Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Kunci Kebahagiaan Seumur Hidup

Oleh: Ayu Rosalinda*

22 Oktober 2021, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Kunci Kebahagiaan Seumur Hidup

Share this      

KITA sebagai muda-mudi yang sebentar lagi akan bertemu dengan tali pernikahan, dan kelak akan menjalani kehidupan rumah tangga, berhadapan dengan latar sosial masyarakat dan menghadapi bermacam rintangan, pasti menginginkan permulaan hidup dalam tali pernikahan yang membahagiakan. Dalam tali pernikahan itu, menciptakan keluarga yang penuh kebahagiaan adalah hal yang sangat didambakan oleh semua orang.

Setiap orang pasti menginginkan keluarga bahagia dan mendapatkan kehidupan yang bahagia di mana pun dan kapan pun. Keluarga adalah prioritas dan hal utama dalam hidup seseorang. Apalagi di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi norma, moralitas, dan adat timur, yang menjadikan keluarga sebagai sosok yang sangat penting dan berada di atas segalanya. karena keluarga sangat penting, maka seseorang selalu mencari kebahagiaan bagi keluarganya.

Keluarga dengan kehidupan penuh warna dan rona keceriaan, saling mendukung, menyayangi dan menguatkan adalah surga yang didambakan. Membangun seisi rumah menjadi keluarga bahagia adalah impian setiap orang di dunia. Keluarga adalah harapan terbesar, pakaian jiwa, yang menerima apa adanya dengan kedua tangan terbuka. Keluarga bahagia adalah kondisi keluarga yang menikmati kebersamaan dalam suka dan duka.

Baca juga: Sehat di Tengah Pandemi ala Tradisi Suku Osing

Namun bagaimana jika kenyataannya keluarga tidak seperti itu? Tidak ada kebahagiaan, yang ada hanya cekcok mulut dan pertengkaran setiap hari, kekerasan karena hal sepele menjadi hal biasa, anak-anak tidak terkontrol dan ekonomi nimbrung ke sini-sana. Kehidupan keluarga tidak terkontrol, hanya terus melahirkan dampak tanpa mencari solusi yang terbaik untuk mengatasi. Kehidupan rumah tangga yang seperti itu bagai neraka, tentu terasa hambar. Tidak membahagiakan. Hari-hari terlewati dengan amarah dan saling salah karena tidak adanya rasa cinta dan saling memahami.

Salah satu faktor yang sering menjadi penyebab keluarga tidak harmonis adalah faktor ekonomi. Pemenuhan kebutuhan yang begitu banyak tentunya membutuhkan kondisi ekonomi yang lancar. Namun sering terjadi masalah ekonomi yang kemudian menjadi penyebab ketidakharmonisan di dalam rumah tangga dan keluarga. Hal itu juga disebabkan oleh sempitnya hati yang tidak pernah merasa cukup, tidak mensyukuri nikmat Tuhan dan begitu sempit pemikirannya untuk bertindak lebih dewasa dan profesional.

Tanda tidak harmonis keluarga adalah: 1) Masalah tidak dapat diselesaikan secara bersama. Setiap orang mempertahankan egoisnya masing-masing sehingga, membuat pertengkaran atas masalah yang tak kunjung usai. 2) Saling menyakiti dengan kata-kata. Jika menjaga kata-kata agar tidak saling menyakiti begitu susah. maka kata-kata tajam dan kasar akan terus dilontarkan, hal yang tidak patut dan merenggangkan hubungan kekeluargaan. 3) Perhatian yang menghilang. Menjadi sosok yang perhatian dengan terus menanyakan kabar, keseharian, dan obrolan-obrolan ringan lainya adalah hal yang sangat penting. Tapi kebanyakan sebuah keluarga terlalu nyaman dengan kesibukan masing-masing sehingga memperhatikan keluarga. Bahkan seiring berjalannya waktu, perhatian itu tidak lagi ada dan malah hilang begitu saja. 4) Tidak saling menghormati yang menimbulkan rasa tidak menghargai. baik antara ayah, ibu dan anak-anak, saling memperlakuan sesuka hati dan tidak mau saling menghormati. 5) Tidak nyaman berada di dalam Rumah karena  bukan lagi menjadi tempat yang asyik untuk singgah. Anggota keluarga jusru lebih memilih menghabiskan waktu di luar daripada pulang dan bareng keluarga di rumah. Ini yang akan membuat anggota keluarga menjauh dan semakin lama semakin hambar hubungan mereka bersama keluarga. 

Mengapa konflik dan kejenuhan dalam keluarga bisa terjadi seperti itu? Karena rumah tangga mereka tidak diliputi oleh barokah (berkah) dan tidak sedikit pun berusaha untuk menjadikannya berkah. Menjaga keharmonisan dalam keluarga tidak mudah. Hanya cinta sejati dan juga kasih sayang yang mampu mempertahankan hubungan dalam keluarga. Satu jawaban untuk semua liku-liku probematika yang ada yaitu karena hidup mereka tidak berkah. Keluarga bahagia dapat terwujud didasari oleh kehidupan dan pernikahan yang berkah.

Berkah adalah kebaikan yang tidak ada habisnya, kadang pula dapat diartikan bertambahnya kebaikan. Menurut Imam Nawawi, makna berkah ialah kebaikan yang banyak dan abadi. Bila kehidupannya barokah, maka apa pun yang dimiliki, pekerjaannya, rumahnya, istrinya, anak-anaknya, akan memuaskan, terasa menenteramkan dan selalu menyenangkan. Suami meskipun gajinya paspasan tapi tetap membahagiakan, rezekinya selalu lancar, ekonomi berkecukupan, uang pendidikan anak-anak tidak pernah kekurangan. Bila keluarga diliputi dengan sinar berkah, maka istri yang paspasan terlihat cantik, enak dipandang, dan menyenangkan. Uang sedikit terasa bertambah setiap harinya, dan rumah yang sempit terasa luas.

Namun bila barokah itu tidak meliputi mereka, maka suami yang kaya dan gagah perkasa sekalipun, tidak pernah memuaskan, terasa menyenangkan dan tidak membuat bahagia. Sebanyak apa pun gaji suami, selalu merasakan kekurangan. Sang istri cantik, montok dengan dandanan mahal pun, tetap sumpek dipandang.

Bagaimana agar kita mendapatkan kehidupan berkah, pernikahan barokah, dan terus meliputi kita, keluarga dan keturunan kita hingga hari tua? Semua berawal dari sekarang. Dari kita semua yang masih menuntut ilmu di bangku pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Kita sebagai santri atau siswa, kita harus belajar bersungguh-sungguh. Tidak lupa senantiasa menghormati guru-guru atau ahli ilmu. Kita menuntut ilmu dengan mengharapkan barokah guru dan ilmu yang diajarkan. Kelak berkah itu akan meliputi kita hingga hari tua.

Ali RA mencontohkan, sekecil apa pun ilmu yang didapat dari guru, tak boleh diremehkan. Imam Syafi’i pernah membuat rekannya kagum karena tiba-tiba ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabatnya bertanya, “Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya?”

Imam Syafi’i menjawab, “Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, “Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh.”

Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap sedemikian pula yang menjadi salah satu faktor yang mengantarkan seorang Syafi’i menjadi imam besar.

Jadi, mewujudkan keluarga bahagia adalah dengan kasih sayang. Sedangkan kasih sayang itu berasal dari hati, lahir bersamaan syukur dan perasaan yang tidak sempit. Hati seperti itu adalah hati yang barokah, di dapat dari ilmu yang barokah. Untuk mendapatkan keberkahan hidup dapat dimulai dari sekarang. Dari kesungguhan belajar, patuh kepada guru, saling menghormati, dan tidak jemu bertoleransi untuk saling menghargai. (*)

 *) Santri dan mahasiswi IAIDA Banyuwangi, Prodi Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 2019.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia