HINGGA awal tahun 2021, tampaknya pandemi Covid-19 di Indonesia, khususnya Banyuwangi, belum memperlihatkan tanda-tanda penurunan signifikan. Meskipun sudah akan menerapkan pembelajaran tatap muka, tetap saja hal tersebut belum berlaku ke seluruh level pendidikan.
Pun begitu kegiatan dengan protokol kesehatan ketat tetap dilakukan dengan memberikan penekanan pada setiap warga. Agar semua tetap patuh pada aturan petugas di lapangan. Sebut saja pengaktifan kembali pos screening di jalur masuk Banyuwangi, ini menjadi ikhtiar baik untuk ikhtisar terbaik.
Terbaik tentu bukan untuk kalangan tertentu saja, namun lebih dari itu upaya ini menjadi tendensi agar parameter yang digunakan oleh Pemkab Banyuwangi tidak rumpang. Sorai semangat untuk memberikan edukasi yang lebih daripada pembelajaran yang lebih hati-hati. Melihat, menimbang, dan memilih cara untuk tetap bisa aman beraktivitas.
Segala ikhwal penanganan pandemi di Banyuwangi tentu dilakukan satu pintu melalui Satuan Tugas Pencegahan Covid-19 dengan melibatkan tim gabungan dari lintas stakeholder di Banyuwangi. Hal ini tentu tidak akan berjalan maksimal, dengan tanpa adanya edukasi yang masif dan preventif.
Kekhawatiran terkait infeksi virus korona masih terus terjadi. Sebab, kasus infeksi virus ini telah dikonfirmasi di sebagian besar negara di dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun tingkat kematian jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kesembuhan, penyebarannya yang cepat membuat orang-orang perlu melakukan tindakan pencegahan.
Peningkatan Imun
Salah satunya adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh atau sistem imun manusia. Peningkatan sistem imun ini bisa dilakukan dengan banyak mengonsumsi makanan tinggi serat. Sebab, semakin banyak makanan nabati yang dikonsumsi, akan semakin baik. Mikrobioma sangat menyukai serat, kacang-kacangan, dan makanan fermentasi.
Selain itu menghindari paparan sinar UV mikrobioma kulit juga sangat penting, tetapi sedikit yang mengetahuinya. Paparan sinar ultraviolet yang intens dapat berdampak negatif, yaitu melemahkan fungsi perlindungan. Mencuci dengan sabun yang terlalu kuat dan menggunakan produk antibakteri juga tidak bersahabat dengan mikrobioma kulit.
Lalu, berolahraga dan makan sehat dapat membantu seseorang untuk tidur lebih baik. Sebuah studi menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan tubuh melawan penyakit dari jenis limfosit yang disebut sebagai sel T. Penelitian tersebut menjelaskan pentingnya bioritme alami secara keseluruhan.
Alasan sederhana jika manusia memiliki pola tidur teratur, maka akan memiliki ritme tubuh dan semuanya baik-baik saja. Meski pada orang dengan tubuh yang sehat dan tidak memiliki masalah kesehatan lain, mekanisme pertahanan tubuh ini bisa efektif. Itulah sebabnya kenapa beberapa orang yang terinfeksi virus korona bisa sembuh dengan sendirinya asalkan mengonsumsi makanan bergizi, suplemen, vitamin, dan istirahat cukup.
Kondisi sebaliknya bisa dialami orang yang sebelumnya mengidap penyakit penyerta. Sebab ketika imun tubuh bergerak secara agresif justru bisa menyerang sel yang sebenarnya masih sehat dan belum terinfeksi. Gejala berat juga bisa dialami bayi dan lanjut usia, sebab sistem pertahanan tubuh mereka lebih lemah ketimbang orang muda.
Kelompok Rentan
Maka dari itu sangat penting menerapkan social distancing. Selain untuk melindungi diri sendiri, berarti kita juga ikut membantu melindungi kelompok yang rentan terhadap virus korona. Banyuwangi menjadi salah satu yang melihat pentingnya aturan ini untuk warga yang ada di tempat publik.
Banyak instansi, baik pemerintah maupun swasta yang memberikan atensi pada penerapan aturan ini. Lokasi antre pengunjung diberlakukan jarak aman, ditentukan untuk memastikan keselamatan dari virus Covid-19. Meski tidak dipungkiri, kadang masih ada saja masyarakat yang bandel melanggar aturan.
Intinya, kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus korona adalah penerapan 5M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas. Kepatuhan kolektif terhadap protokol kesehatan efektif mencegah penularan Covid-19. Beberapa jurnal internasional menyebutkan, mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko penularan hingga 35 persen.
Adapun risiko bisa turun 45 persen, jika memakai masker kain. Risiko turun menjadi 70 persen, bila mengenakan masker bedah. Asalkan konsisten dan kolektif melakukan perubahan perilaku, menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin dan sungguh-sungguh.
Untuk menekan penyebaran Covid-19, pemerintah cukup berhasil meningkatkan kapasitas pemeriksaan (testing) dan perawatan (treatment) pasien Covid-19. Meskipun secara nasional angka pemeriksaan belum mencapai target Badan Kesehatan Dunia (WHO), sudah ada beberapa provinsi yang melampaui target tersebut. Mengingat selain pemeriksaan, angka kesembuhan terus meningkat seiring dengan peningkatan perawatan pasien Covid-19.
Butuh Sinergi
Tetap saja hemat penulis, kendala terbesar untuk menekan penyebaran virus korona ada pada pelacakan (tracing). Masyarakat masih resistan terhadap penelusuran karena stigma negatif kepada penderita Covid-19. Sehingga testing, tracing, dan treatment merupakan upaya tidak mudah sehingga membutuhkan sinergi dari masyarakat.
Pun masyarakat harus terbuka mengenai riwayat perjalanan dan interaksi yang dilakukan. Publik juga diminta tidak memberikan stigma negatif terhadap penderita Covid-19 agar mereka dapat sembuh dan tak menulari yang lain.
Ikhwal penggunaan masker di luar rumah, survei Badan Pusat Statistik mencatat angka kepatuhan masyarakat meningkat pada Desember 2020 lalu, mencapai 91,98 persen. Namun terjadi penurunan tingkat kepatuhan mencuci tangan dan menjaga jarak dibanding hasil survei yang sama sebelumnya. Persentase masyarakat yang menggunakan masker meningkat 8 persen, tapi persentase yang cuci tangan dan jaga jarak turun.
Dalam survei kali ini, responden yang menyatakan menggunakan penyanitasi tangan atau disinfektan saat berada di luar rumah sebanyak 77,71 persen, mencuci tangan selama 20 detik dengan sabun 75,38 persen, menghindari jabat tangan 81,85 persen, menghindari kerumunan 76,69 persen, dan menjaga jarak minimal 1 meter 73,54 persen.
Berdasar survei, responden perempuan lebih patuh menerapkan protokol kesehatan ketimbang laki-laki. Dalam soal mengenakan masker dan menjaga jarak minimal 1 meter, misalnya, angkanya secara berturut-turut 94,8 persen berbanding 88,5 persen dan 77,5 persen berbanding 68,7 persen. (*)
*) Warga Desa Wringinagung, Gambiran, Banyuwangi.
Mahasiswa Jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim
Malang.