alexametrics
25 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Mewaspadai Doktrin Jihad melalui Pengajian

AKSI radikalisme dan terorisme kembali mengguncang Indonesia. Bulan lalu, yang menjadi sasaran aksi kekerasan para teroris adalah wilayah Indonesia Timur, Makassar. Gereja Katedral Makassar menjadi target dari aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sepasang suami istri.

Aksi bom bunuh diri yang terjadi tentu saja tidak sepi dari modus dan motif yang melatarbelakangi munculnya peristiwa tersebut. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian serius dari segenap elemen masyarakat di tanah air.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar, aksi terorisme yang terjadi di Makassar tersebut dilakukan oleh sepasang suami istri yang belum genap satu tahun menikah. Mereka adalah generasi milenial yang lahir pada tahun 1995-an. Dalam bahasa populer saat ini mereka adalah generasi Z.

Menurut Boy, para teroris sering kali menjebak anak-anak muda dengan doktrin-doktrin yang mengarahkan mereka untuk menjadi ”pengantin” bom bunuh diri. Janji dan iming-imingnya tentu saja adalah masuk surga (dakhala al-jannah) yang di sana telah menunggu para bidadari yang siap menyambutnya. Karena menyisir kaum muda, Boy Rafli Amar menyebut dan mengistilahkan strategi para teroris mirip seperti jebakan Batman. 

Dari pengembangan kasus terorisme yang menimpa Gereja Katedral Makassar tersebut ditemukan berbagai fakta yang mencengangkan kita. Selain dilakukan oleh sepasang suami istri yang masuk dalam kategori generasi milenial, Densus 88 berhasil menangkap terduga teroris di beberapa tempat yang berbeda dan saling terkait satu sama lain.                             

Sementara dari pengembangan kasus terorisme Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Densus 88 berhasil menangkap 4 pelaku teroris di Condet, Bekasi, dan Jakarta Timur, yang terkait dengan terorisme Gereja Katedral Makassar. Selain itu, Densus 88 juga berhasil menangkap 13 teroris di Nusa Tenggara Barat, Makassar, dan Jakarta. Sehingga dalam satu bulan terakhir, Densus 88 telah berhasil menangkap 66 terduga teroris di berbagai tempat yang berbeda.  

Menurut Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, telaah lebih mendalam telah dilakukan terhadap kasus terorisme yang kini kian marak di tanah air. Terkait dengan kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, sepasang suami istri pelaku teror ternyata terafiliasi dengan 26 organisasi teroris yang tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang beberapa pelakunya telah ditangkap pada 4 Februari yang lalu. Selain itu, ditemukan fakta baru, pelaku bom bunuh diri sepasang suami istri tersebut telah berwasiat kepada orang tuanya bahwa mereka telah siap untuk mati syahid.

Generasi milenial merupakan sasaran tembak dan sekaligus ladang subur bagi para teroris untuk melancarkan misi dan aksinya. Secara teologis, para teroris memahami apa yang mereka yakini sebagai pemahaman dan pemaknaan yang paling benar sendiri dibanding yang lainnya. Keyakinan, kepercayaan, dan aliran di luar mereka merupakan sebuah kesesatan yang nyata dan harus dilenyapkan. 

Dalam ranah praktisnya, mereka membagi dunia ini menjadi sangat rigid, kaku, dan sempit. Hitam-putih dan halal-haram selalu dikedepankan dalam setiap dakwah dan propaganda pemikirannya. Corak pemikiran dikotomis merupakan ciri khas dari model dan gaya berpikir kalangan radikalis dan teroris. Konsep-konsep klasik seperti daerah perang (dar al-harb) dan daerah Islam (dar al-Islam) kembali dimunculkan dengan tujuan membelah dunia dalam dua kategori besar peradaban yang saling berkonflik dan bertikai.

Konsep dan pemikiran yang mereka usung memiliki kemiripan dan—sangat dimungkinkan mengadopsi—gagasan Sayyid Qutb, seorang pemikir radikal Mesir yang sangat anti Barat.

Dalam bukunya Ma’alim fi Thariq, Qutb menyebut Barat sebagai peradaban jahiliah yang harus dihancurkan dan dilenyapkan. Demokrasi adalah sistem kufur yang harus ditumbangkan. Dan sebagai gantinya, Qutb mengajukan teokrasi sebagai satu-satunya sistem pemerintahan yang sesuai dengan syariat Islam. Di luar pemahaman, pemikiran, dan penafsiran mereka, merupakan sebuah kesesatan yang nyata dan harus dihapuskan. Jika tidak bisa dengan cara damai, maka kekerasan pun menjadi keniscayaan yang wajib dilakukan.

Doktrin seperti itulah yang disebarkan oleh sepasang suami istri yang menjadi ”pengantin” dalam bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Dan yang lebih tragis, doktrin teologis itu disebarkan dalam sebuah forum pengajian keagamaan.

Agama yang seharusnya ditampakkan dalam wajah yang menghargai perbedaan dan kebhinekaan, justru sebaliknya didakwahkan seperti monster yang siap menghancurkan dan membumihanguskan makhluk-makhluk selainnya yang tidak sepaham dan sealiran. Maka tidak mengherankan, jika wajah agama dalam pemikiran mereka adalah agama yang penuh dengan klaim kebenaran (truth claim) dan gagasan merusak (destructive discourse) terhadap yang lain.

Dalam pandangan agama (Islam), jihad tidak hanya bermakna perang semata. Tetapi jihad menyimpan beberapa makna. Saat ini kita perlu memiliki semangat baru yang konstruktif dalam memaknai kata ”jihad”. Ada banyak istilah yang menyangkut jihad misalnya jihad al dakwah, jihad al-tarbiyah, jihad bi al-lisan, jihad bi al-qalam (jihad dengan perantara lisan dan pena, jihad intelektual), jihad bi al-mal (jihad yang dilakukan dengan harta), dan masih banyak istilah-istilah lain yang dikaitkan dengan kata ”jihad”.

Terkait dengan pelestarian dan perbaikan lingkungan misalnya, masyarakat kini dikenalkan dengan istilah jihad lingkungan (jihad al-bi’ah). Jihad dengan tujuan melestarikan alam dan lingkungan sekitar. Bukan sebaliknya, dakwah yang merusak, menghancurkan dan mengebom sesama manusia. Jika para radikalis dan teroris melakukan pengeboman terhadap aset-aset publik, selain merusak lingkungan, berarti mereka telah menodai makna jihad yang menjadi trademark-nya dalam berdakwah itu.    

Di tengah derasnya arus informasi seperti saat ini masyarakat seyogianya semakin berhati-hati dalam menerima ajakan-ajakan dan dakwah keagamaan baik di dunia nyata, terlebih lagi di dunia maya. Kejelian dan ketelitian dibutuhkan dalam upaya mendapatkan sebuah pemahaman keagamaan yang moderat, toleran, dan menghargai serta menghormati sesama. (*)

 

*) Staf pengajar mata kuliah Studi Islam, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, IAI Darussalam Blokagung, Banyuwangi.

AKSI radikalisme dan terorisme kembali mengguncang Indonesia. Bulan lalu, yang menjadi sasaran aksi kekerasan para teroris adalah wilayah Indonesia Timur, Makassar. Gereja Katedral Makassar menjadi target dari aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sepasang suami istri.

Aksi bom bunuh diri yang terjadi tentu saja tidak sepi dari modus dan motif yang melatarbelakangi munculnya peristiwa tersebut. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian serius dari segenap elemen masyarakat di tanah air.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar, aksi terorisme yang terjadi di Makassar tersebut dilakukan oleh sepasang suami istri yang belum genap satu tahun menikah. Mereka adalah generasi milenial yang lahir pada tahun 1995-an. Dalam bahasa populer saat ini mereka adalah generasi Z.

Menurut Boy, para teroris sering kali menjebak anak-anak muda dengan doktrin-doktrin yang mengarahkan mereka untuk menjadi ”pengantin” bom bunuh diri. Janji dan iming-imingnya tentu saja adalah masuk surga (dakhala al-jannah) yang di sana telah menunggu para bidadari yang siap menyambutnya. Karena menyisir kaum muda, Boy Rafli Amar menyebut dan mengistilahkan strategi para teroris mirip seperti jebakan Batman. 

Dari pengembangan kasus terorisme yang menimpa Gereja Katedral Makassar tersebut ditemukan berbagai fakta yang mencengangkan kita. Selain dilakukan oleh sepasang suami istri yang masuk dalam kategori generasi milenial, Densus 88 berhasil menangkap terduga teroris di beberapa tempat yang berbeda dan saling terkait satu sama lain.                             

Sementara dari pengembangan kasus terorisme Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Densus 88 berhasil menangkap 4 pelaku teroris di Condet, Bekasi, dan Jakarta Timur, yang terkait dengan terorisme Gereja Katedral Makassar. Selain itu, Densus 88 juga berhasil menangkap 13 teroris di Nusa Tenggara Barat, Makassar, dan Jakarta. Sehingga dalam satu bulan terakhir, Densus 88 telah berhasil menangkap 66 terduga teroris di berbagai tempat yang berbeda.  

Menurut Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, telaah lebih mendalam telah dilakukan terhadap kasus terorisme yang kini kian marak di tanah air. Terkait dengan kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, sepasang suami istri pelaku teror ternyata terafiliasi dengan 26 organisasi teroris yang tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang beberapa pelakunya telah ditangkap pada 4 Februari yang lalu. Selain itu, ditemukan fakta baru, pelaku bom bunuh diri sepasang suami istri tersebut telah berwasiat kepada orang tuanya bahwa mereka telah siap untuk mati syahid.

Generasi milenial merupakan sasaran tembak dan sekaligus ladang subur bagi para teroris untuk melancarkan misi dan aksinya. Secara teologis, para teroris memahami apa yang mereka yakini sebagai pemahaman dan pemaknaan yang paling benar sendiri dibanding yang lainnya. Keyakinan, kepercayaan, dan aliran di luar mereka merupakan sebuah kesesatan yang nyata dan harus dilenyapkan. 

Dalam ranah praktisnya, mereka membagi dunia ini menjadi sangat rigid, kaku, dan sempit. Hitam-putih dan halal-haram selalu dikedepankan dalam setiap dakwah dan propaganda pemikirannya. Corak pemikiran dikotomis merupakan ciri khas dari model dan gaya berpikir kalangan radikalis dan teroris. Konsep-konsep klasik seperti daerah perang (dar al-harb) dan daerah Islam (dar al-Islam) kembali dimunculkan dengan tujuan membelah dunia dalam dua kategori besar peradaban yang saling berkonflik dan bertikai.

Konsep dan pemikiran yang mereka usung memiliki kemiripan dan—sangat dimungkinkan mengadopsi—gagasan Sayyid Qutb, seorang pemikir radikal Mesir yang sangat anti Barat.

Dalam bukunya Ma’alim fi Thariq, Qutb menyebut Barat sebagai peradaban jahiliah yang harus dihancurkan dan dilenyapkan. Demokrasi adalah sistem kufur yang harus ditumbangkan. Dan sebagai gantinya, Qutb mengajukan teokrasi sebagai satu-satunya sistem pemerintahan yang sesuai dengan syariat Islam. Di luar pemahaman, pemikiran, dan penafsiran mereka, merupakan sebuah kesesatan yang nyata dan harus dihapuskan. Jika tidak bisa dengan cara damai, maka kekerasan pun menjadi keniscayaan yang wajib dilakukan.

Doktrin seperti itulah yang disebarkan oleh sepasang suami istri yang menjadi ”pengantin” dalam bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Dan yang lebih tragis, doktrin teologis itu disebarkan dalam sebuah forum pengajian keagamaan.

Agama yang seharusnya ditampakkan dalam wajah yang menghargai perbedaan dan kebhinekaan, justru sebaliknya didakwahkan seperti monster yang siap menghancurkan dan membumihanguskan makhluk-makhluk selainnya yang tidak sepaham dan sealiran. Maka tidak mengherankan, jika wajah agama dalam pemikiran mereka adalah agama yang penuh dengan klaim kebenaran (truth claim) dan gagasan merusak (destructive discourse) terhadap yang lain.

Dalam pandangan agama (Islam), jihad tidak hanya bermakna perang semata. Tetapi jihad menyimpan beberapa makna. Saat ini kita perlu memiliki semangat baru yang konstruktif dalam memaknai kata ”jihad”. Ada banyak istilah yang menyangkut jihad misalnya jihad al dakwah, jihad al-tarbiyah, jihad bi al-lisan, jihad bi al-qalam (jihad dengan perantara lisan dan pena, jihad intelektual), jihad bi al-mal (jihad yang dilakukan dengan harta), dan masih banyak istilah-istilah lain yang dikaitkan dengan kata ”jihad”.

Terkait dengan pelestarian dan perbaikan lingkungan misalnya, masyarakat kini dikenalkan dengan istilah jihad lingkungan (jihad al-bi’ah). Jihad dengan tujuan melestarikan alam dan lingkungan sekitar. Bukan sebaliknya, dakwah yang merusak, menghancurkan dan mengebom sesama manusia. Jika para radikalis dan teroris melakukan pengeboman terhadap aset-aset publik, selain merusak lingkungan, berarti mereka telah menodai makna jihad yang menjadi trademark-nya dalam berdakwah itu.    

Di tengah derasnya arus informasi seperti saat ini masyarakat seyogianya semakin berhati-hati dalam menerima ajakan-ajakan dan dakwah keagamaan baik di dunia nyata, terlebih lagi di dunia maya. Kejelian dan ketelitian dibutuhkan dalam upaya mendapatkan sebuah pemahaman keagamaan yang moderat, toleran, dan menghargai serta menghormati sesama. (*)

 

*) Staf pengajar mata kuliah Studi Islam, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, IAI Darussalam Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/