Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Critical Thinking Bekal Menghadapi Era Society 5.0

Oleh : Putri Novai Wulandari *

25 September 2021, 17: 25: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Critical Thinking Bekal Menghadapi Era Society 5.0

Share this      

GEJOLAK manusia untuk maju dan berkembang merupakan keniscayaan terus tumbuh. Teknologi dan pikiran manusia layaknya perlombaan saling susul-menyusul berebut untuk menjadi yang terdepan. Belum seluruh masyarakat Indonesia memahami dan mengaplikasikan teknologi revolusi industri 4.0, kini kita dihadapkan kembali dengan perkembangan era society 5.0. Negara Jepang adalah sebagai penggagas era society 5.0 yang dirumuskan oleh Perdana Menterinya, Shinzo Abe, dan diresmikan pada 21 Januari 2019.

       Lalu, apa yang dimaksud dengan era society 5.0 dan hubungannya dengan revolusi industri 4.0?  Society 5.0 adalah suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).

Konsep ini lahir sebagai pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. Prinsipnya mendasarkan pada peran manusia bersama teknologi yang sudah tercipta sehingga membuat keseimbangan antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial. Society 5.0 merupakan era semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri, internet bukan hanya digunakan untuk sekadar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan.

Baca juga: Mengukur dengan Alat Ukur yang Tidak Terukur

       Dalam menghadapi society 5.0 masyarakat harus siap beradaptasi dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Tiga kemampuan utamanya adalah kemampuan memecahkan masalah kompleks, kemampuan berpikir secara kritis, dan kemampuan untuk berkreasi. Manusia dituntut untuk lebih cepat menghasilkan solusi dalam memenuhi kebutuhannya. Hal ini berdampak pada manusia untuk terus menggali informasi, serta menciptakan inovasi baru guna menunjang kelangsungan hidupnya. Manusia di era ini harus mampu bersikap dan berpikir maju.

       Hal yang terpenting dalam menghadapi era society 5.0 ini adalah kemampuan berpikir secara kritis (critical thinking). Mengapa critical thinking? Karena menurut Forbes (2018) kemampuan berpikir kritis merupakan satu dari tujuh kemampuan yang tidak akan tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI) dan robot sejenisnya.

Secanggih apa pun teknologi, manusia akan selalu lebih unggul dalam hal berpikir kritis. Penyebaran informasi yang sangat bebas dan mudah diakses, mengharuskan masyarakat untuk mampu memilah informasi yang diterima secara kritis. Hal ini agar seseorang tidak dengan mudah termakan hoax, memperoleh informasi yang menyesatkan, dan sebagainya. Berpikir kritis juga dapat merangsang kreativitas seseorang untuk terus berinovasi.

Apa yang dimaksud dengan critical thinking? Berpikir kritis atau critical thinking menurut Michael Scriven, dari Claremont Graduate University, adalah proses disiplin intelektual untuk secara aktif dan terampil membuat konsep, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan/atau mengevaluasi informasi.

Berpikir kritis adalah sebuah proses membuat penilaian yang logis dan masuk akal. Ketika seseorang berpikir dengan kritis, mereka tidak serta merta menerima semua argumen dan kesimpulan begitu saja, mereka juga harus mempertanyakan validitas dari argumen dan kesimpulan tersebut. Singkatnya, berpikir kritis adalah kemampuan berpikir jernih dan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang harus dipercaya.

Untuk mampu berpikir kritis, seseorang dapat mempelajari dengan cara mengidentifikasi, membangun, dan mengevaluasi sebuah argumen terkait isu yang menarik perhatian. Misalnya dengan mencoba memahami hubungan logis dalam setiap ide yang dikemukakan, mendeteksi apakah ada inkonsistensi dan kesalahan umum di dalam penalaran, mencoba memecahkan masalah secara sistematis, dan mengidentifikasi apa relevansi dan pentingnya sebuah atau beberapa ide. Seorang pemikir kritis harus mampu mencari sumber informasi yang relevan, membuat kesimpulan yang logis, dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah (problem solving).

Orang yang mampu berpikir kritis berarti dia mampu menyelesaikan masalah secara sistematis. Pemikir kritis dapat meningkatkan keterampilan intelektual yang fleksibel, memiliki kemampuan menganalisis informasi, dan mengintegrasi berbagai sumber pengetahuan untuk memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan tantangan yang dihadapkan di era society 5.0. Era yang mengacu pada komponen manusia itu sendiri. Manusia sebagai pusatnya (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).

Dalam era society 5.0 informasi akan menyebar dengan cepat sejalan dengan mobilisasi manusia dan pergerakan teknologi. Masyarakat harus cepat tanggap, cepat beradaptasi, dan segera mengaplikasikan agar Indonesia tidak tertinggal dengan negara-negara lain yang teknologi dan Sumber Daya Manusianya terus mengalami kemajuan. Namun dibalik kemajuan teknologi yang sangat pesat itu, masyarakat harus tetap memegang teguh jati diri Bangsa Indonesia. (*)

*) Guru di MTsN 1 Banyuwangi.

(bw/*/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia