Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Masyarakat Matematika Melihat Masa Depan 5.0

Ali Sodiqin • Senin, 25 Januari 2021 | 22:30 WIB
masyarakat-matematika-melihat-masa-depan-50
masyarakat-matematika-melihat-masa-depan-50

Matematika adalah ilmu yang luar biasa. Akan sangat disayangkan jika potensi luar biasa ini hanya ”tersimpan dalam lemari” karena umumnya banyak pelajar Indonesia yang memiliki cara pandang salah tentang Matematika. Padahal banyak orang yang sudah menekuni Matematika yang sudah berkiprah di perusahaan atau organisasi besar bahkan sebelum diwisuda oleh kampusnya, misalnya Phillia Wibowo seorang lulusan matematika ITB yang bekerja di McKinsey & Company dengan cabang di 50 negara di seluruh dunia.

Phillia menikmati problem solving akibat dari efek belajar Matematika yang membuat masalah yang kompleks menjadi terasa menyenangkan. Dia juga dikenal sebagai penggerak ”Unleashing Indonesia” yang bertujuan membuat Indonesia maju dalam perekonomiannya, dan salah seorang pendiri ”Young Leaders for Indonesia” yang menyasar para mahasiswa berprestasi dan berpotensi menjadi pemimpin di masa depan.

Selain Philia Wibowo, ada Iwan Setyawan, lulusan statistika yang menjabat sebagai direktur perusahaan market research di Amerika, Hendri Zulfan yang juga sarjana statistika yang menjadi Direktur Utama Danareksa (BUMN di bidang keuangan), dan masih banyak lagi.

Hal hebat yang dicapai orang-orang tersebut di atas karena mereka memiliki landasan dan persepsi yang benar akan Matematika. Jika persepsi kita salah akan membuat Matematika kita menjadi kurang berkembang, misalnya dengan berpikir bahwa matematika adalah ilmu tentang berhitung, rumus, dan hal lain menyangkut angka padahal Matematika memiliki arti lebih dalam dari itu. Matematika itu tentang logika kita, tentang konsistensi logika kita. Tidak ada pelajaran yang terbaik untuk melatih logika kita untuk tetap konsisten kecuali Matematika.

Jadi di dalam bahasa saya, di dalam benak saya, bahasa itu tidak hanya bahasa Indonesia, tidak cuma bahasa Inggris, bahasa Madura, bahasa Prancis, bahasa Aborigin, tapi juga ada bahasa Matematika. Hanya, kita harus melihatnya dengan sudut pandang tersendiri. Misalnya kalau di Matematika tambah menggunakan simbol plus, kurang menggunakan simbol minus, sama dengan menggunakan simbol garis sejajar ganda, dan gramatika Matematika lainnya.

Zaman dahulu, jarang sekali ditanamkan ke publik, sejak dini, sejak anak-anak bahwa Matematika adalah tentang bahasa. Seandainya hal itu ditanamkan sejak SD maka mereka akan tumbuh dengan logika berpikir yang luar biasa. Kalau di Jepang, para pengajar Matematika dasar/tingkat rendah malahan dari para profesor.

Dengan belajar Matematika seseorang akan mampu menemukan penyelesaian/solusi terhadap masalah yang ada dalam berbagai peristiwa kehidupan dengan melakukan penyederhanaan permasalahan tersebut menjadi model Matematika.

Oleh karena itu, pelajar matematika dapat menjawab berbagai pekerjaan dalam analisis data statistik, kekosongan di perguruan tinggi negeri, departemen keuangan, LIPI, perbankan, bursa efek, asuransi dalam bidang produksi perangkat lunak atau pun dalam bidang jaringan komputer, statistik, dan aktuaria.

Matematika memiliki fungsi yang begitu penting dalam kehidupan kita yang tanpa sadar jika matematika itu kita tiadakan maka dunia kita akan kacau karena kehilangan komponen utama yang membuatnya dapat berkembang hingga saat ini.

Singkatnya, Matematika tidak hanya menata konsistensi logika berpikir kita tapi juga dapat membantu kita dalam berbagai permasalahan kehidupan seperti dalam membuat perhitungan konstruksi bangunan, berolahraga, desain interior, fashion, memasak, manajemen waktu, industri otomotif, aplikasi komputer, video game, ramalan cuaca, dasar dari pelajaran lain (seperti fisika, kimia, ekonomi, akuntansi, statistik), industri manufacturing, bahkan pemasaran.

Dengan menggunakan Matematika sebagai entitas bahasa logika akan membantu masyarakat Indonesia menjadi lebih siap untuk menuju masyarakat 5.0. Yaitu masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet of Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia diperlukan pendidikan yang membentuk manusia yang memiliki kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, dan hal ini adalah hasil yang dapat diberikan dengan jalan Matematika sebagai bahasa.

Selalu dikesankan bahwa Matematika itu tentang kepastian, padahal Matematika itu penuh ketidakpastian. Matematika adalah tentang kesepakatan. Satu tambah satu sama dengan dua, siapa bilang pasti? Kalau kita bicara dalam konteks bilangan per sepuluhan, maka jawabnya ya. Tapi dalam bilangan biner satu tambah satu bukan dua jawabannya.

Kita sepakat dengan Pancasila. Sepakat bahwa bumi dan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara. Tetapi ketika Freeport hanya memberi 1% saja saat itu, seharusnya logika kita langsung tahu bahwa itu tidak konsisten.

Jadi matematika tentang logika, jika seluruh Indonesia diajarkan matematika secara benar, mata kita akan terbuka dan melihat matematika dengan lebih luas.

Matematika bisa berhubungan dengan musik, menurut saya seseorang yang musiknya bagus matematikanya harus bagus. Kalau seseorang matematikanya bagus, sastranya pasti bagus, jika ternyata banyak teman-teman sastrawan yang matematikanya tidak bagus, berarti matematika diajarkan dengan cara yang salah.

Karena di dalam matematika kita selalu menemukan bahasa-bahasa baru. Misalnya bahasa e=mc2, atau ketemu dimensi n. Padahal dalam bayangan kita, dalam benak kita, maksimal dimensi yang ada itu cuma ada tiga dimensi yaitu x, y, z. Tidak pernah terbayang ada dimensi keempat bahkan dimensi ke-n. Dan hal itu ditemukan dari penurunan rumus Matematika, yang kemudian bisa diterapkan di astronomi yaitu ketika gravitasi mampu menarik cahaya dan seterusnya. Dalam Fisika dijelaskan lebih banyak dimensi dari cuma sekadar tiga dimensi.

Kata-kata Matematika diciptakan terlebih dahulu kemudian teknologi mengejarnya. Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak berpola. Itulah kemampuan Matematika yang harus ditanamkan. Melihat kemacetan di Jakarta atau kota besar lain yang seolah semrawut tapi ternyata berpola, pada jam 6 pagi orang berangkat beraktivitas, pada jam 5 sore, pada jam 12, dengan konsep-konsep himpunan pola kemacetan dapat dipetakan sehingga dapat menyelesaikan masalah yang ada.

Mari kita berpikir bahwa Matematika tidak sebagai hitung-hitungan. Tetapi Matematika sebagai bahasa, dan itu memengaruhi logika, matematika erat kaitannya dengan lagu, erat kaitannya dengan puisi. Saya setuju bahwa matematika adalah orkestra dari seluruh konsep. Konsep arsitektur, konsep teknik mesin, konsep seni rupa, digabung menjadi satu dalam konsep Matematika, matematika adalah orkestrasi dari seluruh konsep, dan musik adalah matematika yang berbunyi.

Inti dari Matematika adalah persamaan dan matematika tentang pertidaksamaan itu hanya pengecualian. Maka dalam kehidupan sehari-hari ada gereja, ada masjid, ada pura dan lain sebagainya. Kenapa kita mencari perbedaan mari kita berpikir matematika dan selalu mencari persamaan.

Semoga ide-ide yang disampaikan dapat memberikan perubahan baik itu perubahan sosial maupun perubahan struktur yang dapat berpengaruh pada perkembangan Indonesia menjadi lebih baik untuk menuju masyarakat 5.0. (*)
 
*) Guru MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #opini