alexametrics
24.6 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Overthinking Bikin Pusing tur Sinting

PSIKIS atau jiwa manusia menjadi hal yang terpenting untuk bertahan maupun mempertahankan hidup. Sehingga pemikiran manusia sangat berpengaruh. Baik dan buruknya sangat berpengaruh dalam hal tingkah laku atau tindakannya. Overthinking adalah salah satu masalah psikis manusia yang sangat berat.

Meski saya akui, saya pernah menjadi korban konspirasi overthinking. Ia pernah merajalela, menyetir pikiran dan perasaan saya saat itu. Overthinking alias berpikir berlebihan memang sangat mengganggu. Pikiran menjadi tidak tenang dan penuh kekhawatiran.

Overthinking memang bikin pusing, ibarat memikul benda berat ke ujung muara. Berat dan tak kunjung sampai. Seperti ketika akan memikirkan hal-hal yang belum pasti dengan over, banyak pilihan, banyak pertimbangan, dan kecemasan yang menghantui.

Saya kerap mengalami, ketika akan tidur. Tidak tenang sekali. Memikirkan hal-hal yang tak kunjung ada solusinya. Sekeras apa pun memikirkannya, terus mencari solusi, pada suatu masalah yang masih jauh akan terjadinya. Dan pada akhirnya pikiran itu masih membayang, menggantung di pikiran, menjadi janggal. Badan terasa berat namun otak masih dituntut untuk terus berpikir. Seperti tidak diberi waktu untuk berpikir.

Apa yang saya alami, saya seperti dikejar-kejar oleh sebuah bayangan hitam yang hendak mengejar kita. Menjadikan kita stres dan penuh kecemasan. Kalau menurut buku yang saya baca, bayangan itu disebut black shadow. Mereka bergerombol menyatu menjadi golongan yang sangat besar yang terus menghantui akal setiap manusia. Bayangan hitam jahat itu yang disebut overthinking.

Baca Juga :  Selat Bali Jalur Migrasi Paus?

Mari kita mengenal istilah automatic thought. Ketika teman akrab kita, yang biasa bersama kita, senda gurau dengan kita, tiba-tiba ia berubah, tiba-tiba ia bersifat dingin seperti serigala. Acuh tak acuh dengan keberadaan kita, tidak peduli dengan adanya kita berdiri di sampingnya. Dalam pikiran kita otomatis akan berpikir, ”Jahat banget, kenapa sih berubah. Gak ingat apa, kemarin pernah sedekat itu. Jahat banget gak ingat apa kemarin butuh apa ke aku. Jahat banget gak ingat apa, kemarin ketawa-ketiwi bareng. Iiih, kenapa sih aku jadi dicuekin. Awas saja ya, kalau butuh aku lagi, gak bakalan aku bantu”.

Tanpa disuruh otak atau pikiran ini begitu cepat melaju, tanpa direm. Celometan sendiri, suram, penuh dendam, dan begitu berantakan. Pikiran itu secara otomatis antre untuk hadir di aula otak saya, menuntut untuk mencari jawabannya. Automatic thought berada di bawah otak bawah sadar dan sama sekali tidak terkendali. Mari kita coba, untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak penting seperti itu, dengan berpikir masa bodoh. Karena sebenarnya pikiran seperti itu bisa dibohongi. Kita jangan terlalu memanjakan pikiran kita, ia akan terus menggerogoti akal kita. Sehingga kita dapat lebih tenang dalam menghadapi masalah. Keadaaan atau situasi itu tergantung sehatnya pikiran kita.

Baca Juga :  Notifikasi Pesan Awal Tahun dari Alam

Istilah dewasa sering disematkan pada mereka yang sudah matang dalam usia tertentu untuk berpikir maupun bertindak. Padahal tingkat kedewasaan itu bukan dilihat dari usia, namun dilihat dari cara berpikir, seberapa kita bisa mengendalikan diri kita dalam bertindak. Berpikir panjang sebelum memutuskan masalah. Mempertimbangkan mana yang baik dan yang buruk serta tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Memang ajaran Islam itu indah. Dalam Islam mengajarkan kita untuk selalu ber-husnuzon. Dan ternyata memang efek husnuzon atau positive thinking ini juga berdampak ke segala hal, pikiran serta kesehatan kita. Marilah kita mengatur pola pikir kita, karena mengatur pola makan saja tidak cukup. Hidup sehat pikiran sehat dengan selalu positive thinking. Sekian. (*)

 

*) Santriwati dan Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia 2018, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

PSIKIS atau jiwa manusia menjadi hal yang terpenting untuk bertahan maupun mempertahankan hidup. Sehingga pemikiran manusia sangat berpengaruh. Baik dan buruknya sangat berpengaruh dalam hal tingkah laku atau tindakannya. Overthinking adalah salah satu masalah psikis manusia yang sangat berat.

Meski saya akui, saya pernah menjadi korban konspirasi overthinking. Ia pernah merajalela, menyetir pikiran dan perasaan saya saat itu. Overthinking alias berpikir berlebihan memang sangat mengganggu. Pikiran menjadi tidak tenang dan penuh kekhawatiran.

Overthinking memang bikin pusing, ibarat memikul benda berat ke ujung muara. Berat dan tak kunjung sampai. Seperti ketika akan memikirkan hal-hal yang belum pasti dengan over, banyak pilihan, banyak pertimbangan, dan kecemasan yang menghantui.

Saya kerap mengalami, ketika akan tidur. Tidak tenang sekali. Memikirkan hal-hal yang tak kunjung ada solusinya. Sekeras apa pun memikirkannya, terus mencari solusi, pada suatu masalah yang masih jauh akan terjadinya. Dan pada akhirnya pikiran itu masih membayang, menggantung di pikiran, menjadi janggal. Badan terasa berat namun otak masih dituntut untuk terus berpikir. Seperti tidak diberi waktu untuk berpikir.

Apa yang saya alami, saya seperti dikejar-kejar oleh sebuah bayangan hitam yang hendak mengejar kita. Menjadikan kita stres dan penuh kecemasan. Kalau menurut buku yang saya baca, bayangan itu disebut black shadow. Mereka bergerombol menyatu menjadi golongan yang sangat besar yang terus menghantui akal setiap manusia. Bayangan hitam jahat itu yang disebut overthinking.

Baca Juga :  Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pemersatu Nusantara

Mari kita mengenal istilah automatic thought. Ketika teman akrab kita, yang biasa bersama kita, senda gurau dengan kita, tiba-tiba ia berubah, tiba-tiba ia bersifat dingin seperti serigala. Acuh tak acuh dengan keberadaan kita, tidak peduli dengan adanya kita berdiri di sampingnya. Dalam pikiran kita otomatis akan berpikir, ”Jahat banget, kenapa sih berubah. Gak ingat apa, kemarin pernah sedekat itu. Jahat banget gak ingat apa kemarin butuh apa ke aku. Jahat banget gak ingat apa, kemarin ketawa-ketiwi bareng. Iiih, kenapa sih aku jadi dicuekin. Awas saja ya, kalau butuh aku lagi, gak bakalan aku bantu”.

Tanpa disuruh otak atau pikiran ini begitu cepat melaju, tanpa direm. Celometan sendiri, suram, penuh dendam, dan begitu berantakan. Pikiran itu secara otomatis antre untuk hadir di aula otak saya, menuntut untuk mencari jawabannya. Automatic thought berada di bawah otak bawah sadar dan sama sekali tidak terkendali. Mari kita coba, untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak penting seperti itu, dengan berpikir masa bodoh. Karena sebenarnya pikiran seperti itu bisa dibohongi. Kita jangan terlalu memanjakan pikiran kita, ia akan terus menggerogoti akal kita. Sehingga kita dapat lebih tenang dalam menghadapi masalah. Keadaaan atau situasi itu tergantung sehatnya pikiran kita.

Baca Juga :  Idul Fitri atau Hari Raya?

Istilah dewasa sering disematkan pada mereka yang sudah matang dalam usia tertentu untuk berpikir maupun bertindak. Padahal tingkat kedewasaan itu bukan dilihat dari usia, namun dilihat dari cara berpikir, seberapa kita bisa mengendalikan diri kita dalam bertindak. Berpikir panjang sebelum memutuskan masalah. Mempertimbangkan mana yang baik dan yang buruk serta tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Memang ajaran Islam itu indah. Dalam Islam mengajarkan kita untuk selalu ber-husnuzon. Dan ternyata memang efek husnuzon atau positive thinking ini juga berdampak ke segala hal, pikiran serta kesehatan kita. Marilah kita mengatur pola pikir kita, karena mengatur pola makan saja tidak cukup. Hidup sehat pikiran sehat dengan selalu positive thinking. Sekian. (*)

 

*) Santriwati dan Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia 2018, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/