Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Suara-Suara Itu tak Bisa Dipenjarakan, di Sana Bersemayam Kemerdakaan

Oleh : Shovy Al Bukhory*

25 September 2021, 12: 50: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Suara-Suara Itu tak Bisa Dipenjarakan, di Sana Bersemayam Kemerdakaan

Share this      

TULISAN ini sengaja dibuat sedikit terlambat. Hanya untuk melihat respons masyarakat terhadap narasi-narasi politik, kekuasaan, yang semakin berakar dan berurat. Seperti salah satunya, tentang mural-mural yang (hendak) diabadikan pada dinding-dinding umat, tapi berujung tak selamat.

Sampai detik ini, persoalan tersebut dirasa tetap masih hangat untuk disajikan. Melihatnya dari berbagai sudut pandang. Lebih-lebih dalam konteks negara demokrasi. Sekelumit penggalan Konstitusi Negara UUD 1945 barang kali dapat menjadi muqadimah ula dari substansi tulisan ini. Ia berbunyi, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat. Pasal 28 E ayat 3.”

Fakta yang menggelikan. Bila kebebasan berpendapat sudah mendapat ruang dalam konstitusi, tapi kenyataan di lapangan justru seakan dipersempit. Bahkan tanpa celah sedikit. Tak perlu jauh-jauh mencari kebenaran, contoh saja seperti “Mural” yang gencar diperbincangkan.

Baca juga: Adaptasi Belajar Daring dan Luring

Bukankah negara yang demokrasi sudah sepatutnya bersikap demokrasi terhadap segala ekspresi. Bukankah bila dua tiga ketukan nada bicara verbal sudah tak lagi sampai, maka suara-suara lain perlu digemakan melalui tulisan-tulisan, bahkan sampai bentuk seni rupa-pun perlu diguratkan pada tembok-tembok yang telah beruban. Adakah kesalahan? Atau hanya suka mempermasalahkan yang tak seharusnya dipermasalahkan? Atau memang merasa salah yang kemudian tak ingin disalahkan? Tak perlu dijawab. Bahkan tulisan ini pun tak berhasrat untuk menjawab.

Bila hendak berbicara seni. Tulisan ini tak memiliki kapasitas untuk membahasnya. Mulai dari kulit, darah daging, bahkan tulang belulang. Tapi bila ingin berbicara tentang berapa banyak pencinta seni, (mungkin) tulisan ini di antara seper sekian.

Sebagai muqadimah Tsani, tulisan ini akan masuk dari hal yang paling mendasar perihal kompleksitas “Mural.” Ia adalah salah satu bentuk karya seni. Rupa yang di dalamnya menyimpan suara. Sebagaimana karya seni, memantulkan keindahan. Keindahan menjadi salah satu tabiat yang disukai manusia sebagai makhluk berakal. Makhluk yang dianugerahi rasa, emosi, dan spiritual. Semua itu berkelindan dalam jiwa. Yang kemudian Tuhan membungkusnya dengan jasad dalam bentuk rupa.

Berikutnya, eksistensi jiwa. Jiwa merupakan sesuatu yang tak kasat mata. Bersifat abstrak. Tapi bukan berarti tak bisa dilihat. Bukan bermakna ketiadaan. Di sini kemudian manusia membutuhkan ekspresi. Agar apa pun perasaan yang sedang bersemayam, dapat dimerdekakan. Maka kemudian lahirlah tulisan-tulisan. Lahirlah lukisan-lukisan. Sebagaimana pernyataan salah seorang penyair ulung dalam kutipan syairnya, “Bila Tuhan mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah keagamaan, maka para penyair (seniman, budayawan) diutus Tuhan ke bumi untuk menyampaikan risalah kemanusiaan.”(baca: buku puisi “Khalwat Kota Tua”2021)

Sampai di sini seperti tiba pada sebuah kesadaran baru. Bahwa para pelukis mural bisa juga disebut sebagai penyampai risalah itu. Memiliki kepekaan yang tajam juga kesadaran yang disadari. Mereka menerjemahkan pesta demokrasi bukan hanya terjadi lima tahun sekali yang bersifat prosedural. Tapi lebih kepada Control Decision Making (pengambilan keputusan), yang juga dalam kata lain terdapat makna Participation. Dalam konteks Suara Rakyat, para seniman (mural) tersebut dapat dikatakan sebagai para partisipan yang juga peduli akan keberlangsungan progress suatu negara. Titik pijak yang mereka lihat, apakah sudah melangkah untuk melakukan pembenahan-pembenahan, atau malah melangkah untuk menjemput kematian. Mereka tergerak untuk turut serta memberi kritik, saran, agar yang tersumbat bisa kembali mengalir, lalu (ter)sampai(kan). Seolah seperti posisi baru, atau posisi lama yang diperbarui dengan cara berbeda. Posisi yang ditempati para mahasiswa yang berguru langsung pada realita.

Post-post kritis yang kemudian tidak hanya berada dalam ruang kampus, tapi juga di jalan-jalan, di gang belokan, bawah jembatan, simpang tiga, empat, bahkan di pagar-pagar. Yang nilai lebihnya, ia dikemas dengan artistik, dengan cara yang elegan. Semacam cagar alam intelektual yang terbentuk secara alami. Dan murni dari hati.

Akan disayangkan bila kemudian risalah-risalah (mural) itu dihilangkan, dihapus, bahkan para penyampaiannya diburu aparat setempat. keadaan tersebut hanya akan semakin memberi indikasi bahwa demokrasi negara ini benar-benar merosot. Selama dua tahun terakhir.(Catatan Demokrasi 29/6). Bahkan lebih dari itu. Kebebasan Civil Society akan menjadi asing bila tindakan-tindakan represi dari berbagai pihak terus dilayangkan.

Tulisan ini hanya mampu berbicara sesuai dengan kapasitas dan tempatnya. Bukan dari pengacara, akademisi, politisi. Ia hanya seorang santri yang selalu terngiang dalam benaknya suara lain, “suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan.” Lalu mencoba aktif di segala sisi.(*)

*) Santri Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo.

(bw/*/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia