TINGKAT literasi yang bagus, tak selalu serta-merta berbanding lurus dengan minat baca tinggi. Buktinya, orang pakai GPS pun masih bisa tersesat di jalan. Entah kurang melek baca GPS atau kemampuan literasinya yang standar, atau malah malas saja untuk membaca dengan benar.
Banyak orang teriak tak setuju bahkan tersinggung saat disebut bahwa bangsa kita punya tingkat literasi yang rendah. Kebanyakan dari mereka akan menyangkal dengan mengatakan kalau sebenarnya minat baca masyarakat kita itu tinggi. Stigma literasi rendah untuk bangsa kita itu lalu dianggap hanyalah mitos yang diembuskan oleh orang-orang dengan perspektif kebarat-baratan.
Sayangnya, hasil penelitian menyatakan, dalam meteran literasi negara Indonesia yang kita banggakan ini menempati ranking ke-62 dari 70 negara. Ini berdasar survei Program for International Student Assessment (PISA).
Saya yang sejak remaja berlatar belakang lingkungan pesantren turut menjadi pihak yang membantah bahwa minat baca bangsa ini rendah. Bukan karena alasan tentunya, kami kaum santri yang sehari-hari tidak diperbolehkan menggunakan manfaat gawai kesayangan pastilah tak ada alasan lain selain membaca sebagai sarana pengusir kebosanan. Entah membaca buku, kitab- kitab salaf, sampai kitab suci Alquran. Yang jelas merupakan suatu kegiatan literasi tanpa kita sadari. Namun, itu hanya anggapan kolektif saya dan beberapa teman yang sama-sama suka membaca. Entah tetangga asrama saya, entah santri di pesantren lain, entah pula orang-orang yang super sibuk dengan gawainya di luar sana.
Betul memang kalau kita menganggap tingginya tingkat literasi kita sama dan sebangun dengan volume penjualan buku, jumlah pengunjung pameran buku, dan tingginya jumlah share tulisan para buzzer, yang kadang cuma ingin namanya nangkring di halaman surat kabar sesaat sebelum dijadikan bungkus kacang. Beli buku juga bisa jadi karena impulsif, karena senang mengeluarkan duit. Halaman tak kunjung beranjak dari daftar isi. Akan tetapi itu sekadar minat baca, yang cuma minat-minat saja tapi nggak dibaca-baca.
Apabila ditegaskan kembali, literasi adalah kemampuan pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan yang menjadi kunci utama untuk daya saing. Tingkat literasi dirumuskan dan dituding menjadi penunjang agar pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan masyarakat mampu membuat konsep untuk mewujudkan peningkatan kualitas SDM.
Semakin tinggi tingkat literasi yang dimiliki, maka semakin bagus kualitas SDM suatu bangsa. Karena dengannya negara bisa semakin digdaya. Sebab, puncak parameter literasi adalah kemampuan menciptakan barang dan jasa yang berkualitas yang mampu dimanfaatkan sebagai daya saing dalam kompetensi global. Karena itu, tingkat literasi masyarakat Indonesia harus ditingkatkan agar dapat mencapai tujuan dan harapan yang diinginkan.
Harapan pemerintah memang selalu indah dan tanpa celah, apalagi yang keluar dari mulut seorang politisi yang akan mencalonkan diri di kursi pemerintahan. Bagaimana jika posisinya dibalik, mereka ditaruh di posisi pendidik yang bertemu langsung dengan peserta didik. Sebagai tempat paling dini untuk menumbuhkan jiwa literasi pada anak-anak bangsa. Misalnya di pesantren, yang didiami oleh ribuan santri yang haus ilmu dan jauh dari pengaruh dunia luar. Bukan tidak mungkin jika pesantren adalah penyumbang paling tinggi persentase literasi Indonesia. Atau jangan-jangan belum ada survei khusus yang dilakukan di pesantren?
Di kultur keagamaan, orang mengaji itu sejatinya memang bukan sekadar membaca atau mendengarkan saja. Orang yang mengaji kitab yang diyakini, merasa 100 persen paham akan redaksi hukum yang dibacanya, tidak akan melakukan hal yang jadi pantangan dalam beragama. Nggak akan nyolong, memerkosa, dan hal-hal merugikan lainnya. Ini belum membahas yang lebih literatif, mentadaburi. Hanya anggapan personal saja. Sebagian orang cenderung akan menyangkalnya. Kalau mengaji mampu menangkal perbuatan jahat, kok bisa ada anggota DPR bernama Al Amin (itu nama gelar Nabi Muhammad SAW) jadi maling? Bahkan, ada seorang guru ngaji bisa memerkosa muridnya. Kasusnya baru membaca, belum mengaji. Apa yang dipelajari belum membuatnya beradab. Menandakan rendahnya literasi orang tersebut.
Kalau mau membuka wawasan lebih, literasi itu sangat berbeda dengan melek huruf. Minat membaca bagus, tidak serta-merta membuat kita mudah memahami isi atau kandungan bahan bacaan kita atau menambah persentase tingkat literasi bangsa yang juara dua dari dasar itu.
Lantas, jika sudah tahu bahwa minat baca tinggi, belum tentu literasi bagus, apakah kita jadi makin malas untuk memulai membaca? Logikanya, yang mau baca saja belum tentu mudah memahami isi bacaan apalagi yang lebih memilih tertawa haha hihi ketimbang baca buku.
Semua orang kalau diajari membaca pasti akan bisa. Pada zaman modern, satu bangsa yang buta huruf hanya perlu puluhan tahun saja untuk menjadi melek huruf. Tapi bagaimana kalau literasinya buruk? Hitungannya sangat mungkin seperti kalau kita akan memperbaiki fungsi hutan rusak. Kalkulasinya sudah bukan tahun lagi, tetapi generasi. Perlu kesinambungan. Karena memang problemnya bukan sekadar mengeja huruf, mengenalkan pena untuk menulis. Tetapi juga mental dan keseharian. Perlu dibentuk agar pemahamannya tidak berbelok.
Berangkat dari sana salah seorang ”guru besar” Bahasa Indonesia di pesantren kami mencetuskan istilah ABPI (Aksi Baca Paksa Indonesia). Sebuah komoditas baca di pesantren kami yang perkembangannya dari surut sampai pasang.
Banyak pula netizen yang bilang, baca kok dipaksa-paksa. Di sana kita diatur dalam sistem, ada administrasi pendaftaran pula. Pencapaian baca buku per minggu bahkan per hari benar diperhitungkan, ditulis, dan didata oleh petugas yang juga turut mendapat kewajiban untuk dipaksa membaca. Tercantum jelas dalam sebuah link pribadi peserta. Judul buku, pengarang, tebal halaman buku, dan tempo waktu membaca. Siapa mendapat perolehan paling banyak, maka tiap pekan atau tiap bulannya akan mendapat reward.
Makin ke sana peserta APBI makin banyak, buku-buku di perpustakaan mulai krisis, karena hampir lunas dibaca seluruhnya. Sampai-sampai noda di dinding perpustakaan turut terbaca, saking ganasnya peserta dalam membaca.
Gerakan baca paksa ini bukan semata-mata melanggar hak asasi kebebasan manusia untuk memilih apa yang dilakukan, seperti kelakar yang disampaikan netizen ”Baca kok dipaksa paksa”. Dikira makan nggak terpaksa? Kalau bukan karena lapar bukan tidak mungkin orang-orang bakal lahap sekali makan. Karena tanpa paksaan yang menuntut adalah hal mustahil mewujudkan sesuatu yang diinginkan.
Melalui baca paksa, peserta diajak untuk betul-betul mencintai buku, hingga belajar cara memahami maksud dalam buku yang dibaca, dengan cara pandang yang luas. Yang kemudian menambah tinggi debit volume kemampuan literasi diri. Dengan tujuan melatih literasi santri agar tak mudah terimpit pelintiran kehidupan.
Semoga gerakan ABPI tak hanya stagnan berkembang di kalangan pesantren kami. Esok hari, anak-anak di luar sana juga turut mengisi link-link pencapaian baca buku sambil nongkrong di kafe di aplikasi yang sudah terunduh di gawai masing-masing. Itulah sebabnya, kenapa baca harus dipaksa-paksa. Menjadi alegori meningkatkan minat baca dan mengasah kemampuan literasi anak bangsa. (*)
*) Mahasiswi Jurusan Tadris/ Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin