Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Peran Guru dalam Tantangan Era Digital

Oleh: Badrus Sholeh*

27 November 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Peran Guru dalam Tantangan Era Digital

Share this      

ERA perkembangan digitalisasi, tampaknya semakin melesat. Inovasi dalam mengembangkan teknologi sepertinya menjadi ajang sayembara yang diminati oleh semua pihak. Terbukti pada semakin maraknya ponsel keluaran terbaru, dan semakin banyaknya aplikasi yang mewadahi segala aspek kebutuhan hidup manusia.

Sehingga, secara alamiah aspek kehidupan harus mengikuti perkembangannya. Seperti halnya dalam bidang pendidikan. Perlu adanya transformasi system dan mekanisme yang sesuai dengan era digitalisasi ini.

Tidak dapat dipungkiri, teknologi menjadi minat utama generasi muda. Sehingga banyak inovasi baru dalam ranah pendidikan yang menawarkan tutorial pembelajaran melalui digitalisasi. Contohnya saja, di YouTube sudah tidak terbilang tutorial yang tersedia untuk dijadikan bahan pembelajaran peserta didik. Bahkan cara penyajiannya lebih menarik, dan mudah untuk membuat peserta didik lebih mudah memahami.

Baca juga: Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan

Jika ilmu sudah bisa kita dapat melalui digitalisasi, dengan notabene lebih menarik, lebih mudah dipahami, dan tidak membosankan, lantas ngapain masih ada sekolah? Pertanyaan tersebut menjadi tantangan baru dalam bidang pendidikan. Artinya, jika seseorang telah menganggap sekolah tidak penting lagi, maka secara tidak langsung ia telah menganggap peran guru sudah tidak diperlukan juga. Hal ini yang perlu untuk kita kaji lebih mendalam.

 

Peran Guru di Era Digital

Perlu disadari, dunia internet tidak hanya menyajikan hal positif semata. Lebih dari itu, internet jauh lebih dominan terhadap hal negatif. Ia bagai pisau yang dimiliki seseorang. Jika orang tersebut menyalahgunakan, ia akan membahayakan dirinya sendiri. Begitu pula sebaliknya.

Artinya, bagi seorang peserta didik, sangat diperlukan adanya bimbingan dalam mengaplikasikan internet, agar mereka tidak terjerumus dalam ‘dunia hitam’ internet. Tentu bimbingan tersebut harus diberikan secara langsung melalui peran guru di sekolah.

Ivan lllich dalam bukunya, Dechooling Society (Masyarakat Tanpa Sekolah) mengatakan, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat. Maka, dalam menghadapi era digital ini, peran guru harus bertransformasi melalui sistem dan mekanisme yang baru. Menyesuaikan perkembangan zaman, agar pendidikan yang seharusnya berlangsung sepanjang hayat, tidak berhenti hanya karena perubahan zaman.

Dalam hal ini, kami menawarkan dua solusi yang efektif dan efisien. Tujuannya, agar peran guru tidak lengser oleh perkembangan zaman.

Pertama, mengajarkan murid untuk melek teknologi. Seperti melakukan bimbingan mengenai cara mencari informasi yang benar serta yang dapat bertanggung jawab. Guru juga perlu menjelaskan mengenai referensi internet yang memang benar-benar berkualitas. Agar murid tidak salah dalam mengonsumsi ilmu dari dunia maya. Selain itu, agar dalam proses pembelajaran tetap menarik, perlu kiranya profesionalitas guru ditingkatkan, sebab ini merupakan kunci utama dalam mendidik murid.

Kedua, menjadi fasilitator andal. Guru harus berperan sebagai fasilitator untuk mengembangkan minat belajar murid. Guru juga harus mampu memotivasi agar gairah dan minat belajar murid tumbuh. Serta tidak timbul kesan keterpaksaan untuk belajar bagi murid. Apabila hal ini terlaksana, maka mekanisme belajar mandiri akan terbentuk dalam diri murid. Sehingga potensi pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa akan semakin mudah dicapai.

Ketika menjadi seorang fasilitator, guru perlu mengetahui minat dan bakat muridnya. Sebab, minat merupakan kunci utama dalam belajar. Jika pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, maka kesan yang akan muncul adalah keterpaksaan belajar. Hal ini yang harus dihindari, agar efektivitas pengembangan SDM pada murid tidak tersendat, hanya karena mekanisme pembelajaran tidak sesuai harapan.

Dan hal yang lebih penting dari itu semua, guru juga sangat perlu untuk menanamkan pendidikan karakter pada murid. Memberikan pemahaman tentang dampak positif yang akan diterima jika murid menggunakan internet dengan baik. Serta dampak negatif yang akan diterima ketika murid menyalahgunakan internet. Sebab, sering kali murid lalai dan terbuai ketika sudah masuk ke rimba internet.

Dari sini, kita dapat menyadari bahwa peran guru dalam pengembangan SDM tidak akan pernah tergantikan. Sebab, guru adalah pembentuk karakter murid yang tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi apa pun. Maka, pada momen hari guru kali ini, ayo kita datangi guru-guru kita, berterima kasih padanya, dan mohon doa restu. “Wahai guruku, doakan muridmu ini agar kelak menjadi pembela negeri, penegak keadilan dan pemberantas kebatilan!” Selamat hari guru nasional! Jasamu tak akan pernah terlupakan. (*)

*) Pengamat Literasi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah, Sukorejo, Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia