alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Menikmati Mahakarya Pahatan Alam; Pasabag Valley

Saya tak bisa berlama-lama di makam Maulana Jalaluddin Rumi. Diburu waktu. Harus meneruskan perjalanan 245 km lagi. Menuju kota Kapadokya. Sampai hotel sudah gelap. Makam malam di restoran hotel. Lalu merebahkan badan di tempat tidur. Melemaskan badan. Yang legrek setelah duduk seharian di dalam kendaraan. Setelah sarapan saya dan rombongan langsung menjelajahi Kapadokya. Menuju Pasabag Valley.

Ada dua gunung vulkanik di kota itu. Sekitar tiga juta tahun silam, gunung itu meletus hebat. Menyemburkan lava. Walhasil Kapadokya dipenuhi batu vulkanik. Kapadokya panas saat siang. Tapi sejuk ketika malam. Dan sangat dingin memasuki musim dingin. Musim yang berganti-ganti bersama angin seperti seniman.

Mereka memahat dinding-dinding lava menjadi berbagai bentuk.”Prosesnya alami. Dipahat oleh angin dan musim,” kata Ali Elkinci yang memandu rombongan saya.

Benar sekali. Sepanjang mata memandang yang tampak pahatan-pahatan alam yang luar biasa. Di bebatuan vulkanik. Bentuknya unik-unik. Dan sangat indah. Ada yang berbentuk seperti cerobong asap alias Pasabag Valley. Ada yang bilang, bebatuan yang lancip dan di atasnya nangkring sebongkah batu itu bentuknya mirip seperti jamur. Cendawan.

Baca Juga :  Berpacu dengan Vaksin

Ada yang menyerupai (maaf) kelamin lelaki. Ada pula yang mirip ibu sedang menyusui. Menyerupai tombak. Dan masih banyak lagi bentuk yang lain.

Di sebagian dinding batu berbagai bentuk itu terdapat lubang. Seperti pintu dan jendela. Ternyata itu ”rumah”. Ali mengatakan, Kapadokya mulai dihuni manusia sekitar 10 ribu tahun lalu. Untuk berlindung dari kejamnya cuaca yang berubah-ubah, penduduk Kapadokya ketika itu memilih
tinggal di dalam batu. Melubangi dinding batu vulkanik. Dibuat tempat tinggal.”Berapa pun suhu di luar, di dalam rumah batu tetap hangat. Tak terpengaruh,” papar Ali.

Satu lagi. Tidak jauh dari kawasan Pasabag Valley saya melihat bebatuan yang sangat unik. Bentuknya mirip unta. Batu itu disebut Camel Valley. Warna batunya agak cokelat keabu-abuan. Mirip warna kulit unta. Otoritas setempat memasang pagar dari kayu. Setinggi setengah meter. Mengelilingi batu unta itu. Mencegah pengunjung naik ke punggung ”unta”. Untuk selfie.

Baca Juga :  Santri Sepanjang Hayat

Foto dengan background batu unta sangat indah. Semua rombongan kendaraan wisatawan berhenti di sana. Untuk foto. Bahkan, berbarengan dengan rombongan saya ada sepasang pengantin sedang mengambil foto pre-wedding. Dengan latar belakang batu unta dan ratusan batu berbentuk yang bertebaran di sekitarnya.

Pasabag Valley dan Camel Valley menjadi destinasi wisata unggulan di Kapadokya. Bukan hanya wisatawan mancanegara. Warga lokal Turki juga suka berwisata ke Kapadokya. Selain menikmati batu berbagai bentuk yang mengagumkan, pengunjung juga bisa merasakan sensasi naik unta. Milik masyarakat setempat. (bersambung/c1)

Saya tak bisa berlama-lama di makam Maulana Jalaluddin Rumi. Diburu waktu. Harus meneruskan perjalanan 245 km lagi. Menuju kota Kapadokya. Sampai hotel sudah gelap. Makam malam di restoran hotel. Lalu merebahkan badan di tempat tidur. Melemaskan badan. Yang legrek setelah duduk seharian di dalam kendaraan. Setelah sarapan saya dan rombongan langsung menjelajahi Kapadokya. Menuju Pasabag Valley.

Ada dua gunung vulkanik di kota itu. Sekitar tiga juta tahun silam, gunung itu meletus hebat. Menyemburkan lava. Walhasil Kapadokya dipenuhi batu vulkanik. Kapadokya panas saat siang. Tapi sejuk ketika malam. Dan sangat dingin memasuki musim dingin. Musim yang berganti-ganti bersama angin seperti seniman.

Mereka memahat dinding-dinding lava menjadi berbagai bentuk.”Prosesnya alami. Dipahat oleh angin dan musim,” kata Ali Elkinci yang memandu rombongan saya.

Benar sekali. Sepanjang mata memandang yang tampak pahatan-pahatan alam yang luar biasa. Di bebatuan vulkanik. Bentuknya unik-unik. Dan sangat indah. Ada yang berbentuk seperti cerobong asap alias Pasabag Valley. Ada yang bilang, bebatuan yang lancip dan di atasnya nangkring sebongkah batu itu bentuknya mirip seperti jamur. Cendawan.

Baca Juga :  Uji Nyali UKBI

Ada yang menyerupai (maaf) kelamin lelaki. Ada pula yang mirip ibu sedang menyusui. Menyerupai tombak. Dan masih banyak lagi bentuk yang lain.

Di sebagian dinding batu berbagai bentuk itu terdapat lubang. Seperti pintu dan jendela. Ternyata itu ”rumah”. Ali mengatakan, Kapadokya mulai dihuni manusia sekitar 10 ribu tahun lalu. Untuk berlindung dari kejamnya cuaca yang berubah-ubah, penduduk Kapadokya ketika itu memilih
tinggal di dalam batu. Melubangi dinding batu vulkanik. Dibuat tempat tinggal.”Berapa pun suhu di luar, di dalam rumah batu tetap hangat. Tak terpengaruh,” papar Ali.

Satu lagi. Tidak jauh dari kawasan Pasabag Valley saya melihat bebatuan yang sangat unik. Bentuknya mirip unta. Batu itu disebut Camel Valley. Warna batunya agak cokelat keabu-abuan. Mirip warna kulit unta. Otoritas setempat memasang pagar dari kayu. Setinggi setengah meter. Mengelilingi batu unta itu. Mencegah pengunjung naik ke punggung ”unta”. Untuk selfie.

Baca Juga :  Tetap Bersemi di Masa Pandemi

Foto dengan background batu unta sangat indah. Semua rombongan kendaraan wisatawan berhenti di sana. Untuk foto. Bahkan, berbarengan dengan rombongan saya ada sepasang pengantin sedang mengambil foto pre-wedding. Dengan latar belakang batu unta dan ratusan batu berbentuk yang bertebaran di sekitarnya.

Pasabag Valley dan Camel Valley menjadi destinasi wisata unggulan di Kapadokya. Bukan hanya wisatawan mancanegara. Warga lokal Turki juga suka berwisata ke Kapadokya. Selain menikmati batu berbagai bentuk yang mengagumkan, pengunjung juga bisa merasakan sensasi naik unta. Milik masyarakat setempat. (bersambung/c1)

Artikel Terkait

Méméngane Kurang Adoh

Seperti Apa Dua Tahun Lagi

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/