alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Sumpah Pemuda, Prasasti Lahirnya NKRI

GUBENUR Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ketika membuka webinar yang diadakan Universitas Negeri Malang menyampaikan sebuah cerita, obrolan antara Presiden Jokowi dan Perdana menteri Pakistan saat berkunjung ke Indonesia. Dialog ini terjadi di mobil dalam perjalanan menuju Istana Bogor. Dalam dialognya, PM pakistan bertanya, ‘Mr. Jokowi, ada berapa suku yang ada di Indonesia.?’, Presiden Jokowi menjawab, Indonesia memiliki lebih dari 1000 suku bangsa, memang kenapa Mr. Perdana menteri.?”, Di Pakistan, dengan 2 suku saja, kami sulit berdamai dan berhenti dari konflik, tapi Indonesia dengan ribuan suku kok bisa bersatu dan membangun negerinya ya, luar biasa, saya salut..

Tahun 2006, Hollywood pernah memproduksi sebuah film karya Mel Gibson yang berjudul Apocalypto. Apocalypto mengisahkan tentang kondisi kehidupan masyarakat primitif amerika dimasa awal, yaitu suku maya, inka dan aztec. Suku maya, inka dan aztec adalah suku-suku primitif yang hidup berpindah-pindah. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil, yang berbasis pada ikatan keluarga. Visi kelompok nomadik ini sangat sederhana, yaitu mempertahankan eksistensi mereka untuk bertahan hidup. Karena untuk hidup butuh makan sebagai asupan energi, maka kegiatan kelompok itu adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka mencari sumber makanan. selain mencari buah dan umbi tanaman, mereka juga berburu binatang untuk dimsum mereka. Masalah terjadi ketika 2 kelompok suku yang berbeda menemukan sumber makanan yang sama, mereka akan saling bunuh dan melenyapkan kelompok lain hanya demi memperebutkan sebuah Food Resource.

Thomas Hobbes, seorang filosof dari Inggris menulis dalam bukunya tentang deskripsi kehidupan manusia primitif masa lampau dengan sebuah kalimat pendek yang cukup terkenal yaitu Homo Homini Lupus, ‘Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya’. Setiap kelompok manusia dimasa purba mempunyai prinsip No mercy bagi kelompok lain yang menghalangi hajat hidupnya, sehingga hukum rimbalah yang berlaku, dimana yang kuat dialah yang menang, dan yang lemah harus enyah.

Dengan berjalannya waktu kelompok-kelompok manusia atau suku semakin banyak dan mulai menetap mendiami suatu wilayah tertentu. Saat menetap inilah persinggungan dengan suku lain terjadi. Seiring dengan perkembangan intelektualnya, manusia tidak lagi menggunakan kekerasan sebagai ‘bahasa komunikasinya’. Dalam memenuhi hajat hidupnya, mereka mulai berdamai dengan eksistensi lain diluar kelompoknya. Komunikasi lisan antar tetua kelompok mulai dibangun. Dengan mengabaikan perbedaan, mereka bermufakat untuk hidup bersama. Perjalanan sejarah kemanusiaan inilah yang menginspirasi JJ. Rousseau Filosof dari Perancis mencetuskan teorinya tentang kontrak sosial.

Pada abad ke 16, nusantara yang terdiri dari banyak pulau, berdiri banyak kerajaan. Nusantara dikarunia kesuburan tanah dan hasil alam yang melimpah. Para saudagar dari kerajaan-kerajaan nusantara berdagang membawa hasil bumi dan rempah-rempah melintasi pulau bahkan negara. Kekayaan alam nusantara menjadi daya tarik khususnya bagi negara-negara eropa, ibarat gula, maka banyak semut yang mendatanginya. Negara lainpun datang ke nusantara untuk berdagang. Namun dari niat semula hanya berniaga, lama kelamaan berubah serakah ingin menguasai kekayaan alamnya. Dan benar adanya, dengan kekuatan bersenjata, belanda menginvasi dan berhasil menjajah nusantara. 360 tahun lamanya, belanda mengeruk, menyengsarakan dan menghinakan harkat bangsa-bangsa di nusantara. Kenapa bisa selama itu, sebab Politik devide et impera secara licik selalu dilakukan belanda untuk memecah belah antar kerajaan nusantara. Dan strategi adu domba itu cukup efektif, dimana berhasil meredam upaya perlawanan dari para pribumi untuk 3,5 abad lamanya.

Kesamaan nasib telah menyadarkan dan membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajahan. Dimulai pada 1908, rakyat Indonesia mulai memiliki kesadaran untuk bersatu melawan penjajah. Dipelopori para pemuda, diberbagai wilayah mulai dibentuk perkumpulan-perkumpulan. Komunikasi intens terus dibangun hingga akhirnya pada 1928, rasa kebangsaan dan persatuan Indonesia mulai menjadi cermin dari rasa bangga, rasa memiliki cita-cita tinggi untuk menegakkan kembali harga diri bangsanya yang seharusnya merdeka.
Dilansir dari situs resmi Museum Sumpah Pemuda, Persatuan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) menginisiasi kongres pemuda. kongres pertama diadakan di Bandung, PPPI meminta supaya semua organisasi pemuda mengadakan fusi. Dari kongres pertama disepakti, akan diadakan kongres kedua yang dilaksanakan di Jakarta. Kongres kedua diikuti perwakilan organisasi kepemudaan yang ada di seluruh Indonesia waktu itu. Akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 digedung Indonesische Clubhuis Kramat, setelah rapat marathon yang diadakan tiga kali di tiga gedung yang berbeda, tercetuslah Sumpah Pemuda yang merupakan prasasti dan cikal bakal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berisi:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda merupakan ekspresi komitmen kebangsaan dengan menyingkirkan semua ego yang membedakan. Seandainya ego tidak disingkirkan, maka tidak mungkin tercapai konsesi dalam kongres tersebut. Apa ego yang mungkin terjadi.?

Misalnya memaksakan bahasa jawa sebagai bahasa nasional, tentu ditolak oleh suku-suku yang lain. Atau mengikrarkan batik sebagai baju seragam nasional, juga akan menyakiti kebatinan kebudayaan dari suku lain. Apalagi jika ada yang memaksakan untuk menjadikan agama dan keyakinan sebagai dasar hidup bersama dalam sebuah negara, tentu akan ditolak oleh keyakinan yang lain. Bersyukur, nenek moyang kita peserta kongres pemuda, memiliki jiwa besar dengan mengeliminir semua kepentingan pribadi dan golongan, untuk kepentingan yang lebih besar.

Mudah-mudahan semangat sumpah pemuda senantiasa terinternalisasi dalam setiap jiwa anak bangsa Indonesia. Dan tentunya melalui pendidikan dini dan berkelanjutan sehingga tertanam jiwa bangga dan cinta tanah air dengan segala keperbedaannya. Berbeda adalah niscaya, karena semua sepakat bahwa itu kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun bersama dalam harmoni adalah luar biasa. Mari melihat kemajemukan Indonesia sebagai Pelangi, dimana dia indah karena warna-warninya. Mari terus kita rawat ‘Persatuan dalam Perbedaan, dan Perbedaan dalam Persatuan’. Founding Fathers bangsa telah mewariskan negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia, ayo kita jaga, kita majukan, pertahankan dan bela bersama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh. Jayalah Indonesia. NKRI Harga Mati.

*) Pengawas PAI SMA/SMK Kemenag Kab. Banyuwangi

GUBENUR Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ketika membuka webinar yang diadakan Universitas Negeri Malang menyampaikan sebuah cerita, obrolan antara Presiden Jokowi dan Perdana menteri Pakistan saat berkunjung ke Indonesia. Dialog ini terjadi di mobil dalam perjalanan menuju Istana Bogor. Dalam dialognya, PM pakistan bertanya, ‘Mr. Jokowi, ada berapa suku yang ada di Indonesia.?’, Presiden Jokowi menjawab, Indonesia memiliki lebih dari 1000 suku bangsa, memang kenapa Mr. Perdana menteri.?”, Di Pakistan, dengan 2 suku saja, kami sulit berdamai dan berhenti dari konflik, tapi Indonesia dengan ribuan suku kok bisa bersatu dan membangun negerinya ya, luar biasa, saya salut..

Tahun 2006, Hollywood pernah memproduksi sebuah film karya Mel Gibson yang berjudul Apocalypto. Apocalypto mengisahkan tentang kondisi kehidupan masyarakat primitif amerika dimasa awal, yaitu suku maya, inka dan aztec. Suku maya, inka dan aztec adalah suku-suku primitif yang hidup berpindah-pindah. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil, yang berbasis pada ikatan keluarga. Visi kelompok nomadik ini sangat sederhana, yaitu mempertahankan eksistensi mereka untuk bertahan hidup. Karena untuk hidup butuh makan sebagai asupan energi, maka kegiatan kelompok itu adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka mencari sumber makanan. selain mencari buah dan umbi tanaman, mereka juga berburu binatang untuk dimsum mereka. Masalah terjadi ketika 2 kelompok suku yang berbeda menemukan sumber makanan yang sama, mereka akan saling bunuh dan melenyapkan kelompok lain hanya demi memperebutkan sebuah Food Resource.

Thomas Hobbes, seorang filosof dari Inggris menulis dalam bukunya tentang deskripsi kehidupan manusia primitif masa lampau dengan sebuah kalimat pendek yang cukup terkenal yaitu Homo Homini Lupus, ‘Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya’. Setiap kelompok manusia dimasa purba mempunyai prinsip No mercy bagi kelompok lain yang menghalangi hajat hidupnya, sehingga hukum rimbalah yang berlaku, dimana yang kuat dialah yang menang, dan yang lemah harus enyah.

Dengan berjalannya waktu kelompok-kelompok manusia atau suku semakin banyak dan mulai menetap mendiami suatu wilayah tertentu. Saat menetap inilah persinggungan dengan suku lain terjadi. Seiring dengan perkembangan intelektualnya, manusia tidak lagi menggunakan kekerasan sebagai ‘bahasa komunikasinya’. Dalam memenuhi hajat hidupnya, mereka mulai berdamai dengan eksistensi lain diluar kelompoknya. Komunikasi lisan antar tetua kelompok mulai dibangun. Dengan mengabaikan perbedaan, mereka bermufakat untuk hidup bersama. Perjalanan sejarah kemanusiaan inilah yang menginspirasi JJ. Rousseau Filosof dari Perancis mencetuskan teorinya tentang kontrak sosial.

Pada abad ke 16, nusantara yang terdiri dari banyak pulau, berdiri banyak kerajaan. Nusantara dikarunia kesuburan tanah dan hasil alam yang melimpah. Para saudagar dari kerajaan-kerajaan nusantara berdagang membawa hasil bumi dan rempah-rempah melintasi pulau bahkan negara. Kekayaan alam nusantara menjadi daya tarik khususnya bagi negara-negara eropa, ibarat gula, maka banyak semut yang mendatanginya. Negara lainpun datang ke nusantara untuk berdagang. Namun dari niat semula hanya berniaga, lama kelamaan berubah serakah ingin menguasai kekayaan alamnya. Dan benar adanya, dengan kekuatan bersenjata, belanda menginvasi dan berhasil menjajah nusantara. 360 tahun lamanya, belanda mengeruk, menyengsarakan dan menghinakan harkat bangsa-bangsa di nusantara. Kenapa bisa selama itu, sebab Politik devide et impera secara licik selalu dilakukan belanda untuk memecah belah antar kerajaan nusantara. Dan strategi adu domba itu cukup efektif, dimana berhasil meredam upaya perlawanan dari para pribumi untuk 3,5 abad lamanya.

Kesamaan nasib telah menyadarkan dan membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajahan. Dimulai pada 1908, rakyat Indonesia mulai memiliki kesadaran untuk bersatu melawan penjajah. Dipelopori para pemuda, diberbagai wilayah mulai dibentuk perkumpulan-perkumpulan. Komunikasi intens terus dibangun hingga akhirnya pada 1928, rasa kebangsaan dan persatuan Indonesia mulai menjadi cermin dari rasa bangga, rasa memiliki cita-cita tinggi untuk menegakkan kembali harga diri bangsanya yang seharusnya merdeka.
Dilansir dari situs resmi Museum Sumpah Pemuda, Persatuan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) menginisiasi kongres pemuda. kongres pertama diadakan di Bandung, PPPI meminta supaya semua organisasi pemuda mengadakan fusi. Dari kongres pertama disepakti, akan diadakan kongres kedua yang dilaksanakan di Jakarta. Kongres kedua diikuti perwakilan organisasi kepemudaan yang ada di seluruh Indonesia waktu itu. Akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 digedung Indonesische Clubhuis Kramat, setelah rapat marathon yang diadakan tiga kali di tiga gedung yang berbeda, tercetuslah Sumpah Pemuda yang merupakan prasasti dan cikal bakal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berisi:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda merupakan ekspresi komitmen kebangsaan dengan menyingkirkan semua ego yang membedakan. Seandainya ego tidak disingkirkan, maka tidak mungkin tercapai konsesi dalam kongres tersebut. Apa ego yang mungkin terjadi.?

Misalnya memaksakan bahasa jawa sebagai bahasa nasional, tentu ditolak oleh suku-suku yang lain. Atau mengikrarkan batik sebagai baju seragam nasional, juga akan menyakiti kebatinan kebudayaan dari suku lain. Apalagi jika ada yang memaksakan untuk menjadikan agama dan keyakinan sebagai dasar hidup bersama dalam sebuah negara, tentu akan ditolak oleh keyakinan yang lain. Bersyukur, nenek moyang kita peserta kongres pemuda, memiliki jiwa besar dengan mengeliminir semua kepentingan pribadi dan golongan, untuk kepentingan yang lebih besar.

Mudah-mudahan semangat sumpah pemuda senantiasa terinternalisasi dalam setiap jiwa anak bangsa Indonesia. Dan tentunya melalui pendidikan dini dan berkelanjutan sehingga tertanam jiwa bangga dan cinta tanah air dengan segala keperbedaannya. Berbeda adalah niscaya, karena semua sepakat bahwa itu kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun bersama dalam harmoni adalah luar biasa. Mari melihat kemajemukan Indonesia sebagai Pelangi, dimana dia indah karena warna-warninya. Mari terus kita rawat ‘Persatuan dalam Perbedaan, dan Perbedaan dalam Persatuan’. Founding Fathers bangsa telah mewariskan negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia, ayo kita jaga, kita majukan, pertahankan dan bela bersama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh. Jayalah Indonesia. NKRI Harga Mati.

*) Pengawas PAI SMA/SMK Kemenag Kab. Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/