Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Untuk Apa Nilai Bagus?

Ali Sodiqin • Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:00 WIB
untuk-apa-nilai-bagus
untuk-apa-nilai-bagus

BEBERAPA hari terakhir dunia pendidikan Banyuwangi dihebohkan dengan masalah nilai rapor siswa di salah satu sekolah dasar negeri di Banyuwangi. Nilai-nilainya begitu memukau sehingga mendominasi peringkat PPDB di beberapa SMP favorit lewat jalur nilai rapor. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari banyak pihak. Mungkinkah nilai-nilai siswa dari satu sekolah bisa sebegitu bagusnya dan merata pula? Banyak yang menduga ada kecurangan di balik nilai rapor siswa yang begitu bagus. Tetapi ini hanya sebatas kecurigaan saja, tidak akan bisa dibuktikan atau pun dikenai sangsi. Karena nilai rapor itu adalah hak prerogatif guru di sekolah yang bersangkutan.


Dan jika dirunut akar masalahnya, sebenarnya kita juga tidak akan bisa menyalahkan guru, tetapi ada peran sistem aplikasi yang berpengaruh di sini. Sejak beberapa tahun terakhir ini pengisian nilai rapor memakai sistem aplikasi rapor K-13, di mana jika kita meng-input nilai harian dan ujian siswa otomatis akan tertera nilai akhir dan predikatnya. Yang menjadi masalah adalah pada predikat ini. Pada rapor K-13, siswa harus mendapat predikat minimal B untuk setiap mata pelajaran, sedangkan predikat B itu jika dikonversi ke angka minimal 78. Di bawah itu otomatis predikatnya C. Karena guru tidak ingin siswanya mendapat nilai C yang akan mempengaruhi lolos tidaknya kelak di SMP negeri, maka dibuat minimal nilai 78. Jika siswa yang katakan kemampuan akademisnya kurang saja nilainya 78, maka siswa lain yang jauh lebih pandai tentu nilainya di atas itu. Inilah yang menyebabkan perolehan nilai rapor menjadi luar biasa bagus, sehingga menimbulkan kecurigaan banyak pihak.


Masalah kecurangan yang dilakukan guru demi murid-muridnya ini bukan hanya sekali ini kita dengar. Banyak sekali kisah kecurangan yang dilakukan sekolah di sekitar kita. Tidak ada bukti, hanya sudah menjadi rahasia umum yang menjadi permakluman. Saat masih mengajar di sebuah SD negeri dulu, dari cerita-cerita para guru yang lain, mereka sengaja mengatur tempat duduk siswa saat ujian akhir. Biasanya polanya satu siswa pandai dikelilingi oleh beberapa siswa yang kemampuannya kurang, dengan mendoktrin siswa pandai ini untuk mengajari teman-temannya. Hasilnya memang luar biasa, siswa-siswa yang secara akademis kurang mampu akhirnya mendapat nilai yang sangat bagus. Ini sudah menjadi rahasia umum. Bahkan ada seorang guru SMP negeri di daerah selatan yang sudah hafal, jika lulusan dari SDN ‘X’ itu nilainya bagus-bagus tetapi saat sudah di SMP kadang-kadang membaca saja belum lancar.


Saya sendiri pernah menemukan saat Try Out Radar Banyuwangi bertahun-tahun yang lalu. Saat itu peringkat 1-100 dimuat di koran berikut nilai-nilai perolehannya. Peringkat 1-52 berasal dari satu sekolah yang sama. Bukan itu saja, ke-52 siswa tersebut nilai ketiga mata pelajaran dan jumlahnya sama persis, bahkan sampai angka komanya juga sama persis. Pertanyaannya, apakah 52 siswa itu bisa punya kemampuan yang sama persis begitu?


Hal itu biasa terjadi saat aturan PPDB memakai acuan Nilai Ujian Akhir. Sekarang setelah aturan PPDB memakai nilai rapor, muncul masalah seperti sekarang. Tahun lalu, saat sistem zonasi mulai diberlakukan, ada yang nekat mengubah Kartu Keluarga (KK) dengan menitipkan nama anaknya ke keluarga yang dekat dengan sekolah yang dituju.


Intinya apa? Sebagus apa pun program pemerintah dan aturan yang dibuat, akan selalu ada celah untuk berbuat curang. Hal ini karena prestasi akademis yang tergambar dalam nilai ujian maupun nilai rapor masih menjadi dewa yang disanjung-sanjung dan dianggap paling mentereng.


Kita ingat lagi, tujuan pendidikan sebenarnya adalah menyiapkan siswa agar mampu menghadapi tantangan kehidupan. Kalau orang tua dan guru sering membantu siswa dalam setiap persoalan hidupnya, kapankah mereka akan mandiri dan mampu mengatasi masalahnya sendiri? Jika orang tua dan guru kerap memanipulasi kondisi siswa untuk membantunya, bukan tidak mungkin di masa depan mereka akan terbiasa memanipulasi keadaan agar menguntungkan dirinya.


Maka sebenarnya yang paling dibutuhkan seorang anak untuk kehidupannya kelak adalah pendidikan karakter yang kuat. Religius, yang merupakan pengejawantahan dari sila pertama Pancasila. Nilai karakter ini akan menumbuhkan rasa takut kepada Tuhannya, sehingga dia tidak akan berani berbuat curang, apa pun kodisinya. Disiplin, yang membuat seorang anak akan terbiasa menjalani semua aktivitasnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tangguh, membuat seorang anak akan mempunyai daya juang yang tinggi, yang akan membuatnya bekerja keras dalam meraih cita-citanya. Kerja sama, membuat seorang anak akan mampu berkolaborasi dengan teman-temannya dalam menyelesaikan masalah.


Pemerintah melalui Kemendikbud sebenarnya telah meluncurkan program pendidikan karakter, tetapi entah kenapa di lapangan hal ini menjadi hanya sekadar tempelan saja. Mengapa bisa terjadi? Karena sekali lagi, karakter ini hanya sekadar tempelan, bukan menjadi unsur penilaian utama. Yang dinilai tetap saja hasil ujian yang dilakukan di sekolah. Anak yang jujur dan sopan tetapi nilai ujiannya buruk tetap tidak akan diterima di sekolah negeri favorit jika ada yang nilainya jauh lebih baik, meskipun akhlaknya rusak.


Mungkin kita harus belajar banyak dari Jepang. Di Jepang pembelajaran untuk anak TK dan SD kelas rendah hanyalah penguatan karakter, tidak ada pelajaran akademis. Bagaimana mereka diajari untuk mandiri, pergi ke sekolah sendiri, mengantre dengan sabar, membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih kepada orang-orang yang berinteraksi dengan mereka, serta membersihkan kelas dan sekolahnya sendiri, karena tidak ada petugas kebersihan. Pendidikan karakter dan keterampilan hidup inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak-anak di masa depannya.


Saya hanya ingin mengajak kepada para orang tua   pun berada, bahwa nilai bukanlah segalanya, ada yang jauh lebih penting untuk dikejar, yaitu karakter dan akhlak anak-anak. Jika para orang tua sudah tidak mempedulikan lagi tentang nilai anak-anaknya, lama-lama sekolah yang melakukan kecurangan akan kehilangan peminatnya. Pada akhirnya hal-hal tersebut akan berhenti dengan sendirinya. Jadi kuncinya ada pada kita, orang tua dan para konsumen yang akan memilih sekolah.


Pendidikan memang bukan masalah sepele, karena baik buruknya pendidikan di suatu negeri akan menentukan nasib negeri itu di masa depan. Maka berikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Yang akan membuat mereka bisa ‘survive’ di masa depan dengan karakter yang kuat. (*)


*) Guru SDIT Al Uswah Banyuwangi.



Editor : Ali Sodiqin
#pendidikan #kolom #artikel #opini