alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Peran Santri pada Negara

Telah bertahun-tahun sejak agama Islam disebarluaskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, sang pembawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam berdakwah menyebarkan agama Islam, banyak perjuangan yang diperlukan untuk mempertahankan dan menyebarkan panji-panji keimanan yang diajarkan oleh Tuhan, mulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga secara terang-terangan. Bahkan pertumpahan darah siap dilakukan para sahabat melawan musuh untuk tetap mempertahankan agama Islam.

Setelah masa nabi Muhammad SAW, syiar-syiar terus dilanjutkan oleh para khulafur Rashidin dan terus dilanjutkan oleh para ulama dari masa ke masa. Pada zaman milenial ini, menjadi fungsi dan peran santri dalam terus melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

Meskipun pada zaman ini, para santri tidak mempertahankan Islam dengan berperang sebagaimana yang dilakukan para sahabat di zaman terdahulu. Maka dari itu, sangat penting peran santri untuk terus menyiarkan panji-panji keimanan pada zaman ini.

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan perjuangan pondok pesantren. Pada masa awal kedatangan Islam, kita mengenal Pondok Pesantren Giri di Gresik, bersama institusi sejenis di Samudera Pasai, yang menjadi pusat penyebaran Islam dan peradabannya ke berbagai wilayah Nusantara.

Santri sendiri biasa dikenal dengan sebutan kaum sarungan yang setiap hari bersama kitab kuning, mengharap doa kiai dan rido illahi. Dalam pemahaman masyarakat luas, santri dikenal sebagai siswa Pondok Pesantren yang meninggalkan rumah khusus untuk belajar ilmu agama.

Tetapi hal ini merupakan mindset atau pola pikir masyarakat yang sangat terbatas. Pemikiran yang hanya terbatas pada nilai-nilai yang terletak pada diri santri tersebut. Sehingga sering kali mereka melupakan bahwa santri berperan besar dalam persatuan NKRI. Karena santri sejatinya bukan hanya dicetak menjadi ulama atau kyai dan fuqaha. Tetapi santri juga dicetak menjadi cadangan pemerintah dan kader negara yang berperan aktif dalam proses persatuan dan kesatuan NKRI.

Sering kita jumpai pada setiap buku tentang kemerdekaan. Pasti akan memberikan fokus bahwa yang menjadi peran penting dalam merebut kemerdekaan ialah pahlawan nasional dan tentara. Padahal peran para kiai dan para santri pun tak kalah penting. Banyak pada pergerakan setiap daerah yang menjadi tokoh utamanya ialah para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Seperti Patih Unus, Trenggono, dan Fatahillah, yang berjuang melawan bangsa Portugis pada gerakan kedaerahan masing-masing.

Juga tokoh seperti Pangeran Diponegoro turut mengerahkan santri dan kiai untuk melawan penjajah Belanda-Inggris yang terus melakukan penindasan dan memorak-porandakan tatanan Jawa yang sangat menjunjung tinggi adat dan kepercayaan. Bagi Pangeran Diponegoro dan pengikutnya, perang melawan Belanda adalah perang melawan kafir laknatullah, orang-orang kafir yang terlaknat. Bukan hanya terbatas pada perjuangan kedaerahan.

Santri dan kiai juga berperan penting dalam perjuangan yang bersifat kenegaraan. Seperti saat peristiwa pengusiran Jepang di Surabaya. KH. Hasyim Asyari adalah kiai yang menjadi faktor penting dalam peristiwa tersebut. Pendiri Ormas Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng itu menjadi perancang strategi bersama Bung Tomo dalam menguasai Surabaya dan mengusir penjajah untuk pergi dari tanah air Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, menjadi peristiwa historial berupa pekik Resolusi Jihad digelorakan oleh K.H. Hasyim Asyari. Tiga hal penting dari Resolusi Jihad adalah :

Pertama, setiap orang Islam wajib berperang melawan penjajah dan menjaga kedaulatan Indonesia.

Kedua, santri, kiai, dan rakyat, yang mati di medan perang termasuk syuhada (orang yang meninggal di jalan Allah).

Ketiga, warga Indonesia yang membelot dengan mendukung penjajah adalah pengkhianat dan boleh dibunuh.

Pekikan Resolusi Jihad yang disuarakan oleh KH. Hasyim Asyari ini membuktikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh para santri ialah sifat nasionalisme yang sangat kental melekat pada diri seorang santri untuk berjuang melawan penjajah yang ingin kembali menguasai NKRI. Sebagaimana Jargon yang sering dikumandangkan para santri, Hubbul Wathan Minal Iman, yang artinya cinta tanah air sebagian dari iman.

Peran santri juga tak kalah penting setelah kemerdekaan. Santri diharapkan mampu turut serta menjaga dan mempertahankan keutuhan negara. Seperti peran santri dalam pergantian Sila pertama pada rumusan dasar negara yang awalnya berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” yang diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Hal ini berlandaskan, meskipun mayoritas di Indonesia ialah pemeluk agama Islam. Tapi hal ini tidak bisa dijadikan landasan sebagai dasar negara karena di Indonesia sendiri terdapat lima agama yang diakui keberadaannya. Jika sila pertama ditetapkan sebagaimana yang awal, dikhawatirkan akan adanya perpecahan golongan karena pemeluk agama lain tentunya akan merasa tidak dihargai keberadaannya.

Semua sisa perjuangan di masa lalu, yang mana semua berjuang bersama tanpa memandang suku, ras dan agama akan terasa sia-sia karena ketetapan sila dasar pertama yang terkesan hanya mengakui adanya agama Islam sebagai agama satu-satunya di Indonesia.

Juga menjadi peran bagi santri untuk menghilangkan rasa resah dan gelisah masyarakat dengan adanya Islamofobia. Sindrom tersebut adalah rasa takut yang berlebihan terhadap agama Islam karena beberapa kejadian besar di dunia yang dipercayai sebagai dalang atau tokoh utamanya ialah agama Islam. Seperti peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat. Pada peristiwa ini agama Islam terkesan sebagai agama teroris atau agama yang mendukung aksi kejahatan tersebut. Juga pada kasus-kasus bom bunuh diri yang biasanya pelaku kejadian tersebut diduga didalangi oleh seseorang yang beragam Islam. Dugaan masyarakat mengenai beberapa kasus di atas adalah salah. Islam tidak pernah mengajarkan tentang kekerasan atau sejenisnya.

Jelas, pelaku dari kejadian di atas ialah salah satu cara musuh agama Islam untuk menyudutkan agama Islam itu sendiri, yang dampaknya bisa jadi akan memecah persatuan dan kesatuan negara yang telah lama dibentuk. Maka dari itu, penting bagi santri tetap menjaga dan mempertahankan persatuan dan kesatuan dengan menghilangkan doktrin yang telah mengakar pada masyarakat luas.

Peran santri dalam menjaga dan mempertahankan NKRI tidak perlu diragukan lagi. Peran santri dalam setiap pembangunan dan perjuangan sebelum maupun sesudah kemerdekaan merupakan bukti nyata bahwa santri pun termasuk sebagai aspek penting suatu bangsa khususnya negara Indonesia.

Santri mampu berkontribusi dalam setiap bidang dalam urusan kenegaraan seperti dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya yang menjadikan itu perwujudan sikap nasionalime (cinta tanah air) santri itu sendiri. Untuk itu, semangat nasionalisme merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia. Sama halnya dengan santri dan ulama Nusantara.

Dari zaman sebelum Indonesia merdeka sampai detik ini pun, mereka tetap ikut serta menjaga dan mempertahankan NKRI. Karena sejatinya Indonesia adalah tanah air tumpah darah bagi semua warga Indonesia. (*)

 

*) Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Telah bertahun-tahun sejak agama Islam disebarluaskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, sang pembawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam berdakwah menyebarkan agama Islam, banyak perjuangan yang diperlukan untuk mempertahankan dan menyebarkan panji-panji keimanan yang diajarkan oleh Tuhan, mulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga secara terang-terangan. Bahkan pertumpahan darah siap dilakukan para sahabat melawan musuh untuk tetap mempertahankan agama Islam.

Setelah masa nabi Muhammad SAW, syiar-syiar terus dilanjutkan oleh para khulafur Rashidin dan terus dilanjutkan oleh para ulama dari masa ke masa. Pada zaman milenial ini, menjadi fungsi dan peran santri dalam terus melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

Meskipun pada zaman ini, para santri tidak mempertahankan Islam dengan berperang sebagaimana yang dilakukan para sahabat di zaman terdahulu. Maka dari itu, sangat penting peran santri untuk terus menyiarkan panji-panji keimanan pada zaman ini.

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan perjuangan pondok pesantren. Pada masa awal kedatangan Islam, kita mengenal Pondok Pesantren Giri di Gresik, bersama institusi sejenis di Samudera Pasai, yang menjadi pusat penyebaran Islam dan peradabannya ke berbagai wilayah Nusantara.

Santri sendiri biasa dikenal dengan sebutan kaum sarungan yang setiap hari bersama kitab kuning, mengharap doa kiai dan rido illahi. Dalam pemahaman masyarakat luas, santri dikenal sebagai siswa Pondok Pesantren yang meninggalkan rumah khusus untuk belajar ilmu agama.

Tetapi hal ini merupakan mindset atau pola pikir masyarakat yang sangat terbatas. Pemikiran yang hanya terbatas pada nilai-nilai yang terletak pada diri santri tersebut. Sehingga sering kali mereka melupakan bahwa santri berperan besar dalam persatuan NKRI. Karena santri sejatinya bukan hanya dicetak menjadi ulama atau kyai dan fuqaha. Tetapi santri juga dicetak menjadi cadangan pemerintah dan kader negara yang berperan aktif dalam proses persatuan dan kesatuan NKRI.

Sering kita jumpai pada setiap buku tentang kemerdekaan. Pasti akan memberikan fokus bahwa yang menjadi peran penting dalam merebut kemerdekaan ialah pahlawan nasional dan tentara. Padahal peran para kiai dan para santri pun tak kalah penting. Banyak pada pergerakan setiap daerah yang menjadi tokoh utamanya ialah para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Seperti Patih Unus, Trenggono, dan Fatahillah, yang berjuang melawan bangsa Portugis pada gerakan kedaerahan masing-masing.

Juga tokoh seperti Pangeran Diponegoro turut mengerahkan santri dan kiai untuk melawan penjajah Belanda-Inggris yang terus melakukan penindasan dan memorak-porandakan tatanan Jawa yang sangat menjunjung tinggi adat dan kepercayaan. Bagi Pangeran Diponegoro dan pengikutnya, perang melawan Belanda adalah perang melawan kafir laknatullah, orang-orang kafir yang terlaknat. Bukan hanya terbatas pada perjuangan kedaerahan.

Santri dan kiai juga berperan penting dalam perjuangan yang bersifat kenegaraan. Seperti saat peristiwa pengusiran Jepang di Surabaya. KH. Hasyim Asyari adalah kiai yang menjadi faktor penting dalam peristiwa tersebut. Pendiri Ormas Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng itu menjadi perancang strategi bersama Bung Tomo dalam menguasai Surabaya dan mengusir penjajah untuk pergi dari tanah air Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, menjadi peristiwa historial berupa pekik Resolusi Jihad digelorakan oleh K.H. Hasyim Asyari. Tiga hal penting dari Resolusi Jihad adalah :

Pertama, setiap orang Islam wajib berperang melawan penjajah dan menjaga kedaulatan Indonesia.

Kedua, santri, kiai, dan rakyat, yang mati di medan perang termasuk syuhada (orang yang meninggal di jalan Allah).

Ketiga, warga Indonesia yang membelot dengan mendukung penjajah adalah pengkhianat dan boleh dibunuh.

Pekikan Resolusi Jihad yang disuarakan oleh KH. Hasyim Asyari ini membuktikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh para santri ialah sifat nasionalisme yang sangat kental melekat pada diri seorang santri untuk berjuang melawan penjajah yang ingin kembali menguasai NKRI. Sebagaimana Jargon yang sering dikumandangkan para santri, Hubbul Wathan Minal Iman, yang artinya cinta tanah air sebagian dari iman.

Peran santri juga tak kalah penting setelah kemerdekaan. Santri diharapkan mampu turut serta menjaga dan mempertahankan keutuhan negara. Seperti peran santri dalam pergantian Sila pertama pada rumusan dasar negara yang awalnya berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” yang diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Hal ini berlandaskan, meskipun mayoritas di Indonesia ialah pemeluk agama Islam. Tapi hal ini tidak bisa dijadikan landasan sebagai dasar negara karena di Indonesia sendiri terdapat lima agama yang diakui keberadaannya. Jika sila pertama ditetapkan sebagaimana yang awal, dikhawatirkan akan adanya perpecahan golongan karena pemeluk agama lain tentunya akan merasa tidak dihargai keberadaannya.

Semua sisa perjuangan di masa lalu, yang mana semua berjuang bersama tanpa memandang suku, ras dan agama akan terasa sia-sia karena ketetapan sila dasar pertama yang terkesan hanya mengakui adanya agama Islam sebagai agama satu-satunya di Indonesia.

Juga menjadi peran bagi santri untuk menghilangkan rasa resah dan gelisah masyarakat dengan adanya Islamofobia. Sindrom tersebut adalah rasa takut yang berlebihan terhadap agama Islam karena beberapa kejadian besar di dunia yang dipercayai sebagai dalang atau tokoh utamanya ialah agama Islam. Seperti peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat. Pada peristiwa ini agama Islam terkesan sebagai agama teroris atau agama yang mendukung aksi kejahatan tersebut. Juga pada kasus-kasus bom bunuh diri yang biasanya pelaku kejadian tersebut diduga didalangi oleh seseorang yang beragam Islam. Dugaan masyarakat mengenai beberapa kasus di atas adalah salah. Islam tidak pernah mengajarkan tentang kekerasan atau sejenisnya.

Jelas, pelaku dari kejadian di atas ialah salah satu cara musuh agama Islam untuk menyudutkan agama Islam itu sendiri, yang dampaknya bisa jadi akan memecah persatuan dan kesatuan negara yang telah lama dibentuk. Maka dari itu, penting bagi santri tetap menjaga dan mempertahankan persatuan dan kesatuan dengan menghilangkan doktrin yang telah mengakar pada masyarakat luas.

Peran santri dalam menjaga dan mempertahankan NKRI tidak perlu diragukan lagi. Peran santri dalam setiap pembangunan dan perjuangan sebelum maupun sesudah kemerdekaan merupakan bukti nyata bahwa santri pun termasuk sebagai aspek penting suatu bangsa khususnya negara Indonesia.

Santri mampu berkontribusi dalam setiap bidang dalam urusan kenegaraan seperti dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya yang menjadikan itu perwujudan sikap nasionalime (cinta tanah air) santri itu sendiri. Untuk itu, semangat nasionalisme merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia. Sama halnya dengan santri dan ulama Nusantara.

Dari zaman sebelum Indonesia merdeka sampai detik ini pun, mereka tetap ikut serta menjaga dan mempertahankan NKRI. Karena sejatinya Indonesia adalah tanah air tumpah darah bagi semua warga Indonesia. (*)

 

*) Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/