alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Menyelami Batik, Membaca Keris

BUKAN 31. Tapi, lebih banyak lagi. Ragam batik Banyuwangi.

Sayang, tidak jelas jumlah pastinya. Ada yang bilang 40 macam. Sumber lain malah mengatakan 50.

Berapa pun jumlah sebenarnya, yang pasti batik Macan Putih tercatat sebagai motif terbaru. Sayang seribu sayang, seperti saya tulis di Man Nahnu pekan lalu (31/8), filosofi dan sejarah motif Macan Putih belum jelas. Khususnya bagi saya. Yang masih nol puthul. Belum punya referensi memadai tentang batik Macan Putih.

Padahal, sejarah dan filosofi motif batik sangat menarik. Untuk diketahui. Juga dipelajari. Menyelami motif sebuah batik, seperti mengembara ke perjalanan alam kreatif.

Pembatik itu sama dengan pelukis. Kurang dan lebihnya. Karena pembatik juga seniman. Pembatik melakukan apa yang dilakukan perupa. Ia juga memilih dan memilah warna. Lalu menggoreskannya di atas media. Yakni, kain. Jenis kainnya bermacam-macam. Tergantung harga dan kualitas yang direncakanan.

Yang membedakan pelukis dan pembatik adalah alat. Pelukis menggunakan kuas dan atau pisau palet. Sementara pembantik menggunakan canting.

Kesulitan membatik dan melukis ada di proses awalnya. Yakni, ide awalnya. Gambar seperti apa yang akan dilukis dan dibatik. Proses itu bisa berlangsung berhari-hari. Bahkan berbulan-bulan. Tidak mudah mendapatkan inspirasi. Sebelum dieksekusi menjadi sebuah gambar: lukisan dan motif batik!

Sama seperti lukisan, motif batik yang bagus tidak hanya tecermin dalam gambar. Melainkan juga dari filosofi yang tersembungi di balik gambarnya. Selalu ada makna dan bahkan pesan hidup dari filosofi sebuah motif batik.

Seperti batik Gajah Oling. Banyak orang masih salah persepsi. Mereka mengira motif Gajah Oling itu merupakan perwujudan dua binatang: gajah dan oling (sidat). Padahal, frasa Gajah Oling mengandung pesan moral cukup penting. Yang (seharusnya) menjadi pegangan hidup. Bagi siapa saja.

”Gajah” secara fisik berbadan besar. Dimaknai sebagai sesuatu yang besar. Sedangkan ”Oling” secara harafiah merupakan binatang yang licin. Mirip sekali dengan lele. Tapi, sesungguhnya keduanya berbeda. Namun, dalam Gajah Oling, ”oling” mengalami pergeseran makna. Oling = eling (ingat, mengingat). Maka, Gajah Oling bermakna ”setelah berhasil (menjadi ”orang besar”, orang sukses, orang penting) harus tetap ingat kepada Yang Mahabesar. Atau, ada yang memaknainya lebih ringkas: Gajah Oling = selalu mengingat Yang Mahabesar.

Makna yang begitu mendalam. Sangat wajar, Gajah Oling menjadi batik tertua dan paling terkenal.  Mulai jadi ikon kota the Sunrise of Java, sampai seragam ASN di lingkungan pemkab, kantor/lembaga swasta, dan seragam sekolah.

Kita juga bisa memetik pelajaran dari batik Paras Gempal. Terutama pelajaran tentang kekuatan kasih sayang. Bahwa kasih sayang bisa mengalahkan apa pun. Walau sekeras batu. ”Paras” atau padas adalah batu sangat keras. Sedangkan ”Gempal” bermakna runtuh. Bila ditarik dalam kehidupan nyata, Paras Gempal bisa diartikan: sekeras-kerasnya hati manusia, bisa luluh oleh kasih sayang dan kesetiaan.

Bagi cowok atau cewek yang lagi pedekate, ada baiknya rajin mengenakan batik Paras Gempal. Agar hati si dianya cepat luluh. Bertekuk hati kepada Anda. Hahaha….

Seniman batik Banyuwangi sejak lama sudah menerjemahkan semangat NKRI ke dalam motif batik. Pun sila ketiga Pancasila. Batik itu bernama Kangkung Setingkes. Semua tahu, ”kangkung” adalah salah satu jenis sayuran. Memiliki banyak ranting dan daun. ”Setingkes” sering diartikan terikat atau satu ikat. Ranting yang banyak. Daun yang banyak. Dan, ukurannya yang berbeda-beda. Tetap menjadi kesatuan dalam ”setingkes”. Atau, dalam bahasa sosial politik kita akrab menyebutnya dengan ”kesatuan dalam keberagaman”.

Batik Kangkung Setingkes cocok dipakai mereka yang sering mengampanyekan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Aura batik Kangkung Setingkes bisa mengurangi ancaman disintegrasi bangsa.

Seniman batik memang hebat. Mereka juga peduli terhadap lingkungan. Bahkan, seniman batik Bumi Blambangan menjangkau lebih jauh. Mereka bicara tentang potensi kekayaan alam.

Maka, mereka menciptakan motif batik Kopi Pecah. Lewat lukisan batik Kopi Pecah, si pembatik seolah menyiarkan, bahwa Banyuwangi adalah Kota Kopi. Yang memiliki banyak kebun penghasil kopi. Dan, banyak produk kopi. Mulai Kopai Osing, Kopi Jaran Goyang, Kopi Nongko Sesigar, Kopi Gombengsari, dst.

Seniman batik Banyuwangi juga berhasil memvisualisasi potensi bambu di daerahnya ke dalam motif batik. Yakni, batik Galaran dan batik Gedegan. Sesuai namanya, motif Galaran menceritakan pengolahan batang bambu sebagai alas tempat tidur. Cara membuatnya: batang bambu dipecah menjadi beberapa bilah. Lalu ditata. Menjadi alas tidur. Sementara motif Gedegan berwujud anyaman bilah-bilah bambu. Biasanya disebut gedhek atau welit. Digunakan sebagai dinding rumah.

Menyelami batik tidak hanya mendapat keindahan gambar dan warna. Lebih dari itu. Kita juga mendapatkan bonus khusus. Yakni, ilmu pengetahuan sekaligus ajaran tentang kehidupan.  

Hal yang sama juga kita peroleh ketika membaca keris. Semua tahu, dulu keris merupakan senjata utama bangsa Indonesia. Para pahlawan hebat negeri ini punya keris sakti. Tidak hanya pejuang di tanah Jawa seperti Pangeran Diponeoro. Tuanku Imam Bonjol yang sangat heroik dalam perang Padri dan pahlawan Aceh Teuku Umar, konon juga bersenjata keris.

Seiring berputarnya waktu, keris mengalami pergeseran fungsi. Dari sebuah senjata mematikan, kini menjadi benda koleksi. Karena punya kelebihan nilai estetik yang tinggi. Nilai itu bisa ditelusuri dari proses pembuatannya.

Keris terbuat dari bahan-bahan pilihan. Mulai dari besi, baja, nikel, titanium, kromium, pamor, sampai karbon. Tujuh bahan itu ditempa di atas bara api. Bukan hanya dengan kekuatan fisik. Tapi juga menggunakan kekuatan batin sang Mpu. Lewat laku tingkat tinggi dan seni tempa mumpuni, Mpu memadukan tujuh unsur bahan keris. Menjadi bentuk (luk) dan menyeimbangkannya dengan pamor. Dari luk dan pamor memancar tajeg (tuah) bagi pemiliknya —seperti harapan Mpu yang dimohonkan kepada Tuhan Yang Mahaagung.

Ada yang meyakini, keris sebagai piandel. Pusaka yang memilih pemakai/pemilik, untuk siapa kersi itu diciptakan.

Misal, keris luk 3—disebut Jangkung. Cocok dipakai untuk siapa saja. Kemudian luk 5 (Pendowo), untuk orang yang haus ilmu. Orang yang hanya belajar dan terus belajar. Ada lagi luk 7 (Pitulungan), biasanya dipakai mereka yang bergerak di bidang jasa. Luk 9 (Panimbal), melambangkan ketenteraman atau ketenangan. Bagi pemimpin ada luk sendiri: luk 13 (Mangku Panguoso). Dan, bagi seniman, budayawan, dlsb, cocoknya pakai luk 15. ”Karena mereka memiliki kelebihan di bidang khusus di atas orang kebanyakan,” kata KRT Ilham Triadi.

Ngobrol soal keris dengan Ilham sangat mengasyikkan. Dia sangat menguasai perkerisan. Maklum. Ilham tercatat sebagai Mpu pembuat keris di Bumi Blambangan. Dia tahu persis keris dan pusaka asli Kerajaan Blambangan. Misal, keris Jalak Sangu Tumpeng. Yang tersimpan di Museum Blambangan. Itulah keris peninggalan Raden Tumenggung Pringgo Kusumo. Mantan bupati ke-13 (tahun 1887).  

Kenapa keris ber-luk? Jawaban Ilham sangat logis. Keris itu simbol pribadi manusia. Yang tidak selalu lurus. ”Berkelok-kelok seperti luk keris. Menuju ujung lancip. Yang bermakna tunggal. Yakni Tuhan. Sebagai ujung harapan dari perjalanan manusia,” jelentreh Ilham.

Wa ba’du. Banyuwangi patut bangga. Punya dua benda pusaka sekaligus (batik dan keris). Yang sama-sama sudah diakui secara global.

Puluhan motif batik Banyuwangi merupakan kekayaan budaya. Yang kudu terus dirawat. Agar bisa dijadikan ”alat jualan” pariwisata. Sebab, batik Indonesia (termasuk di dalamnya batik Banyuwangi, tentunya) sudah diakui oleh dunia. UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural, organisasi internasional di bawah PBB yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) telah mengakui batik Indonesia. Sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH). Warisan Budaya Takbenda. Dalam sidang UNESCO di Abu Dhabi. Pada 2 Oktober 2009.

Sementara keris Indonesia, termasuk keris Banyuwangi, malah sudah diakui UNESCO lebih dulu. Yakni, pada 25 November 2005.

Sungguh beruntungnya Banyuwangi. Punya dua karya yang diakui dunia. Sekarang, tinggal bagaimana cara merawatnya. Sekaligus ”menjualnya” sebagai destinasi wisata budaya unggulan.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

BUKAN 31. Tapi, lebih banyak lagi. Ragam batik Banyuwangi.

Sayang, tidak jelas jumlah pastinya. Ada yang bilang 40 macam. Sumber lain malah mengatakan 50.

Berapa pun jumlah sebenarnya, yang pasti batik Macan Putih tercatat sebagai motif terbaru. Sayang seribu sayang, seperti saya tulis di Man Nahnu pekan lalu (31/8), filosofi dan sejarah motif Macan Putih belum jelas. Khususnya bagi saya. Yang masih nol puthul. Belum punya referensi memadai tentang batik Macan Putih.

Padahal, sejarah dan filosofi motif batik sangat menarik. Untuk diketahui. Juga dipelajari. Menyelami motif sebuah batik, seperti mengembara ke perjalanan alam kreatif.

Pembatik itu sama dengan pelukis. Kurang dan lebihnya. Karena pembatik juga seniman. Pembatik melakukan apa yang dilakukan perupa. Ia juga memilih dan memilah warna. Lalu menggoreskannya di atas media. Yakni, kain. Jenis kainnya bermacam-macam. Tergantung harga dan kualitas yang direncakanan.

Yang membedakan pelukis dan pembatik adalah alat. Pelukis menggunakan kuas dan atau pisau palet. Sementara pembantik menggunakan canting.

Kesulitan membatik dan melukis ada di proses awalnya. Yakni, ide awalnya. Gambar seperti apa yang akan dilukis dan dibatik. Proses itu bisa berlangsung berhari-hari. Bahkan berbulan-bulan. Tidak mudah mendapatkan inspirasi. Sebelum dieksekusi menjadi sebuah gambar: lukisan dan motif batik!

Sama seperti lukisan, motif batik yang bagus tidak hanya tecermin dalam gambar. Melainkan juga dari filosofi yang tersembungi di balik gambarnya. Selalu ada makna dan bahkan pesan hidup dari filosofi sebuah motif batik.

Seperti batik Gajah Oling. Banyak orang masih salah persepsi. Mereka mengira motif Gajah Oling itu merupakan perwujudan dua binatang: gajah dan oling (sidat). Padahal, frasa Gajah Oling mengandung pesan moral cukup penting. Yang (seharusnya) menjadi pegangan hidup. Bagi siapa saja.

”Gajah” secara fisik berbadan besar. Dimaknai sebagai sesuatu yang besar. Sedangkan ”Oling” secara harafiah merupakan binatang yang licin. Mirip sekali dengan lele. Tapi, sesungguhnya keduanya berbeda. Namun, dalam Gajah Oling, ”oling” mengalami pergeseran makna. Oling = eling (ingat, mengingat). Maka, Gajah Oling bermakna ”setelah berhasil (menjadi ”orang besar”, orang sukses, orang penting) harus tetap ingat kepada Yang Mahabesar. Atau, ada yang memaknainya lebih ringkas: Gajah Oling = selalu mengingat Yang Mahabesar.

Makna yang begitu mendalam. Sangat wajar, Gajah Oling menjadi batik tertua dan paling terkenal.  Mulai jadi ikon kota the Sunrise of Java, sampai seragam ASN di lingkungan pemkab, kantor/lembaga swasta, dan seragam sekolah.

Kita juga bisa memetik pelajaran dari batik Paras Gempal. Terutama pelajaran tentang kekuatan kasih sayang. Bahwa kasih sayang bisa mengalahkan apa pun. Walau sekeras batu. ”Paras” atau padas adalah batu sangat keras. Sedangkan ”Gempal” bermakna runtuh. Bila ditarik dalam kehidupan nyata, Paras Gempal bisa diartikan: sekeras-kerasnya hati manusia, bisa luluh oleh kasih sayang dan kesetiaan.

Bagi cowok atau cewek yang lagi pedekate, ada baiknya rajin mengenakan batik Paras Gempal. Agar hati si dianya cepat luluh. Bertekuk hati kepada Anda. Hahaha….

Seniman batik Banyuwangi sejak lama sudah menerjemahkan semangat NKRI ke dalam motif batik. Pun sila ketiga Pancasila. Batik itu bernama Kangkung Setingkes. Semua tahu, ”kangkung” adalah salah satu jenis sayuran. Memiliki banyak ranting dan daun. ”Setingkes” sering diartikan terikat atau satu ikat. Ranting yang banyak. Daun yang banyak. Dan, ukurannya yang berbeda-beda. Tetap menjadi kesatuan dalam ”setingkes”. Atau, dalam bahasa sosial politik kita akrab menyebutnya dengan ”kesatuan dalam keberagaman”.

Batik Kangkung Setingkes cocok dipakai mereka yang sering mengampanyekan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Aura batik Kangkung Setingkes bisa mengurangi ancaman disintegrasi bangsa.

Seniman batik memang hebat. Mereka juga peduli terhadap lingkungan. Bahkan, seniman batik Bumi Blambangan menjangkau lebih jauh. Mereka bicara tentang potensi kekayaan alam.

Maka, mereka menciptakan motif batik Kopi Pecah. Lewat lukisan batik Kopi Pecah, si pembatik seolah menyiarkan, bahwa Banyuwangi adalah Kota Kopi. Yang memiliki banyak kebun penghasil kopi. Dan, banyak produk kopi. Mulai Kopai Osing, Kopi Jaran Goyang, Kopi Nongko Sesigar, Kopi Gombengsari, dst.

Seniman batik Banyuwangi juga berhasil memvisualisasi potensi bambu di daerahnya ke dalam motif batik. Yakni, batik Galaran dan batik Gedegan. Sesuai namanya, motif Galaran menceritakan pengolahan batang bambu sebagai alas tempat tidur. Cara membuatnya: batang bambu dipecah menjadi beberapa bilah. Lalu ditata. Menjadi alas tidur. Sementara motif Gedegan berwujud anyaman bilah-bilah bambu. Biasanya disebut gedhek atau welit. Digunakan sebagai dinding rumah.

Menyelami batik tidak hanya mendapat keindahan gambar dan warna. Lebih dari itu. Kita juga mendapatkan bonus khusus. Yakni, ilmu pengetahuan sekaligus ajaran tentang kehidupan.  

Hal yang sama juga kita peroleh ketika membaca keris. Semua tahu, dulu keris merupakan senjata utama bangsa Indonesia. Para pahlawan hebat negeri ini punya keris sakti. Tidak hanya pejuang di tanah Jawa seperti Pangeran Diponeoro. Tuanku Imam Bonjol yang sangat heroik dalam perang Padri dan pahlawan Aceh Teuku Umar, konon juga bersenjata keris.

Seiring berputarnya waktu, keris mengalami pergeseran fungsi. Dari sebuah senjata mematikan, kini menjadi benda koleksi. Karena punya kelebihan nilai estetik yang tinggi. Nilai itu bisa ditelusuri dari proses pembuatannya.

Keris terbuat dari bahan-bahan pilihan. Mulai dari besi, baja, nikel, titanium, kromium, pamor, sampai karbon. Tujuh bahan itu ditempa di atas bara api. Bukan hanya dengan kekuatan fisik. Tapi juga menggunakan kekuatan batin sang Mpu. Lewat laku tingkat tinggi dan seni tempa mumpuni, Mpu memadukan tujuh unsur bahan keris. Menjadi bentuk (luk) dan menyeimbangkannya dengan pamor. Dari luk dan pamor memancar tajeg (tuah) bagi pemiliknya —seperti harapan Mpu yang dimohonkan kepada Tuhan Yang Mahaagung.

Ada yang meyakini, keris sebagai piandel. Pusaka yang memilih pemakai/pemilik, untuk siapa kersi itu diciptakan.

Misal, keris luk 3—disebut Jangkung. Cocok dipakai untuk siapa saja. Kemudian luk 5 (Pendowo), untuk orang yang haus ilmu. Orang yang hanya belajar dan terus belajar. Ada lagi luk 7 (Pitulungan), biasanya dipakai mereka yang bergerak di bidang jasa. Luk 9 (Panimbal), melambangkan ketenteraman atau ketenangan. Bagi pemimpin ada luk sendiri: luk 13 (Mangku Panguoso). Dan, bagi seniman, budayawan, dlsb, cocoknya pakai luk 15. ”Karena mereka memiliki kelebihan di bidang khusus di atas orang kebanyakan,” kata KRT Ilham Triadi.

Ngobrol soal keris dengan Ilham sangat mengasyikkan. Dia sangat menguasai perkerisan. Maklum. Ilham tercatat sebagai Mpu pembuat keris di Bumi Blambangan. Dia tahu persis keris dan pusaka asli Kerajaan Blambangan. Misal, keris Jalak Sangu Tumpeng. Yang tersimpan di Museum Blambangan. Itulah keris peninggalan Raden Tumenggung Pringgo Kusumo. Mantan bupati ke-13 (tahun 1887).  

Kenapa keris ber-luk? Jawaban Ilham sangat logis. Keris itu simbol pribadi manusia. Yang tidak selalu lurus. ”Berkelok-kelok seperti luk keris. Menuju ujung lancip. Yang bermakna tunggal. Yakni Tuhan. Sebagai ujung harapan dari perjalanan manusia,” jelentreh Ilham.

Wa ba’du. Banyuwangi patut bangga. Punya dua benda pusaka sekaligus (batik dan keris). Yang sama-sama sudah diakui secara global.

Puluhan motif batik Banyuwangi merupakan kekayaan budaya. Yang kudu terus dirawat. Agar bisa dijadikan ”alat jualan” pariwisata. Sebab, batik Indonesia (termasuk di dalamnya batik Banyuwangi, tentunya) sudah diakui oleh dunia. UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural, organisasi internasional di bawah PBB yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) telah mengakui batik Indonesia. Sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH). Warisan Budaya Takbenda. Dalam sidang UNESCO di Abu Dhabi. Pada 2 Oktober 2009.

Sementara keris Indonesia, termasuk keris Banyuwangi, malah sudah diakui UNESCO lebih dulu. Yakni, pada 25 November 2005.

Sungguh beruntungnya Banyuwangi. Punya dua karya yang diakui dunia. Sekarang, tinggal bagaimana cara merawatnya. Sekaligus ”menjualnya” sebagai destinasi wisata budaya unggulan.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/