Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Malam Suro Alas Purwo dan Falsafah Keberagaman

Ali Sodiqin • Minggu, 11 April 2021 | 07:00 WIB
malam-suro-alas-purwo-dan-falsafah-keberagaman
malam-suro-alas-purwo-dan-falsafah-keberagaman


ALAS Purwo? Pasti sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Bicara tentang Alas Purwo, pasti tidak tertinggal dengan kata mistis. Meskipun sebenarnya tidak seseram yang dibicarakan oleh kaum awam. 



Alas purwo terletak di ujung paling ujung di tenggara Jawa Timur. Hutan paling ujung dan sudah tidak ada desa lagi setelah Alas Purwo. Banyak orang yang bilang, bahwa Alas Purwo adalah hutan paling angker se-Indonesia. Pusatnya setan, iblis, jin, dan sejenisnya. Dibuat untuk pesugihan dan mencari kekuatan.



Namun, Alas Purwo juga tak terlepas dari keindahan alamnya. Banyak sekali destinasi wisata yang sangat diminati oleh semua umat manusia. Keindahan laut Plengkung yang sangat diminati oleh kalangan turis peselancar, karena ombaknya yang sangat besar. Juga merupakan spot selancar terbaik kedua di dunia. Dan masih banyak lagi destinasi wisata yang sangat indah di dalamnya.



Berbicara tentang malam Suro, banyak sekali pendapat arti tentang malam Suro. Ada yang bilang malam paling buruk dalam setahun. Malam hari raya para setan. Malam kembalinya arwah ke rumah para kerabat yang sudah meninggal. Sebenarnya, malam Suro adalah malam pergantian kalender Jawa yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharam dalam kalender Islam. Tergantung juga dengan desa setempat dalam pengartiannya.



Malam Suro pasti setiap desa berbeda-beda cara memperingatinya. Di Alas Purwo, yang masuk wilayah Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, yang terbagi menjadi beberapa desa, cara memperingatinya juga bermacam-macam. Setiap agama dan kepercayaan juga berbeda. Meskipun mayoritas di sini adalah muslim. Tetapi jangan salah, keanekaragaman agama dan budaya masih terjaga. Masih banyak penganut agama Hindu, Konghucu, Kristen, dan Buddha. Meskipun tak sebanyak penganut muslim, dan itu bukan masalah. Pada intinya semua agama itu sama. Sama-sama mengajarkan tentang kebaikan.



Sementara itu di Alas Purwo, ketika malam Suro sangat ramai. Entah pengunjungnya dari penduduk setempat ataupun dari luar kota. Kebanyakan pengunjung dari Bali, karena sebagian masyarakat Bali mempercayai bahwa Alas Purwo adalah pusat tempat beribadah yang paling khusyuk. Mereka mempercayai bahwa permintaannya cepat dikabulkan oleh Tuhan.



Nah, keanekaragaman adat budaya menurut agama yang ada di desa ini tradisi di malam Suro cukup banyak dan terbilang unik. Bahkan, ada juga yang terbilang aneh. Mungkin banyak orang pun yang tak mempercayainya. Apalagi kaum milenial seperti saya. Nah, ini beberapa tradisi yang masih dilakukan di desa saya. Seperti, menyiram air bunga di depan rumah dengan mempercayai bahwa arwah leluhur akan datang. Membersihkan benda keramat seperti, keris, guci, pedang, lukisan, dan senjata lainya. Caranya dengan dilap ataupun dimandikan. Itu pun tidak sembarang orang bisa membersihkan barang keramat itu selain pemiliknya. Konon jika bukan pemiliknya sendiri yang membersihkan, itu bisa mencelakai orang yang membersihkannya.



Biasanya, warga setempat khususnya umat Hindu akan bersembahyang di pura di Alas Purwo dengan membawa dupa dan sesajen. Bukan hanya itu. Semakin malam akan banyak yang datang ke Alas Purwo. Pengunjung dari Bali biasanya sampai lima unit bus yang datang untuk sembahyang. Mereka berpakaian serba putih, dan yang perempuan memakai songket dan kebaya dengan rambut selalu disanggul. Tidak lupa, di dahi mereka pasti ada beberapa butir beras.



Setelah sembayang, mereka biasanya akan bertapa di salah satu gua di Alas Purwo. Mereka akan bertapa selama semalam atau bahkan lebih, dengan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Agar dihindarkan dari kesialan dan dimudahkan dalam segala urusan. Mereka akan bermalam beberapa hari di sana, untuk ibadah dan menikmati suasana alam yang indah.



Berbeda dengan warga muslim setempat, karena malam Suro adalah malam tahun baru Islam 1 Muharam, menjadi perpaduan tradisi Jawa-Islam. Mereka akan ke masjid untuk berzikir bersama. Warga membawa tumpeng, buah-buahan, dan aneka jajanan khas dengan menyimbolkan agar terhindar dari segala keburukan. Mereka berdoa bersama dan salat, juga tak terlepas oleh kajian-kajian dari ustad maupun ulama.



Tetapi, ada juga warga yang mempercayai bahwa adanya malam Suro tidak boleh ada yang keluar dari rumah. Karena menurut mereka, keluar pada malam itu tidak baik, tidak diperkenankan.



Nah, membahas malam Suro ini tidak akan terlepas dengan berbagai mitos di dalamnya. Seperti, tidak boleh mengadakan pesta, perayaan apa pun. Entah itu pesta pernikahan atau acara besar lain. Tidak boleh keluar di malam Suro, apalagi untuk anak perawan atau anak yang belum menikah. Bila nekat keluar rumah, mereka percaya akan mendapat sial ataupun akan dinikahi oleh bangsa jin. Juga ada mitos tidak boleh aktivitas pindah rumah di hari itu. Tidak boleh berbicara bagi petapa. Itu pun, mitos-mitos semacam itu masih terjadi sampai sekarang.



 Terlepas dari adat, tradisi, dan mitos, peringatan malam Suro hanyalah budaya yang turun-menurun dari nenek moyang. Hal itu masih dipercayai oleh masyarakat Indonesia dan menandakan bahwa beragam budaya, adat, tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia masih digenggam erat oleh masyarakat Indonesia. Terlepas dari semua itu, bahwa budaya tradisi adat adalah salah satu persatuan untuk masyarakat, dengan toleransi antar budaya, agama, dan kebiasaan.



Kegiatan-kegiatan itu adalah bagian kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Karena banyak dampak positifnya di antaranya menciptakan kerukunan, mencegah proses perpecahan masyarakat, mengeratkan kehidupan sosial antarwarga, juga dapat menguatkan semangat untuk hidup bersama-sama. (*)



 



*) Siswi MAN 1 Banyuwangi.


Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #opini