alexametrics
23 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Geopark Ijen, Pusat Edukasi dan Literasi Milik Indonesia

KETIKA berbicara geopark, kita tak hanya berbicara mengenai wisata semata. Mengutip pengertian geopark dari UNESCO, bahwa geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi di mana masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam, termasuk nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang ada di dalamnya. Artinya, banyak sekali hal yang bisa kita dapatkan ketika berkunjung ke sebuah geopark yang ada di dunia, salah satunya adalah Geopark Ijen.

 

Di Geopark Ijen kita bisa mendapatkan banyak sekali pengetahuan. Mulai dari proses terbentuknya daerah ini secara geologi, hewan dan tumbuhan yang mendiami kawasan ini, hingga kebudayaan yang ada serta masyarakat yang membuat dan melestarikan budaya tersebut.

 

Dari sejarah geologi, pembentukan kawasan Banyuwangi dan Bondowoso ini berawal dari daerah selatan, yaitu mulai dari kawasan Taman Nasional Meru Betiri bagian Banyuwangi hingga kawasan Taman Nasional Alas Purwo yang kita kenal memiliki ujung yang sangat indah, yaitu Semenanjung Blambangan.

 

Pada kala 35 juta tahun yang lalu daerah ini merupakan kawasan pegunungan aktif yang saat ini hanya ada sisa- sisa bukit batu maupun batuan yang dapat kita amati di sepanjang kawasan ini. Pada kala itu, daerah utara Banyuwangi dan Bondowoso masih belum memiliki jajaran pegunungan seperti sekarang, diperkirakan di kala itu masih berbentuk danau besar.

 

Ketika pegunungan api selatan mulai tidak aktif akibat suplai magma dari dapur magma yang berada di bawah gunung api telah habis,maka gunung-gunung tersebut mulai runtuh hingga tersisa sebagian saja berupa bukit- bukit kecil. Barulah kemudian mulai terbentuk pegunungan di sebelah utara yang dapat kita amati dengan jelas ketika kita melakukan perjalanan darat maupun udara. Hal ini diakibatkan sumber magma bergeser ke arah utara sehingga memunculkan deretan pegunungan api sekitar 300 ribu tahun yang lalu. Pegunungan itu berjejer dengan indah mulai dari Merapi, Ijen, Suket, Rante, Pendil, Raung dll.

 

Tak hanya geologi, di Geopark Ijen juga terdapat banyak sekali jenis flora dan fauna yang tersebar di seluruh kawasan. Hal ini tak lain didukung oleh adanya beberapa kawasan taman nasional dan cagar alam. Taman Nasional Alas Purwo yang dipercaya sebagai hutan tertua di Pulau Jawa mendominasi dengan keragaman biologinya. Di kawasan ini kita bisa mengamati padang savana dengan berbagai macam fauna yang berada di sana seperti banteng jawa, merak hijau, ajag, rusa, burung jalak , elang, dan masih banyak lainnya. Selain itu di kawasan ini juga terdapat konservasi penyu di Ngagelan, jalur hutan bambu, jalur burung berkicau, hingga kawasan mangrove yang beragam jenis dengan keindahan kumpulan burung blekoknya. Yang paling menarik adalah kita masih bisa menemui macan tutul yang gagah perkasa di kawasan ini apabila beruntung.

Baca Juga :  Menparekraf Sandiaga Uno Dukung Geopark Ijen Lolos Global Geopark

Beralih di kawasan Taman Nasional Meru Betiri wilayah Banyuwangi di mana terdapat surganya penyu dari Samudra Hindia dan Pasifik untuk bertelur yaitu tepatnya di Pantai Sukamade. Hal ini didukung oleh tempat dari pantai ini yang terpencil sehingga penyu-penyu bisa merasa aman dan nyaman untuk bertelur. Ada beberapa jenis penyu yang ada di kawasan ini antara lain penyu hijau, penyu slengkrah, penyu belimbing, dan penyu sisik. Tak ayal apabila kawasan ini disebut sebagai tempat terbaik untuk pendaratan penyu hijau di Indonesia karena penyu hijau paling banyak ditemui di kawasan ini. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang diterbitkan oleh World Wide Fund For Nature.

 

Yang tak kalah menarik adalah di kawasan selingkar Ijen, di mana kawasan ini sudah menjadi pusat studi keragaman biologi pada tahun 1800-an. Jean-Baptiste Louis Claude Théodore Leschenault La Tour, seorang ahli botani dan ahli burung dari Prancis mengunjungi dan melakukan observasi kawasan Kawah Ijen pada tahun 1805 (Leschenault de la Tour, 1858). Ada beberapa hal menarik di kawasan ini, salah satunya puyuh gonggong yang merupakan jenis burung endemik dataran tinggi Jawa Timur Indonesia dan saat ini dalam status vulnerable dengan populasi yang terus menurun (IUCN Redlist tahun 2020).

 

Salah satu tumbuhan paku yang ada di kawasan selingkar Ijen yaitu paku pohon (Cyathea contaminans) yang merupakan fosil hidup atau paku pohon tertua karena fosilnya ditemukan di era akhir Jurassic. Jenis tumbuhan ini tumbuh dengan baik karena mampu mencapai tinggi di atas 6 meter. Kita dapat mengamati dengan jelas fenomena ini ketika masuk kawasan Ijen bagian hutan Erek-Erek.

Baca Juga :  Balawangi Ingin Ipuk Jadi Penerus Bupati Anas

 

Selain itu di kawasan selingkar Ijen juga terdapat Hutan Pelangi yang didominasi oleh pohon Eucalyptus yang berada di daerah Sumberwringin, Bondowoso. Karakteristik pohon ini yang menunjukkan gradasi warna-warna seperti pelangi yang disebabkan oleh proses oksidasi kambium batang dengan oksigen sehingga berturut-turut menghasilkan warna hijau, kuning, biru, jingga, hingga cokelat (Garner, 2006). Tak lupa bahwa di kawasan ini merupakan surga bagi para pencinta kopi. Kopi arabika khas dataran tinggi Ijen, ada kopi organik di daerah Gombengsari, ada juga kopi robusta, excelsa, maupun liberica.

 

Tak lengkap ketika berbicara lanskap namun tak berbicara masyarakat yang mendiami kawasan dan budaya yang telah ada di kawasan ini. Proses geologi yang cukup panjang membuat keberagaman budaya di kawasan ini cukup bervariasi, ditambah lagi dengan garis pantai yang sangat panjang membuat kemajemukan suku dan bangsa di kawasan ini. Adanya sisa pegunungan selatan dan juga gunung aktif di masa sekarang membuat ada banyak peradaban prasejarah di kawasan ini. Mulai dari Situs Neolitikum Kendenglembu, Situs Megalitikum Mulyosari, Situs Gua Buta Sumbercanting, Situs Maskuning Kulon, dan masih banyak lainnya.

 

Untuk masyarakat adat di kawasan ini diwakili oleh etnis Using, di mana representasinya ada di Desa Kemiren. Dengan corak agraris sesuai kondisi geografis dari kawasan ini, tak sulit bagi kita menemui budaya-budaya yang dijunjung tinggi di kawasan ini. Rumah adat, ritual, tarian, mocoan Lontar Yusup, dan masih banyak lainnya.

 

Setiap sisi pembentukan tak hanya memiliki keindahan pemandangan dan penampilan saja, namun juga sangat penting dalam hal pengetahuan. Edukasi dan literasi mengenai keidentikan wilayah harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Semua keunikan-keunikan yang ada di Geopark Ijen merupakan hal yang menarik untuk dipelajari semua kalangan. Geopark Ijen siap menjadi pusat studi dan literasi untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata dunia. (*)

 

*) Ketua Harian Geopark Ijen, Wakil Ketua GABAN.

KETIKA berbicara geopark, kita tak hanya berbicara mengenai wisata semata. Mengutip pengertian geopark dari UNESCO, bahwa geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi di mana masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam, termasuk nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang ada di dalamnya. Artinya, banyak sekali hal yang bisa kita dapatkan ketika berkunjung ke sebuah geopark yang ada di dunia, salah satunya adalah Geopark Ijen.

 

Di Geopark Ijen kita bisa mendapatkan banyak sekali pengetahuan. Mulai dari proses terbentuknya daerah ini secara geologi, hewan dan tumbuhan yang mendiami kawasan ini, hingga kebudayaan yang ada serta masyarakat yang membuat dan melestarikan budaya tersebut.

 

Dari sejarah geologi, pembentukan kawasan Banyuwangi dan Bondowoso ini berawal dari daerah selatan, yaitu mulai dari kawasan Taman Nasional Meru Betiri bagian Banyuwangi hingga kawasan Taman Nasional Alas Purwo yang kita kenal memiliki ujung yang sangat indah, yaitu Semenanjung Blambangan.

 

Pada kala 35 juta tahun yang lalu daerah ini merupakan kawasan pegunungan aktif yang saat ini hanya ada sisa- sisa bukit batu maupun batuan yang dapat kita amati di sepanjang kawasan ini. Pada kala itu, daerah utara Banyuwangi dan Bondowoso masih belum memiliki jajaran pegunungan seperti sekarang, diperkirakan di kala itu masih berbentuk danau besar.

 

Ketika pegunungan api selatan mulai tidak aktif akibat suplai magma dari dapur magma yang berada di bawah gunung api telah habis,maka gunung-gunung tersebut mulai runtuh hingga tersisa sebagian saja berupa bukit- bukit kecil. Barulah kemudian mulai terbentuk pegunungan di sebelah utara yang dapat kita amati dengan jelas ketika kita melakukan perjalanan darat maupun udara. Hal ini diakibatkan sumber magma bergeser ke arah utara sehingga memunculkan deretan pegunungan api sekitar 300 ribu tahun yang lalu. Pegunungan itu berjejer dengan indah mulai dari Merapi, Ijen, Suket, Rante, Pendil, Raung dll.

 

Tak hanya geologi, di Geopark Ijen juga terdapat banyak sekali jenis flora dan fauna yang tersebar di seluruh kawasan. Hal ini tak lain didukung oleh adanya beberapa kawasan taman nasional dan cagar alam. Taman Nasional Alas Purwo yang dipercaya sebagai hutan tertua di Pulau Jawa mendominasi dengan keragaman biologinya. Di kawasan ini kita bisa mengamati padang savana dengan berbagai macam fauna yang berada di sana seperti banteng jawa, merak hijau, ajag, rusa, burung jalak , elang, dan masih banyak lainnya. Selain itu di kawasan ini juga terdapat konservasi penyu di Ngagelan, jalur hutan bambu, jalur burung berkicau, hingga kawasan mangrove yang beragam jenis dengan keindahan kumpulan burung blekoknya. Yang paling menarik adalah kita masih bisa menemui macan tutul yang gagah perkasa di kawasan ini apabila beruntung.

Baca Juga :  Geopark Ijen, Pusat Edukasi dan Literasi Milik Indonesia

Beralih di kawasan Taman Nasional Meru Betiri wilayah Banyuwangi di mana terdapat surganya penyu dari Samudra Hindia dan Pasifik untuk bertelur yaitu tepatnya di Pantai Sukamade. Hal ini didukung oleh tempat dari pantai ini yang terpencil sehingga penyu-penyu bisa merasa aman dan nyaman untuk bertelur. Ada beberapa jenis penyu yang ada di kawasan ini antara lain penyu hijau, penyu slengkrah, penyu belimbing, dan penyu sisik. Tak ayal apabila kawasan ini disebut sebagai tempat terbaik untuk pendaratan penyu hijau di Indonesia karena penyu hijau paling banyak ditemui di kawasan ini. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang diterbitkan oleh World Wide Fund For Nature.

 

Yang tak kalah menarik adalah di kawasan selingkar Ijen, di mana kawasan ini sudah menjadi pusat studi keragaman biologi pada tahun 1800-an. Jean-Baptiste Louis Claude Théodore Leschenault La Tour, seorang ahli botani dan ahli burung dari Prancis mengunjungi dan melakukan observasi kawasan Kawah Ijen pada tahun 1805 (Leschenault de la Tour, 1858). Ada beberapa hal menarik di kawasan ini, salah satunya puyuh gonggong yang merupakan jenis burung endemik dataran tinggi Jawa Timur Indonesia dan saat ini dalam status vulnerable dengan populasi yang terus menurun (IUCN Redlist tahun 2020).

 

Salah satu tumbuhan paku yang ada di kawasan selingkar Ijen yaitu paku pohon (Cyathea contaminans) yang merupakan fosil hidup atau paku pohon tertua karena fosilnya ditemukan di era akhir Jurassic. Jenis tumbuhan ini tumbuh dengan baik karena mampu mencapai tinggi di atas 6 meter. Kita dapat mengamati dengan jelas fenomena ini ketika masuk kawasan Ijen bagian hutan Erek-Erek.

Baca Juga :  Di Balik Sukses Banyuwangi Jadi Ikon Wisata Jatim

 

Selain itu di kawasan selingkar Ijen juga terdapat Hutan Pelangi yang didominasi oleh pohon Eucalyptus yang berada di daerah Sumberwringin, Bondowoso. Karakteristik pohon ini yang menunjukkan gradasi warna-warna seperti pelangi yang disebabkan oleh proses oksidasi kambium batang dengan oksigen sehingga berturut-turut menghasilkan warna hijau, kuning, biru, jingga, hingga cokelat (Garner, 2006). Tak lupa bahwa di kawasan ini merupakan surga bagi para pencinta kopi. Kopi arabika khas dataran tinggi Ijen, ada kopi organik di daerah Gombengsari, ada juga kopi robusta, excelsa, maupun liberica.

 

Tak lengkap ketika berbicara lanskap namun tak berbicara masyarakat yang mendiami kawasan dan budaya yang telah ada di kawasan ini. Proses geologi yang cukup panjang membuat keberagaman budaya di kawasan ini cukup bervariasi, ditambah lagi dengan garis pantai yang sangat panjang membuat kemajemukan suku dan bangsa di kawasan ini. Adanya sisa pegunungan selatan dan juga gunung aktif di masa sekarang membuat ada banyak peradaban prasejarah di kawasan ini. Mulai dari Situs Neolitikum Kendenglembu, Situs Megalitikum Mulyosari, Situs Gua Buta Sumbercanting, Situs Maskuning Kulon, dan masih banyak lainnya.

 

Untuk masyarakat adat di kawasan ini diwakili oleh etnis Using, di mana representasinya ada di Desa Kemiren. Dengan corak agraris sesuai kondisi geografis dari kawasan ini, tak sulit bagi kita menemui budaya-budaya yang dijunjung tinggi di kawasan ini. Rumah adat, ritual, tarian, mocoan Lontar Yusup, dan masih banyak lainnya.

 

Setiap sisi pembentukan tak hanya memiliki keindahan pemandangan dan penampilan saja, namun juga sangat penting dalam hal pengetahuan. Edukasi dan literasi mengenai keidentikan wilayah harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Semua keunikan-keunikan yang ada di Geopark Ijen merupakan hal yang menarik untuk dipelajari semua kalangan. Geopark Ijen siap menjadi pusat studi dan literasi untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata dunia. (*)

 

*) Ketua Harian Geopark Ijen, Wakil Ketua GABAN.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/