alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Kelola Proses dan Limbah Kurban, Cegah Covid-19

INDONESIA telah melalui dua periode Hari Raya Idul Adha di tengah pandemi Covid-19. Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 20 Juli 2021. Sejak tahun lalu suasana Idul Adha berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada lagi rombongan jamaah haji Indonesia yang pergi ke Tanah Suci. Kondisi ini tentu sangat membuat calon jamaah haji merasa terpukul karena telah melumpuhkan semua kebutuhan manusia mulai dari urusan ekonomi hingga ibadah.

Idul Adha juga dikenal sebagai Idul Qurban atau Hari Raya Kurban. Pada hari tersebut umat muslim di seluruh dunia merayakannya dengan menyembelih hewan yang akan dikurbankan, dan dagingnya akan diberikan kepada yang berhak menerimanya.  Menurut Syariat Islam hewan yang boleh dikurbankan di antaranya sapi, kambing, domba, unta dan kerbau, dengan persyaratan tertentu. Prosesi ini biasanya berlangsung hingga tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha (Hari Tasyriq).

Di tengah ingar-bingar perayaan Hari Idul Adha atau hari Raya Kurban ada dua isu yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara, yaitu isu protokol kesehatan saat acara berlangsung dan Isu terkait Lingkungan.

Baca Juga :  Ramadan Sebagai Perisai dari Intoleransi dan Radikalisme di Medsos

Pertama, dari segi isu Protokol Kesehatan masih banyak dijumpai masyarakat yang berkerumun saat proses penyembelihan dan pendistribusian daging. Hal ini tentu memunculkan kekhawatiran di tengah naiknya angka kasus Covid-19 yang masih tinggi di Indonesia. Terkait dengan isu tersebut pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pertanian dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian lewat Surat Edaran No 0008/SE/PK.320/F/06/2020 telah mengeluarkan panduan terkait pelaksanaan Kurban, dalam Surat edaran tersebut, pemotongan hewan Kurban sebaiknya dilaksanakan di Rumah Potong Hewan (RPH), namun karena keterbatasan RPH yang ada maka  pemotongan hewan Kurban dilaksanakan di luar RPH, namun dalam pelaksanaannya perlu adanya protokol kesehatan yang baik, seperti menjaga jarak antar warga, mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, serta dilaksanakan di ruang terbuka.

Yang kedua, terkait dengan isu lingkungan. Penggunaan kantong plastik sekali pakai (single use) pada Hari Raya Kurban meningkat drastic karena digunakan dalam proses distribusi daging. Dalam satu masjid diperkirakan ada sekitar 800 paket daging yang dibagikan kepada warga sekitar, jumlah tersebut sangatlah besar bila mengingat ada lebih dari 800 ribu masjid yang ada di Indonesia (Menurut Dewan Masjid Indonesia), ada beberapa alternative yang dapat dilakukan seperti yang disarankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu dengan menggantinya menggunakan  besek, keranjang bambu, daun jati, daun pisang, atau wadah makanan yang dibawa secara mandiri oleh warga.

Baca Juga :  Ketika Lampu Sein Menyala Ke Kiri, Beloknya ke Kanan

Selain itu, prosesi pemotongan hewan Kurban juga menghasilkan limbah berupa kotoran, darah dan bagian tubuh lain yang tidak dimanfaatkan dari hewan Kurban. Biasanya bagian-bagian tersebut dibuang begitu saja aliran sungai hal ini tentu akan menimbulkan masalah pencemaran bagi sungai karena kandungan bakteri seperti E. Coli. Bakteri ini dapat menyebabkan diare. Limbah ini juga dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.

Menurut penulis, perlu adanya pelatihan khusus bagi panitia Kurban agar ke depannya tidak membuang limbah kurban pada perairan sehingga tidak mencemari perairan dan menciptakan masyarakat yang sehat baik fisik maupun mental karena keperluan ibadahnya terlaksana dengan baik. (*)

*) Dosen Teknik Lingkungan UPN “Veteran” Jawa Timur.

INDONESIA telah melalui dua periode Hari Raya Idul Adha di tengah pandemi Covid-19. Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 20 Juli 2021. Sejak tahun lalu suasana Idul Adha berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada lagi rombongan jamaah haji Indonesia yang pergi ke Tanah Suci. Kondisi ini tentu sangat membuat calon jamaah haji merasa terpukul karena telah melumpuhkan semua kebutuhan manusia mulai dari urusan ekonomi hingga ibadah.

Idul Adha juga dikenal sebagai Idul Qurban atau Hari Raya Kurban. Pada hari tersebut umat muslim di seluruh dunia merayakannya dengan menyembelih hewan yang akan dikurbankan, dan dagingnya akan diberikan kepada yang berhak menerimanya.  Menurut Syariat Islam hewan yang boleh dikurbankan di antaranya sapi, kambing, domba, unta dan kerbau, dengan persyaratan tertentu. Prosesi ini biasanya berlangsung hingga tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha (Hari Tasyriq).

Di tengah ingar-bingar perayaan Hari Idul Adha atau hari Raya Kurban ada dua isu yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara, yaitu isu protokol kesehatan saat acara berlangsung dan Isu terkait Lingkungan.

Baca Juga :  Jalur Manggis

Pertama, dari segi isu Protokol Kesehatan masih banyak dijumpai masyarakat yang berkerumun saat proses penyembelihan dan pendistribusian daging. Hal ini tentu memunculkan kekhawatiran di tengah naiknya angka kasus Covid-19 yang masih tinggi di Indonesia. Terkait dengan isu tersebut pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pertanian dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian lewat Surat Edaran No 0008/SE/PK.320/F/06/2020 telah mengeluarkan panduan terkait pelaksanaan Kurban, dalam Surat edaran tersebut, pemotongan hewan Kurban sebaiknya dilaksanakan di Rumah Potong Hewan (RPH), namun karena keterbatasan RPH yang ada maka  pemotongan hewan Kurban dilaksanakan di luar RPH, namun dalam pelaksanaannya perlu adanya protokol kesehatan yang baik, seperti menjaga jarak antar warga, mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, serta dilaksanakan di ruang terbuka.

Yang kedua, terkait dengan isu lingkungan. Penggunaan kantong plastik sekali pakai (single use) pada Hari Raya Kurban meningkat drastic karena digunakan dalam proses distribusi daging. Dalam satu masjid diperkirakan ada sekitar 800 paket daging yang dibagikan kepada warga sekitar, jumlah tersebut sangatlah besar bila mengingat ada lebih dari 800 ribu masjid yang ada di Indonesia (Menurut Dewan Masjid Indonesia), ada beberapa alternative yang dapat dilakukan seperti yang disarankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu dengan menggantinya menggunakan  besek, keranjang bambu, daun jati, daun pisang, atau wadah makanan yang dibawa secara mandiri oleh warga.

Baca Juga :  Fenonema Bocil Bermotor Bersahabat dengan Setan Gepeng

Selain itu, prosesi pemotongan hewan Kurban juga menghasilkan limbah berupa kotoran, darah dan bagian tubuh lain yang tidak dimanfaatkan dari hewan Kurban. Biasanya bagian-bagian tersebut dibuang begitu saja aliran sungai hal ini tentu akan menimbulkan masalah pencemaran bagi sungai karena kandungan bakteri seperti E. Coli. Bakteri ini dapat menyebabkan diare. Limbah ini juga dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.

Menurut penulis, perlu adanya pelatihan khusus bagi panitia Kurban agar ke depannya tidak membuang limbah kurban pada perairan sehingga tidak mencemari perairan dan menciptakan masyarakat yang sehat baik fisik maupun mental karena keperluan ibadahnya terlaksana dengan baik. (*)

*) Dosen Teknik Lingkungan UPN “Veteran” Jawa Timur.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/