alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Padi Organik, Solusi Pertanian Banyuwangi

Sebagai warga pendatang yang berdomisili di Desa Karangharjo Kecamatan Glenmore Banyuwangi penulis cukup mengapresiasi perkembangan pertanian di Banyuwangi. Membincang tentang pertanian di Bumi Blambangan tentu akan banyak cara dan sudut pandang yang bisa diulik. Baik dari sisi pemanfaatan lahan olah petani atau pun cara perkembangan hingga saat ini petani bisa berdikari untuk membangun negeri. Sebab sebagai kabupaten sentral pertanian di Jawa Timur tentu Banyuwangi cukup di untungkan dalam sektor geografi dan topografi Banyuwangi.  

Provinsi Jawa Timur sendiri berfungsi sebagai lumbung pangan nasional karena kontribusi pengadaan pangan yang sangat besar, yaitu sebesar 17% dari total nasional.  Salah satu penyumbang produksi padi di Provinsi Jawa Timur yang bertanggung jawab sebagai penyedia produksi padi adalah Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi merupakan salah satu kontributor beras terbesar di Jawa Timur.

Selain pasar beras non organik yang besar pertanian organik di Banyuwangi juga mulai bergeliat beberapa tahun terakhir. Ini  merupakan solusi yang dapat menjawab gerakan revolusi hijau yang dicanangkan pemerintah Indonesia pada tahun 1960-an. Gerakan tersebut telah menyebabkan penurunan tingkat kesuburan tanah secara drastis serta peningkatan kerusakan lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia yang tidak terkendali.

Sistem pertanian berbasis high input energy seperti pupuk dan pestisida kimia dapat merusak kesuburan tanah yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan kualitas produk pertanian yang dihasilkan sehingga muncul gerakan sistem pertanian organic yang menggunakan input produksi alamiah tanpa bahan kimia yang memicu kerusakan lingkungan. (Mayrowani, 2012).

Strategi Pemasaran
International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) mencatat, berbagai kebijakan telah dicanangkan oleh pemerintah dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia melalui beberapa kegiatan antara lain pengembangan teknologi pertanian organik, pembentukan kelompok tani organik serta strategi pemasaran produk organik dengan harapan Indonesia menjadi produsen produk organik yang dapat bersaing di tingkat dunia. Indonesia termasuk salah satu Negara yang masuk dalam The Ten Countries with The Largest organic Area 2012 di kawasan asia.

Baca Juga :  Peran UKS/M pada Pembelajaran Tatap Muka di Masa Pandemi

Sebagian besar lahan organik yang ada di Indonesia tersebar di Pulau Jawa dan digunakan untuk mengusahakan tanaman padi organik, sayuran organik hingga kopi organik. Peningkatan kesadaran masyarakat tehadap bahaya kandungan zat kimia dalam produk pertanian menjadikan produk pertanian organik mulai diminati konsumen. Data terbaru Kementerian Pertanian, komoditas padi organik menempati posisi pertama dalam capaian produksi pertanian organik Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Kabupaten Banyuwangi memiliki tiga varietas padi organic yang berhasil didaftarkan yaitu beras merah varietas Blambangan A3, beras merah varietas hitam melik A3, dan beras putih varietas SOJ A3 pada 18 November 2016 silam. Ketiga varietas tersebut telah dikembangkan di beberapa kecamatan di Banyuwangi, hingga saat ini penyebarannya semakin meluas.

Pengembangan padi organik di Kabupaten Banyuwangi telah dilakukan di tujuh kecamatan yaitu Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kecamatan Sempu, Kecamatan Licin, Kecamatan Glenmore, dan Kecamatan Kalibaru. Data Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, hanya ada dua kecamatan yang telah mendapatkan sertifikat Prima 3 dan LeSOS yaitu Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, dan Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari.

Masing-masing desa tersebut memiliki kelompok tani yang telah tersertifikasi organik yaitu Kelompok Tani Sumber Urip di Desa Watukebo dan Kelompok Tani Mendo Sampurno di Desa Sumberbaru. Perkembangan Kelompok Tani Sumber Urip memerlukan perhatian yang serius, hal tersebut karena anggota Kelompok Tani Sumber Urip merasa ragu-ragu dalam melanjutkan sistem pertanian organik sehingga terdapat petani yang memutuskan untuk kembali ke sistem konvensional.

Apresiasi Kinerja
Penerapan usaha tani padi organik oleh anggota Kelompok Tani Sumber Urip dilakukan secara bertahap melalui masa transisi (semi organik) dan telah dimulai pada tahun 2012, namun tidak semua anggota kelompok beralih dari sistem konvensional ke semi organik. Meski produktivitas pertanian organik pada tahap awal akan mengalami penurunan namun akan semakin meningkat seiring waktu.

Baca Juga :  Naturalisme Bunga Desa

Hal ini tentu berkebalikan dengan melihat produktivitas pertanian sistem konvensional akan cenderung menurun dalam jangka panjang sebab tanah akan mengalami kemiskinan unsur hara akibat rendahnya kandungan bahan organik. Selain masalah produktivitas, perbedaan mendasar dari system usaha tani padi organik dan konvensional adalah dari komponen biaya yang dikeluarkan.

Unsur pembiayaan yang digunakan dalam usaha tani padi organik dan konvensional tentu saja berbeda, hal tersebut karena sarana produksi yang digunakan kedua jenis usaha tani tersebut berbeda sehingga akan mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan. Melansir penelitian dari Kementerian Pertanian di tahun 2017 yang menuliskan bahwa pertanian nonorganik tidak meningkatkan hasil per satuan luas, bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu akibat kerusakan dampak kerusakan tanah.

Inilah yang perlu diapresiasi dari kinerja Pembkab Banyuwangi yang melihat peluang pertanian di Bumi Blambangan. Sebab dengan adanya upaya penanaman padi organik, kini beras organik Banyuwangi sudah diekspor ke Italia. Bahkan Pemkab Banyuwangi akan meluaskan cakupan ekspor hingga menembus pasar pertanian organik pertanian di dunia, seperti Amerika Serikat (AS) dan Jerman.

Ke depan, usaha-usaha mengubah paradigma petani Banyuwangi perlu kembali digiatkan. Tentu harapannya semakin meningkat kesadaran petani untuk beralih ke cara tanaman padi organik. Sebab di tengah kuota pupuk yang dibatasi dan harga pupuk non subsidi melangit.  Langkah nyata Pemkab Banyuwangi diharapkan dapat direspons baik oleh kalangan petani. (*)  

*) Mahasiswa Jurusan Ahwalusasyhiah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng, Banyuwangi.

Sebagai warga pendatang yang berdomisili di Desa Karangharjo Kecamatan Glenmore Banyuwangi penulis cukup mengapresiasi perkembangan pertanian di Banyuwangi. Membincang tentang pertanian di Bumi Blambangan tentu akan banyak cara dan sudut pandang yang bisa diulik. Baik dari sisi pemanfaatan lahan olah petani atau pun cara perkembangan hingga saat ini petani bisa berdikari untuk membangun negeri. Sebab sebagai kabupaten sentral pertanian di Jawa Timur tentu Banyuwangi cukup di untungkan dalam sektor geografi dan topografi Banyuwangi.  

Provinsi Jawa Timur sendiri berfungsi sebagai lumbung pangan nasional karena kontribusi pengadaan pangan yang sangat besar, yaitu sebesar 17% dari total nasional.  Salah satu penyumbang produksi padi di Provinsi Jawa Timur yang bertanggung jawab sebagai penyedia produksi padi adalah Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi merupakan salah satu kontributor beras terbesar di Jawa Timur.

Selain pasar beras non organik yang besar pertanian organik di Banyuwangi juga mulai bergeliat beberapa tahun terakhir. Ini  merupakan solusi yang dapat menjawab gerakan revolusi hijau yang dicanangkan pemerintah Indonesia pada tahun 1960-an. Gerakan tersebut telah menyebabkan penurunan tingkat kesuburan tanah secara drastis serta peningkatan kerusakan lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia yang tidak terkendali.

Sistem pertanian berbasis high input energy seperti pupuk dan pestisida kimia dapat merusak kesuburan tanah yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan kualitas produk pertanian yang dihasilkan sehingga muncul gerakan sistem pertanian organic yang menggunakan input produksi alamiah tanpa bahan kimia yang memicu kerusakan lingkungan. (Mayrowani, 2012).

Strategi Pemasaran
International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) mencatat, berbagai kebijakan telah dicanangkan oleh pemerintah dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia melalui beberapa kegiatan antara lain pengembangan teknologi pertanian organik, pembentukan kelompok tani organik serta strategi pemasaran produk organik dengan harapan Indonesia menjadi produsen produk organik yang dapat bersaing di tingkat dunia. Indonesia termasuk salah satu Negara yang masuk dalam The Ten Countries with The Largest organic Area 2012 di kawasan asia.

Baca Juga :  Dicari: Sikap Taat Prokes dengan Kesungguhan Hati

Sebagian besar lahan organik yang ada di Indonesia tersebar di Pulau Jawa dan digunakan untuk mengusahakan tanaman padi organik, sayuran organik hingga kopi organik. Peningkatan kesadaran masyarakat tehadap bahaya kandungan zat kimia dalam produk pertanian menjadikan produk pertanian organik mulai diminati konsumen. Data terbaru Kementerian Pertanian, komoditas padi organik menempati posisi pertama dalam capaian produksi pertanian organik Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Kabupaten Banyuwangi memiliki tiga varietas padi organic yang berhasil didaftarkan yaitu beras merah varietas Blambangan A3, beras merah varietas hitam melik A3, dan beras putih varietas SOJ A3 pada 18 November 2016 silam. Ketiga varietas tersebut telah dikembangkan di beberapa kecamatan di Banyuwangi, hingga saat ini penyebarannya semakin meluas.

Pengembangan padi organik di Kabupaten Banyuwangi telah dilakukan di tujuh kecamatan yaitu Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kecamatan Sempu, Kecamatan Licin, Kecamatan Glenmore, dan Kecamatan Kalibaru. Data Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, hanya ada dua kecamatan yang telah mendapatkan sertifikat Prima 3 dan LeSOS yaitu Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, dan Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari.

Masing-masing desa tersebut memiliki kelompok tani yang telah tersertifikasi organik yaitu Kelompok Tani Sumber Urip di Desa Watukebo dan Kelompok Tani Mendo Sampurno di Desa Sumberbaru. Perkembangan Kelompok Tani Sumber Urip memerlukan perhatian yang serius, hal tersebut karena anggota Kelompok Tani Sumber Urip merasa ragu-ragu dalam melanjutkan sistem pertanian organik sehingga terdapat petani yang memutuskan untuk kembali ke sistem konvensional.

Apresiasi Kinerja
Penerapan usaha tani padi organik oleh anggota Kelompok Tani Sumber Urip dilakukan secara bertahap melalui masa transisi (semi organik) dan telah dimulai pada tahun 2012, namun tidak semua anggota kelompok beralih dari sistem konvensional ke semi organik. Meski produktivitas pertanian organik pada tahap awal akan mengalami penurunan namun akan semakin meningkat seiring waktu.

Baca Juga :  Syukur

Hal ini tentu berkebalikan dengan melihat produktivitas pertanian sistem konvensional akan cenderung menurun dalam jangka panjang sebab tanah akan mengalami kemiskinan unsur hara akibat rendahnya kandungan bahan organik. Selain masalah produktivitas, perbedaan mendasar dari system usaha tani padi organik dan konvensional adalah dari komponen biaya yang dikeluarkan.

Unsur pembiayaan yang digunakan dalam usaha tani padi organik dan konvensional tentu saja berbeda, hal tersebut karena sarana produksi yang digunakan kedua jenis usaha tani tersebut berbeda sehingga akan mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan. Melansir penelitian dari Kementerian Pertanian di tahun 2017 yang menuliskan bahwa pertanian nonorganik tidak meningkatkan hasil per satuan luas, bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu akibat kerusakan dampak kerusakan tanah.

Inilah yang perlu diapresiasi dari kinerja Pembkab Banyuwangi yang melihat peluang pertanian di Bumi Blambangan. Sebab dengan adanya upaya penanaman padi organik, kini beras organik Banyuwangi sudah diekspor ke Italia. Bahkan Pemkab Banyuwangi akan meluaskan cakupan ekspor hingga menembus pasar pertanian organik pertanian di dunia, seperti Amerika Serikat (AS) dan Jerman.

Ke depan, usaha-usaha mengubah paradigma petani Banyuwangi perlu kembali digiatkan. Tentu harapannya semakin meningkat kesadaran petani untuk beralih ke cara tanaman padi organik. Sebab di tengah kuota pupuk yang dibatasi dan harga pupuk non subsidi melangit.  Langkah nyata Pemkab Banyuwangi diharapkan dapat direspons baik oleh kalangan petani. (*)  

*) Mahasiswa Jurusan Ahwalusasyhiah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/