alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

”Polisi” Penghuni Surga

LABELISASI ”mampu” senantiasa disematkan pada kewajiban ibadah haji, baik menyangkut stamina fisik, waktu, maupun biaya. Tidak setiap muslim berkesempatan menunaikan haji, namun tiap muslim berhak untuk berharap bisa melaksanakannya.

  Sekelas jenderal polisi sekaligus gubernur ternyata tidak menjamin ”mampu” memperoleh gelar haji, termasuk di antaranya adalah Brigjen Kaharudin Datuk Rangkayo Basa yang sampai purnatugas sebagai kapolda dan gubernur pun belum ”mampu” pergi haji.

  Kesederhanaan hidup beliau menyentuh hati Kapolri yang ketika itu dijabat Jenderal Soetjipto Joedodihardjo mengutus Brigjen Amir Machmud untuk menjemput Brigjen Kahar supaya berangkat haji atas fasilitas Kapolri. ”Malu kalau naik haji diuruskan Kapolri” ujar Kahar menolak tawaran Brigjen Amir.

  Tiga tahun kemudian datanglah kepada Brigjen Kahar, Bupati Tanah Datar Mahjoeddin Algamar bersama Walikota Padang Achirul Jahja menawari beliau untuk bersedia pergi haji.

”Jadi maksud kalian mau menggunakan uang negara untuk ongkos naik haji saya,” ujar Kahar dengan nada tinggi.

  ”Bukan begitu, Bapak. Kami anak-anak Bapak, kami akan iuran dengan uang pribadi kami,” kata Mahjoedin meyakinkan Kahar bahwa uang ONH halal seratus persen.

  Akhirnya luluh juga hati Kahar menerima tawaran haji mereka. Namun, muncul masalah baru karena keluarga ingin istrinya menyertai Kahar pergi haji. Hingga keduanya sepakat menjual satu-satunya tanah milik mereka untuk menutup ONH sang istri. Padahal sebagai kapolda dan gubernur bisa saja beliau menggunakan fasilitas negara untuk haji.

  Kurun waktu lima puluh tahun kemudian, di wilayah Polda Riau hadir sosok Ipda Auzar,  polisi yang istikamah sebagai muazin sekaligus guru ngaji dan menghabiskan waktu di luar tugasnya mengurus 500-an anak yatim dalam pesantren yang diasuhnya.

  Menjelang Ramadan tahun ini, beliau berkirim WA kepada Wakapolri, ”ya Allah, di penghujung bulan Sya’ban ini, kukirimkan doa untuk saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang aku hormati serta orang-orang yang aku cintai. Beri mereka kesehatan, tawadu dalam iman dan Islam, keluarga yang bahagia, rezeki yang barokah. Serta terimalah amal ibadahnya dan pertemukanlah mereka dengan Ramadan yang segera datang ini”.

  Sudah menjadi kebiasaan beliau, setiap akan memulai tugas tak lupa melaksanakan salat Duha terlebih dahulu. Namun jalan syahid dipilihkan oleh Allah saat turun dari lantai dua masjid Polda menuju pagar samping yang menjadi pintu keluar mendadak mobil yang dikendarai terduga teroris ”takfiri” menabraknya.

  Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Bau harum surga benar-benar milik kalian berdua ”polisi” pelayan bangsa, Bang Kahar dan Bang Auzar.

”Barang siapa mengerjakan kejahatan maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu, dan barang siapa mengerjakan kebajikan, laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga,” QS Ghofir : 40. (*)

LABELISASI ”mampu” senantiasa disematkan pada kewajiban ibadah haji, baik menyangkut stamina fisik, waktu, maupun biaya. Tidak setiap muslim berkesempatan menunaikan haji, namun tiap muslim berhak untuk berharap bisa melaksanakannya.

  Sekelas jenderal polisi sekaligus gubernur ternyata tidak menjamin ”mampu” memperoleh gelar haji, termasuk di antaranya adalah Brigjen Kaharudin Datuk Rangkayo Basa yang sampai purnatugas sebagai kapolda dan gubernur pun belum ”mampu” pergi haji.

  Kesederhanaan hidup beliau menyentuh hati Kapolri yang ketika itu dijabat Jenderal Soetjipto Joedodihardjo mengutus Brigjen Amir Machmud untuk menjemput Brigjen Kahar supaya berangkat haji atas fasilitas Kapolri. ”Malu kalau naik haji diuruskan Kapolri” ujar Kahar menolak tawaran Brigjen Amir.

  Tiga tahun kemudian datanglah kepada Brigjen Kahar, Bupati Tanah Datar Mahjoeddin Algamar bersama Walikota Padang Achirul Jahja menawari beliau untuk bersedia pergi haji.

”Jadi maksud kalian mau menggunakan uang negara untuk ongkos naik haji saya,” ujar Kahar dengan nada tinggi.

  ”Bukan begitu, Bapak. Kami anak-anak Bapak, kami akan iuran dengan uang pribadi kami,” kata Mahjoedin meyakinkan Kahar bahwa uang ONH halal seratus persen.

  Akhirnya luluh juga hati Kahar menerima tawaran haji mereka. Namun, muncul masalah baru karena keluarga ingin istrinya menyertai Kahar pergi haji. Hingga keduanya sepakat menjual satu-satunya tanah milik mereka untuk menutup ONH sang istri. Padahal sebagai kapolda dan gubernur bisa saja beliau menggunakan fasilitas negara untuk haji.

  Kurun waktu lima puluh tahun kemudian, di wilayah Polda Riau hadir sosok Ipda Auzar,  polisi yang istikamah sebagai muazin sekaligus guru ngaji dan menghabiskan waktu di luar tugasnya mengurus 500-an anak yatim dalam pesantren yang diasuhnya.

  Menjelang Ramadan tahun ini, beliau berkirim WA kepada Wakapolri, ”ya Allah, di penghujung bulan Sya’ban ini, kukirimkan doa untuk saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang aku hormati serta orang-orang yang aku cintai. Beri mereka kesehatan, tawadu dalam iman dan Islam, keluarga yang bahagia, rezeki yang barokah. Serta terimalah amal ibadahnya dan pertemukanlah mereka dengan Ramadan yang segera datang ini”.

  Sudah menjadi kebiasaan beliau, setiap akan memulai tugas tak lupa melaksanakan salat Duha terlebih dahulu. Namun jalan syahid dipilihkan oleh Allah saat turun dari lantai dua masjid Polda menuju pagar samping yang menjadi pintu keluar mendadak mobil yang dikendarai terduga teroris ”takfiri” menabraknya.

  Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Bau harum surga benar-benar milik kalian berdua ”polisi” pelayan bangsa, Bang Kahar dan Bang Auzar.

”Barang siapa mengerjakan kejahatan maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu, dan barang siapa mengerjakan kebajikan, laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga,” QS Ghofir : 40. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/