alexametrics
23 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Perekonomian Banyuwangi Rebound Melalui Pariwisata

PANDEMI Covid-19 telah berlangsung lebih dari dua tahun dan menyebabkan terpuruknya perekonomian Banyuwangi. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 3,58 persen.

Selain itu, BPS juga mencatat dampak Pandemi covid-19 mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk miskin pada tahun 2020 sebesar 0,54 persen dan di tahun 2021 sebesar 0,1 persen. Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memulihkan kondisi perekonomian. Salah satunya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menggelar “Banyuwangi Festival (B-Fest) 2022”.

Banyuwangi Festival yang diresmikan pada Rabu, 26 Januari 2022 lalu, merupakan bagian dari Gerakan Banyuwangi Rebound. Gerakan Banyuwangi Rebound terdiri dari tiga pilar ekosistem, yaitu Ekosistem Penanganan Pandemi, Ekosistem Pulihkan Ekonomi, dan Ekosistem Merajut Harmoni. Pariwisata merupakan bagian dari Pilar Ekosistem Pulihkan Ekonomi. Bupati Ipuk seperti situs remi Pemkab Banyuwangi mengatakan, kita harapkan pelaku seni-budaya, pelaku wisata, kuliner, UMKM, dan oleh-oleh bergerak, sehingga memicu berbagai sektor lain termasuk pertanian – perikanan. Iini termasuk bagian dari gerakan Banyuwangi Rebound pada aspek pemulihan ekonomi.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak pandemi covid-19. Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak April 2020 mengharuskan tempat-tempat wisata ditutup. Dalam Gerakan Banyuwangi Rebound, pariwisata ialah umbrella (payung) dengan sejumlah program di antaranya sertifikasi pelaku wisata dan peningkatan kualitas destinasi wisata.

Pariwisata merupakan sektor yang memiliki multiplier effect besar, mulai dari pendapatan loket destinasi wisata, penjualan souvenir, penyediaan makan dan minum serta akomodasi dan transportasi. Melalui Banyuwangi Festival 2022, sektor pariwisata diharapkan mampu melambungkan perekonomian Banyuwangi.

Sektor Pariwisata juga menunjukkan sinyal positif di Tahun 2021. Terjadi peningkatan di sektor pariwisata Banyuwangi dibanding tahun 2020. Terlihat dari Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang di Banyuwangi yang mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata TPK Hotel Berbintang di Banyuwangi selama tahun 2021 sebesar 42,17 persen sedangkan di 2020 sebesar 36,74 persen. Artinya terjadi peningkatan TPK sebesar 5,43 persen. Ini mengindikasikan jumlah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi di tahun 2021 lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi merupakan kabar gembira bagi pelaku wisata di Banyuwangi. Bukan hanya pelaku wisata tetapi juga pelaku UMKM yang berkecimpung dalam penyediaan makan dan minum, industri batik, dan souvenir juga terkena dampak positif. Penyedia akomodasi seperti hotel berbintang, guest house dan vila serta jasa transportasi juga terdampak dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan.

Baca Juga :  Fikih Pandemi Sebuah Solusi

Transformasi Agribisnis di bidang pertanian juga menjadi salah satu program Gerakan Banyuwangi Rebound. Pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan penyumbang terbesar bagi PDRB Banyuwangi. Sektor ini menyumbang 29,69 persen PDRB di Tahun 2020. Memperkuat sektor pertanian akan memberikan dampak positif terhadap pemulihan perekonomian Banyuwangi. Pertanian juga merupakan salah satu sektor yang terkena dampak pandemi covid-19. Laju pertumbuhan PDRB sektor ini terus menurun sejak 2019. Tercatat pada 2020 laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian yaitu minus 2,96 persen. Oleh karena itu melalui program-program yang telah disiapkan dalam Gerakan Banyuwangi Rebound dan Gelaran Banyuwangi Festival 2022 diharapkan dapat memulihkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Banyuwangi Festival 2022 diharapkan dapat membangkitkan potensi agrowisata. Salah satu Desa Wisata di Kecamatan Licin telah berupaya melakukan transformasi di bidang pertanian dengan membangkitkan agrowisata Banyuwangi. Pelaku Wisata di Desa Banjar berinovasi dengan tanaman padi black madras yang bermotif penari gandrung. Pemandangan lukisan penari gandrung di areal persawahan yang hijau menjadi daya tarik wisata baru di Desa Banjar Kecamatan Licin.

Baca Juga :  Rekonstruksi Pancasila Sebagai Etika Pelayanan Publik

Optimisme keberhasilan pemulihan ekonomi Banyuwangi juga didukung dengan kondisi perekonomian di tahun 2021. BPS merilis angka inflasi Banyuwangi tahun ke tahun (yoy) sebesar 1,59 persen. Rendahnya angka inflasi tersebut menunjukkan Banyuwangi mampu menjaga stabilitas harga di tengah pandemi covid-19.

Bahkan dua tahun berturut-turut, yaitu 2020 dan 2021, Banyuwangi mendapat penghargaan sebagai Kabupaten Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Terbaik karena berhasil menjaga stabilitas harga. Harga yang tidak stabil dan melambung tinggi berakibat pada rendahnya daya beli masyarakat. Apalagi banyak masyarakat kehilangan pekerjaan di tengah kondisi pandemi covid-19. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi mengalami peningkatan sebesar 1,26 poin pada tahun 2020. Oleh karena itu, penting untuk menjaga stabilitas harga di pasar.  

Perekonomian Banyuwangi terus berupaya bangkit. Gelaran Banyuwangi Festival yang merupakan bagian dari Gerakan Banyuwangi Rebound diharapkan mampu menjadi pemicu pulihnya perekonomian di Banyuwangi. Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan peran serta masyarakat menjadi penentu keberhasilan program ini. Penanganan pandemi melalui program-program kesehatan dan vaksinasi diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masyarakat yang sehat mampu menggerakkan roda perekonomian. Program-program pemulihan ekonomi berbasis padat karya diharapkan bisa berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. (*)

*) Statistisi BPS Kabupaten Banyuwangi.

PANDEMI Covid-19 telah berlangsung lebih dari dua tahun dan menyebabkan terpuruknya perekonomian Banyuwangi. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 3,58 persen.

Selain itu, BPS juga mencatat dampak Pandemi covid-19 mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk miskin pada tahun 2020 sebesar 0,54 persen dan di tahun 2021 sebesar 0,1 persen. Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memulihkan kondisi perekonomian. Salah satunya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menggelar “Banyuwangi Festival (B-Fest) 2022”.

Banyuwangi Festival yang diresmikan pada Rabu, 26 Januari 2022 lalu, merupakan bagian dari Gerakan Banyuwangi Rebound. Gerakan Banyuwangi Rebound terdiri dari tiga pilar ekosistem, yaitu Ekosistem Penanganan Pandemi, Ekosistem Pulihkan Ekonomi, dan Ekosistem Merajut Harmoni. Pariwisata merupakan bagian dari Pilar Ekosistem Pulihkan Ekonomi. Bupati Ipuk seperti situs remi Pemkab Banyuwangi mengatakan, kita harapkan pelaku seni-budaya, pelaku wisata, kuliner, UMKM, dan oleh-oleh bergerak, sehingga memicu berbagai sektor lain termasuk pertanian – perikanan. Iini termasuk bagian dari gerakan Banyuwangi Rebound pada aspek pemulihan ekonomi.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak pandemi covid-19. Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak April 2020 mengharuskan tempat-tempat wisata ditutup. Dalam Gerakan Banyuwangi Rebound, pariwisata ialah umbrella (payung) dengan sejumlah program di antaranya sertifikasi pelaku wisata dan peningkatan kualitas destinasi wisata.

Pariwisata merupakan sektor yang memiliki multiplier effect besar, mulai dari pendapatan loket destinasi wisata, penjualan souvenir, penyediaan makan dan minum serta akomodasi dan transportasi. Melalui Banyuwangi Festival 2022, sektor pariwisata diharapkan mampu melambungkan perekonomian Banyuwangi.

Sektor Pariwisata juga menunjukkan sinyal positif di Tahun 2021. Terjadi peningkatan di sektor pariwisata Banyuwangi dibanding tahun 2020. Terlihat dari Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang di Banyuwangi yang mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata TPK Hotel Berbintang di Banyuwangi selama tahun 2021 sebesar 42,17 persen sedangkan di 2020 sebesar 36,74 persen. Artinya terjadi peningkatan TPK sebesar 5,43 persen. Ini mengindikasikan jumlah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi di tahun 2021 lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi merupakan kabar gembira bagi pelaku wisata di Banyuwangi. Bukan hanya pelaku wisata tetapi juga pelaku UMKM yang berkecimpung dalam penyediaan makan dan minum, industri batik, dan souvenir juga terkena dampak positif. Penyedia akomodasi seperti hotel berbintang, guest house dan vila serta jasa transportasi juga terdampak dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan.

Baca Juga :  Masih Ada Harapan di Bulan-Bulan Mendatang

Transformasi Agribisnis di bidang pertanian juga menjadi salah satu program Gerakan Banyuwangi Rebound. Pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan penyumbang terbesar bagi PDRB Banyuwangi. Sektor ini menyumbang 29,69 persen PDRB di Tahun 2020. Memperkuat sektor pertanian akan memberikan dampak positif terhadap pemulihan perekonomian Banyuwangi. Pertanian juga merupakan salah satu sektor yang terkena dampak pandemi covid-19. Laju pertumbuhan PDRB sektor ini terus menurun sejak 2019. Tercatat pada 2020 laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian yaitu minus 2,96 persen. Oleh karena itu melalui program-program yang telah disiapkan dalam Gerakan Banyuwangi Rebound dan Gelaran Banyuwangi Festival 2022 diharapkan dapat memulihkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Banyuwangi Festival 2022 diharapkan dapat membangkitkan potensi agrowisata. Salah satu Desa Wisata di Kecamatan Licin telah berupaya melakukan transformasi di bidang pertanian dengan membangkitkan agrowisata Banyuwangi. Pelaku Wisata di Desa Banjar berinovasi dengan tanaman padi black madras yang bermotif penari gandrung. Pemandangan lukisan penari gandrung di areal persawahan yang hijau menjadi daya tarik wisata baru di Desa Banjar Kecamatan Licin.

Baca Juga :  Perkawinan Anak dan Kaitannya dengan Stunting di Indonesia

Optimisme keberhasilan pemulihan ekonomi Banyuwangi juga didukung dengan kondisi perekonomian di tahun 2021. BPS merilis angka inflasi Banyuwangi tahun ke tahun (yoy) sebesar 1,59 persen. Rendahnya angka inflasi tersebut menunjukkan Banyuwangi mampu menjaga stabilitas harga di tengah pandemi covid-19.

Bahkan dua tahun berturut-turut, yaitu 2020 dan 2021, Banyuwangi mendapat penghargaan sebagai Kabupaten Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Terbaik karena berhasil menjaga stabilitas harga. Harga yang tidak stabil dan melambung tinggi berakibat pada rendahnya daya beli masyarakat. Apalagi banyak masyarakat kehilangan pekerjaan di tengah kondisi pandemi covid-19. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi mengalami peningkatan sebesar 1,26 poin pada tahun 2020. Oleh karena itu, penting untuk menjaga stabilitas harga di pasar.  

Perekonomian Banyuwangi terus berupaya bangkit. Gelaran Banyuwangi Festival yang merupakan bagian dari Gerakan Banyuwangi Rebound diharapkan mampu menjadi pemicu pulihnya perekonomian di Banyuwangi. Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan peran serta masyarakat menjadi penentu keberhasilan program ini. Penanganan pandemi melalui program-program kesehatan dan vaksinasi diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masyarakat yang sehat mampu menggerakkan roda perekonomian. Program-program pemulihan ekonomi berbasis padat karya diharapkan bisa berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. (*)

*) Statistisi BPS Kabupaten Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/