alexametrics
25.1 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Bermula di Akhir

ANDAI tak ada pandemi Covid-19, sangat mungkin Banyuwangi Festival (B-Fest) akan tetap berjalan. Berlangsung begitu-begitu saja. kurang lebih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau pun ada perubahan, tidak lebih hanya polesan-polesan di sana sini—agar tak berbeda dengan event sebelumnya.

Pandemi selama kurang dua tahun terakhir melecut kreativitas orang Banyuwangi. Meski harus diakui, di tengah suasana yang sangat sulit dan pelik, orang Bumi Blambangan tetap gatal ingin berkreasi. ”Apa pun boleh terjadi, tapi kreativitas tidak boleh mati,” tekad mereka.

Memang, pandemi terbukti ampuh membuyarkan banyak program Pemkab Banyuwangi. Ratusan agenda event B-Fest berguguran sebelum digelar. Anggarannya terdampak refocussing untuk penanganan pandemi akibat korona. Semua-mua anggaran dialihkan untuk menangani Covid-19. Pemberlakuan protokol kesehatan ketat dengan segala labelnya, juga menjadi ”penghalang” terselenggaranya agenda B-Fest.

Tapi, pandemi bukan kiamat. Yang menghacurkan segalanya. Justru, ternyata bagi warga kota The Sunrise of Java yang ber-DNA budaya, pandemi menjadi tantangan. Akalnya langsung bekerja. Otaknya terus berputar. Memikirkan dan sekaligus mencari cara berdamai dengan pandemi.

Ide-ide cerdas bermunculan. Cerdas karena idenya bisa dilaksanakan dalam kondisi apa pun. Termasuk di masa pandemi Covid-19. Yang belum kunjung diketahui di mana ujungnya. Hanya dampaknya yang pasti dan terbukti: diam saja pasti tergilas. Sebaliknya, siapa yang mampu beradaptasi, insya Allah, akan selamat.

Adaptasi itu, misalnya, melakukan inovasi. Terus melakukan inovasi. Seperti peneliti virus yang tidak kenal kata menyerah. Berbagai inovasi yang terus dicoba dan dicoba. Kegiatan apa yang kira-kira cocok digelar di masa pandemi. Lalu, konsepnya bagaimana. Bentuknya seperti apa.

Berkat kerja keras tim pemkab bersama stakeholder lainnya, ketemulah ide brilian. Menggelar Gandrung Sewu Nusantara. Kenapa harus Gandrung Sewu? Karena gandrung merupakan ikon Banyuwangi. Selain itu, Gandrung Sewu sudah menjadi ”candu” bagi khalayak. Banyak orang sangat ingin menonton kembali Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom. Tapi, sekali lagi, pandemi Covid-19 telah menyandera keinginan dan kerinduan orang akan penampilan Gandrung Sewu.

Mereka ingin menyaksikan serunya seribuan penari gandrung bergerak serempak memenuhi panggung pasir. Seperti kaki-kaki kuda yang baru dilepaskan dari kandangnya. Kepulan debu pasir Pantai Boom mengubal. Mengiringi langkah para penari gandrung.

Kerinduan terhadap Gandrung Sewu akhirnya terjawab. Meski dengan konsep berbeda. Yakni, penyajiannya tidak lagi di Pantai Boom, tetapi mengadaptasi teknologi digital. Dengan teknologi digital, panggung pertunjukannya tidak hanya satu: Pantai Boom. Melainkan di banyak tempat di Indonesia. Bahkan, di Hongkong! Makanya, dinamakan Gandrung Sewu Nusantara.

Baca Juga :  Menunggu e-Tilang CCTV

Hasilnya, ternyata cukup spektakuler.

Memang, penari yang tampil tidak sebanyak Gandrung Sewu betulan di Pantai Boom, tapi Gandrung Sewu Nusantara (GSN) justru punya pesona berbeda. Pesona itu tidak terdapat di Gandrung Sewu (GS) Pantai Boom. Secara kuantitas, GSN kalah jauh dari GS. Tapi, GSN menang di kuantitas penampilnya.

Penari gandrung GSN adalah warga Banyuwangi asli. Yang tergabung dalam IKAWANGI (Ikatan Keluarga Besar Banyuwangi). Mereka menari dari 24 kota di 16 provinsi di Indonesia. Bahkan, warga Banyuwangi di Hongkong tidak mau ketinggalan. Mereka juga tampil.

Diiringi musik dan gerakan yang sama, sebanyak 250 penggandrung dari berbagai penjuru kota dan negara itu menari secara bersamaan, dengan 75 penggandrung yang tampil di tanah kelahirannya: Bumi Blambangan. Untuk kali pertama sepanjang sejarah, orang-orang Banyuwangi di tanah rantau berkolaborasi secara virtual: nggandrung bersama.    

Penggandrung yang tampil antara lain dari IKAWANGI Jayapura, Mimika, Nabire, Sorong Jambi, Bali, Batam, Jakarta, Lampung, Surabaya, Pekanbaru, Samarinda, Balikpapan, Banjarbaru, Tarakan, Bontang, Kupang, Mamuju Tengah, Kendari, dan daerah lainnya.

Mereka bukan sekadar ”memamerkan” kelihaiannya menarikan tari gandrung. Lebih dari itu. Mereka sekaligus menunjukkan eksistensinya di tanah rantau. Seolah ingin membuktikan bahwa tari gandrung sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Itu dibuktikan dengan tempat para perantau Banyuwangi menari. Yakni, di jantung kota dan tempat-tempat ikonik di mana mereka tinggal kini.

Warga perantauan di Jakarta menari gandrung di sekitar Tugu Monas—ikon Jakarta, sekaligus Indonesia. Yang tinggal di Jember menggandrung di halaman kantor Bupati Jember. Jembatan Ampera dipilih menjadi panggung menari gandrung teman-teman di Palembang. Sementara saudara kita di Sorong memilih manggung di Alun-Alun Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Sementara warga Banyuwangi di Hongkong menggandrung di sekitar bangunan bertingkat yang menjadi ikon negara itu.

IKAWANGI Bali memilih menari di monumen Bajra Sandhi Renon dan gedung DPRD Bali. Sedangkan orang-orang Banyuwangi di Jambi memilih dua tempat sebagai venue menari gandrungnya. Kedua tempat itu sangat ikonik di Jambi. Yang pertama di Bundaran Tugu Keris, Kota Baru, Jambi. Adapun yang kedua di Candi Muara Jambi di Kabupaten Muaro Jambi. ”Warga Banyuwangi di Jambi sangat antusias ikut menyukseskan Gandrung Sewu Nusantara,” kata Ketua IKAWANGI Jambi Panut.

Baca Juga :  Tamansari Kearifan Lokal

Kreativitas tiada henti warga Banyuwangi mendapat apresiasi langsung dari Menparekraf Sandiaga Uno. ”Banyuwangi selalu memiliki ide kreatif baru. Selamat untuk Banyuwangi,” puji Sandiaga saat membuka Festival GSN (28/3/21).

Menteri Sandiaga tidak sedang ngecap. Selama Desember 2021, kota di ujung paling timur Pulau Jawa itu berturut-turut menerima penghargaan prestisius. Terkait dengan kreativitas dan inovasi. Yakni, menerima 100 Smart City, kategori Smart Economy dari Kemenkominfo (Smart Kampung), pada 14 Desember 2021. Sedangkan yang kedua adalah penghargaan Kabupaten Terinovatif se-Indonesia (Innovative Government Award) 2021dari Kemendagri, pada 29 Desember 2021.

Wa ba’du. Di akhir tahun 2021, tepatnya pada 28/12, Banyuwangi berhasil menyuguhkan inovasi pertunjukan dalam bentuk baru. Yang tidak dilakukan oleh kota, kabupaten, dan bahkan provinsi lain di Indonesia. Banyuwangi sukses menggelar Festival GSN secara virtual dengan cara mengadaptasi teknologi digital. Hasilnya sangat luar biasa. Dan, eman sekali bila tidak digelar lagi di tahun-tahun mendatang—sekalipun pandemi sudah berlalu. Yang bermula di akhir kadang selalu mengilap.

Kalaupun ada catatan yang dibutuhkan untuk bahan evaluasi, hanya ada dua. Pertama, manajemen waktu dan jaringan komunikasi dengan para pengurus IKAWANGI di banyak harus diperbaiki. Agar MC tidak harus teriak berulang-ulang memanggil orang yang muncul di layar. Sejam atau dua jam sebelum pelaksanaan harus dipastikan klir. Masing-masing bisa mendengar dan menyapa. Bila perlu, proses pengecekan perangkat komunikasi itu dilakukan sejak pagi.

Catatan kedua sebenarnya tidak terlalu penting. Namun tetap perlu. Bentuk catatannya berupa pertanyaan: apakah Pemkab Banyuwangi, c.q Disparekraf, menyediakan hadiah bagi penampil GSN dari berbagai kota/provinsi/luar negeri tempo hari? Tentu, hadiahnya diberikan kepada penampil yang ”paling”. Hadiahnya tidak usah yang mahal-mahal. Cukup seperangkat kostum gandrung lengkap. Jumlahnya terserah pemkab. Hadiah itu, tentu, akan membuat bungah penerimanya. Karena proses kreatif yang dilakukannya di sela-sela bekerja, mendapat apresiasi dari pemerintah tanah kelahirannya.

Kalau, dua catatan itu dianggap tidak penting, silakan gunting saja tiga alenia dari bawah tulisan ini!

*) Pekolom Banyuwangi.

ANDAI tak ada pandemi Covid-19, sangat mungkin Banyuwangi Festival (B-Fest) akan tetap berjalan. Berlangsung begitu-begitu saja. kurang lebih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau pun ada perubahan, tidak lebih hanya polesan-polesan di sana sini—agar tak berbeda dengan event sebelumnya.

Pandemi selama kurang dua tahun terakhir melecut kreativitas orang Banyuwangi. Meski harus diakui, di tengah suasana yang sangat sulit dan pelik, orang Bumi Blambangan tetap gatal ingin berkreasi. ”Apa pun boleh terjadi, tapi kreativitas tidak boleh mati,” tekad mereka.

Memang, pandemi terbukti ampuh membuyarkan banyak program Pemkab Banyuwangi. Ratusan agenda event B-Fest berguguran sebelum digelar. Anggarannya terdampak refocussing untuk penanganan pandemi akibat korona. Semua-mua anggaran dialihkan untuk menangani Covid-19. Pemberlakuan protokol kesehatan ketat dengan segala labelnya, juga menjadi ”penghalang” terselenggaranya agenda B-Fest.

Tapi, pandemi bukan kiamat. Yang menghacurkan segalanya. Justru, ternyata bagi warga kota The Sunrise of Java yang ber-DNA budaya, pandemi menjadi tantangan. Akalnya langsung bekerja. Otaknya terus berputar. Memikirkan dan sekaligus mencari cara berdamai dengan pandemi.

Ide-ide cerdas bermunculan. Cerdas karena idenya bisa dilaksanakan dalam kondisi apa pun. Termasuk di masa pandemi Covid-19. Yang belum kunjung diketahui di mana ujungnya. Hanya dampaknya yang pasti dan terbukti: diam saja pasti tergilas. Sebaliknya, siapa yang mampu beradaptasi, insya Allah, akan selamat.

Adaptasi itu, misalnya, melakukan inovasi. Terus melakukan inovasi. Seperti peneliti virus yang tidak kenal kata menyerah. Berbagai inovasi yang terus dicoba dan dicoba. Kegiatan apa yang kira-kira cocok digelar di masa pandemi. Lalu, konsepnya bagaimana. Bentuknya seperti apa.

Berkat kerja keras tim pemkab bersama stakeholder lainnya, ketemulah ide brilian. Menggelar Gandrung Sewu Nusantara. Kenapa harus Gandrung Sewu? Karena gandrung merupakan ikon Banyuwangi. Selain itu, Gandrung Sewu sudah menjadi ”candu” bagi khalayak. Banyak orang sangat ingin menonton kembali Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom. Tapi, sekali lagi, pandemi Covid-19 telah menyandera keinginan dan kerinduan orang akan penampilan Gandrung Sewu.

Mereka ingin menyaksikan serunya seribuan penari gandrung bergerak serempak memenuhi panggung pasir. Seperti kaki-kaki kuda yang baru dilepaskan dari kandangnya. Kepulan debu pasir Pantai Boom mengubal. Mengiringi langkah para penari gandrung.

Kerinduan terhadap Gandrung Sewu akhirnya terjawab. Meski dengan konsep berbeda. Yakni, penyajiannya tidak lagi di Pantai Boom, tetapi mengadaptasi teknologi digital. Dengan teknologi digital, panggung pertunjukannya tidak hanya satu: Pantai Boom. Melainkan di banyak tempat di Indonesia. Bahkan, di Hongkong! Makanya, dinamakan Gandrung Sewu Nusantara.

Baca Juga :  Mindset Zona Nyaman Harus Dihapus

Hasilnya, ternyata cukup spektakuler.

Memang, penari yang tampil tidak sebanyak Gandrung Sewu betulan di Pantai Boom, tapi Gandrung Sewu Nusantara (GSN) justru punya pesona berbeda. Pesona itu tidak terdapat di Gandrung Sewu (GS) Pantai Boom. Secara kuantitas, GSN kalah jauh dari GS. Tapi, GSN menang di kuantitas penampilnya.

Penari gandrung GSN adalah warga Banyuwangi asli. Yang tergabung dalam IKAWANGI (Ikatan Keluarga Besar Banyuwangi). Mereka menari dari 24 kota di 16 provinsi di Indonesia. Bahkan, warga Banyuwangi di Hongkong tidak mau ketinggalan. Mereka juga tampil.

Diiringi musik dan gerakan yang sama, sebanyak 250 penggandrung dari berbagai penjuru kota dan negara itu menari secara bersamaan, dengan 75 penggandrung yang tampil di tanah kelahirannya: Bumi Blambangan. Untuk kali pertama sepanjang sejarah, orang-orang Banyuwangi di tanah rantau berkolaborasi secara virtual: nggandrung bersama.    

Penggandrung yang tampil antara lain dari IKAWANGI Jayapura, Mimika, Nabire, Sorong Jambi, Bali, Batam, Jakarta, Lampung, Surabaya, Pekanbaru, Samarinda, Balikpapan, Banjarbaru, Tarakan, Bontang, Kupang, Mamuju Tengah, Kendari, dan daerah lainnya.

Mereka bukan sekadar ”memamerkan” kelihaiannya menarikan tari gandrung. Lebih dari itu. Mereka sekaligus menunjukkan eksistensinya di tanah rantau. Seolah ingin membuktikan bahwa tari gandrung sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Itu dibuktikan dengan tempat para perantau Banyuwangi menari. Yakni, di jantung kota dan tempat-tempat ikonik di mana mereka tinggal kini.

Warga perantauan di Jakarta menari gandrung di sekitar Tugu Monas—ikon Jakarta, sekaligus Indonesia. Yang tinggal di Jember menggandrung di halaman kantor Bupati Jember. Jembatan Ampera dipilih menjadi panggung menari gandrung teman-teman di Palembang. Sementara saudara kita di Sorong memilih manggung di Alun-Alun Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Sementara warga Banyuwangi di Hongkong menggandrung di sekitar bangunan bertingkat yang menjadi ikon negara itu.

IKAWANGI Bali memilih menari di monumen Bajra Sandhi Renon dan gedung DPRD Bali. Sedangkan orang-orang Banyuwangi di Jambi memilih dua tempat sebagai venue menari gandrungnya. Kedua tempat itu sangat ikonik di Jambi. Yang pertama di Bundaran Tugu Keris, Kota Baru, Jambi. Adapun yang kedua di Candi Muara Jambi di Kabupaten Muaro Jambi. ”Warga Banyuwangi di Jambi sangat antusias ikut menyukseskan Gandrung Sewu Nusantara,” kata Ketua IKAWANGI Jambi Panut.

Baca Juga :  Puisi oleh Ajmal Nour

Kreativitas tiada henti warga Banyuwangi mendapat apresiasi langsung dari Menparekraf Sandiaga Uno. ”Banyuwangi selalu memiliki ide kreatif baru. Selamat untuk Banyuwangi,” puji Sandiaga saat membuka Festival GSN (28/3/21).

Menteri Sandiaga tidak sedang ngecap. Selama Desember 2021, kota di ujung paling timur Pulau Jawa itu berturut-turut menerima penghargaan prestisius. Terkait dengan kreativitas dan inovasi. Yakni, menerima 100 Smart City, kategori Smart Economy dari Kemenkominfo (Smart Kampung), pada 14 Desember 2021. Sedangkan yang kedua adalah penghargaan Kabupaten Terinovatif se-Indonesia (Innovative Government Award) 2021dari Kemendagri, pada 29 Desember 2021.

Wa ba’du. Di akhir tahun 2021, tepatnya pada 28/12, Banyuwangi berhasil menyuguhkan inovasi pertunjukan dalam bentuk baru. Yang tidak dilakukan oleh kota, kabupaten, dan bahkan provinsi lain di Indonesia. Banyuwangi sukses menggelar Festival GSN secara virtual dengan cara mengadaptasi teknologi digital. Hasilnya sangat luar biasa. Dan, eman sekali bila tidak digelar lagi di tahun-tahun mendatang—sekalipun pandemi sudah berlalu. Yang bermula di akhir kadang selalu mengilap.

Kalaupun ada catatan yang dibutuhkan untuk bahan evaluasi, hanya ada dua. Pertama, manajemen waktu dan jaringan komunikasi dengan para pengurus IKAWANGI di banyak harus diperbaiki. Agar MC tidak harus teriak berulang-ulang memanggil orang yang muncul di layar. Sejam atau dua jam sebelum pelaksanaan harus dipastikan klir. Masing-masing bisa mendengar dan menyapa. Bila perlu, proses pengecekan perangkat komunikasi itu dilakukan sejak pagi.

Catatan kedua sebenarnya tidak terlalu penting. Namun tetap perlu. Bentuk catatannya berupa pertanyaan: apakah Pemkab Banyuwangi, c.q Disparekraf, menyediakan hadiah bagi penampil GSN dari berbagai kota/provinsi/luar negeri tempo hari? Tentu, hadiahnya diberikan kepada penampil yang ”paling”. Hadiahnya tidak usah yang mahal-mahal. Cukup seperangkat kostum gandrung lengkap. Jumlahnya terserah pemkab. Hadiah itu, tentu, akan membuat bungah penerimanya. Karena proses kreatif yang dilakukannya di sela-sela bekerja, mendapat apresiasi dari pemerintah tanah kelahirannya.

Kalau, dua catatan itu dianggap tidak penting, silakan gunting saja tiga alenia dari bawah tulisan ini!

*) Pekolom Banyuwangi.

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/