alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Dilema Guru Les Privat di Masa Pandemi

MASA pandemi saat ini, guru guru les semakin laris di pasaran. Dengan adanya banyak tanggungan, pekerjaan rumah, dan juga tugas tambahan belajar untuk anak–anak. Banyak orang tua yang tidak percaya diri, bahkan menyerah untuk bisa mengajar anaknya di rumah. Apalagi, para orang tua yang notabene mempunyai karir, sehingga mengharuskan untuk memprioritaskan urusan kantor, daripada harus sibuk memikirkan tugas tambahan anak-anak di rumah. Mereka berpikir, bahwa guru les bisa menjadi andalan untuk menggantikan peran guru di sekolah, layaknya homeschooling, tapi ini hanya pengkhususan di masa pembelajaran daring.

Lain halnya cerita yang beranggapan, bahwa orang yang tua yang mengandalkan guru les sebagai prioritas bagi anak–anaknya di masa pandemi. Mereka bilang, bahwa pendidikan mereka dahulu berbeda, pelajaran anak–anak zaman sekarang lebih maju dan tentu berbeda dibandingkan pelajaran di masa–masanya dahulu.

Jadi, guru les standar zamannya, lebih dibutuhkan daripada tidak terkendali, lantas malah justru tidak bisa menjelaskan kepada anak–anaknya.

Guru les, semakin bertebaran dan berlalu lalang di mana–mana. Hampir setiap rumah, menjadi sekolah bagi anak sekolahan. Mereka terbilang sadar, akan pentingnya pendidikan moral untuk anak–anaknya. Daripada tidak belajar sama sekali, dan justru tidak bisa mengontrol diri? Maka, guru les akan banyak dicari. Lembaga pendidikan yang menawarkan kursus, juga semakin laris dikunjungi. Tapi di sini peran orang tua, mulai dipertanyakan kembali.

Orang tua, terutama ibu adalah sekolah pertama bagi anak–anaknya. Sebelum akhirnya, sang anak mengenal gegap gempita dunia, mengenal apa itu bulan, apa itu matahari. Tidak ada seorang Ibu yang tidak mengajari alif ba ta, sampai membaca, menulis dan berhitung sejak dini. Ibu mana yang tidak mengajari? Sesibuk–sibuknya seorang wanita karir, ibu akan berusaha mengenalkan dirinya dan anaknya kepada dunia.

Yang menjadi polemik saat ini, selain pandemi yang akan berubah menjadi endemi, adalah anak–anak yang sudah kehilangan jati diri. Selama hampir dua tahun ini, anak tidak mendapatkan haknya untuk bisa banyak belajar, sekali lagi belajar bukan hanya tentang membaca buku dan menulis tugas dari gurunya di sekolah. Hampir selama dua tahunan ini, anak–anak banyak sekali kehilangan figur; seorang ibu dan ayahnya di rumah, seorang guru di kelas, teman sebayanya, dan semua hanya tergantikan dengan gadget.

Mereka tidak tahu harus meluapkan kesepian dan keresahan dirinya, pada akhirnya rasa penasaran dan hak untuk berpikir mereka alihkan pada strategi perang game online; Free Fire, PUBG, dan seterusnya. Tak kalah seru dengan bakat anak–anak yang memang harus dituangkan dalam sebuah apresiasi karya seni, mereka justru menampilkan tanpa aturan pada TikTok, Reels Instagram, atau bahkan aplikasi lainnya. Mereka kehilangan seorang figur yang nyata, dan perlahan hanya tergantikan dengan oppa dan eonnie Korea.

Lantas, ketika ujian datang dan nilai mereka harus anjlok, mayoritas Ayah dan Ibunya hanya menyalahkan guru-guru les privat yang diundangnya di rumah. Beberapa dari mereka juga bahkan ada yang tidak puas dengan kinerja dan memaksa untuk mengganti, atau pindah kepada guru les yang mungkin lebih berkompeten.

Padahal, mendidik bukan hanya urusan tentang nilai hitam di atas putih. Sedangkan, tak banyak orang tua yang memahami itu, lantas hanya membandingkan lewat hasil rapor di sekolah.

Apakah guru les privat ini tahu kebiasaan dan kegiatan sang anak seharian? Apakah kiranya, guru les juga bisa mengontrol apa saja yang sudah dikerjakan sang anak? Jadi, sesungguhnya siapa yang harus bisa lebih bertanggung jawab? Tidak semudah itu, para orang tua harus menyalahkan kualitas seorang guru les privat yang datang ke rumahnya setiap saat.

Terkadang, ada pula anak yang tumbuh berprestasi di sekolahnya, bahkan ia tepat waktu untuk mengerjakan tugas, nilai selalu memuaskan dan bisa menjadi standar terbaik baginya. Ketika ditanya, dia justru tidak les pada siapa-siapa. Hanya Ibu dan Ayah, atau bahkan kakaknya yang selalu ada. Tidak semua orang tua disalahkan. Kami tahu, ini semua bagian dari proses terbaik untuk masa depan buah hatinya kelak. Semua adalah ikhtiar terbaik untuk bisa menjadikan anaknya menjadi lebih baik.

Pandemi menyadarkan: bahwa kualitas Ibu yang cerdas, baik, shalihah adalah harta yang paling berharga dan sangat mahal harganya. Kualitas Ayah yang hebat, bertanggung jawab, dan tentu perhatian kepada anaknya, tak akan pernah tergantikan perannya oleh siapa–siapa.

Ibu akan menjadi madrasah ulaa (baca: sekolah pertama) bagi anak anaknya, dan selamanya akan menjadi guru terbaik walau akan ada banyak guru yang akan dilalui oleh sang anak dalam hidupnya. (*)

 

*) Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, tinggal di Jl. KH Wahid Hasyim Banyuwangi.

MASA pandemi saat ini, guru guru les semakin laris di pasaran. Dengan adanya banyak tanggungan, pekerjaan rumah, dan juga tugas tambahan belajar untuk anak–anak. Banyak orang tua yang tidak percaya diri, bahkan menyerah untuk bisa mengajar anaknya di rumah. Apalagi, para orang tua yang notabene mempunyai karir, sehingga mengharuskan untuk memprioritaskan urusan kantor, daripada harus sibuk memikirkan tugas tambahan anak-anak di rumah. Mereka berpikir, bahwa guru les bisa menjadi andalan untuk menggantikan peran guru di sekolah, layaknya homeschooling, tapi ini hanya pengkhususan di masa pembelajaran daring.

Lain halnya cerita yang beranggapan, bahwa orang yang tua yang mengandalkan guru les sebagai prioritas bagi anak–anaknya di masa pandemi. Mereka bilang, bahwa pendidikan mereka dahulu berbeda, pelajaran anak–anak zaman sekarang lebih maju dan tentu berbeda dibandingkan pelajaran di masa–masanya dahulu.

Jadi, guru les standar zamannya, lebih dibutuhkan daripada tidak terkendali, lantas malah justru tidak bisa menjelaskan kepada anak–anaknya.

Guru les, semakin bertebaran dan berlalu lalang di mana–mana. Hampir setiap rumah, menjadi sekolah bagi anak sekolahan. Mereka terbilang sadar, akan pentingnya pendidikan moral untuk anak–anaknya. Daripada tidak belajar sama sekali, dan justru tidak bisa mengontrol diri? Maka, guru les akan banyak dicari. Lembaga pendidikan yang menawarkan kursus, juga semakin laris dikunjungi. Tapi di sini peran orang tua, mulai dipertanyakan kembali.

Orang tua, terutama ibu adalah sekolah pertama bagi anak–anaknya. Sebelum akhirnya, sang anak mengenal gegap gempita dunia, mengenal apa itu bulan, apa itu matahari. Tidak ada seorang Ibu yang tidak mengajari alif ba ta, sampai membaca, menulis dan berhitung sejak dini. Ibu mana yang tidak mengajari? Sesibuk–sibuknya seorang wanita karir, ibu akan berusaha mengenalkan dirinya dan anaknya kepada dunia.

Yang menjadi polemik saat ini, selain pandemi yang akan berubah menjadi endemi, adalah anak–anak yang sudah kehilangan jati diri. Selama hampir dua tahun ini, anak tidak mendapatkan haknya untuk bisa banyak belajar, sekali lagi belajar bukan hanya tentang membaca buku dan menulis tugas dari gurunya di sekolah. Hampir selama dua tahunan ini, anak–anak banyak sekali kehilangan figur; seorang ibu dan ayahnya di rumah, seorang guru di kelas, teman sebayanya, dan semua hanya tergantikan dengan gadget.

Mereka tidak tahu harus meluapkan kesepian dan keresahan dirinya, pada akhirnya rasa penasaran dan hak untuk berpikir mereka alihkan pada strategi perang game online; Free Fire, PUBG, dan seterusnya. Tak kalah seru dengan bakat anak–anak yang memang harus dituangkan dalam sebuah apresiasi karya seni, mereka justru menampilkan tanpa aturan pada TikTok, Reels Instagram, atau bahkan aplikasi lainnya. Mereka kehilangan seorang figur yang nyata, dan perlahan hanya tergantikan dengan oppa dan eonnie Korea.

Lantas, ketika ujian datang dan nilai mereka harus anjlok, mayoritas Ayah dan Ibunya hanya menyalahkan guru-guru les privat yang diundangnya di rumah. Beberapa dari mereka juga bahkan ada yang tidak puas dengan kinerja dan memaksa untuk mengganti, atau pindah kepada guru les yang mungkin lebih berkompeten.

Padahal, mendidik bukan hanya urusan tentang nilai hitam di atas putih. Sedangkan, tak banyak orang tua yang memahami itu, lantas hanya membandingkan lewat hasil rapor di sekolah.

Apakah guru les privat ini tahu kebiasaan dan kegiatan sang anak seharian? Apakah kiranya, guru les juga bisa mengontrol apa saja yang sudah dikerjakan sang anak? Jadi, sesungguhnya siapa yang harus bisa lebih bertanggung jawab? Tidak semudah itu, para orang tua harus menyalahkan kualitas seorang guru les privat yang datang ke rumahnya setiap saat.

Terkadang, ada pula anak yang tumbuh berprestasi di sekolahnya, bahkan ia tepat waktu untuk mengerjakan tugas, nilai selalu memuaskan dan bisa menjadi standar terbaik baginya. Ketika ditanya, dia justru tidak les pada siapa-siapa. Hanya Ibu dan Ayah, atau bahkan kakaknya yang selalu ada. Tidak semua orang tua disalahkan. Kami tahu, ini semua bagian dari proses terbaik untuk masa depan buah hatinya kelak. Semua adalah ikhtiar terbaik untuk bisa menjadikan anaknya menjadi lebih baik.

Pandemi menyadarkan: bahwa kualitas Ibu yang cerdas, baik, shalihah adalah harta yang paling berharga dan sangat mahal harganya. Kualitas Ayah yang hebat, bertanggung jawab, dan tentu perhatian kepada anaknya, tak akan pernah tergantikan perannya oleh siapa–siapa.

Ibu akan menjadi madrasah ulaa (baca: sekolah pertama) bagi anak anaknya, dan selamanya akan menjadi guru terbaik walau akan ada banyak guru yang akan dilalui oleh sang anak dalam hidupnya. (*)

 

*) Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, tinggal di Jl. KH Wahid Hasyim Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/