alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Taktik Jenderal Sudirman

PANDEMI Covid-19 belum (benar-benar) berlalu. Tapi, tempat nongkrong malah sudah bersemi. Hampir di semua tempat. Di sudut kota Banyuwangi. Dengan mudah kita menjumpainya.

Tempatnya beragam. Mulai warles (warung lesehan) pinggir jalan. Sampai kafe modern. Yang disebut terakhir itu tidak hanya menonjolkan tempat yang nyaman. Melainkan sudah sadar nilai-nilai arsitektur.

Tentu saja, arsitektur bernapaskan kafe. Tempat kongko yang asyik. Untuk menggasak pilihan menu yang disediakan. Plus bonus spesial: menikmati gaya bangunannya.

Tapi, untuk yang gaya bangunan saya masih sanksi. Apakah pengunjuang tempat nongkrong yang didominasi kawula muda itu, sungguh-sungguh menikmati gaya arsitekturnya. Atau, hanya membunuh waktu. Menghabiskan waktu penuh canda tawa.

Padahal, bagi orang tua mereka—yang seusia saya, beberapa kafe dan restoran di Bumi Blambangan sangat unik. Berani tampil beda. Menghadirkan gaya bangunan yang tidak ndeso lagi. Para pemiliknya tampak sekali melek ke-arsitektur-an.

Beberapa dari mereka membuat bangunan bergaya desain industrial. Tapi, tidak asal-asalan. Itu terlihat jelas dari tema yang dipakai. Mulai Mexican Style, gaya Jepang, Santorini Italia, bahkan ada Scandinavian pula.

Itu kemajuan tersendiri. Bagai kota the Sunrise of Java. Menjadi penanda kemajuan sebuah kota.

Sayangnya, terus terang, saya belum pernah masuk ke kafe-kafe itu. Bagaimana mau ngopi di sana, yang datang mayoritas anak muda. Sebenarnya, nekat masuk sih bisa. Tapi, kan jadi makhluk aneh. Bisa dianggap dari planet lain. Karena sebagian rambut sudah memutih. Dan, kulit wajah sudah tidak sekencang pengunjung lainnya.

Karena belum pernah masuk ke dalam kafe-kafe modern itu, saya tidak bisa menilai: sudah adakah unsur-unsur budaya dan kearifan lokal Banyuwangi di bangunan kafe-kafe itu. Baik berupa ornamen eksterior maupun interiornya. Kalaupun belum ada, masih ada waktu untuk menambahinya. Itu pun kalau mau.

Apa pun, kehadiran bangunan-bangunan unik kafe dan kuliner itu harus disambut positif. Apalagi, penggeraknya adalah anak-anak muda. Generasi milenial. Yang selalu ingin tampil beda. Mareka kudu terus disemangati. Agar tidak patah arang. Mutung di tengah jalan.

Asal mau melebarkan daun telinga, mau mendengar masukan dari mana pun, sangat mungkin mereka akan menjadi pebisnis sukses. Menjadi calon raja-raja kuliner dan kafe di masa mendatang. Mengalahkan raja-raja kuliner-kafe yang ada saat ini. Yang mulai uzur digerogoti usia.

Dari amatan sepintas lalu, saya memberi catatan khusus untuk mereka. Pertama, soal barang yang dijual. Meski tempat dan namanya berbeda, menu yang dijual nyaris sama. Bahkan, cenderung seragam. Padahal, mereka jelas-jelas bukan satu grup. Malah tidak kenal satu sama yang lain. Semoga, keseragaman itu bukan disebabkan kelatahan. Alias semangat copy paste. Jualan mereka berkutat pada kopi dan teh dengan berbagai variannya. Lalu makanan ringan seperti kentang goreng dan teman-temannya. Ada juga yang menjual menu dengan nama jajanan dan minuman dari luar negeri. Agar tampak keren dan sesuai selera anak muda, mungkin.

Bisa dibayangkan. Jika menu di kafe A sama dengan kafe B. Atau, bahkan tidak hanya dengan B, tapi sama dengan kafe B, C, E, G, U, dan Z. Kira-kira apa yang terjadi. Akan ada kecenderungan pembeli hanya membeli di satu tempat. Maksimal dua tempat. Yang lain, sudah pasti sepi. Sebab, dalam bisnis (apa pun), prinsip diferensiasi berlaku. Siapa yang beda, siapa yang unik jualannya. Dialah yang kemungkinan besar lakunya. Diminati pembeli. Terus bertambah pelanggannya.

Pengamatan kedua. Hampir sebagian besar kafe dan resto baru berada di kota. Wilayah kota dan sekitarnya jadi arena pertempuran. Dan, mereka bertempur dengan senjata menu yang nyaris sama. Kalau sudah begitu berlaku hukum persaingan bisnis: 1. Siapa lebih enak, dia akan dicari pembeli, 2. Siapa pandai promosi, kemungkinan besar dia bisa menggaet pembeli.

Belum lagi, mereka harus melawan para senior. Yang notabene sudah melegenda. Punya nama besar. Sejak para pengusaha muda itu belum lahir. Tanpa promosi pun, warung dan resto legend itu sudah kebanjiran pelanggan. Dan, harap dicatat, mereka adalah pelanggan loyal. Yang tak mudah berpindah ke lain hati.

Wa ba’du. Dalam bisnis pun, tidak ada salahnya meneladani Jenderal Sudirman. Seorang prajurit yang tidak kenal menyerah. Melawan penjajah. Dia menerapkan strategi perang gerilya. Untuk melawan Belanda dengan persenjataan lebih canggih. Jenderal Sudirman menggunakan taktik perang wilayah. Hasilnya, Belanda kalang kabut. Menghadapi kekuatan pasukan Indonesia. Di bawah pimpinan Sudirman.

Nah, kenapa pebisnis muda tidak menggunakan strategi gerilya. Tinggalkan wilayah kota. Yang sudah jenuh. Kalau tidak percaya, silakan sempatkan waktu. Untuk menghitung sendiri. Ada berapa jumlah kafe dan restoran di kota! Cobalah mencari ceruk bisnis dari pinggiran. Bukankah destinasi wisata Banyuwangi kini justru berada di wilayah pinggiran. Masih banyak tempat berbau uang di daerah sekitar Pulau Merah, Bangsring Under Water, TN Alas Purwo. Juga penyangga Kawah Ijen, seperti Kemiren, Kampunganyar, Mondoluko, Pesucen, Kalipuro, beberapa desa di Glagah, dan juga Licin. Semua sangat memungkinkan untuk dijadikan lokasi kafe dan resto. Tempat kongko yang nyaman. Untuk bersantai. Menyantap menu makanan khas Osing. Juga kudapan lengkap dengan kopi khas Banyuwangi. Sambil menikmati kesejukan dan keindahan alam sekitarnya. Terutama area sawah dengan teraseringnya dan punggung Gunung Ijen.

Soal bentuk bangunannya, jangan khawatir. Gaya desain industrial juga cocok dengan wilayah pinggiran. Terutama cari desain arsitektur yang ramah lingkungan. Seperti gedung Grha Pena Banyuwangi. Yang menyatu dengan sawah di sebelah selatannya. Maaf, hanya menyebut sebagai contoh. Tidak ada maksud lain.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

PANDEMI Covid-19 belum (benar-benar) berlalu. Tapi, tempat nongkrong malah sudah bersemi. Hampir di semua tempat. Di sudut kota Banyuwangi. Dengan mudah kita menjumpainya.

Tempatnya beragam. Mulai warles (warung lesehan) pinggir jalan. Sampai kafe modern. Yang disebut terakhir itu tidak hanya menonjolkan tempat yang nyaman. Melainkan sudah sadar nilai-nilai arsitektur.

Tentu saja, arsitektur bernapaskan kafe. Tempat kongko yang asyik. Untuk menggasak pilihan menu yang disediakan. Plus bonus spesial: menikmati gaya bangunannya.

Tapi, untuk yang gaya bangunan saya masih sanksi. Apakah pengunjuang tempat nongkrong yang didominasi kawula muda itu, sungguh-sungguh menikmati gaya arsitekturnya. Atau, hanya membunuh waktu. Menghabiskan waktu penuh canda tawa.

Padahal, bagi orang tua mereka—yang seusia saya, beberapa kafe dan restoran di Bumi Blambangan sangat unik. Berani tampil beda. Menghadirkan gaya bangunan yang tidak ndeso lagi. Para pemiliknya tampak sekali melek ke-arsitektur-an.

Beberapa dari mereka membuat bangunan bergaya desain industrial. Tapi, tidak asal-asalan. Itu terlihat jelas dari tema yang dipakai. Mulai Mexican Style, gaya Jepang, Santorini Italia, bahkan ada Scandinavian pula.

Itu kemajuan tersendiri. Bagai kota the Sunrise of Java. Menjadi penanda kemajuan sebuah kota.

Sayangnya, terus terang, saya belum pernah masuk ke kafe-kafe itu. Bagaimana mau ngopi di sana, yang datang mayoritas anak muda. Sebenarnya, nekat masuk sih bisa. Tapi, kan jadi makhluk aneh. Bisa dianggap dari planet lain. Karena sebagian rambut sudah memutih. Dan, kulit wajah sudah tidak sekencang pengunjung lainnya.

Karena belum pernah masuk ke dalam kafe-kafe modern itu, saya tidak bisa menilai: sudah adakah unsur-unsur budaya dan kearifan lokal Banyuwangi di bangunan kafe-kafe itu. Baik berupa ornamen eksterior maupun interiornya. Kalaupun belum ada, masih ada waktu untuk menambahinya. Itu pun kalau mau.

Apa pun, kehadiran bangunan-bangunan unik kafe dan kuliner itu harus disambut positif. Apalagi, penggeraknya adalah anak-anak muda. Generasi milenial. Yang selalu ingin tampil beda. Mareka kudu terus disemangati. Agar tidak patah arang. Mutung di tengah jalan.

Asal mau melebarkan daun telinga, mau mendengar masukan dari mana pun, sangat mungkin mereka akan menjadi pebisnis sukses. Menjadi calon raja-raja kuliner dan kafe di masa mendatang. Mengalahkan raja-raja kuliner-kafe yang ada saat ini. Yang mulai uzur digerogoti usia.

Dari amatan sepintas lalu, saya memberi catatan khusus untuk mereka. Pertama, soal barang yang dijual. Meski tempat dan namanya berbeda, menu yang dijual nyaris sama. Bahkan, cenderung seragam. Padahal, mereka jelas-jelas bukan satu grup. Malah tidak kenal satu sama yang lain. Semoga, keseragaman itu bukan disebabkan kelatahan. Alias semangat copy paste. Jualan mereka berkutat pada kopi dan teh dengan berbagai variannya. Lalu makanan ringan seperti kentang goreng dan teman-temannya. Ada juga yang menjual menu dengan nama jajanan dan minuman dari luar negeri. Agar tampak keren dan sesuai selera anak muda, mungkin.

Bisa dibayangkan. Jika menu di kafe A sama dengan kafe B. Atau, bahkan tidak hanya dengan B, tapi sama dengan kafe B, C, E, G, U, dan Z. Kira-kira apa yang terjadi. Akan ada kecenderungan pembeli hanya membeli di satu tempat. Maksimal dua tempat. Yang lain, sudah pasti sepi. Sebab, dalam bisnis (apa pun), prinsip diferensiasi berlaku. Siapa yang beda, siapa yang unik jualannya. Dialah yang kemungkinan besar lakunya. Diminati pembeli. Terus bertambah pelanggannya.

Pengamatan kedua. Hampir sebagian besar kafe dan resto baru berada di kota. Wilayah kota dan sekitarnya jadi arena pertempuran. Dan, mereka bertempur dengan senjata menu yang nyaris sama. Kalau sudah begitu berlaku hukum persaingan bisnis: 1. Siapa lebih enak, dia akan dicari pembeli, 2. Siapa pandai promosi, kemungkinan besar dia bisa menggaet pembeli.

Belum lagi, mereka harus melawan para senior. Yang notabene sudah melegenda. Punya nama besar. Sejak para pengusaha muda itu belum lahir. Tanpa promosi pun, warung dan resto legend itu sudah kebanjiran pelanggan. Dan, harap dicatat, mereka adalah pelanggan loyal. Yang tak mudah berpindah ke lain hati.

Wa ba’du. Dalam bisnis pun, tidak ada salahnya meneladani Jenderal Sudirman. Seorang prajurit yang tidak kenal menyerah. Melawan penjajah. Dia menerapkan strategi perang gerilya. Untuk melawan Belanda dengan persenjataan lebih canggih. Jenderal Sudirman menggunakan taktik perang wilayah. Hasilnya, Belanda kalang kabut. Menghadapi kekuatan pasukan Indonesia. Di bawah pimpinan Sudirman.

Nah, kenapa pebisnis muda tidak menggunakan strategi gerilya. Tinggalkan wilayah kota. Yang sudah jenuh. Kalau tidak percaya, silakan sempatkan waktu. Untuk menghitung sendiri. Ada berapa jumlah kafe dan restoran di kota! Cobalah mencari ceruk bisnis dari pinggiran. Bukankah destinasi wisata Banyuwangi kini justru berada di wilayah pinggiran. Masih banyak tempat berbau uang di daerah sekitar Pulau Merah, Bangsring Under Water, TN Alas Purwo. Juga penyangga Kawah Ijen, seperti Kemiren, Kampunganyar, Mondoluko, Pesucen, Kalipuro, beberapa desa di Glagah, dan juga Licin. Semua sangat memungkinkan untuk dijadikan lokasi kafe dan resto. Tempat kongko yang nyaman. Untuk bersantai. Menyantap menu makanan khas Osing. Juga kudapan lengkap dengan kopi khas Banyuwangi. Sambil menikmati kesejukan dan keindahan alam sekitarnya. Terutama area sawah dengan teraseringnya dan punggung Gunung Ijen.

Soal bentuk bangunannya, jangan khawatir. Gaya desain industrial juga cocok dengan wilayah pinggiran. Terutama cari desain arsitektur yang ramah lingkungan. Seperti gedung Grha Pena Banyuwangi. Yang menyatu dengan sawah di sebelah selatannya. Maaf, hanya menyebut sebagai contoh. Tidak ada maksud lain.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/