alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Etika dan Moralitas Manusia terhadap Lingkungan

MANUSIA adalah penyebab utama dari rusaknya lingkungan. Tidak bisa disangkal memang bahwa berbagai macam masalah terkait lingkungan hidup, baik lingkup global maupun nasional. Semua bersumber dari perilaku manusia yang tidak beretika dan tak bermoral. Kasus-kasus pencemaran, penebangan hutan secara liar, dan kerusakan lingkungan, semua bersumber dari perilaku manusia yang tidak peduli dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan dan hanya mementingkan diri sendiri. Tentu ini kesalahan besar manusia yang sangat merugikan banyak orang.

Krisis lingkungan baik global maupun nasional yang kita alami sampai saat ini juga berawal dari kesalahan cara pandang manusia mengenal dirinya, alam dan tempat manusia dalam keseluruhan. Kita bisa melihat kasus konkret yang sudah ada sebelumnya. Seperti illegal logging, impor limbah secara ilegal dari luar negeri, kasus sampah yang melanda ibu kota DKI Jakarta, dan yang terbaru adalah meletusnya Gunung Semeru di Lumajang pada beberapa waktu lalu.

Semua bencana ini berawal dari perilaku manusia yang tak bermoral dan tak beretika. Bahkan kasus lingkungan yang ada kaitannya dengan dunia luar semua juga akibat dari kelicikan manusia dalam melakukan manipulasi yang dapat merugikan orang lain. Maka dari itu, perlu kiranya dilakukan pembenahan cara pandang dan perilaku manusia dalam berinteraksi baik dengan alam atau pun dengan orang lain di sekitarnya melalui etika dan moralitas kita terhadap lingkungan.

Etika dan moralitas merupakan dua kata yang memiliki makna yang sama. Namun penempatan keduanya yang berbeda dalam kehidupan manusia. Sering kali manusia menempatkan Etika dan moralitas di tempat yang salah sehingga banyak dari mereka yang salah kaprah terhadap pengertian etika dan moralitas sesungguhnya.

Secara etimologis etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam konteks ini etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik terhadap masyarakat dan lingkungan. Kebiasaan hidup yang baik ini kemudian dijadikan aturan atau norma yang dikenal dan disebarluaskan dalam masyarakat. Intinya etika menyangkut baik atau buruknya perilaku manusia serta menentukan apa yang sekiranya baik untuk dilakukan dana pa yang buruk untuk dihindari.

Etika sering kali disalahpahami sebagai sebuah aturan yang berisi perintah dan larangan terhadap perilaku manusia. Dalam pengertian ini masyarakat sering kali memahami etika sebagai perintah yang harus ditaati dan larangan yang harus dihindari tanpa memandang baik atau buruknya perintah dan larangan tersebut serta dampak yang dihasilkan dari hal tersebut.

Karena dilatarbelakangi pemahaman yang salah sehingga orang-orang juga salah dalam mengimplementasikan makna etika yang benar dalam kehidupan sehari-hari terutama terhadap lingkungan. Jelas, ini merupakan kesalahan cara pandang manusia yang merugikan banyak orang termasuk lingkungan

Sebagaimana yang dijelaskan di awal, terkait pengertian etika dan moralitas yang sama di mana secara etimologis moralitas berasal dari kata latin mos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Jadi secara harfiah etika dan moralitas sama-sama bermakna adat istiadat atau kebiasaan manusia yang dijadikan sebuah aturan atau norma dalam menjalani kehidupan.

Selain itu, etika dan moralitas lingkungan hidup tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, akan tetapi juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan yang ada. Termasuk juga di dalamnya kebijakan politik dan ekonomi yang memiliki dampak dan pengaruh yang besar kepada masyarakat terutama lingkungan.

Namun, perbedaan antara etika dan moralitas di sini, etika dapat diartikan sebagai aturan perilaku yang diakui berkaitan dengan kelas tertentu dari tindakan manusia, atau kelompok, maupun budaya tertentu yang ada di masyarakat.

Sementara itu, moral lebih dipahami sebagai suatu prinsip atau kebiasaan yang berhubungan dengan perilaku benar atau salah. Prinsip ini terdapat dalam diri pribadi manusia, sehingga setiap orang bisa memiliki penilaian moral yang berbeda-beda.

Dari pengertian keduanya, dapat dipahami bahwa etika lebih bersifat dan berlaku umum di masyarakat karena berkaitan dengan kelompok atau budaya tertentu yang mengakuinya. Sedangkan moral lebih bersifat personal, di mana setiap orang bisa memiliki prinsip moral tentang benar dan salah yang berbeda-beda. Sehingga moral tidak dapat digeneralisasi dari kepercayaan orang satu ke orang yang lain. Dan juga lebih kepada penempatan dalam mengimplementasikan makna yang terkandung di dalamnya di setiap kehidupan.

Selanjutnya, perbedaan etika dan moral juga dapat ditinjau dari penggunaannya. Meskipun sama-sama berkaitan dengan penilaian baik dan buruk, namun etika dan moral digunakan dalam konteks yang berbeda. Etika biasanya digunakan untuk mengatur perilaku masyarakat agar dapat tercipta keteraturan. Sehingga di sini, etika akan berupa hal-hal baik yang harus dilakukan dan hal-hal buruk yang harus dihindari.

Sedangkan moral, lebih mengacu pada prinsip benar dan salah tentang suatu hal. Di sini, setiap individu mempunyai prinsip kebenaran dan kesalahan yang dipercayainya. Namun prinsip benar dan salah pada yang dipercayai seseorang bisa berbeda dan tidak sama dengan prinsip benar dan salah yang dimiliki orang lain.

Dari pemaparan di atas, kita bisa belajar dan lebih memahami makna etika dan moralitas yang sering kali tertukar serta betapa pentingnya etika dan moralitas manusia terhadap lingkungannya. Sebab, akhir-akhir ini masih sedikit orang-orang yang masih menggunakan etika dan moralitasnya terhadap lingkungan lebih-lebih bagi mereka yang sudah memiliki kekuasaan wilayah sendiri atas lingkungan di sekitarnya.

Hal ini penting untuk kita ketahui bersama, bahwa antara manusia dan lingkungan keduanya saling berhubungan dan saling membutuhkan, jika salah satu di antara keduanya saling menghancurkan maka tidak menutup kemungkinan keduanya akan hilang. Jadi tidak hanya kepada sesama manusia saja kita menggunakan etika dan moralitas kita tapi juga terhadap lingkungan pun demikian. (*)

 *) Santri sekaligus siswa SMA Ibrahimy Sukorejo, Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, asal Situbondo.

MANUSIA adalah penyebab utama dari rusaknya lingkungan. Tidak bisa disangkal memang bahwa berbagai macam masalah terkait lingkungan hidup, baik lingkup global maupun nasional. Semua bersumber dari perilaku manusia yang tidak beretika dan tak bermoral. Kasus-kasus pencemaran, penebangan hutan secara liar, dan kerusakan lingkungan, semua bersumber dari perilaku manusia yang tidak peduli dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan dan hanya mementingkan diri sendiri. Tentu ini kesalahan besar manusia yang sangat merugikan banyak orang.

Krisis lingkungan baik global maupun nasional yang kita alami sampai saat ini juga berawal dari kesalahan cara pandang manusia mengenal dirinya, alam dan tempat manusia dalam keseluruhan. Kita bisa melihat kasus konkret yang sudah ada sebelumnya. Seperti illegal logging, impor limbah secara ilegal dari luar negeri, kasus sampah yang melanda ibu kota DKI Jakarta, dan yang terbaru adalah meletusnya Gunung Semeru di Lumajang pada beberapa waktu lalu.

Semua bencana ini berawal dari perilaku manusia yang tak bermoral dan tak beretika. Bahkan kasus lingkungan yang ada kaitannya dengan dunia luar semua juga akibat dari kelicikan manusia dalam melakukan manipulasi yang dapat merugikan orang lain. Maka dari itu, perlu kiranya dilakukan pembenahan cara pandang dan perilaku manusia dalam berinteraksi baik dengan alam atau pun dengan orang lain di sekitarnya melalui etika dan moralitas kita terhadap lingkungan.

Etika dan moralitas merupakan dua kata yang memiliki makna yang sama. Namun penempatan keduanya yang berbeda dalam kehidupan manusia. Sering kali manusia menempatkan Etika dan moralitas di tempat yang salah sehingga banyak dari mereka yang salah kaprah terhadap pengertian etika dan moralitas sesungguhnya.

Secara etimologis etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam konteks ini etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik terhadap masyarakat dan lingkungan. Kebiasaan hidup yang baik ini kemudian dijadikan aturan atau norma yang dikenal dan disebarluaskan dalam masyarakat. Intinya etika menyangkut baik atau buruknya perilaku manusia serta menentukan apa yang sekiranya baik untuk dilakukan dana pa yang buruk untuk dihindari.

Etika sering kali disalahpahami sebagai sebuah aturan yang berisi perintah dan larangan terhadap perilaku manusia. Dalam pengertian ini masyarakat sering kali memahami etika sebagai perintah yang harus ditaati dan larangan yang harus dihindari tanpa memandang baik atau buruknya perintah dan larangan tersebut serta dampak yang dihasilkan dari hal tersebut.

Karena dilatarbelakangi pemahaman yang salah sehingga orang-orang juga salah dalam mengimplementasikan makna etika yang benar dalam kehidupan sehari-hari terutama terhadap lingkungan. Jelas, ini merupakan kesalahan cara pandang manusia yang merugikan banyak orang termasuk lingkungan

Sebagaimana yang dijelaskan di awal, terkait pengertian etika dan moralitas yang sama di mana secara etimologis moralitas berasal dari kata latin mos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Jadi secara harfiah etika dan moralitas sama-sama bermakna adat istiadat atau kebiasaan manusia yang dijadikan sebuah aturan atau norma dalam menjalani kehidupan.

Selain itu, etika dan moralitas lingkungan hidup tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, akan tetapi juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan yang ada. Termasuk juga di dalamnya kebijakan politik dan ekonomi yang memiliki dampak dan pengaruh yang besar kepada masyarakat terutama lingkungan.

Namun, perbedaan antara etika dan moralitas di sini, etika dapat diartikan sebagai aturan perilaku yang diakui berkaitan dengan kelas tertentu dari tindakan manusia, atau kelompok, maupun budaya tertentu yang ada di masyarakat.

Sementara itu, moral lebih dipahami sebagai suatu prinsip atau kebiasaan yang berhubungan dengan perilaku benar atau salah. Prinsip ini terdapat dalam diri pribadi manusia, sehingga setiap orang bisa memiliki penilaian moral yang berbeda-beda.

Dari pengertian keduanya, dapat dipahami bahwa etika lebih bersifat dan berlaku umum di masyarakat karena berkaitan dengan kelompok atau budaya tertentu yang mengakuinya. Sedangkan moral lebih bersifat personal, di mana setiap orang bisa memiliki prinsip moral tentang benar dan salah yang berbeda-beda. Sehingga moral tidak dapat digeneralisasi dari kepercayaan orang satu ke orang yang lain. Dan juga lebih kepada penempatan dalam mengimplementasikan makna yang terkandung di dalamnya di setiap kehidupan.

Selanjutnya, perbedaan etika dan moral juga dapat ditinjau dari penggunaannya. Meskipun sama-sama berkaitan dengan penilaian baik dan buruk, namun etika dan moral digunakan dalam konteks yang berbeda. Etika biasanya digunakan untuk mengatur perilaku masyarakat agar dapat tercipta keteraturan. Sehingga di sini, etika akan berupa hal-hal baik yang harus dilakukan dan hal-hal buruk yang harus dihindari.

Sedangkan moral, lebih mengacu pada prinsip benar dan salah tentang suatu hal. Di sini, setiap individu mempunyai prinsip kebenaran dan kesalahan yang dipercayainya. Namun prinsip benar dan salah pada yang dipercayai seseorang bisa berbeda dan tidak sama dengan prinsip benar dan salah yang dimiliki orang lain.

Dari pemaparan di atas, kita bisa belajar dan lebih memahami makna etika dan moralitas yang sering kali tertukar serta betapa pentingnya etika dan moralitas manusia terhadap lingkungannya. Sebab, akhir-akhir ini masih sedikit orang-orang yang masih menggunakan etika dan moralitasnya terhadap lingkungan lebih-lebih bagi mereka yang sudah memiliki kekuasaan wilayah sendiri atas lingkungan di sekitarnya.

Hal ini penting untuk kita ketahui bersama, bahwa antara manusia dan lingkungan keduanya saling berhubungan dan saling membutuhkan, jika salah satu di antara keduanya saling menghancurkan maka tidak menutup kemungkinan keduanya akan hilang. Jadi tidak hanya kepada sesama manusia saja kita menggunakan etika dan moralitas kita tapi juga terhadap lingkungan pun demikian. (*)

 *) Santri sekaligus siswa SMA Ibrahimy Sukorejo, Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, asal Situbondo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/