alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Selesai di Atas Lapangan

SAYA adalah Kopites. Fans berat Liverpool FC. Hati kami sedang berbunga-bunga. Kemenangan besar The Reds atas tuan rumah Crystal Palace masih terbayang. Hingga sekarang.

Malam itu, Sabtu (19/12), Stadion Selhurst Park menjadi saksi. Bagaimana tim besutan Juergen Klopp mengamuk. Memberondong gawang Crystal Palace 7 gol tanpa balas.

Selusin lebih satu gol itu tidak lahir secara kebetulan. Tapi murni sebuah proses taktikal. Dari hasil latihan berulang-ulang. Para penyerang Liverpool. Gol pertama Takumi Minamino di menit ke-3 merupakan assist dari Sadio Mane. Giliran Mane mencetak gol menit ke-35 setelah menerima umpan dari Roberto Firmino. Lalu giliran Firmino membuat gol dari umpan terukur Mohamed Salah.

Salah yang baru masuk di babak kedua menggantikan Mane, malam itu menjadi bintang lapangan. Pemain berpaspor Mesir itu mencatat sejarah. Sebagai pemain Liverpool pertama yang terlibat 3 gol hanya dalam waktu 33 menit. Selain assist kepada Firmino, Salah sendiri mencetak 2 gol. Seperti biasa, 2 gol itu dipungkasi dengan selebrasi khas Salah: sujud syukur di tengah lapangan.  

Satu lagi gol Liverpool dicetak oleh kapten tim Jordan Henderson. Liverpool pun nyaman duduk di puncak klasemen sementra Premier League alias Liga Inggris 2020–2021.

Wa ba’du. Bagaimana kondisi pemain Crystal Palace. Terguncang, pasti. Tapi mentalnya tidak sampai down. Terbukti sampai wasit Jonathan Moss meniup peluit panjang babak kedua, mereka terus melakukan perlawanan sengit.

Dan, tak satu pun pemain tuan rumah emosi. Mulai gol pertama yang dicetak Minamino hingga gol ketujuh dari kaki Salah merobek jala gawangnya, tidak ada pemain Crystal Palace yang marah. Apalagi, sampai ngamuk-ngamuk. Mengejar-ngejar dan menghajar Minamino, Mane, Henderson, Firmino, dan Salah.

Hati mereka tetap dingin. Tidak ndongkol. Sebaliknya, mereka tetap menikmati lanjutan pertandingan. Begitu wasit Moss meniup peluitnya, dengan senyum ramah mereka menyalami para pemain Liverpool. Bahkan, beberapa di antara mereka melanjutkan salaman dengan pelukan.

Baca Juga :  Tiga Resolusi 2022

Pelatih kedua tim tidak kalah sportifnya. Juergen Klopp segera menghampiri Roy Hodgson (pelatih Crystal Palace). Mereka saling menjulurkan tangan. Bersalaman ala kebiasaan baru. Lalu saling berbisik. Bertukar pujian. Dilanjutkan berjalan menuju ke tengah lapangan. Menyalami para pemain sendiri dan pemain lawan. Dan, diakhiri dengan menyalami wasit Moss dan kedua asistennya. Yang berdiri tepat di tengah lapangan.

Itulah yang saya suka. Dari Liga Inggris. Juga tiga liga lainnya di Benua Biru. Yakni, La Liga (Liga Spanyol), Bundesliga (Liga Jerman), dan Seri A (Liga Italia).

Kompetisi di empat negara berbeda itu bukan sekadar menyajikan tontotan sepak bola. Tapi, mempertontonkan kemajuan sebuah peradaban. Tepatnya, membangun peradaban lewat sepak bola.

Bahwa, pertama, sepak bola dimainkan dengan kaki dan kepala. Pemain yang hebat adalah yang lihai menggocek bola dengan kakinya. Juga menendang bola pakai kepala—khususnya dalam momen-momen mencetak gol. Memegang bola dengan tangan termasuk pelanggaran. Bisa berbuah kartu kuning. Bahkan, langsung kartu merah bila dengan sengaja menghalau bola yang berpotensi gol. Hanya kiper seorang yang halal memegang bola. Itu pun dalam wilayah kekuasaannya (kotak 16 meter) saja. Di luar itu, kiper pun kena pasal hands ball. Dan, harus rela diganjar kartu kuning.

Kedua, para pihak yang terlibat dalam sepak bola sepakat bulat. Pertandingan selesai di atas lapangan. Apa pun kejadian di dalam lapangan dalam waktu 90 menit+, harus diselesaikan saat itu juga. Misal, ketika ada pelanggaran yang terlalu keras, tapi wasit tidak melihatnya, pemain boleh protes. Untuk melihat kembali kejadian yang sebenarnya, wasit bisa minta bantuan VAR. Video Assistant Referee. Asisten wasit video. Yang bertugas meninjau keputusan wasit kepala. VAR banyak menggagalkan hukuman pinalti yang diputuskan wasit. Sebab, setelah dicek melalui VAR, ternyata tidak ada pelanggaran yang layak dihukum pinalti.

Baca Juga :  Mahasiswa Bau Udang

Meski berupa rekaman ulang lewat video, keputusan VAR sangat dihormati. Tidak ada pemain dan pelatih yang mencak-mencak. Protes keras terhadap keputusan VAR. Kecanggihan VAR menguatkan bahwa semua kejadian dalam pertandingan sepak bola harus selesai di atas lapangan hijau.

Kalau masih ada yang kurang puas terhadap keputusan wasit dan VAR, mereka bisa melapor dan banding ke komisi wasit dan panitia liganya. Tapi, sekalipun protes itu ternyata dikabulkan dan wasitnya dihukum, tetap saja tidak bisa mengubah hasil pertandingan. Karena hasil pertandingan tetap sesuai kejadian selama 90 menit+.

Sepak bola di empat liga terbaik di dunia itu memberi pelajaran kepada kita. Terutama soal peradaban yang dibangun lewat sepak bola.

Melihat kondisi sepak bola di negara kita, rasa-rasanya masih butuh waktu lama untuk mengharapkan terbangunnya peradaban lewat bola. Tapi, tidak ada salahnya kita menggantungkan harapan itu.

Untungnya, peradaban sepak bola dari liga di Eropa itu sudah mulai menular di lapangan politik Indonesia. Sportivitas ditunjukkan oleh calon di pilkada serentak 9 Desember 2020 kemarin. Beberapa calon yang kalah punya komitmen kuat pilkada selesai setelah hasil suaranya diketahui.

Ir H Yoyok Mulyadi salah satunya. Cabup Situbondo itu langsung memberi ucapan selamat kepada Drs Karna Suwandi. Yang telah mengalahkannya di pilbup Situbondo. Meski, saat itu, ia baru tahu hasilnya dari  hitung cepat.

Saya curiga, jangan-jangan Jih Yoyok –panggiran karib—Yoyok Mulyadi adalah Kopites, seperti saya. Atau juga seorang Juventini (fans berat Juventus), atau Cules (fans Barcelona), atau malah Madridistas (pendukung Real Madrid).

Atau, jangan-jangan, Jih Yoyok malah tidak suka sepak bola. Apa pun, ia sudah menunjukkan jiwa sportifnya. Bahwa pertandingan harus selesai di atas lapangan. Kemenangan lawan adalah keniscayaan. Dan, mengakui kemenangan lawan adalah kemenangan yang luar biasa.

*) Budayawan, Penyair Banyuwangi

SAYA adalah Kopites. Fans berat Liverpool FC. Hati kami sedang berbunga-bunga. Kemenangan besar The Reds atas tuan rumah Crystal Palace masih terbayang. Hingga sekarang.

Malam itu, Sabtu (19/12), Stadion Selhurst Park menjadi saksi. Bagaimana tim besutan Juergen Klopp mengamuk. Memberondong gawang Crystal Palace 7 gol tanpa balas.

Selusin lebih satu gol itu tidak lahir secara kebetulan. Tapi murni sebuah proses taktikal. Dari hasil latihan berulang-ulang. Para penyerang Liverpool. Gol pertama Takumi Minamino di menit ke-3 merupakan assist dari Sadio Mane. Giliran Mane mencetak gol menit ke-35 setelah menerima umpan dari Roberto Firmino. Lalu giliran Firmino membuat gol dari umpan terukur Mohamed Salah.

Salah yang baru masuk di babak kedua menggantikan Mane, malam itu menjadi bintang lapangan. Pemain berpaspor Mesir itu mencatat sejarah. Sebagai pemain Liverpool pertama yang terlibat 3 gol hanya dalam waktu 33 menit. Selain assist kepada Firmino, Salah sendiri mencetak 2 gol. Seperti biasa, 2 gol itu dipungkasi dengan selebrasi khas Salah: sujud syukur di tengah lapangan.  

Satu lagi gol Liverpool dicetak oleh kapten tim Jordan Henderson. Liverpool pun nyaman duduk di puncak klasemen sementra Premier League alias Liga Inggris 2020–2021.

Wa ba’du. Bagaimana kondisi pemain Crystal Palace. Terguncang, pasti. Tapi mentalnya tidak sampai down. Terbukti sampai wasit Jonathan Moss meniup peluit panjang babak kedua, mereka terus melakukan perlawanan sengit.

Dan, tak satu pun pemain tuan rumah emosi. Mulai gol pertama yang dicetak Minamino hingga gol ketujuh dari kaki Salah merobek jala gawangnya, tidak ada pemain Crystal Palace yang marah. Apalagi, sampai ngamuk-ngamuk. Mengejar-ngejar dan menghajar Minamino, Mane, Henderson, Firmino, dan Salah.

Hati mereka tetap dingin. Tidak ndongkol. Sebaliknya, mereka tetap menikmati lanjutan pertandingan. Begitu wasit Moss meniup peluitnya, dengan senyum ramah mereka menyalami para pemain Liverpool. Bahkan, beberapa di antara mereka melanjutkan salaman dengan pelukan.

Baca Juga :  Micin untuk Putra Bangsa

Pelatih kedua tim tidak kalah sportifnya. Juergen Klopp segera menghampiri Roy Hodgson (pelatih Crystal Palace). Mereka saling menjulurkan tangan. Bersalaman ala kebiasaan baru. Lalu saling berbisik. Bertukar pujian. Dilanjutkan berjalan menuju ke tengah lapangan. Menyalami para pemain sendiri dan pemain lawan. Dan, diakhiri dengan menyalami wasit Moss dan kedua asistennya. Yang berdiri tepat di tengah lapangan.

Itulah yang saya suka. Dari Liga Inggris. Juga tiga liga lainnya di Benua Biru. Yakni, La Liga (Liga Spanyol), Bundesliga (Liga Jerman), dan Seri A (Liga Italia).

Kompetisi di empat negara berbeda itu bukan sekadar menyajikan tontotan sepak bola. Tapi, mempertontonkan kemajuan sebuah peradaban. Tepatnya, membangun peradaban lewat sepak bola.

Bahwa, pertama, sepak bola dimainkan dengan kaki dan kepala. Pemain yang hebat adalah yang lihai menggocek bola dengan kakinya. Juga menendang bola pakai kepala—khususnya dalam momen-momen mencetak gol. Memegang bola dengan tangan termasuk pelanggaran. Bisa berbuah kartu kuning. Bahkan, langsung kartu merah bila dengan sengaja menghalau bola yang berpotensi gol. Hanya kiper seorang yang halal memegang bola. Itu pun dalam wilayah kekuasaannya (kotak 16 meter) saja. Di luar itu, kiper pun kena pasal hands ball. Dan, harus rela diganjar kartu kuning.

Kedua, para pihak yang terlibat dalam sepak bola sepakat bulat. Pertandingan selesai di atas lapangan. Apa pun kejadian di dalam lapangan dalam waktu 90 menit+, harus diselesaikan saat itu juga. Misal, ketika ada pelanggaran yang terlalu keras, tapi wasit tidak melihatnya, pemain boleh protes. Untuk melihat kembali kejadian yang sebenarnya, wasit bisa minta bantuan VAR. Video Assistant Referee. Asisten wasit video. Yang bertugas meninjau keputusan wasit kepala. VAR banyak menggagalkan hukuman pinalti yang diputuskan wasit. Sebab, setelah dicek melalui VAR, ternyata tidak ada pelanggaran yang layak dihukum pinalti.

Baca Juga :  Memprediksi (Gaya) Bupati Baru

Meski berupa rekaman ulang lewat video, keputusan VAR sangat dihormati. Tidak ada pemain dan pelatih yang mencak-mencak. Protes keras terhadap keputusan VAR. Kecanggihan VAR menguatkan bahwa semua kejadian dalam pertandingan sepak bola harus selesai di atas lapangan hijau.

Kalau masih ada yang kurang puas terhadap keputusan wasit dan VAR, mereka bisa melapor dan banding ke komisi wasit dan panitia liganya. Tapi, sekalipun protes itu ternyata dikabulkan dan wasitnya dihukum, tetap saja tidak bisa mengubah hasil pertandingan. Karena hasil pertandingan tetap sesuai kejadian selama 90 menit+.

Sepak bola di empat liga terbaik di dunia itu memberi pelajaran kepada kita. Terutama soal peradaban yang dibangun lewat sepak bola.

Melihat kondisi sepak bola di negara kita, rasa-rasanya masih butuh waktu lama untuk mengharapkan terbangunnya peradaban lewat bola. Tapi, tidak ada salahnya kita menggantungkan harapan itu.

Untungnya, peradaban sepak bola dari liga di Eropa itu sudah mulai menular di lapangan politik Indonesia. Sportivitas ditunjukkan oleh calon di pilkada serentak 9 Desember 2020 kemarin. Beberapa calon yang kalah punya komitmen kuat pilkada selesai setelah hasil suaranya diketahui.

Ir H Yoyok Mulyadi salah satunya. Cabup Situbondo itu langsung memberi ucapan selamat kepada Drs Karna Suwandi. Yang telah mengalahkannya di pilbup Situbondo. Meski, saat itu, ia baru tahu hasilnya dari  hitung cepat.

Saya curiga, jangan-jangan Jih Yoyok –panggiran karib—Yoyok Mulyadi adalah Kopites, seperti saya. Atau juga seorang Juventini (fans berat Juventus), atau Cules (fans Barcelona), atau malah Madridistas (pendukung Real Madrid).

Atau, jangan-jangan, Jih Yoyok malah tidak suka sepak bola. Apa pun, ia sudah menunjukkan jiwa sportifnya. Bahwa pertandingan harus selesai di atas lapangan. Kemenangan lawan adalah keniscayaan. Dan, mengakui kemenangan lawan adalah kemenangan yang luar biasa.

*) Budayawan, Penyair Banyuwangi

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

/