alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

”Carnival” sebagai Ruang Dialog Kebudayaan

MEGAH. Begitulah kira-kira kesan umum yang diungkapkan para penonton setelah selama tiga jam lebih melihat performance BEC 2019 pada 27 Juli lalu. BEC yang merupakan salah satu event tahunan yang digelar sejak tahun 2011, terus mendapatkan simpati dan pengunjung dari berbagai kalangan sehingga seluruh hotel penuh. Karenanya, bupati pada sambutan pembukaan memohon maaf apabila para pengunjung luar daerah tidak mendapatkan penginapan yang layak.

Tahun ini, BEC tampil semarak dengan tema The Kingdom of Blambangan. Tak ayal bila masyarakat pada hari itu ”tumplèk blèk” di sepanjang Jalan Veteran yang menjadi catwalk para peserta menampilkan berbagai kreasi karya busana dan performance yang merepresentasikan tema utama sebagai pembuka.

Berbicara carnival, tentu BEC bukanlah yang pertama dan satu-satunya. Carnival adalah sebuah fenomena ekspresi kebudayaan yang mendunia. Bagi masyarakat Banyuwangi sendiri, sejak lama menurut budayawan senior Hasnan Singadimayan, memang sudah menjadi bagian hidup keseharian. Dahulu setiap Lebaran (Idul Fitri), masyarakat Banyuwangi merayakan dengan keliling desa naik dokar (delman).

Saat maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat mengadakan arak-arakan ”jodang” yang berisi telur hias yang sampai kini dikenal dengan sebutan ”endog-endogan”. Mungkin alasan kultural inilah yang menjadi sebab BEC dari tahun ke tahun selalu mendapatkan dukungan dari warga. Klaim Bupati Anas dalam sambutannya, yang membedakan BEC dengan carnival di tempat lain adalah sifatnya yang partisipatif, gotong royong dari semua elemen pemerintah dan masyarakat, tanpa event organizer.

Bila melihat fakta formasi sosial masyarakat Banyuwangi yang multietnis dan karakteristik masyarakatnya yang terbuka dan ”guyub”, tampaknya event ini direspons masyarakat sebagai upaya untuk menciptakan sebuah ruang dialog kebudayaan.

Hal ini tentu bukan tanpa alasan, karena berbagai sumber telah mengafirmasi, salah satunya karya Margana (2002) menyebutkan bahwa sejak era Blambangan pada abad ke-18 Banyuwangi adalah silang budaya dan silang agama. Dan kehidupan dalam keragaman yang harmoni terbukti bisa dipertahankan dan terus ditampilkan hingga kini bahkan dengan cara-cara yang semakin kreatif, salah satunya adalah dengan gelaran berbagai festival yang tahun ini berjumlah 99 festival. Kalaupun berbagai festival tersebut dibungkus dengan nuansa pariwisata yang kental itu memberikan manfaat secara ekonomi kepada masyarakat karena bisa menyedot jutaan turis dalam dan luar negeri setiap tahunnya.

Bila dipahami sebagai sebuah ruang dialog kebudayaan yang kreatif, pertemuan di antara manusia-manusia di BEC seharusnya idealnya bertujuan untuk meningkatkan sense of community. Meningkatkan kualitas manusia Banyuwangi sebagai insan budaya. Martin Buber seorang filsuf Jerman pernah mengajukan satu pertanyaan penting, ”how do we know ?”,  bagaimana kita tahu kalau pertemuan kita telah berhasil mengikat hubungan kita dengan sesama manusia dan memperluas wawasan individual kita. Jawab Buber adalah kita harus bisa memastikan bahwa pertemuan tersebut as serve to strengthen relationship between people and expand individual viewpoint. Ia harus bisa melewati tujuan-tujuan individual dan meningkatkan sense of community, yaitu sebagai warga Banyuwangi. Dari pertanyaan dan jawaban itulah kemudian Buber melahirkan sebuah teori dialog.

Buber dalam teorinya menciptakan kata baru dalam bahasa Jerman untuk membagi pertemuan menjadi dua kategori. Ada pertemuan yang sekadar pertemuan alamiah biasa saja, seperti pertemuan ibu rumah tangga dengan mlijo (tukang sayur keliling) di pinggir jalan yang lewat di rumahnya, atau pertemuan kita di sebuah angkutan kota dengan teman yang duduk satu barisan kursi, pertemuan itu dia sebut ”vergegnung”. Kata ”vergegnung” ia ciptakan untuk membedakan dengan pertemuan seluruh diri kita dengan seluruh pribadi kita. Bukannya pertemuan luar saja tapi pertemuan seluruh pribadi kita, ia menyebutnya dengan istilah Jerman ”begegnung”.    

Pertanyaannya, apakah pertemuan-pertemuan di seluruh 99 festival, khususnya BEC sebagai pertemuan biasa atau pertemuan yang melibatkan seluruh diri kita? Jawabannya adalah bagaimana kualitas kehidupan kita setelah gemerlap festival usai, menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Dan sesungguhnya hakikat dari kemanusiaan, kata Buber, ialah kemampuan untuk menciptakan situasi begegnung, yaitu ketika kita berjumpa dengan orang lain dalam suasana dialog, ketika kita berdialog/berjumpa dengan orang lain, kita melibatkan seluruh diri kita bahwa kita siap untuk berubah karena proses pertemuan itu. Bila BEC kita inginkan sebagai situasi begegnung, maka tidak cukup dengan hanya mempercantik tampilan luar saja. Namun pada masa yang akan datang BEC harus benar-benar menjadi ruang dialog warga yang mendorong partisipasi lebih aktif, sehingga dalam performance-nya dapat menghadirkan tampilan yang berbeda mengikuti temanya. Selain itu yang lebih penting lagi bagaimana gelaran tahunan BEC dapat menjadi perekat masyarakat Banyuwangi yang multikultur sekaligus sebagai media untuk mengajak dan mengajarkan kepada khalayak tentang pengetahuan kehidupan multikultur sebagaimana terus dipraktikkan di Banyuwangi.

 *) Antropolog & Pemerhati Kebudayaan. Dosen Universitas Ibrahimy Situbondo

MEGAH. Begitulah kira-kira kesan umum yang diungkapkan para penonton setelah selama tiga jam lebih melihat performance BEC 2019 pada 27 Juli lalu. BEC yang merupakan salah satu event tahunan yang digelar sejak tahun 2011, terus mendapatkan simpati dan pengunjung dari berbagai kalangan sehingga seluruh hotel penuh. Karenanya, bupati pada sambutan pembukaan memohon maaf apabila para pengunjung luar daerah tidak mendapatkan penginapan yang layak.

Tahun ini, BEC tampil semarak dengan tema The Kingdom of Blambangan. Tak ayal bila masyarakat pada hari itu ”tumplèk blèk” di sepanjang Jalan Veteran yang menjadi catwalk para peserta menampilkan berbagai kreasi karya busana dan performance yang merepresentasikan tema utama sebagai pembuka.

Berbicara carnival, tentu BEC bukanlah yang pertama dan satu-satunya. Carnival adalah sebuah fenomena ekspresi kebudayaan yang mendunia. Bagi masyarakat Banyuwangi sendiri, sejak lama menurut budayawan senior Hasnan Singadimayan, memang sudah menjadi bagian hidup keseharian. Dahulu setiap Lebaran (Idul Fitri), masyarakat Banyuwangi merayakan dengan keliling desa naik dokar (delman).

Saat maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat mengadakan arak-arakan ”jodang” yang berisi telur hias yang sampai kini dikenal dengan sebutan ”endog-endogan”. Mungkin alasan kultural inilah yang menjadi sebab BEC dari tahun ke tahun selalu mendapatkan dukungan dari warga. Klaim Bupati Anas dalam sambutannya, yang membedakan BEC dengan carnival di tempat lain adalah sifatnya yang partisipatif, gotong royong dari semua elemen pemerintah dan masyarakat, tanpa event organizer.

Bila melihat fakta formasi sosial masyarakat Banyuwangi yang multietnis dan karakteristik masyarakatnya yang terbuka dan ”guyub”, tampaknya event ini direspons masyarakat sebagai upaya untuk menciptakan sebuah ruang dialog kebudayaan.

Hal ini tentu bukan tanpa alasan, karena berbagai sumber telah mengafirmasi, salah satunya karya Margana (2002) menyebutkan bahwa sejak era Blambangan pada abad ke-18 Banyuwangi adalah silang budaya dan silang agama. Dan kehidupan dalam keragaman yang harmoni terbukti bisa dipertahankan dan terus ditampilkan hingga kini bahkan dengan cara-cara yang semakin kreatif, salah satunya adalah dengan gelaran berbagai festival yang tahun ini berjumlah 99 festival. Kalaupun berbagai festival tersebut dibungkus dengan nuansa pariwisata yang kental itu memberikan manfaat secara ekonomi kepada masyarakat karena bisa menyedot jutaan turis dalam dan luar negeri setiap tahunnya.

Bila dipahami sebagai sebuah ruang dialog kebudayaan yang kreatif, pertemuan di antara manusia-manusia di BEC seharusnya idealnya bertujuan untuk meningkatkan sense of community. Meningkatkan kualitas manusia Banyuwangi sebagai insan budaya. Martin Buber seorang filsuf Jerman pernah mengajukan satu pertanyaan penting, ”how do we know ?”,  bagaimana kita tahu kalau pertemuan kita telah berhasil mengikat hubungan kita dengan sesama manusia dan memperluas wawasan individual kita. Jawab Buber adalah kita harus bisa memastikan bahwa pertemuan tersebut as serve to strengthen relationship between people and expand individual viewpoint. Ia harus bisa melewati tujuan-tujuan individual dan meningkatkan sense of community, yaitu sebagai warga Banyuwangi. Dari pertanyaan dan jawaban itulah kemudian Buber melahirkan sebuah teori dialog.

Buber dalam teorinya menciptakan kata baru dalam bahasa Jerman untuk membagi pertemuan menjadi dua kategori. Ada pertemuan yang sekadar pertemuan alamiah biasa saja, seperti pertemuan ibu rumah tangga dengan mlijo (tukang sayur keliling) di pinggir jalan yang lewat di rumahnya, atau pertemuan kita di sebuah angkutan kota dengan teman yang duduk satu barisan kursi, pertemuan itu dia sebut ”vergegnung”. Kata ”vergegnung” ia ciptakan untuk membedakan dengan pertemuan seluruh diri kita dengan seluruh pribadi kita. Bukannya pertemuan luar saja tapi pertemuan seluruh pribadi kita, ia menyebutnya dengan istilah Jerman ”begegnung”.    

Pertanyaannya, apakah pertemuan-pertemuan di seluruh 99 festival, khususnya BEC sebagai pertemuan biasa atau pertemuan yang melibatkan seluruh diri kita? Jawabannya adalah bagaimana kualitas kehidupan kita setelah gemerlap festival usai, menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Dan sesungguhnya hakikat dari kemanusiaan, kata Buber, ialah kemampuan untuk menciptakan situasi begegnung, yaitu ketika kita berjumpa dengan orang lain dalam suasana dialog, ketika kita berdialog/berjumpa dengan orang lain, kita melibatkan seluruh diri kita bahwa kita siap untuk berubah karena proses pertemuan itu. Bila BEC kita inginkan sebagai situasi begegnung, maka tidak cukup dengan hanya mempercantik tampilan luar saja. Namun pada masa yang akan datang BEC harus benar-benar menjadi ruang dialog warga yang mendorong partisipasi lebih aktif, sehingga dalam performance-nya dapat menghadirkan tampilan yang berbeda mengikuti temanya. Selain itu yang lebih penting lagi bagaimana gelaran tahunan BEC dapat menjadi perekat masyarakat Banyuwangi yang multikultur sekaligus sebagai media untuk mengajak dan mengajarkan kepada khalayak tentang pengetahuan kehidupan multikultur sebagaimana terus dipraktikkan di Banyuwangi.

 *) Antropolog & Pemerhati Kebudayaan. Dosen Universitas Ibrahimy Situbondo

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/