Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Membangun Karakter dalam EHB-BKS

Ali Sodiqin • Sabtu, 19 Maret 2022 | 01:00 WIB
membangun-karakter-dalam-ehb-bks
membangun-karakter-dalam-ehb-bks


PEKAN-PEKAN ini adalah waktu ujian bagi siswa kelas XII SMA. Baik negeri maupun swasta di Jawa Timur. Pada pekan depan ujian diselenggarakan mandiri oleh sekolah, namun pada minggu ini, selama empat hari ujian yang diikuti siswa tersebut terpusat di Jawa Timur. Ujian ini disebut Evaluasi Hasil Belajar Berbasis Komputer dan Smartphone (EHB-BKS).



Ini artinya ujian boleh diselenggarakan dengan menggunakan komputer maupun Smartphone. Sebagai seorang praktisi pendidikan, penulis merasa tergelitik untuk melakukan refleksi pada pelaksanaan EHB-BKS tahun ini. Terlebih lagi, saat ini penulis termasuk panitia pelaksana EHB-BKS.



Refleksi pertama dimulai dari bagaimana proses pembuatan soal-soal untuk EHB-BKS tersebut. Karena latar belakang penulis adalah guru matematika, maka penulis paham benar bagaimana soal-soal EHB-BKS, khususnya Matematika tersebut dibuat.



Pertama, setiap organisasi guru mata pelajaran (MGMP) dalam hal ini adalah Matematika setiap kabupaten mengikuti sayembara penulisan soal tingkat Jawa Timur. Paket soal yang menang mendapatkan penghargaan yang juga tidak sedikit.



Berikutnya, soal diverifikasi dan disempurnakan oleh Tim MGMP Matematika Jawa Timur. Jadi, proses pembuatan soal ini, agar valid dan bermutu, juga menyita waktu, tenaga dan biaya.



Refleksi yang kedua adalah soal yang keluar dalam EHB-BKS.  Bentuk soal-soal tersebut adalah soal cerita sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk soal-soal tersebut menuntut siswa tidak hanya memahami teori namun yang lebih penting juga mampu mengaplikasikan teori-teori yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari.



Selama ini, permasalahan yang dihadapi pelajar Indonesia adalah ketidakmampuan mereka memahami bahwa pelajaran di sekolah itu benar-benar membentuk pola pikir. Sehingga bisa bermanfaat dalam kehidupan mereka kelak.



Refleksi yang ketiga adalah terkait pelaksanaan EHB-BKS di setiap sekolah sebagai satuan pendidikan yang mengeksekusi kegiatan tersebut. Sesuai namanya, maka pelaksanaan EHB-BKS boleh berbasis komputer maupun berbasis smartphone sesuai dengan kemampuan sekolah masing-masing. Keduanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.



Bagi sekolah yang menyelenggarakan EHB-BKS dengan berbasis smartphone, tentu akan lebih efektif dan efisien dari segi waktu, tenaga dan biaya. Bagaimana tidak? Pertama, karena perangkat yang digunakan adalah smartphone dari masing-masing siswa peserta sehingga tidak perlu ada sinkron komputer sekolah dengan server Jawa Timur sesuai jadwal yang ditentukan. Juga tidak perlu melakukan setting komputer client yang akan digunakan oleh siswa sebagai peserta ujian.



Selain itu, yang kedua, ujian cukup dilaksanakan satu sesi saja. Mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.15 karena terdiri dari dua mata pelajaran per hari. Dengan demikian tidak perlu ada pengawas ujian yang perlu pulang sore.



Berikutnya yang ketiga, tidak perlu ada proctor (ahli IT) yang ikut membantu kelancaran selama ujian. Benar-benar sangat menghemat sumber daya.



Akan tetapi tentu saja, di balik kelebihan-kelebihan tersebut, pasti ada kekurangannya. Salah satunya adalah layar smartphone yang kecil, membuat siswa lebih sulit membaca soal, apalagi soal EHB-BKS berupa cerita yang panjang-panjang. Kelemahan yang kedua adalah integritas siswa. Ketika siswa menggunakan smartphone, sangat memungkinkan mereka untuk melakukan Googling, menggunakan kalkulator, maupun melakukan chat meminta jawaban pada temannya. Baik minta dari teman dari satu sekolah, maupun dari teman sekolah lain, baik dari satu kota maupun lintas kota. Pada akhirnya siswa menjadi merasa tidak perlu belajar untuk menghadapi ujian tersebut.



Bagaimana dengan ujian yang berbasis komputer? Karena sekolah tempat penulis memilih pelaksanaan tipe tersebut, dan penulis termasuk dalam kepanitiaan, maka penulis paham betul, bagaimana plus minusnya menyelenggarakan EHB-BKS dengan berbasis komputer.



Pertama, harus melakukan sinkronisasi dengan server Dinas Pendidikan Jawa Timur. Kebetulan pada waktu itu mendapatkan jadwal di hari Minggu, 6 Maret 2022 pukul 10.00. Kegiatan sinkron kurang lebih memakan waktu satu jam-an. Dilanjutkan proses men-setting komputer client sebanyak 165 komputer yang terbagi di lima ruang berbeda. Berarti ini menyita waktu dan tenaga, serta dilakukan di hari libur.



Kedua, jumlah komputer yang tersedia adalah 50 persen dari jumlah siswa, sehingga pelaksanaan ujian harus dilakukan sebanyak dua sesi. Sesi pertama, dimulai pukul 08.00 sampai dengan 11.15. Dilanjutkan sesi kedua, pukul 12.30 sampai 15.45. Dari pagi hingga sore. Masing-masing ruang memiliki satu pengawas dan satu proctor.



Ketiga, agar komputer yang digunakan untuk ujian fit, maka perlu ada kesiapan sarana prasarana di masing-masing ruang. Maka perlu cek kondisi komputer masing-masing ruangan, juga perlu cek pendingin ruangan, apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Dan kegiatan itu juga dilakukan pada pra acara ujian yang tentunya juga menyita sumber daya.



Akan tetapi, ketiga risiko tersebut diambil oleh sekolah penulis dengan pertimbangan bahwa ujian yang dihadapi oleh siswa bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai yang valid. Namun ada yang lebih penting, yaitu pembentukan mental yang baik (character building) bagi peserta didik.



Adapun nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh sekolah adalah kejujuran, integritas, menjadi pekerja keras, mandiri, percaya diri, dan memiliki daya juang untuk menghadapi tantangan model apa saja. Apalagi tipe-tipe soal ujian yang telah dibagikan sebelumnya, dan beberapa guru telah berkesempatan untuk membahasnya di ruang kelas.



Perkara nilai siswa baik, cukup, maupun kurang, dalam tahap ini, tentu bukan satu-satunya yang akan diambil sebagai penilaian akhir. Karena semua akan dikembalikan pada guru pengajar yang paham betul bagaimana keseharian siswa di sekolah.



Tak cukup dengan hal tersebut, sekolah tempat penulis berkarya juga membiasakan siswa untuk berdoa berjamaah di aula sekolah sebelum melaksanakan ujian. Hal tersebut dikandung maksud juga untuk menanamkan karakter religius siswa. Percaya pada kebesaran Tuhan dan tawakal setelah berproses. Guru memberikan motivasi-motivasi sebelum berdoa, sehingga siswa memahami keyakinan sekolah tersebut menjadi budaya positif sekolah.



Keseluruhan karakter yang berusaha ditanamkan tersebut, yaitu religius, mandiri, percaya diri, integritas, kejujuran, dan daya juang yang tinggi adalah indikator karakter-karakter yang ingin dimunculkan dalam profil pelajar Pancasila. Akan tetapi, semua berpulang pada sekolah sebagai penyelenggara ujian. Opsi yang mana yang akan dipilih? (*)



 *) Praktisi Pendidikan SMAN 1 Giri Taruna Bangsa, Banyuwangi.



Editor : Ali Sodiqin
#artikel #refleksi #catatan #opini