang duta seni dari daerah lain. Terutama daerah yang memiliki kesenian sejenis jaranan. Seperti Jathilan di daerah Kediri dan sekitarnya. Atau, bahkan jaranan Butho Malaysia yang didirikan tenaga kerja Indonesia di negeri Jiran.  

Panggung Besar juga bisa menampilkan event musik tradisional. Misal, pergelaran angklung masal. Kolaborasi antarseniman musik berbasis bambu di Indonesia. Sebut saja, sebagai contoh: konser angklung Banyuwangi-Bali-Jawa Barat. Atau ditambah daerah lain. Pasti akan menjadi pertunjukan yang dahsyat.

Sangat mungkin, seniman dari luar negeri juga tertarik tampil di Panggung Besar. Bila itu terjadi, tentu akan sangat membanggakan masyarakat Banyuwangi. Selain menjalin silaturahim budaya, seniman dan rakyat Banyuwangi bisa mengenal lebih banyak ragam kesenian di dunia. Bahkan, bisa menjadikannya ‘’sekolah’’ untuk mengasah kreativitas.

Langkah berikutnya, Banyuwangi (c.q. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif), menyebar woro-woro ke seluruh pemerintah kabupaten/kota. Sekaligus menyampaikan undangan untuk mengirim duta seni budayanya ke event-event Banyuwangi Festival. Atau, event di luar Banyuwangi Festival. Tapi, apa ada yang mau datang?

Wa ba’du. Nama besar Banyuwangi menjadi garansinya. Saat ini, siapa dan daerah mana yang tidak mengenal Banyuwangi. Hari ini, siapa dan daerah mana yang tidak ingin berkunjung ke Banyuwangi. Hampir semua orang dan daerah pasti ingin mendatangi destinasi-destinasi di Bumi Blambangan. Juga menikmati suguhan atraksi seni dan budayanya.

Bukankah selama ini sudah ratusan rombongan pemda, pemkot, dan pemprov berkunjung ke Banyuwangi. Datang silih berganti. Mereka belajar tentang bagaimana Banyuwangi memajukan daerahnya. Dari yang tidak dikenal (bahkan, disepelekan) menjadi bertabur prestasi.

Nah, ke depan seyogianya bukan hanya rombongan pejabat dan staf pemerintahan yang datang ke Banyuwangi. Tapi lebih lengkap lagi formasinya. Ditambah rombongan duta seni dalam acara muhibah seni budaya. Wah, itu akan menyempurnakan studi banding pejabatnya. Sekali mendayung seribu pulau terdarati.

Tapi, keputusan ada di tuan rumah. Kapan ia akan membuat Panggung Besar? Ingat, kesempatan (emas) tidak akan pernah datang dua kali. Sekali terlewat, bablas selamanya. Dan, ngaplo yang didapat….

*) Penulis Banyuwangi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/