Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sang Pendobrak Keterbelakangan Daerah Tapal Kuda

Ali Sodiqin • Rabu, 7 Agustus 2019 | 23:35 WIB
sang-pendobrak-keterbelakangan-daerah-tapal-kuda
sang-pendobrak-keterbelakangan-daerah-tapal-kuda

SEJARAH mencatat, kalo daerah tapal kuda itu merupakan sebuah nama daerah di provinsi Jawa Timur tepatnya di kawasan ujung bagian timur. Dinamakan tapal kuda, karena bentuk kawasan itu dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Daerah tapal kuda meliputi Kab. Pasuruan bagian timur, Kabupaten dan Kota Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Masih dalam sejarah, sebutan daerah tapal kuda itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan hingga kini pun belum terhapuskan.

Dulu dan mungkin hingga kini, image di luaran sana ketika kebanyakan orang mendengar sebutan daerah tapal kuda, taukah apa yang ada di benak mereka? adalah simbul-simbul keterbelakangan. Seperti, tempatnya daerah kantong kemiskinan, rendahnya pendidikan, buruknya kesehatan, lambatnya kemajuan ekonomi, hingga daya beli yang rendah. Seakan semua ada di daerah tapal kuda ini.

Tapi kini, seiring dengan jalannya waktu atau tepatnya pada satu dasawarsa terakhir ini, telah banyak perubahan dan kemajuan yang telah dicapai oleh masing-masing kab/kota yang ada di daerah tapal kuda itu. Dan tentu, antar kab/kota satu dengan yang lain akan mempunyai keragaman potensi kemajuan daerah yang berbeda. Kini daerah tapal kuda itu tumbuh menjadi kemiskinannya berkurang, pendidikan berkembang, kesehatan sudah mulai membaik, pertumbuhan ekonomi dan daya beli terus meningkat. Semuanya tumbuh cukup signifikan.

Dan rupanya, dengan adanya banyak perubahan dan kemajuan yang telah diraih oleh masing-masing kab/kota yang ada di daerah tapal kuda itu, diduga belumlah cukup untuk mendobrak image kebanyakan orang ketika mendengar sebutan daerah tapal kuda. Mengapa demikian, karena mereka yang berada di luaran sana masih butuh pembuktian yang terukur untuk tau kab/kota mana yang sudah berhasil mendobrak keterbelakangan di daerah tapal kuda itu.

Tentu bukan dengan ukuran atau indikator makro semata, namun dukungan berbagai penghargaan pun menjadi ukuran yang patut untuk diperbandingkan. Memang, ada beberapa output data makro dari BPS yang bisa digunakan untuk mengukurnya. Namun, cukup dengan mengevaluasi angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi saja sudah cukup kuat untuk menjelaskan secara komprehensip terhadap berbagai keterbelakangan yang ada di daerah tapal kuda.

Pertama. Keberhasilan Banyuwangi ketika menurunkan angka kemiskinan hingga pada level satu digit yaitu dari 8,64% di tahun 2017 turun menjadi 7,80% di tahun 2018, ternyata telah menginspirasi kab/kota lain di daerah tapal kuda. Sebut saja Lumajang dari 10,87% di tahun 2017 turun menjadi 9,98% di tahun 2018. Jember dari 11,00% di tahun 2017 turun menjadi 9,98% di tahun 2018. Kab. Pasuruan dari 10,34% di tahun 2017 turun menjadi 9,45% di tahun 2018, dan Kota Probolinggo dari 7,84% di tahun 2017 turun menjadi 7,20% di tahun 2018.

Sementara untuk tiga kabupaten yang lain seperti Bondowoso, Situbondo, dan Kab. Probolinggo angka kemiskinannya masih berada pada level dua digit. Masing-masing di tahun 2018 sebesar 14,39%, 11,82% dan 18,71%. Sebagai bahan pembanding, angka kemiskinan Jawa Timur pada tahun 2018 sebesar 10,98% dan pada tahun yang sama angka nasional sebesar 9,66%. Posisi Banyuwangi dan Kota Probolinggo selain angka kemiskinannya sudah berada di bawah angka Jawa Timur dan Nasional, juga memiliki tataran yang lebih baik dalam pengendalian angka kemiskinannya. Hal ini terbukti dari rendahnya angka kemiskinan di dua daerah tersebut.

Kedua. Pertumbuhan ekonomi, dari delapan kab/kota yang berada di daerah tapal kuda, tiga kab/kota di antaranya sudah berada di atas pertumbuhan Jawa Timur dan lima kabupaten selebihnya masih berada di bawah angka pertumbuhan Jawa Timur. Memang pertumbuhan ekonomi itu merupakan ukuran yang bersifat makro, namun setidaknya sudah bisa digunakan untuk mengukur capaian kemajuan ekonomi bagi setiap daerah kab/kota.

Pada 2018 ekonomi Kota Probolinggo tumbuh 5,94%, Banyuwangi tumbuh 5,84%, Kab. Pasuruan 5,79% yang merupakan tiga kab/kota dengan pertumbuhan di atas Jawa Timur (5,50%). Sementara Situbondo tumbuh 5,43%, Jember 5,23%, Bpndowoso 5,09%, Lumajang 4,53%, dan Kab. Probolinggo tumbuh 4,47% dengan pertumbuhan yang masih berada di bawah Jawa Timur. Untuk nasional pada periode yang sama tumbuh 5,17%.

Lalu, siapakah sejatinya sang pendobrak keterbelakangan daerah tapal kuda itu? adalah Banyuwangi. Karena dari kedua ukuran yang berdasar atas output data makro BPS, Banyuwangi telah mampu menempatkan capaian kinerjanya pada posisi yang cukup baik. Serta lebih dari itu, Banyuwangi juga didukung dengan berbagai penghargaan sebagai bukti keberhasilan pembangunan yang telah banyak diraihnya.

Penghargaan itu diraih bukan pada tingkat nasional saja, namun hingga kelas dunia. Dan yang paling bergengsi adalah program-program inovatif yang selama ini digagas Banyuwangi itu telah meraih penghargaan sebagai "Kabupaten Terinovatif" dalam kompetisi Innovative Government Award (IGA) 2018. Tak tanggung-tanggung, kabupaten dari daerah tapal kuda ini meraih nilai tertinggi dari 10 nominator. Penghargaannya diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri dan diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri kepada Bupati Banyuwangi di Jakarta pada 7 Desemeber 2018.

Pada 17 Juli 2019 Banyuwangi meraih Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Rupiblik Indonesia yang diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Rupiblik Indonesia kepada Bupati Banyuwangi. Parasamya Purnakarya Nugraha itu merupakan tanda kehormatan tertinggi atas pelaksanaan pembangunan yang dicapai oleh Banyuwangi. Utamanya pada kinerja penyelenggaraan pemerntahan daerah antara 2015 hingga 2017.

Itu baru sebagian dari penghargaan berskala nasional. Yang berkelas dunia, ternyata Banyuwangi pun mampu menunjukkan keberhasilannya di kancah dunia internasional. Mewakili Indonesia, Banyuwangi berhasil meraih predikat juara dunia dalam ajang United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Awards for Excellence and Innovation in Tourism ke-12 yang berlangsung di Madrid Spanyol pada 20 Januari 2016 lalu.

Mestinya, dengan adanya berbagai keberhasilan yang berdasar atas output data makro BPS, di mana Banyuwangi telah mampu menempatkan capaian kinerjanya pada posisi yang cukup baik serta dengan dukungan berbagai penghargaan yang banyak diraihnya itu, setidaknya bisa menginspirasi kab/kota lain di negeri ini khususnya bagi kab/kota yang berada di daerah tapal kuda.(*)

*) Bekerja di BPS Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#kolom #banyuwangi #opini