alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Santri Siaga Jiwa Raga

TEMA Hari Santri Nasional (HSN) di tahun ini sangatlah motifatif, Santri Siaga Jiwa Raga. Ada tiga harapan yang terbesit di dalam tema ini, yakni : Agar santri selalu awas untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia dari rongrongan siapa dan mana saja; Selalu menjaga kesucian hati dan akhlak; Selalu berpegang teguh pada akidah, nilai dan ajaran Islam rahmatan lil alamin; Serta selalu melestarikan  tradisi luhur bangsa Indonesia.

Ada empat warna yakni biru, hijau, oranye, dan  ungu, yang menghiasi dan menyatu dalam logo. Membawa pesan tentang aneka ragam aktivitas yang secara istiqomah dilaksanakan para santri di pondok. Mulai dari salat sebagai puncak kekuatan jiwa dan raga. Sujud sebagai ikhtiar dan ketulusan agar pandemi cepat berlalu. Kebersamaan untuk selalu berkolaborasi bersama dalam suka maupun duka, serta semangat dan kerja keras untuk mencapai sesuatu dan berbagi bersama untuk Indonesia.

Gambar air yang jernih bermakna bahwa air sebagai sumber kehidupan. Yang menegaskan bahwa santri dan pesantren akan terus memberikan kesejukan dan kesegaran bagi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui mainstreaming Islam Rahmatan Lil alamin. Ajaran yang senantiasa menebar kasih sayang bagi semuanya.

Sementara tagline ada tiga kata yakni: Bertumbuh, Berdaya, dan Berkarya. Menegaskan bahwa tujuan dan semangat para santri di mana saja mondoknya, saat ini  dan ke depannya bahwa santri akan senantiasa ikut membangun kualitas bangsa Indonesia dan mempersembahkan karya-karya terbaik dan berguna untuk semua anak bangsa.

Inilah contoh, yang perlu dilakukan oleh siapa saja pihak terkait. Untuk memperingati hari besar Islam dan hari besar nasional lainnya. Memiliki konsep yang jelas agar memberi kesan yang mendalam bagi kita semua. Mem-branding dan memublikasikan dengan totalitas agar setiap hari nasional yang diperingati tidak berlalu begitu saja tanpa makna dan arti apa-apa. Percum dan tak bergun.

Sudahlah maklum bagi kita, bahwa setiap hari besar nasional seperti halnya HSN, mesti memiliki nilai historis yang sangat layak untuk dikenang, karena nilai-nilai luhur yang ada dalam peristiwanya, yang tentu saja dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus.

HSN mengajak kita semua untuk mengenang kembali pada sebuah peristiwa heroik di Surabaya, pada tanggal 22 Oktober 1945, yang muncul dari sikap responsive para Kiai dan santri di Jawa Timur, hingga munculnya deklarasi resolusi jihad dari Mbah Yai Hasyim Asy’ari, selaku Rais Akbar PBNU.

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, beliau berseru kepada para santrinya untuk ikut berjuang mencegah kembalinya tentara Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang ingin  merebut kembali kemerdekaan Indonesia.

“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu ‘ain atau wajib bagi setiap individu,” Demikian dawuh KH Hasyim Asy’ari ketika itu.

Dari peristiwa inilah, sehingga pada tiap tahunnya, tema HSN dari tahun ke tahun selalu menggugah dan menggelorakan semangat para santri di mana saja mondoknya, untuk terus meningkatkan sikap amanah dan ahlinya, membangun sikap integritas dan profesionalitas agar menjadi permata berharga bagi kehidupan beragama dan berbangsa di wilayah NKRI.   

Karena itu, minimal ada tiga peran penting yang mesti dimainkan oleh para santri di mana saja mondoknya. Yaitu peran akademis, peran sebagai umat Islam dan peran sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tiga hal inilah yang harus senantiasa dimainkan oleh para santri di dalam menghadapi kehidupan yang semakin menantang dewasa ini.

Pertama, peran akademis, yakni peran untuk mengembangkan program Islamisasi ilmu. Santri senantiasa hadir untuk mendialogkan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Usaha ini akan menjadi lebih cepat ketika ada campur tangan pemerintah melalui program pengiriman santri berprestasi ke beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia. Melalui program ini, maka santri yang memiliki pengetahuan agama yang cukup akan dapat mendialogkan dengan ilmu pengetahuan, sehingga ke depan akan tumbuh ilmuwan Islam. Sebagaimana yang sudah ada selama ini yaitu ahli ilmu pengetahuan yang berhasil secara gemilang mengembangkan Islamisasi ilmu.

Kedua, peran santri sebagai umat Islam umat Islam di Indonesia. Maka berarti yang menjadi area kewilayahan itu adalah Indonesia, bukan negara lain di wilayah yang lain. Jadi dengan menyebut umat Islam Indonesia maka secara otomatis yang menjadi cakupannya adalah umat Islam yang ada di Indonesia. Memang harus diakui bahwa umat Islam Indonesia adalah bagian dari umat Islam dunia artinya bahwa secara kultural umat Islam Indonesia adalah bagian dari umat Islam dunia, akan tetapi secara struktural bahwa masyarakat Islam Indonesia terkait dengan sebutan sebagai warga negara Indonesia dan sebagai umat Islam Indonesia. Maka yang penting adalah bagaimana mengembangkan kerukunan antar warga bangsa dan juga antar umat beragama. Santri yang telah memahami agama secara lebih baik, diharapkan dapat memainkan peran sebagai agen kerukunan umat beragama di dalam hal ini. Maka yang sangat mendasar adalah bagaimana mereka menjadi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin yaitu ajaran agama yang menekankan tidak hanya harus berbuat baik kepada sesama umat Islam tetapi juga kepada umat beragama lain. inilah sebabnya para santri memiliki peran yang sangat mendasar dalam membangun bangsa Indonesia melalui peran agensinya di bidang pengembangan kerukunan umat beragama.

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah peran santri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Maka peran santri adalah bagaimana dapat mempertahankan pilar kebangsaan yaitu Pancasila UUD 1945 NKRI NKRI dan kebhinekaan. Karena itu, jika ada seseorang ingin dan mengusung Khilafah Islamiyah contohnya, maka yang bersangkutan sudah merobohkan Indonesia. Sebab dengan mengembangkan pikiran Khilafah Islamiyah berarti yang bersangkutan sudah mengganti NKRI dengan sistem lain di dalam sistem kenegaraan kita.

Maka itulah sebabnya, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang yang mengaku sebagai rakyat Indonesia, termasuk santri yang telah menjadi bagian penting dari bangsa ini, memiliki tugas sebagai agen social untuk menyerukan pilar-pilar kebangsaan bagi segenap rakyat Indonesia.

Dengan HSN di tahun ini yang bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H, mari kita gelorakan semangat Gerakan Batin (Gerbat) para santri dan sikap peka kondisi untuk menghalau segala upaya kemunculan aliran, paham, gerakan yang nyata-nyata ingin mengubah empat pilar kebangsaan. Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinnekaan. Karena keempatnya bagi Indonesia sebagai Taken For Granted, hanya untuk diterima dan tidak boleh ditawar lagi. (*)

 

*) Alumnus Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo, Tahun 1993.

TEMA Hari Santri Nasional (HSN) di tahun ini sangatlah motifatif, Santri Siaga Jiwa Raga. Ada tiga harapan yang terbesit di dalam tema ini, yakni : Agar santri selalu awas untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia dari rongrongan siapa dan mana saja; Selalu menjaga kesucian hati dan akhlak; Selalu berpegang teguh pada akidah, nilai dan ajaran Islam rahmatan lil alamin; Serta selalu melestarikan  tradisi luhur bangsa Indonesia.

Ada empat warna yakni biru, hijau, oranye, dan  ungu, yang menghiasi dan menyatu dalam logo. Membawa pesan tentang aneka ragam aktivitas yang secara istiqomah dilaksanakan para santri di pondok. Mulai dari salat sebagai puncak kekuatan jiwa dan raga. Sujud sebagai ikhtiar dan ketulusan agar pandemi cepat berlalu. Kebersamaan untuk selalu berkolaborasi bersama dalam suka maupun duka, serta semangat dan kerja keras untuk mencapai sesuatu dan berbagi bersama untuk Indonesia.

Gambar air yang jernih bermakna bahwa air sebagai sumber kehidupan. Yang menegaskan bahwa santri dan pesantren akan terus memberikan kesejukan dan kesegaran bagi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui mainstreaming Islam Rahmatan Lil alamin. Ajaran yang senantiasa menebar kasih sayang bagi semuanya.

Sementara tagline ada tiga kata yakni: Bertumbuh, Berdaya, dan Berkarya. Menegaskan bahwa tujuan dan semangat para santri di mana saja mondoknya, saat ini  dan ke depannya bahwa santri akan senantiasa ikut membangun kualitas bangsa Indonesia dan mempersembahkan karya-karya terbaik dan berguna untuk semua anak bangsa.

Inilah contoh, yang perlu dilakukan oleh siapa saja pihak terkait. Untuk memperingati hari besar Islam dan hari besar nasional lainnya. Memiliki konsep yang jelas agar memberi kesan yang mendalam bagi kita semua. Mem-branding dan memublikasikan dengan totalitas agar setiap hari nasional yang diperingati tidak berlalu begitu saja tanpa makna dan arti apa-apa. Percum dan tak bergun.

Sudahlah maklum bagi kita, bahwa setiap hari besar nasional seperti halnya HSN, mesti memiliki nilai historis yang sangat layak untuk dikenang, karena nilai-nilai luhur yang ada dalam peristiwanya, yang tentu saja dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus.

HSN mengajak kita semua untuk mengenang kembali pada sebuah peristiwa heroik di Surabaya, pada tanggal 22 Oktober 1945, yang muncul dari sikap responsive para Kiai dan santri di Jawa Timur, hingga munculnya deklarasi resolusi jihad dari Mbah Yai Hasyim Asy’ari, selaku Rais Akbar PBNU.

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, beliau berseru kepada para santrinya untuk ikut berjuang mencegah kembalinya tentara Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang ingin  merebut kembali kemerdekaan Indonesia.

“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu ‘ain atau wajib bagi setiap individu,” Demikian dawuh KH Hasyim Asy’ari ketika itu.

Dari peristiwa inilah, sehingga pada tiap tahunnya, tema HSN dari tahun ke tahun selalu menggugah dan menggelorakan semangat para santri di mana saja mondoknya, untuk terus meningkatkan sikap amanah dan ahlinya, membangun sikap integritas dan profesionalitas agar menjadi permata berharga bagi kehidupan beragama dan berbangsa di wilayah NKRI.   

Karena itu, minimal ada tiga peran penting yang mesti dimainkan oleh para santri di mana saja mondoknya. Yaitu peran akademis, peran sebagai umat Islam dan peran sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tiga hal inilah yang harus senantiasa dimainkan oleh para santri di dalam menghadapi kehidupan yang semakin menantang dewasa ini.

Pertama, peran akademis, yakni peran untuk mengembangkan program Islamisasi ilmu. Santri senantiasa hadir untuk mendialogkan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Usaha ini akan menjadi lebih cepat ketika ada campur tangan pemerintah melalui program pengiriman santri berprestasi ke beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia. Melalui program ini, maka santri yang memiliki pengetahuan agama yang cukup akan dapat mendialogkan dengan ilmu pengetahuan, sehingga ke depan akan tumbuh ilmuwan Islam. Sebagaimana yang sudah ada selama ini yaitu ahli ilmu pengetahuan yang berhasil secara gemilang mengembangkan Islamisasi ilmu.

Kedua, peran santri sebagai umat Islam umat Islam di Indonesia. Maka berarti yang menjadi area kewilayahan itu adalah Indonesia, bukan negara lain di wilayah yang lain. Jadi dengan menyebut umat Islam Indonesia maka secara otomatis yang menjadi cakupannya adalah umat Islam yang ada di Indonesia. Memang harus diakui bahwa umat Islam Indonesia adalah bagian dari umat Islam dunia artinya bahwa secara kultural umat Islam Indonesia adalah bagian dari umat Islam dunia, akan tetapi secara struktural bahwa masyarakat Islam Indonesia terkait dengan sebutan sebagai warga negara Indonesia dan sebagai umat Islam Indonesia. Maka yang penting adalah bagaimana mengembangkan kerukunan antar warga bangsa dan juga antar umat beragama. Santri yang telah memahami agama secara lebih baik, diharapkan dapat memainkan peran sebagai agen kerukunan umat beragama di dalam hal ini. Maka yang sangat mendasar adalah bagaimana mereka menjadi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin yaitu ajaran agama yang menekankan tidak hanya harus berbuat baik kepada sesama umat Islam tetapi juga kepada umat beragama lain. inilah sebabnya para santri memiliki peran yang sangat mendasar dalam membangun bangsa Indonesia melalui peran agensinya di bidang pengembangan kerukunan umat beragama.

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah peran santri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Maka peran santri adalah bagaimana dapat mempertahankan pilar kebangsaan yaitu Pancasila UUD 1945 NKRI NKRI dan kebhinekaan. Karena itu, jika ada seseorang ingin dan mengusung Khilafah Islamiyah contohnya, maka yang bersangkutan sudah merobohkan Indonesia. Sebab dengan mengembangkan pikiran Khilafah Islamiyah berarti yang bersangkutan sudah mengganti NKRI dengan sistem lain di dalam sistem kenegaraan kita.

Maka itulah sebabnya, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang yang mengaku sebagai rakyat Indonesia, termasuk santri yang telah menjadi bagian penting dari bangsa ini, memiliki tugas sebagai agen social untuk menyerukan pilar-pilar kebangsaan bagi segenap rakyat Indonesia.

Dengan HSN di tahun ini yang bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H, mari kita gelorakan semangat Gerakan Batin (Gerbat) para santri dan sikap peka kondisi untuk menghalau segala upaya kemunculan aliran, paham, gerakan yang nyata-nyata ingin mengubah empat pilar kebangsaan. Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinnekaan. Karena keempatnya bagi Indonesia sebagai Taken For Granted, hanya untuk diterima dan tidak boleh ditawar lagi. (*)

 

*) Alumnus Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo, Tahun 1993.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/