KIAI Fawaid As’ad Syamsul Arifin pengasuh ke tiga Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo telah melahirkan titah hati di ruang nada musik Islami. Pencetus ide dan pendiri majelis musik islami bernama Gambus Revolusionir Albadar, tentu dengan sentuhan lagu bernada islami juga. Ada ruang gerak hati dimusikkan dengan filosofi kebenaran Islam. Falsafah musiknya dilirik dan diaresemen dengan sentuhan nafas ilahi. Ruang-ruang lirik lagunya dihias dengan estitika kebenaran Islam.
Semisal lagu ‘Murobbi’ yang isinya mengajak kita harus ingat guru. Ingat akan keberkahan ilmu yang diajarkan para guru, para asatid dan para umanah yang telah mengajarkan kebenaran ilmu. Jasa guru sebagai mentor didikan ilmu jangan dilupakan. Karena dengan ilmu yang diajarkan para murabbi semuanya menjadi cerdas. Cerdas hati dalam kebaikan. Cerdas spiritual, cerdas sosial dan cerdas akan hakikat kebenaran ilmu. Semuanya tersalurkan dalam lirik lagu islami yang tersuara di nada Gambus Revolusionir Albadar.
Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin bercita musik dakwah nan ideal. Musik yang tak sekedar bernada dangdut saja yang bergulir di ruang hati umat. Harus ada penyeimbang ruang gerak nada lagu yang berlirik nada-nada islami. Tercermin dengan nada-nada cinta akan Ilahi. Tercermin dengan nada–nada kerekatan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Revolusi musik islami dibangun oleh Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin agar masyarakat dan umat tidak rentan dengan lagu-lagu riang yang penuh dengan propaganda kepada kesenangan duniawi belaka. Nada lagu yang terbawa dalam Albadar diatur ritmenya agar ajaran dan nilai-nilai islam selalu ada di ruang gerak nada islami.
Mendirikan majelis musik Albadar menjadi ruang minat seni di sekitaran para santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo. Yang punya potensi seni nada dibuka ruang untuk bernada Islami. Bangunan kerekatan agama yang dibangun oleh Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin tidak hanya tercermin dalam pembelajaran di ruang-ruang kelas. Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin mengajak untuk belajar seni islami dengan tujuan ada keseimbangan seni dan budaya. Tidak hanya larut dengan lagu –lagu yang penuh dengan hingar-bingar kehidupan duniawi belaka. Dengan Albadar Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin meretas membangun kohesi kehidupan yang berseni nada-nada islami.
Propaganda lagu-lagu yang tidak bercirikan islami yang hanya mempertontonkan gerak erotis pasar dan hanya bersandar pada selera pasar yang kebanyakan tidak sejalan dengan prinsip dan teladan Islam harus dikikis dan terus dimbangi dengan lagu-lagu moarlitas religi yang bernuansa islam. Siapa lagi kalau bukan pondok pesantren yang terdepan untuk memerangi lagu-lagu yang jauh dari pesan dan kesan moral.
Ajakan kepada relegiusitas, ajakan kepada agama kebenaran yakni Islam menjadi tujuaan hakiki dari konsep perjuangan Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin dalam bernada gerak Islami. Islam mengajarkan kebaikan hidup di tempat ummat berada, semisal pondok pesantren, masjid-masjid, musala-musala. Para preman dan para penjahat jalanan harus diajak untuk merenungi kehidupan yang benar dan baik. Melalui pintu Majelis Gambus Albadar Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin mencoba gerakan nada dakwah.
Saat ini, kita sangat merasakan begitu besarnya manfaat dengan keberadaan majelis musik Albadar di tengah kehidupan masyarakat. Di setiap kegiatan keagamaan, di setiap kegiatan pengajian-pengajian musik relegius Albadar hadir menyapa umat dengan nada islami. Ummat diajak untuk dekat kepada agama kebenaran yakni Islam. Titah dawuh beliau ketika pertama kali mendirikan Gambus Albadar saat ini semakin terasa dampaknya. Masyarakat tidak hanya mendengarkan dan menonton musik–musik yang minus kebaikan. Masyarakat saat ini haus akan lagu-lagu relegi yang bernuasa Islami yang bermuara kepada kebenaran agama.
Ruang agama dibuka lebar di majelis gambus Revolusioner Albadar. Lagunya selalu menampakkan kebaikan keislaman. Islam harus menjadi cita ideal dalam setiap lirik lagu Albadar. Islam harus membumi. Membumikan Islam tidak hanya melalui dakwah formal belaka. Melalui pintu Albadar Islam digerakkan. Islam dikumandangkan dengan pesan agama dan pesan moralitas kehidupan. Kehidupan ummat harus tertata. Menatanya tidak cukup dengan cerama agama melalui Albadar semua dihias dengan kerekatan Islam untuk menjadi jujukan pola hidup dalam kehidupan.
Sungguh terasa sekali apa yang dicita-idealkan Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin dalam relegisitas agama. Musiknya penuh dengan kesantunan nada tercermin di setiap syairnya. Merekat sekali marwah Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo sebagai alur pendidikan kepesantrenan. Ruh Albadar melekat di dalam jiwa Pondok Pesantren Salafiyah-Syafiiyah Sukorejo karena berdirinya terlahir dari rahim dan tubu cita hati sang murabbi Kiai As’as Syamsul Arifin. Tataran idaman keislaman sangat ketara sekali bahwa beliau cinta akan dakwah seni sebagai alur untuk mengajarkan kemaslahatan umat.
Umat diajak menari-nari hati untuk berislam. Untuk berrahmatan lil alamin. Tidak ada hingar bingar erotisme lagunya. Lagunya sangat rapi terkemas dalam keislaman dan ajakan kepada kebenaran agama. Luar biasa dan terasa sekali manfaat dan kegunaan bagi terapan keimanan ummat dengan lantunan lagu-lagu relegius Albadar.
Sekarang dan atau saat ini Gambus Albadar Sukorejo lebih tertata, lebih dinamis dalam nada dakwahnya. Kelanjutannya terkemas dengan hias nada ketika Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah saat ini yakni Kiai Azaim terus memutar nada dakwahnya dengan iringan majelis musik Albadar yang lebih revolusioner. Yang lebih mengakar kepada umat. Kiai Azaim terus bergelora hati menjujung ilahi robbi dalam dakwah spiritualnya. Sanjungan dan pujian kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW terbawa larut dalam ruang hati dakwahnya sebagai hakikat dakwah kebenaran ruhul Islam.
Emosional hati untuk dekat kepada ilahi dan dekat kepada Kanjeng Nabi Muhammad selalu terbawa dalam iringan nada dakwah Islami dalam Albadar. Setidaknya apa yang dicita idealkan oleh Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin semakin terasa di masyarakat. Ummat lebih nyaman dan sejuk dalam tata kelola hubungan kemasyarakatannya karena selalu diselimuti ruang gerak nada Islam yang berevolusi hati yakni melalu gambus revolusioner Albadar yang lebih sejuk hati dalam mengajak kepada kesejukan hati menuju keimanan ilahi robbi. Terima kasih Kiai Fawaid cita ideal musiknya telah semakin diterima nyata oleh umat sebagai penyejuk hati dalam beriman ilahi kepada kebenaran Islam.
*) Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo
Editor : Ali Sodiqin