alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Catatan: Bela Zain Taqiyya*

Dampak Makanan Cepat Saji bagi Kesehatan

MAKANAN cepat saji (fast food) adalah makanan yang pengolahannya dalam waktu cepat dan pembuatannya sangat mudah. Makanan ini juga disebut makanan instan. Alasan orang-orang mengonsumsi makanan cepat saji, karena harganya bervariasi dan tidak mudah busuk, mudah ditemukan di mana saja, dan tidak dipungkiri, rasanya yang lezat.

Apalagi di zaman sekarang, orang lebih suka yang instan dan praktis. Makanan ini sangat beragam. Mulai dari makanan ringan hingga makanan utama.  Contoh makanan cepat saji yaitu mi instan, frozen food, makanan yang dijual di restoran cepat saji, dan lain-lain.

Orang-orang yang menyukai makanan cepat saji biasanya tidak melihat kandungan gizi makanan tersebut. Karena yang diutamakan adalah praktis, terutama di kalangan anak muda. Padahal, makanan cepat saji mengandung zat-zat berbahaya seperti pengawet dan penyedap rasa alias micin.

Fenomena kata micin kini mendadak kerap digunakan para remaja hingga dewasa, bila seseorang mengalami hal-hal yang kurang normal. Misalnya seperti seseorang yang telat berpikir, lama menjawab bila diajak bicara, dan sejenisnya.

Selain zat berbahaya, makanan cepat saji biasanya selalu tinggi akan kandungan gula, lemak, garam, dan kalori berlebih. Makanan cepat saji juga termasuk dalam makanan Junk Food. Junk food adalah makanan yang mempunyai kalori tinggi, tapi nilai gizinya minim atau sama sekali tidak ada nilai gizinya. Makanan ini sangat berdampak buruk bagi kesehatan kita.

Junk Food adalah istilah yang mendeskripsikan makanan yang tidak sehat atau memiliki sedikit kandungan nutrisi.  Beberapa restoran menggunakan minyak sayur terhidrogenasi untuk menggoreng bahan makanannya. Padahal, minyak tersebut tidak baik untuk tubuh. Karena mengandung minyak trans yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Pada dasarnya, apa pun makanan yang digoreng menggunakan minyak sayur, akan berdampak buruk bagi kesehatan. Sebab, makanan itu akan mengandung lemak tak jenuh ganda, yang menghasilkan radikal bebas kanker dalam tubuh. Makanan itu cenderung mengandung bahan kimia penyebab kanker yang disebut dengan akrilamida.

Baca Juga :  Fenomena “Pak Ogah”

Tak dielakkan, makanan cepat saji memang mengandung zat berbahaya seperti yang telah diungkapkan di atas, dan ditambah lagi minim gizi.

Sejumlah penelitian telah menyatakan bahwa sering mengonsumsi fast food memang tidak menimbulkan dampak langsung ke tubuh. Namun, banyaknya makanan cepat saji yang dikonsumsi akan menumpuk dan tertimbun dalam tubuh seseorang, kemudian hari menjadi penyebab penyakit tertentu atau dapat menjadi penyakit yang mematikan.

Dampak terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji dapat terserang beberapa penyakit, seperti kolesterol. Makanan cepat saji banyak mengandung gula, mengonsumsi gula berlebihan berbahaya karena meningkatkan kadar kolesterol. Makanan siap saji juga bisa merusak gigi. Ketika Anda mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula, bakteri yang berada di mulut Anda menghasilkan asam. Asam ini dapat menghancurkan enamel (email) gigi yang bisa mengakibatkan gigi berlubang. Enamel yang telah hilang tidak bisa diganti, dan kesehatan mulut yang buruk bisa menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

Selain gigi, Munculnya jerawat dapat disebabkan juga oleh makanan tinggi karbohidrat. Makanan yang mengandung karbohidrat tinggi mampu meningkatkan kadar gula darah yang bisa menjadi pemicu jerawat tersebut. Biasanya, cokelat dan makanan berminyak adalah makanan pemicu munculnya jerawat. Tak hanya itu penyakit berbahaya lainnya antara lain jantung, diabetes, kanker, dan lain lain. Makanan cepat saji juga mengandung lemak yang berdampak buruk bagi tubuh yang mengakibatkan obesitas.

Pergeseran konsep makan bangsa Indonesia mungkin merupakan dampak adanya pengaruh budaya asing. Salah satu bentuk pergeseran konsep makan yaitu menjamurnya makanan cepat saji di Indonesia. Kehadiran makanan cepat saji dalam industri makanan Indonesia dapat mempengaruhi pola makan remaja.

Tingkat konsumsi makanan cepat saji pada remaja saat ini tergolong tinggi. Di mana rata-rata remaja mengonsumsi makanan cepat saji tiga sampai empat kali dalam seminggu. Tanpa disadari, maraknya makanan cepat saji selain memiliki dampak positif juga memiliki dampak negatif untuk kesehatan tentunya. Dampak positif dapat dibuktikan dari cara penyajian yang cepat untuk menghemat waktu yang dimiliki dan tidak sehat.

Baca Juga :  Fakta Atau Hoaks Vaksin Covid-19

Tapi selain itu juga harus melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh makanan cepat saji. Misalnya bertambahnya kadar lemak dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan obesitas atau kegemukan. Kandungan makanan cepat saji yang sebagian besar merupakan zat adiktif yang membahayakan tubuh apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Hampir setiap orang tidak bisa menolak kenikmatan makanan cepat saji. Bahkan, tak sedikit pula orang yang kecanduan makanan cepat saji dan benar-benar tidak bisa lepas darinya. Anda mungkin beranggapan bahwa cara paling cepat dan simpel untuk mengatasi kelaparan adalah dengan memesan makanan cepat saji. Cara ini memang tidak sepenuhnya salah, tapi sebaiknya dihindari.

Maka bila Anda termasuk ke dalam orang yang hobi mengonsumsi makanan cepat saji, kurangi hal itu dan mulai sayangi tubuh Anda. Demi menjaga kesehatan, kurangi mengonsumsi makanan cepat saji dan lebih banyak mengonsumsi makanan bergizi. Cara lain yaitu rencanakan menu makan sehari-hari dan upayakan untuk menyiapkan bahan-bahannya sendiri di rumah. Anda tidak akan tergiur untuk memesan dan mengonsumsi makanan cepat saji.

Selain itu, menyiapkan makanan sendiri di rumah juga lebih higienis dan sehat. Lalu bicara dengan ahli gizi terdaftar dan ahli terapi berlisensi. Para ahli kesehatan dan nutrisi ini dapat memegang peran utama dalam membantu memahami dan mengatasi kebiasaan Anda mengonsumsi makanan siap saji. Mintalah ahli gizi untuk membantu dengan rencana makanan, keahlian memasak, atau pengetahuan dasar tentang nutrisi. Agar Anda memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk menghentikan kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji.

Isi dapur, kulkas, dan freezer dengan makanan-makanan sehat. Simpan selalu persediaan produk-produk sehat di rumah seperti buah, sayur, dan makanan yang menyehatkan. Ini memungkinkan Anda untuk memasak makanan bernutrisi tanpa harus berbelanja di toko. Selain tubuh kita sehat, kita juga menjadi hemat. (*)

MAKANAN cepat saji (fast food) adalah makanan yang pengolahannya dalam waktu cepat dan pembuatannya sangat mudah. Makanan ini juga disebut makanan instan. Alasan orang-orang mengonsumsi makanan cepat saji, karena harganya bervariasi dan tidak mudah busuk, mudah ditemukan di mana saja, dan tidak dipungkiri, rasanya yang lezat.

Apalagi di zaman sekarang, orang lebih suka yang instan dan praktis. Makanan ini sangat beragam. Mulai dari makanan ringan hingga makanan utama.  Contoh makanan cepat saji yaitu mi instan, frozen food, makanan yang dijual di restoran cepat saji, dan lain-lain.

Orang-orang yang menyukai makanan cepat saji biasanya tidak melihat kandungan gizi makanan tersebut. Karena yang diutamakan adalah praktis, terutama di kalangan anak muda. Padahal, makanan cepat saji mengandung zat-zat berbahaya seperti pengawet dan penyedap rasa alias micin.

Fenomena kata micin kini mendadak kerap digunakan para remaja hingga dewasa, bila seseorang mengalami hal-hal yang kurang normal. Misalnya seperti seseorang yang telat berpikir, lama menjawab bila diajak bicara, dan sejenisnya.

Selain zat berbahaya, makanan cepat saji biasanya selalu tinggi akan kandungan gula, lemak, garam, dan kalori berlebih. Makanan cepat saji juga termasuk dalam makanan Junk Food. Junk food adalah makanan yang mempunyai kalori tinggi, tapi nilai gizinya minim atau sama sekali tidak ada nilai gizinya. Makanan ini sangat berdampak buruk bagi kesehatan kita.

Junk Food adalah istilah yang mendeskripsikan makanan yang tidak sehat atau memiliki sedikit kandungan nutrisi.  Beberapa restoran menggunakan minyak sayur terhidrogenasi untuk menggoreng bahan makanannya. Padahal, minyak tersebut tidak baik untuk tubuh. Karena mengandung minyak trans yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Pada dasarnya, apa pun makanan yang digoreng menggunakan minyak sayur, akan berdampak buruk bagi kesehatan. Sebab, makanan itu akan mengandung lemak tak jenuh ganda, yang menghasilkan radikal bebas kanker dalam tubuh. Makanan itu cenderung mengandung bahan kimia penyebab kanker yang disebut dengan akrilamida.

Baca Juga :  Belajar Organisasi dengan Satu Komitmen

Tak dielakkan, makanan cepat saji memang mengandung zat berbahaya seperti yang telah diungkapkan di atas, dan ditambah lagi minim gizi.

Sejumlah penelitian telah menyatakan bahwa sering mengonsumsi fast food memang tidak menimbulkan dampak langsung ke tubuh. Namun, banyaknya makanan cepat saji yang dikonsumsi akan menumpuk dan tertimbun dalam tubuh seseorang, kemudian hari menjadi penyebab penyakit tertentu atau dapat menjadi penyakit yang mematikan.

Dampak terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji dapat terserang beberapa penyakit, seperti kolesterol. Makanan cepat saji banyak mengandung gula, mengonsumsi gula berlebihan berbahaya karena meningkatkan kadar kolesterol. Makanan siap saji juga bisa merusak gigi. Ketika Anda mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula, bakteri yang berada di mulut Anda menghasilkan asam. Asam ini dapat menghancurkan enamel (email) gigi yang bisa mengakibatkan gigi berlubang. Enamel yang telah hilang tidak bisa diganti, dan kesehatan mulut yang buruk bisa menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

Selain gigi, Munculnya jerawat dapat disebabkan juga oleh makanan tinggi karbohidrat. Makanan yang mengandung karbohidrat tinggi mampu meningkatkan kadar gula darah yang bisa menjadi pemicu jerawat tersebut. Biasanya, cokelat dan makanan berminyak adalah makanan pemicu munculnya jerawat. Tak hanya itu penyakit berbahaya lainnya antara lain jantung, diabetes, kanker, dan lain lain. Makanan cepat saji juga mengandung lemak yang berdampak buruk bagi tubuh yang mengakibatkan obesitas.

Pergeseran konsep makan bangsa Indonesia mungkin merupakan dampak adanya pengaruh budaya asing. Salah satu bentuk pergeseran konsep makan yaitu menjamurnya makanan cepat saji di Indonesia. Kehadiran makanan cepat saji dalam industri makanan Indonesia dapat mempengaruhi pola makan remaja.

Tingkat konsumsi makanan cepat saji pada remaja saat ini tergolong tinggi. Di mana rata-rata remaja mengonsumsi makanan cepat saji tiga sampai empat kali dalam seminggu. Tanpa disadari, maraknya makanan cepat saji selain memiliki dampak positif juga memiliki dampak negatif untuk kesehatan tentunya. Dampak positif dapat dibuktikan dari cara penyajian yang cepat untuk menghemat waktu yang dimiliki dan tidak sehat.

Baca Juga :  Hybrid Learning, Terobosan Sistem Pembelajaran Masa Transisi

Tapi selain itu juga harus melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh makanan cepat saji. Misalnya bertambahnya kadar lemak dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan obesitas atau kegemukan. Kandungan makanan cepat saji yang sebagian besar merupakan zat adiktif yang membahayakan tubuh apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Hampir setiap orang tidak bisa menolak kenikmatan makanan cepat saji. Bahkan, tak sedikit pula orang yang kecanduan makanan cepat saji dan benar-benar tidak bisa lepas darinya. Anda mungkin beranggapan bahwa cara paling cepat dan simpel untuk mengatasi kelaparan adalah dengan memesan makanan cepat saji. Cara ini memang tidak sepenuhnya salah, tapi sebaiknya dihindari.

Maka bila Anda termasuk ke dalam orang yang hobi mengonsumsi makanan cepat saji, kurangi hal itu dan mulai sayangi tubuh Anda. Demi menjaga kesehatan, kurangi mengonsumsi makanan cepat saji dan lebih banyak mengonsumsi makanan bergizi. Cara lain yaitu rencanakan menu makan sehari-hari dan upayakan untuk menyiapkan bahan-bahannya sendiri di rumah. Anda tidak akan tergiur untuk memesan dan mengonsumsi makanan cepat saji.

Selain itu, menyiapkan makanan sendiri di rumah juga lebih higienis dan sehat. Lalu bicara dengan ahli gizi terdaftar dan ahli terapi berlisensi. Para ahli kesehatan dan nutrisi ini dapat memegang peran utama dalam membantu memahami dan mengatasi kebiasaan Anda mengonsumsi makanan siap saji. Mintalah ahli gizi untuk membantu dengan rencana makanan, keahlian memasak, atau pengetahuan dasar tentang nutrisi. Agar Anda memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk menghentikan kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji.

Isi dapur, kulkas, dan freezer dengan makanan-makanan sehat. Simpan selalu persediaan produk-produk sehat di rumah seperti buah, sayur, dan makanan yang menyehatkan. Ini memungkinkan Anda untuk memasak makanan bernutrisi tanpa harus berbelanja di toko. Selain tubuh kita sehat, kita juga menjadi hemat. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/