alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Catatan: Abd. Rahman Saleh*

Peran Perguruan Tinggi dalam Eksaminasi Putusan Pengadilan

PUTUSAN pengadilan merupakan putusan hukum yang diberikan oleh hakim terhadap suatu perkara. Baik perkara pidana, perdata, tata usaha negara, dan putusan hukum lainnya yang dikeluarkan pengadilan. Jantung keadilan yang terletak pada hakim dan pengadilan sebagai sumbu nilai tegaknya keadilan hukum.

Hakim harus mampu memberikan kejernihan dan kearifan hukum dalam mengadili suatu perkara. Hakim adalah manusia dan bukan Tuhan. Pada manusia sifat salah dan sifat khilaf selalu melekat. Sedangkan Tuhan adalah letaknya keadilan yang hakiki dan keadilan yang sebenarnya.

Terhadap putusan pengadilan ada jenjang tingkatan pengadilan dalam memutus sebuah perkara. Ada pengadilan tingkat pertama. Kalau ada ketidakpuasan terhadap putusan pengadilan tingkat pertama, bisa mengajukan upaya hukum banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Itulah alur jenjang peradilan.

Keadilan hakikatnya adalah kebenaran hukum. Kebenaran itu adalah ada rasionalitas hukum dalam keadilan. Rasionalitas didapat dari adanya fakta sebagai alur hakim dalam memutus sebuah perkara. Putusan pengadilan itu sendiri menjadi ranahnya hakim sebagai lembaga yudikatif, yang mempunyai kewenangan mutlak dan absolut yang tidak bisa dicampuri oleh lembaga eksekutif dan legislatif.

Sementara itu, perguruan tinggi (PT) adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya diajarkan keilmuan sesuai dengan karakter ilmu sendiri. Yakni ilmu yang sesuai dengan nalar dan rasional secara akademik. Karena setiap ilmu ada akar ilmu sebagai sandaran akademik yang selalu mengajarkan logika kebenaran.

Peran perguruan tinggi untuk melakukan kontrol dan menelaah terhadap sebuah putusan hukum yang dilakukan oleh hakim sangat penting dan perlu menjadi kajian dan telaah akademik. Terutama bagi perguruan tinggi yang mempunyai jurusan dan prodi ilmu hukum serta prodi syariah yang gelar akademiknya adalah sarjana hukum.

Perguruan tinggi saatnya perlu melakukan eksaminasi terhadap putusan pengadilan sebagai sebuah kajian akademik dan sebagai sebuah kontrol secara akademik terhadap sebuah putusan pengadilan. Pada dasarnya, eksaminasi putusan pengadilan adalah merupakan bentuk partisipasi publik melalui kajian akademik, demi pengembangan ilmu pengetahuan hukum untuk mewujudkan supremasi hukum. Pengujian atau eksaminasi atau legal annotation dilakukan terhadap putusan yang diduga ”bermasalah” agar tidak terulang dalam putusan-putusan berikutnya.

Baca Juga :  Self Healing melalui Komunikasi dengan Diri Sendiri

Eksaminasi bukan hanya ditujukan kepada sebuah putusan hakim yang diduga bermasalah. Tetapi juga dilakukan terhadap putusan-putusan yang dianggap baik dan benar, yang memenuhi rasa keadilan hukum, yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan akademik. Sehingga putusan tersebut bisa menjadi yurisprudensi bagi penegak hukum lainnya.

Siapa lagi yang akan melakukan eksaminasi putusan pengadilan, kalau bukan perguruan tinggi. Terutama perguruan tinggi yang mempunyai jurusan prodi ilmu hukum dan prodi ilmu syariah.

Eksaminasi terhadap sebuah putusan pengadilan yang dilakukan oleh perguruan tinggi yakni sebagai sinyal kontrol.  Agar tataran keadilan hukum sejalan dengan roh akademik yang bersifat keilmuan dalam praktik hukumnya.

Eksaminasi terhadap putusan pengadilan bukan untuk mengadili sebuah putusan hukum. Eksaminasi bertujuan untuk menguji teori ilmu secara akademik, sejalan tidak dengan praktik penegakan hukum itu sendiri terhadap putusan hakim.

 Irah-irah ”demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang dijadikan awal pembuka bagi hakim dalam memutus sebuah perkara, bukan berarti bakunya sebuah putusan pengadilan yang tidak boleh dikaji secara akademik. Irah tersebut adalah sebagai wujud, bahwa putusan pengadilan harus adil dan sesuai dengan tujuan keadilan itu sendiri. Keadilan adalah kodrati Tuhan yang harus ditegakkan dengan sifat keadilan Tuhan. Yakni, tidak ada keberpihakan dalam memutus sebuah putusan.

Eksaminasi yang dilakukan perguruan tinggi juga sebagai kontrol sosial. Guna mendorong adanya independensi peradilan. Integritas, moralitas, dan profesionalisme hakim merupakan faktor yang sangat penting untuk melahirkan putusan yang adil sesuai dengan cita hukum. Sehingga, tidak melukai masyarakat selaku pencari keadilan.

Eksaminasi putusan pengadilan yang dilakukan oleh perguruan tinggi bisa dijadikan kajian akademik di laboratorium hukum di kampus, sebagai arah akademik itu sendiri yakni kebenaran terhadap ilmu.

Baca Juga :  Dampak Global Warming, Populasi Penyu Terancam

Sebuah eksaminasi tidak akan mengubah, apalagi membatalkan sebuah putusan pengadilan yang telah inkrah. Eksaminasi hanyalah produk analisis ilmiah akademis, yang dilakukan oleh perguruan tinggi untuk menelaah secara akademis sebuah putusan pengadilan. Perguruan tinggi bisa memerankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi, untuk melakukan pengabdian dan pengujian secara akademis terhadap sebuah putusan pengadilan.

Eksaminasi bisa menjadi bahan kita untuk berintrospeksi dan berhati-hati dalam berhukum agar tidak terjadi pelanggaran hak-hak asasi manusia. Kajian akademik melalui eksaminasi akan melahirkan kejernihan akademik. Yakni sejauh mana analisis akademik terhadap putusan pengadilan. Eksaminasi bukan barang tabu untuk dilakukan. Eksaminasi adalah sebuah sikap progresif agar hukum selalu terkontrol melalui kajian akademik. Seberapa kadar kebenaran hukum terhadap putusan pengadilan.

Saat ini, jarang sekali perguruan tinggi melakukan eksaminasi putusan pengadilan. Beda dengan Amerika Serikat, di mana perguruan tinggi selalu melakukan eksaminasi terhadap putusan pengadilan yang dilakukan oleh juri, sebagai kontrol secara akademis terhadap putusan hakim.

Eksaminasi putusan pengadilan adalah sebuah jalan akademis yang bernalar akademis. Sejauh mana tingkat keakuratan kacamata hukum yang dipakai oleh hakim dalam memutus sebuah perkara. Adakah kesamaan antara teori hukum secara akademis dengan kesamaan pandang realitasnya. Ukuran akademik adalah ukuran kebenaran ilmu. Sementara ukuran putusan pengadilan adalah ukuran keadilan hukum.

Pentingnya kajian akademik dan telaah akademik terhadap putusan pengadilan dengan eksaminasi didasari juga oleh adanya keberadaan hukum itu sendiri. Hukum itu tidak kaku dan selalu bergerak dinamis mengikuti alur dinamika kemajuan. Kekakuan hukum akan berdampak kepada ketidakberdayaan hukum dalam meranjau setiap peristiwa hukum. Kajian akademis terhadap putusan pengadilan merupakan sebuah sikap mulia dan bermartabat dari perguruan tinggi agar ada kepekaan akademis terhadap tegaknya putusan pengadilan kepada kebenaran hukum. Sehingga, kebenaran dan keadilan hukum berbanding lurus dengan kebenaran dan keabsahan nilai kajian akademik. (*)

PUTUSAN pengadilan merupakan putusan hukum yang diberikan oleh hakim terhadap suatu perkara. Baik perkara pidana, perdata, tata usaha negara, dan putusan hukum lainnya yang dikeluarkan pengadilan. Jantung keadilan yang terletak pada hakim dan pengadilan sebagai sumbu nilai tegaknya keadilan hukum.

Hakim harus mampu memberikan kejernihan dan kearifan hukum dalam mengadili suatu perkara. Hakim adalah manusia dan bukan Tuhan. Pada manusia sifat salah dan sifat khilaf selalu melekat. Sedangkan Tuhan adalah letaknya keadilan yang hakiki dan keadilan yang sebenarnya.

Terhadap putusan pengadilan ada jenjang tingkatan pengadilan dalam memutus sebuah perkara. Ada pengadilan tingkat pertama. Kalau ada ketidakpuasan terhadap putusan pengadilan tingkat pertama, bisa mengajukan upaya hukum banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Itulah alur jenjang peradilan.

Keadilan hakikatnya adalah kebenaran hukum. Kebenaran itu adalah ada rasionalitas hukum dalam keadilan. Rasionalitas didapat dari adanya fakta sebagai alur hakim dalam memutus sebuah perkara. Putusan pengadilan itu sendiri menjadi ranahnya hakim sebagai lembaga yudikatif, yang mempunyai kewenangan mutlak dan absolut yang tidak bisa dicampuri oleh lembaga eksekutif dan legislatif.

Sementara itu, perguruan tinggi (PT) adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya diajarkan keilmuan sesuai dengan karakter ilmu sendiri. Yakni ilmu yang sesuai dengan nalar dan rasional secara akademik. Karena setiap ilmu ada akar ilmu sebagai sandaran akademik yang selalu mengajarkan logika kebenaran.

Peran perguruan tinggi untuk melakukan kontrol dan menelaah terhadap sebuah putusan hukum yang dilakukan oleh hakim sangat penting dan perlu menjadi kajian dan telaah akademik. Terutama bagi perguruan tinggi yang mempunyai jurusan dan prodi ilmu hukum serta prodi syariah yang gelar akademiknya adalah sarjana hukum.

Perguruan tinggi saatnya perlu melakukan eksaminasi terhadap putusan pengadilan sebagai sebuah kajian akademik dan sebagai sebuah kontrol secara akademik terhadap sebuah putusan pengadilan. Pada dasarnya, eksaminasi putusan pengadilan adalah merupakan bentuk partisipasi publik melalui kajian akademik, demi pengembangan ilmu pengetahuan hukum untuk mewujudkan supremasi hukum. Pengujian atau eksaminasi atau legal annotation dilakukan terhadap putusan yang diduga ”bermasalah” agar tidak terulang dalam putusan-putusan berikutnya.

Baca Juga :  Kecelakaan Penerbangan, Hukum Pidana, serta Keterlibatan Profesional

Eksaminasi bukan hanya ditujukan kepada sebuah putusan hakim yang diduga bermasalah. Tetapi juga dilakukan terhadap putusan-putusan yang dianggap baik dan benar, yang memenuhi rasa keadilan hukum, yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan akademik. Sehingga putusan tersebut bisa menjadi yurisprudensi bagi penegak hukum lainnya.

Siapa lagi yang akan melakukan eksaminasi putusan pengadilan, kalau bukan perguruan tinggi. Terutama perguruan tinggi yang mempunyai jurusan prodi ilmu hukum dan prodi ilmu syariah.

Eksaminasi terhadap sebuah putusan pengadilan yang dilakukan oleh perguruan tinggi yakni sebagai sinyal kontrol.  Agar tataran keadilan hukum sejalan dengan roh akademik yang bersifat keilmuan dalam praktik hukumnya.

Eksaminasi terhadap putusan pengadilan bukan untuk mengadili sebuah putusan hukum. Eksaminasi bertujuan untuk menguji teori ilmu secara akademik, sejalan tidak dengan praktik penegakan hukum itu sendiri terhadap putusan hakim.

 Irah-irah ”demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang dijadikan awal pembuka bagi hakim dalam memutus sebuah perkara, bukan berarti bakunya sebuah putusan pengadilan yang tidak boleh dikaji secara akademik. Irah tersebut adalah sebagai wujud, bahwa putusan pengadilan harus adil dan sesuai dengan tujuan keadilan itu sendiri. Keadilan adalah kodrati Tuhan yang harus ditegakkan dengan sifat keadilan Tuhan. Yakni, tidak ada keberpihakan dalam memutus sebuah putusan.

Eksaminasi yang dilakukan perguruan tinggi juga sebagai kontrol sosial. Guna mendorong adanya independensi peradilan. Integritas, moralitas, dan profesionalisme hakim merupakan faktor yang sangat penting untuk melahirkan putusan yang adil sesuai dengan cita hukum. Sehingga, tidak melukai masyarakat selaku pencari keadilan.

Eksaminasi putusan pengadilan yang dilakukan oleh perguruan tinggi bisa dijadikan kajian akademik di laboratorium hukum di kampus, sebagai arah akademik itu sendiri yakni kebenaran terhadap ilmu.

Baca Juga :  Sumur Marani Timbo

Sebuah eksaminasi tidak akan mengubah, apalagi membatalkan sebuah putusan pengadilan yang telah inkrah. Eksaminasi hanyalah produk analisis ilmiah akademis, yang dilakukan oleh perguruan tinggi untuk menelaah secara akademis sebuah putusan pengadilan. Perguruan tinggi bisa memerankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi, untuk melakukan pengabdian dan pengujian secara akademis terhadap sebuah putusan pengadilan.

Eksaminasi bisa menjadi bahan kita untuk berintrospeksi dan berhati-hati dalam berhukum agar tidak terjadi pelanggaran hak-hak asasi manusia. Kajian akademik melalui eksaminasi akan melahirkan kejernihan akademik. Yakni sejauh mana analisis akademik terhadap putusan pengadilan. Eksaminasi bukan barang tabu untuk dilakukan. Eksaminasi adalah sebuah sikap progresif agar hukum selalu terkontrol melalui kajian akademik. Seberapa kadar kebenaran hukum terhadap putusan pengadilan.

Saat ini, jarang sekali perguruan tinggi melakukan eksaminasi putusan pengadilan. Beda dengan Amerika Serikat, di mana perguruan tinggi selalu melakukan eksaminasi terhadap putusan pengadilan yang dilakukan oleh juri, sebagai kontrol secara akademis terhadap putusan hakim.

Eksaminasi putusan pengadilan adalah sebuah jalan akademis yang bernalar akademis. Sejauh mana tingkat keakuratan kacamata hukum yang dipakai oleh hakim dalam memutus sebuah perkara. Adakah kesamaan antara teori hukum secara akademis dengan kesamaan pandang realitasnya. Ukuran akademik adalah ukuran kebenaran ilmu. Sementara ukuran putusan pengadilan adalah ukuran keadilan hukum.

Pentingnya kajian akademik dan telaah akademik terhadap putusan pengadilan dengan eksaminasi didasari juga oleh adanya keberadaan hukum itu sendiri. Hukum itu tidak kaku dan selalu bergerak dinamis mengikuti alur dinamika kemajuan. Kekakuan hukum akan berdampak kepada ketidakberdayaan hukum dalam meranjau setiap peristiwa hukum. Kajian akademis terhadap putusan pengadilan merupakan sebuah sikap mulia dan bermartabat dari perguruan tinggi agar ada kepekaan akademis terhadap tegaknya putusan pengadilan kepada kebenaran hukum. Sehingga, kebenaran dan keadilan hukum berbanding lurus dengan kebenaran dan keabsahan nilai kajian akademik. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/