Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Berubah atau Bertahan dengan Mental Kerupuk?

Oleh: Handariatul Masruroh*

30 November 2021, 11: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Berubah atau Bertahan dengan Mental Kerupuk?

Share this      

SEBAGIAN orang mungkin tak akan nikmat rasanya jika makan tanpa ada makanan yang satu ini. Kerupuk. Ya, kerupuk! Makanan pelengkap yang menambah kenikmatan dengan suara kres, kres, kres. Sangat khas sekali. Makanan ringan renyah dan gurih, murah meriah, dan terjangkau. Hampir di setiap jendela warung pinggir jalan, pasti kita menjumpai yang namanya kerupuk. Bahkan tak hanya menjadi pelengkap makanan, kerupuk juga bisa menjadi camilan sehari-hari. Misal, di depan televisi sambil menonton karut marut dunia ditemani satu stoples kerupuk, atau sebagai pengganti popcorn ketika menonton film. Bahkan saat ini, sering kita jumpai, kerupuk juga dijadikan suguhan hari raya. Pernah menemukan?

Namun, satu hal yang membuat nilai si kerupuk berkurang. Apa itu? Kerupuk memiliki kelemahan tidak bisa terkena angin, apalagi air. Jika sudah terkena perkara tersebut, maka yang terjadi kerupuk akan melempem atau memiliki tekstur yang alot, bahkan menjadi lembek. Nah, jika sudah demikian apa yang terjadi? Tak ada yang berminat lagi untuk memakan kerupuk tersebut.

Meski tak ada larangan untuk makan kerupuk, tapi larangan akan berlaku pada siapa pun untuk tidak bermental kerupuk. Terutama bagi generasi masa kini. Tegaknya Islam di zaman Rasulullah dan sahabat karena mental mereka adalah mental baja bukan mental kerupuk.

Baca juga: Masa Depan Desa Dalam Genggaman Kaum Milenial

Mental kerupuk adalah mental mudah menyerah, tidak mau mengambil risiko, tak bersemangat, dan tidak giat dalam meraih impian. Diambil dari istilah ”melempem”. Di era serba instan ini juga tak menutup kemungkinan munculnya rasa malas untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga. Banyak kalangan yang lebih memilih berdiam diri tanpa usaha yang maksimal. Mulai dari kalangan remaja sampai dewasa melakukan hal demikian.

Fenomena yang terjadi pada generasi saat ini adalah maraknya pelajar atau anak muda yang bermental kerupuk (gampang melempem). Mereka memilih untuk mundur sebelum melangkah. Memilih angkat kaki sebelum mencoba. Tak mau beranjak dari zona nyaman demi meraih cita-cita dan impian. Jika kita tak mau keluar untuk mencoba hal baru, lantas kapan kita akan berkembang?

Contoh sederhana, kita merasakan lapar saat bersantai di kamar. Logikanya, jika lapar apa yang harus dilakukan? Ya makan. Saat pergi ke dapur, ternyata tidak ada makanan yang dapat dikonsumsi saat itu juga. Selanjutnya apa usaha kita? Pasti kita berpikir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan makanan untuk dimakan. Misal, keluar untuk membeli nasi di warung terdekat. Itu bentuk usaha kita, betul? Namun, jika kita dalam kondisi lapar sedangkan di dapur tidak ada makanan, tapi tidak berusaha untuk mencari solusi dan memilih kembali ke kamar untuk tidur, yang pasti kita akan tetap merasakan lapar yang melanda. ”Kan bisa delivery, gak harus keluar rumah”. Benar, delivery pun sudah termasuk usaha, walaupun hanya modal otak-atik gawai (telepon genggam). Yang menjadi pembahasan adalah yang tidak melakukan usaha dan memilih untuk pasrah saja dengan menahan rasa lapar.

Di dunia pendidikan, masih sering kita temui kurangnya keberanian pelajar untuk mencoba hal baru. Di kalangan mahasiswa juga demikian. Misal, di jenjang perkuliahan pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya presentasi dan diskusi. Mahasiswa dituntut untuk berperan aktif saat perkuliahan berlangsung. Hal ini bertujuan untuk melatih mental mahasiswa sebagai bekal ketika sudah terjun ke masyarakat. Namun yang terjadi saat presentasi berlangsung, mereka tidak percaya diri dengan apa yang dipresentasikan. ”Nanti materi yang kita sampaikan ternyata salah bagaimana dong?”, persepsi demikian yang membuat mental kita menciut sebelum tampil di depan umum. Membuat kita mundur sebelum mencoba.

Terkadang kelemahan mental yang kita alami, berasal dari kecemasan diri sendiri yang berlebihan. Padahal kita dilahirkan sebagai pemenang. Benarkah demikian? Coba kita buktikan. Dalam ilmu biologi dijelaskan, kita berasal dari satu-satunya sperma yang berhasil memenangkan persaingan dengan ratusan juta sperma dan berhasil membuahi ovum atau sel telur. Fakta tersebut membuktikan, siapa pun yang masih menghirup udara hingga detik ini, dia dilahirkan dari sang pemenang bukan pecundang. Lantas, mengapa sekarang banyak kalangan yang mudah menyerah? Mengapa banyak generasi bermental kerupuk? Bukankah berarti hal tersebut menyalahi sejarah kita yang dilahirkan dari sang pemenang? Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Ciptakan keinginan yang kuat untuk berubah! Tanpa keinginan yang kuat untuk berubah, maka selamanya kita akan terjebak dalam mental kerupuk. Kekuatan dari keinginan sangatlah luar biasa dalam mengubah seseorang. Kita harus bisa menyugesti diri sendiri untuk menjadi pribadi yang sukses di kemudian hari. Bangunlah karakter kedewasaan untuk menghadapi situasi-situasi keras. Bentuklah mental yang hebat di tengah-tengah situasi yang sulit. Mulailah berani untuk keluar dari zona nyaman dan meraih dunia baru di luar sana atau mungkin mencoba hal-hal baru yang belum kita sentuh sebelumnya. Selama itu hal positif, lakukanlah!

Takut karena keterbatasan yang dimiliki? Bukankah itu pemikiran yang dangkal? Pemilik mental kerupuk adalah seseorang yang mudah mengeluh dengan keterbatasan. Justru dengan keterbatasan tersebut, seharusnya menjadi cambuk atau pelecut untuk melakukan apa pun yang dijalani dengan optimal. Bukan semakin surut ke belakang!

Ayolah, mulai bangkit dari mental yang membuat kita semakin terpuruk. Mulailah mengubah mental kerupuk menjadi mental baja, bukan mental manja. Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang untuk menggapai sebuah impian. Apakah kita rela bangsa yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pahlawan hancur hanya karena generasi yang tak bisa melawan keterbatasan? Apakah kita rela bangsa kita kian terpuruk hanya karena generasi yang bermental kerupuk? Mari kita bersama taklukkan dunia, jadilah bintang, jadilah pemenang, bukan pecundang! (*)

*) Mahasiswa Tadris/Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia