Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Metaverse dalam Dunia Pendidikan: Peluang atau Ancaman

Oleh: Ramilury Kurniawan*

30 November 2021, 11: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Metaverse dalam Dunia Pendidikan: Peluang atau Ancaman

Share this      

PADA tanggal 28 Oktober 2021, CEO perusahaan Facebook Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa perusahaannya berubah nama menjadi ”Meta”. Perubahan nama ini bukan hanya sekadar rebranding saja, melainkan karena Mark Zuckerberg ingin perusahaannya lebih fokus ke pengembangan teknologi masa depan yang disebut sebagai ”metaverse”. Dalam presentasi yang diunggah di channel YouTube resmi Meta, Mark Zuckerberg mengatakan bahwa metaverse akan membawa manusia merasakan sensasi baru di mana kita dapat merasakan hidup di dunia virtual. Dalam dunia virtual tersebut kita bisa bekerja, berbelanja, bermain, dan melakukan banyak hal yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

Pertanyaan besarnya adalah, apa itu metaverse? Istilah metaverse pertama kali digunakan dalam novel berjudul Snow Crash yang ditulis oleh Neal Stephenson dan diterbitkan tahun 1992. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa manusia dapat menikmati sebuah dunia virtual yang berbeda dengan dunia nyata. Jadi intinya, dengan bantuan perangkat seperti virtual reality (VR), magic gloves, dan controller, kita akan dibawa ke dalam dunia virtual tiga dimensi. Hal ini membuat kita seolah-olah meninggalkan dunia nyata dan masuk ke dalam dunia fantasi. Sebuah film garapan Steven Spielberg dengan judul Ready Player One tampaknya dapat menjadi gambaran bagaimana jika teknologi metaverse ini sudah diaplikasikan secara massal.

Tidak hanya Facebook yang mendeklarasikan akan mengembangkan metaverse, perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft juga turut serta dalam pengembangan metaverse. Terdapat juga platform game seperti Roblox dan Fortnite yang siap terjun ke metaverse. Proyek metaverse ini tentu adalah proyek raksasa di mana akan mengubah hidup kita yang sekarang ”dikendalikan” oleh berbagai media sosial berbentuk dua dimensi ke arah dunia virtual berbentuk tiga dimensi.

Baca juga: Apa Kabar Bahasaku?

 

Peluang dan Ancaman

Dunia pendidikan tidak dapat menolak kemajuan teknologi. Justru kita wajib memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut sebagai alat untuk melakukan kegiatan yang positif. Dengan adanya pengembangan metaverse oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, maka dunia pendidikan mau tidak mau harus menyiapkan diri menyambut teknologi tersebut. Metaverse (jika memang berhasil dikembangkan) akan menjadi dejavu ketika internet dulu juga mulai masuk dalam dunia pendidikan.

Metaverse suatu saat akan membuat guru sejarah tidak perlu membawa peserta didiknya ke museum di dunia nyata. Peserta didik tinggal diajak masuk ke metaverse yang di sana sudah tersedia museum virtual tiga dimensi. Sebagai contoh yang lain, dalam pelajaran geografi, guru dapat mengajak peserta didik melihat peristiwa gunung meletus, bahkan bisa juga sekaligus melakukan wawancara kepada ahli vulkanologi secara virtual. Metaverse akan menjadikan pelajaran yang sebelumnya hanya bisa dilihat dalam dua dimensi, menjadi sebuah pengalaman yang lebih nyata. Peserta didik dibawa keluar dari dimensi abstrak menuju sebuah realitas virtual.

Metaverse mungkin akan membuat seluruh aktivitas dalam dunia pendidikan nantinya dapat dilakukan dalam dunia virtual. Sekolah akan dibangun di dunia virtual, kelas-kelas akan terdapat di dunia virtual, pembelajaran dilakukan secara virtual, bahkan administrasi sekolah juga dapat dilakukan secara virtual. Metaverse membuat kita dapat melakukan apa pun tanpa harus bertemu secara langsung. Jika hal ini terjadi, tentu menjadi sebuah disrupsi bagi dunia pendidikan masa kini. Sebuah angan-angan yang sangat menarik, sekaligus juga sangat mengerikan.

Jika semua kegiatan dalam dunia pendidikan dilakukan secara virtual, dampak negatif yang dapat dirasakan secara langsung tentu saja dari segi kesehatan. Seorang perempuan bernama Joanna Stren yang melakukan uji coba menggunakan virtual reality dan masuk dalam metaverse selama 24 jam, mengaku bahwa dia mengalami gejala kepala pusing dan mata sakit. Menurut Jak Wilmot yang pernah satu minggu merasakan hidup di dunia virtual mengatakan bahwa metaverse membuat kita kehilangan ”energi alam” yang sebenarnya adalah bagian dari hidup kita. Jadi, bisa dibayangkan jika kita berhari-hari menggunakan alat tersebut.

Selain dampak dari segi kesehatan, metaverse akan menghilangkan kehangatan sosial yang seharusnya bisa dirasakan ketika manusia melakukan interaksi dengan manusia lainnya secara langsung. Bagaimanapun juga, dunia virtual bukanlah dunia nyata. Dunia nyata sebenarnya adalah tempat kita hidup sekarang ini di bumi, bukan di metaverse. Bisa jadi seorang guru nanti tidak akan pernah mengenal secara langsung peserta didik yang telah dia ajar selama berbulan-bulan. Bisa jadi pembelajaran hanya sekadar formalitas saja tanpa menjadikan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya.

 

Sebuah Refleksi

Perkembangan teknologi bagaimanapun juga tidak bisa kita cegah. Kita hanya perlu bijak dalam menggunakan teknologi tersebut sehingga membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam bidang pendidikan. Pada awal tahun 2000-an dunia pendidikan begitu takut jika internet akan merusak, bahkan pada tahun-tahun tersebut, handphone merupakan barang haram bagi peserta didik, siapa yang membawa maka siap-siap untuk disita.

Sekarang, setelah berjalan satu dekade, semua teknologi yang dulu tampaknya sangat mengerikan, justru bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan tidak bisa melarang kemajuan zaman, dunia pendidikan hanya bisa membuat regulasi tentang bagaimana memanfaatkan teknologi ke arah yang positif.

Perkembangan teknologi, termasuk metaverse, hakikatnya hanyalah sebuah cara, tidak bisa dijadikan esensi kehidupan. Dalam pandangan penulis, sekolah fisik dan semua kegiatan di dalamnya juga tidak akan digantikan oleh metaverse. Metaverse hanya akan menjadi alat bagi dunia pendidikan untuk membuat pelayanan lebih baik lagi tanpa harus menghilangkan semua yang ada di dunia nyata. Bagaimanapun juga dunia pendidikan bertujuan memanusiakan manusia, bukan memvirtualkan manusia. (*) 

*) Guru Sejarah SMAN 1 Giri, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia