alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Ponsel: Akankah Mewakili Perasaan Kita?

TELEPON seluler (ponsel) adalah salah satu benda elektronik yang semakin canggih dari waktu ke waktu. Ponsel diciptakan oleh manusia dan digunakan oleh manusia untuk membantu kerja manusia, seperti mengurangi beban berat jika membawa laptop atau pun notebook keluar rumah lebih praktis membawa ponsel, karena bukan hanya praktis juga memiliki beragam desain. Ponsel tentu saja memiliki teknologi yang canggih dalam membantu manusia, bukan hanya memiliki kamera untuk berswa foto akan tetapi juga dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi seperti Office untuk membantu menyimpan dan menulis file Word dan PPT, WhatsApp (WA) juga banyak membantu manusia untuk saling berkomunikasi.

Dulu ponsel hanya bisa digunakan sebagai alat komunikasi seperti telepon dan juga mengirim pesan singkat atau short message service (SMS). Semakin majunya zaman maka diikuti juga oleh perkembangan ponsel,  dari yang hanya bisa digunakan telepon dan SMS lalu ada kamera untuk berswafoto dan dapat menyimpan gambar, berkembang dengan ponsel layar sentuh. Semakin canggih disebut android yang sekarang bisa untuk mengunduh aplikasi-aplikasi, seperti WA yang menggantikan telepon dan SMS sekarang beralih menggunakan WA. Karena selain murah, hanya modal paket data saja, kita bisa sepuasnya berkirim kabar melalui WA. Apalagi ada vitur video call yang dapat menampilkan gambar saat telepon.

Dengan adanya ponsel yang memudahkan kita untuk mengunduh aplikasi tersebut, lebih bermanfaat dan membantu ketika di masa pandemi seperti sekarang ini. Kita tidak bisa bertemu satu sama lain secara langsung, juga mengubah kebiasaan kita jika bertemu orang yang lebih tua akan berjabat tangan sekarang tidak bisa. Sementara ini, ponsel sangat membantu kita dapat bertemu secara virtual. Dapat mengekspresikan diri dan maksud kita dengan stiker yang ada.

Belum lagi saat pandemi yang begitu riuh berseliweran beraneka berita. Seolah siapa pun akan berkomentar melalui media yang satu ini. Apa pun kapasitasnya, banyak komentar yang tak terbendung lagi. Oleh karena itu, selektif dalam mengikuti perkembangan berita yang ada. Serta berhati-hati dalam mencerna berbagai tulisan. Tentu saja akan lebih meyakinkan, apabila yang kita simak terkait dengan informasi pandemi adalah yang bersumber jelas medianya, dan dari kalangan yang lebih dekat dengan dunia medis lebih meyakinkan untuk dipercaya.

Adanya pandemi sempat membuat dunia berhenti beraktivitas. Sempat membuat perekonomian berhenti untuk sementara. Semua masyarakat diimbau untuk tetap di rumah saja. Kantor pabrik semua ditutup untuk sementara. Bahkan sekolah pun juga ikut ditutup oleh pemerintah. Pelaksanaan belajar mengajar dihentikan untuk sementara waktu, agar mengurangi dan dapat menghentikan penyebaran virus ini.

Baca Juga :  Sehat di Tengah Pandemi ala Tradisi Suku Osing

Akan tetapi bagaimana jika itu semua berlangsung dengan waktu yang lama? Perekonomian dan pendidikan akan benar-benar berhenti jika tidak adanya inovasi. Sehingga muncul ide untuk memanfaatkan teknologi yang ada untuk membantu menjalankan kembali aktivitas meskipun tidak terjun langsung pada tempat, akan tetapi dari rumah saja.

Dalam masa pandemi ini membuat ponsel lebih bermanfaat. Yang dulu hanya digunakan untuk bermain game, sekarang beralih untuk sarana pembelajaran. Agar waktu belajar dan sekolah tidak berhenti terlalu lama untuk menunggu pandemi reda. Seperti diadakannya pembelajaran secara virtual dengan ponsel melalui Google Meet, kita tetap dapat bertemu via maya dengan teman-teman kita. Mengerjakan tugas serta mengirimnya dengan menggunakan ponsel, misalnya melalui Google Classroom.

Memanfaatkan ponsel untuk bekerja dari rumah seperti membantu online shop dan pekerja yang lain melakukan pekerjaannya dari rumah saja. Meskipun tidak semua pekerja dapat melakukan pekerjaannya dari rumah, akan tetapi sudah dapat membantu mengurangi kerumunan masyarakat, dengan bersekolah dan bekerja dari rumah.

Masa Lebaran saat pandemi pun, kita dapat lebih mudah bersilaturahmi dengan sanak saudara tanpa bertemu langsung. Kita dapat bersilaturahmi melalui ponsel. Tidak perlu pulang kampung dan mudik, cukup ucapkan ‘minal aidzin wal faidzin – mohon maaf lahir batin’ melalui pesan WA atau pun dapat telepon. Kita juga bisa bertemu atau bertatap muka secara virtual melalui Video Call (VC). Dengan menggunakan VC ini dapat menjembatani kita untuk bertemu sekaligus bertatap muka melepaskan kerinduan yang tidak terbatas oleh jarak.

Kita patut bersyukur, meskipun jauh tetapi masih dapat bertemu via maya. Dapat mengurangi rasa rindu yang membelenggu pada keluarga dan saudara yang jauh di sana. Bersyukur dapat menikmati kecanggihan teknologi yang ada pada saat ini.

Dari berbagai perkembangan fungsi yang ada dan semakin lengkap vitur dan aplikasinya, tetap saja ada keterbatasan yang menyertai. Tentu saja ada rasa yang mungkin tidak akan sampai kalau hanya dituliskan dengan kata-kata. Karena kata-kata tidak memiliki rasa, dan berbeda apabila kita menyampaikan secara langsung dengan lawan bicara kita. Karena dengan penyampaian langsung, dengan bertatap muka, ada rasa yang disampaikan. Ada hati yang memaknai. Ada ungkapan yang bisa dilihat dirasakan. Hal itu tidak akan terwakili oleh tulisan yang disampaikan lewat medsos misalnya.

Baca Juga :  Bahasa Osing yang Semakin Asing

Belum lagi kalau kita merespons berbagai tulisan yang muncul melalui media daring ini. Apalagi kalau dengan tergesa-gesa menanggapi sebuah berita, yang kadang belum tentu kebenarannya. Apalagi kalau sumbernya bukan dari media yang kredibel. Nah, bisa-bisa kita akan terjebak dengan informasi yang kadang hoax adanya. Dari situ akan kelihatan dan terbaca karakter penulisnya. Apakah dia seorang yang temperamental, yang mudah tersulut emosi, ataukah yang berkarakter hati-hati. Atau sekadar merespons dengan ikut-ikutan saja. Semua akan terbaca lewat tulisan yang meluncur lewat layar ponsel yang begitu sekali klik, langsung menyebar tak terbatas.

Memang kecepatan informasi tidak bisa dipungkiri lagi, teknologi yang berkembang begitu cepat. Yang cukup dalam genggaman, menjadikan alat komunikasi utama, yang bisa membuat orang akan terasa ganjil dan kurang apabila tidak memegang alat yang satu ini. Orang bisa bingung untuk berbuat tanpa alat ini. Sehingga kadang bisa memunculkan jargon “medekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Dengan kata lain, begitu asyiknya dengan ponsel yang ada di genggaman, sehingga dalam sebuah pertemuan masing-masing berkomunikasi dengan orang yang jauh. Sementara dengan orang yang ada di sekitarnya, justru tidak berkomunikasi sama sekali alias saling membisu. Lantas, akankah lebih utama bersilaturahim dengan yang jauh daripada yang ada di dekat kita bahkan bersentuhan dengan kita?

Berbagai sisi kehidupan sudah sangat terbantu dengan teknologi ponsel yang sangat hebat perkembangannya, bahkan seperti sulapan. Mau tanya apa saja, tersedia dalam aplikasinya. Mau dagang online bisa. Mau belajar berbagai ilmu bisa didapatkan. Mau berteman tak terbatas jangkauan. Pendek kata, dunia dalam genggaman. Hanya semua itu adalah sarana, alat saja yang tidak bisa mewakili rasa. Karena bila salah tafsir dalam membaca, bisa tidak sampai pada makna sesungguhnya.

 Dengan teknologi canggih, kita harus bisa menggunakan ponsel secara bijak. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh ponsel. Karena ponsel hanya untuk membantu manusia sebagai sarana komunikasi. (*)

 

*) Mahasiswi Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta, asal Banyuwangi.

TELEPON seluler (ponsel) adalah salah satu benda elektronik yang semakin canggih dari waktu ke waktu. Ponsel diciptakan oleh manusia dan digunakan oleh manusia untuk membantu kerja manusia, seperti mengurangi beban berat jika membawa laptop atau pun notebook keluar rumah lebih praktis membawa ponsel, karena bukan hanya praktis juga memiliki beragam desain. Ponsel tentu saja memiliki teknologi yang canggih dalam membantu manusia, bukan hanya memiliki kamera untuk berswa foto akan tetapi juga dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi seperti Office untuk membantu menyimpan dan menulis file Word dan PPT, WhatsApp (WA) juga banyak membantu manusia untuk saling berkomunikasi.

Dulu ponsel hanya bisa digunakan sebagai alat komunikasi seperti telepon dan juga mengirim pesan singkat atau short message service (SMS). Semakin majunya zaman maka diikuti juga oleh perkembangan ponsel,  dari yang hanya bisa digunakan telepon dan SMS lalu ada kamera untuk berswafoto dan dapat menyimpan gambar, berkembang dengan ponsel layar sentuh. Semakin canggih disebut android yang sekarang bisa untuk mengunduh aplikasi-aplikasi, seperti WA yang menggantikan telepon dan SMS sekarang beralih menggunakan WA. Karena selain murah, hanya modal paket data saja, kita bisa sepuasnya berkirim kabar melalui WA. Apalagi ada vitur video call yang dapat menampilkan gambar saat telepon.

Dengan adanya ponsel yang memudahkan kita untuk mengunduh aplikasi tersebut, lebih bermanfaat dan membantu ketika di masa pandemi seperti sekarang ini. Kita tidak bisa bertemu satu sama lain secara langsung, juga mengubah kebiasaan kita jika bertemu orang yang lebih tua akan berjabat tangan sekarang tidak bisa. Sementara ini, ponsel sangat membantu kita dapat bertemu secara virtual. Dapat mengekspresikan diri dan maksud kita dengan stiker yang ada.

Belum lagi saat pandemi yang begitu riuh berseliweran beraneka berita. Seolah siapa pun akan berkomentar melalui media yang satu ini. Apa pun kapasitasnya, banyak komentar yang tak terbendung lagi. Oleh karena itu, selektif dalam mengikuti perkembangan berita yang ada. Serta berhati-hati dalam mencerna berbagai tulisan. Tentu saja akan lebih meyakinkan, apabila yang kita simak terkait dengan informasi pandemi adalah yang bersumber jelas medianya, dan dari kalangan yang lebih dekat dengan dunia medis lebih meyakinkan untuk dipercaya.

Adanya pandemi sempat membuat dunia berhenti beraktivitas. Sempat membuat perekonomian berhenti untuk sementara. Semua masyarakat diimbau untuk tetap di rumah saja. Kantor pabrik semua ditutup untuk sementara. Bahkan sekolah pun juga ikut ditutup oleh pemerintah. Pelaksanaan belajar mengajar dihentikan untuk sementara waktu, agar mengurangi dan dapat menghentikan penyebaran virus ini.

Baca Juga :  Serat Mi’raj: Islamisasi Melalui Mitologi Jawa-Hindu

Akan tetapi bagaimana jika itu semua berlangsung dengan waktu yang lama? Perekonomian dan pendidikan akan benar-benar berhenti jika tidak adanya inovasi. Sehingga muncul ide untuk memanfaatkan teknologi yang ada untuk membantu menjalankan kembali aktivitas meskipun tidak terjun langsung pada tempat, akan tetapi dari rumah saja.

Dalam masa pandemi ini membuat ponsel lebih bermanfaat. Yang dulu hanya digunakan untuk bermain game, sekarang beralih untuk sarana pembelajaran. Agar waktu belajar dan sekolah tidak berhenti terlalu lama untuk menunggu pandemi reda. Seperti diadakannya pembelajaran secara virtual dengan ponsel melalui Google Meet, kita tetap dapat bertemu via maya dengan teman-teman kita. Mengerjakan tugas serta mengirimnya dengan menggunakan ponsel, misalnya melalui Google Classroom.

Memanfaatkan ponsel untuk bekerja dari rumah seperti membantu online shop dan pekerja yang lain melakukan pekerjaannya dari rumah saja. Meskipun tidak semua pekerja dapat melakukan pekerjaannya dari rumah, akan tetapi sudah dapat membantu mengurangi kerumunan masyarakat, dengan bersekolah dan bekerja dari rumah.

Masa Lebaran saat pandemi pun, kita dapat lebih mudah bersilaturahmi dengan sanak saudara tanpa bertemu langsung. Kita dapat bersilaturahmi melalui ponsel. Tidak perlu pulang kampung dan mudik, cukup ucapkan ‘minal aidzin wal faidzin – mohon maaf lahir batin’ melalui pesan WA atau pun dapat telepon. Kita juga bisa bertemu atau bertatap muka secara virtual melalui Video Call (VC). Dengan menggunakan VC ini dapat menjembatani kita untuk bertemu sekaligus bertatap muka melepaskan kerinduan yang tidak terbatas oleh jarak.

Kita patut bersyukur, meskipun jauh tetapi masih dapat bertemu via maya. Dapat mengurangi rasa rindu yang membelenggu pada keluarga dan saudara yang jauh di sana. Bersyukur dapat menikmati kecanggihan teknologi yang ada pada saat ini.

Dari berbagai perkembangan fungsi yang ada dan semakin lengkap vitur dan aplikasinya, tetap saja ada keterbatasan yang menyertai. Tentu saja ada rasa yang mungkin tidak akan sampai kalau hanya dituliskan dengan kata-kata. Karena kata-kata tidak memiliki rasa, dan berbeda apabila kita menyampaikan secara langsung dengan lawan bicara kita. Karena dengan penyampaian langsung, dengan bertatap muka, ada rasa yang disampaikan. Ada hati yang memaknai. Ada ungkapan yang bisa dilihat dirasakan. Hal itu tidak akan terwakili oleh tulisan yang disampaikan lewat medsos misalnya.

Baca Juga :  Peran Guru BK di Era Digital Learning Semarakkan Semangat Merdeka

Belum lagi kalau kita merespons berbagai tulisan yang muncul melalui media daring ini. Apalagi kalau dengan tergesa-gesa menanggapi sebuah berita, yang kadang belum tentu kebenarannya. Apalagi kalau sumbernya bukan dari media yang kredibel. Nah, bisa-bisa kita akan terjebak dengan informasi yang kadang hoax adanya. Dari situ akan kelihatan dan terbaca karakter penulisnya. Apakah dia seorang yang temperamental, yang mudah tersulut emosi, ataukah yang berkarakter hati-hati. Atau sekadar merespons dengan ikut-ikutan saja. Semua akan terbaca lewat tulisan yang meluncur lewat layar ponsel yang begitu sekali klik, langsung menyebar tak terbatas.

Memang kecepatan informasi tidak bisa dipungkiri lagi, teknologi yang berkembang begitu cepat. Yang cukup dalam genggaman, menjadikan alat komunikasi utama, yang bisa membuat orang akan terasa ganjil dan kurang apabila tidak memegang alat yang satu ini. Orang bisa bingung untuk berbuat tanpa alat ini. Sehingga kadang bisa memunculkan jargon “medekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Dengan kata lain, begitu asyiknya dengan ponsel yang ada di genggaman, sehingga dalam sebuah pertemuan masing-masing berkomunikasi dengan orang yang jauh. Sementara dengan orang yang ada di sekitarnya, justru tidak berkomunikasi sama sekali alias saling membisu. Lantas, akankah lebih utama bersilaturahim dengan yang jauh daripada yang ada di dekat kita bahkan bersentuhan dengan kita?

Berbagai sisi kehidupan sudah sangat terbantu dengan teknologi ponsel yang sangat hebat perkembangannya, bahkan seperti sulapan. Mau tanya apa saja, tersedia dalam aplikasinya. Mau dagang online bisa. Mau belajar berbagai ilmu bisa didapatkan. Mau berteman tak terbatas jangkauan. Pendek kata, dunia dalam genggaman. Hanya semua itu adalah sarana, alat saja yang tidak bisa mewakili rasa. Karena bila salah tafsir dalam membaca, bisa tidak sampai pada makna sesungguhnya.

 Dengan teknologi canggih, kita harus bisa menggunakan ponsel secara bijak. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh ponsel. Karena ponsel hanya untuk membantu manusia sebagai sarana komunikasi. (*)

 

*) Mahasiswi Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta, asal Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/