alexametrics
24.9 C
Banyuwangi
Sunday, July 3, 2022

Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pemersatu Nusantara

MANUSIA sebagai satu di antara sekian banyak makhluk Tuhan Yang Maha Esa di dalam kehidupan ini mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan beberapa makhluk lainnya. Jika dicermati sekaligus dihayati dengan saksama, perbedaan ini terjadi karena manusia dikaruniai kemampuan jiwa yaitu akal, rasa, kehendak, serta keyakinan.

Manusia juga disebut dengan hewan yang berakal. Mana kala lebih dispesifikkan lagi manusia dengan akalnya bisa membedakan antara sesuatu yang diketahuinya dengan sesuatu yang tidak diketahuinya dengan titah atas nama ”ilmu” yang dimilikinya. Hal inilah yang sangat jauh dominan perbedaan antara manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya.

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap rasa perbedaan dan keragaman yang berbeda. Dengan perbedaan tersebut kita patut bersyukur bisa membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Mulai dari perbedaan budaya, bahasa, agama, etnis, serta lainnya. Hal ini bukan hanya kehidupan individu yang diselimuti perbedaan bahkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, negara A dengan negara B pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda.

Negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama di antara yang berupa elemen-elemen negara yang berupa suku, ras, kelompok, golongan, maupun kelompok agama. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keragaman yang mencolok, mulai dari keragaman suatu pulau sampai pada ranah desa pun memiliki keragaman yang berbeda. Kendati demikian, pada hakikatnya keragaman tersebut adalah suatu kesatuan corak ragam budaya yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa dibawa seloka Bhinneka Tunggal Ika.

Berbicara perihal Bhinneka Tunggal Ika pastinya tidak akan terlepas dengan lambang negara Republik Indonesia yakni Garuda Pancasila. Pada lambang negara tersebut Indonesia memiliki semboyan atau asas Bhinneka Tunggal Ika. Seloka Bhinneka Tunggal Ika melambangkan realitas bangsa dan negara Indonesia yang tersusun dari berbagai unsur rakyat yang terdiri atas berbagai macam suku, adat istiadat, golongan, kebudayaan, dan agama. Wilayah yang terdiri atas beribu-ribu pulau menyatu atas nama persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

Jika dilakukan kajian melalui filsafat analitika bahasa (suatu metode analisis terhadap makna penggunaan ungkapan bahasa era kontemporer Eropa), seloka Bhinneka Tunggal Ika pada hakikatnya merupakan suatu frase. Secara morfologis kata ’BHIN-NEKA’ berasal dari kata polimorfesis yaitu ’bhinna’ dan ’ika’.

Kata bhinna berasal dari bahasa sanskerta ’bhid’ yang dapat diterjemahkan menjadi beda. Dalam proses linguistik karena digabungkan dengan morfem ’ika’ maka menjadi ’bhinna’. ’Ika’ artinya itu, ’bhin-neka’ artinya beda itu, sedangkan ’tunggal ika’ artinya satu itu. Oleh karena itu, jika diterjemahkan secara bebas maka makna Bhinneka Tunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda akan tetapi satu jua (baca: Pendidikan Kewarganegaran untuk Perguruan Tinggi).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan manifestasi dari nilai persatuan dan kesatuan. Dengan adanya asas Bhinneka Tunggal Ika kehidupan Negara akan terjaga keseimbangannya. Dengan catatan semua warga Negara dengan keragaman, saling mengerti dan memahami baik dari kebudayaan yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan agama lainnya. Apalagi dari sikap toleransi (tasammuh) sangat harus melekat bagi setiap warga negara.

Dengan adanya sikap tersebut yakni saling menghargai, menghormati, dan toleransi antar sesama, tentu saja bangsa ini akan menjadi bangsa yang penuh persatuan, perdamaian, lagi kesejahteraan. Implementasi dari kandungan Bhinneka Tunggal Ika pun tidak boleh di tinggalkan.

Karena selain dari beberapa sikap yang sudah dijelaskan, implementasi dari kandungan makna semboyan negara ini juga akan mempengaruhi masa depan bangsa. Tetapi pembaca yang budiman, berdasar pada realitas serta fakta yang ada, banyak yang sudah tidak selaras dengan apa yang ada pada kandungan Bhinneka Tunggal Ika.

Satu budaya dengan budaya lain saling membenci, satu agama dengan agama lain saling mencaci, entah siapa yang sudah memprovokasi, bahkan lebih parahnya lagi satu desa dengan desa yang lain sudah tidak jadi sahabat sejati, tetapi malah menjadi musuh abadi. Hal ini adalah persepsi yang memang nyata adanya terjadi.

Seharusnya semua warga negara, termasuk kita harus pandai mengambil sikap tanpa saling menodai. Serta juga harus berusaha mengimplementasi dari kandungan Bhinneka Tunggal Ika. Mari kita belajar menghormati, belajar menghargai, serta toleransi antarsesama tanpa saling berkontroversi.

Ingatkah kepada perjuangan para pendahulu kita? Mereka semua rela berkorban bahkan nyawa taruhannya untuk terus membuat ideologi agar semua aspirasi terealisasi. Mari kita berusaha menghilangkan rasa benci, rasa memusuhi antarsesama, hilangkan semua yang membahayakan terutama yang mengakibatkan hancurnya bangsa ini. Tanamkan sikap integritas pada bangsa ini dengan mengimplementasi kandungan dari asas bangsa Indonesia.

Perbedaan merupakan rahmat dari Tuhan, merupakan bawaan kodrat manusia dan merupakan ciri khas elemen yang membentuk negara. Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi satu, merantai diri dalam suatu persatuan yang dititah dalam suatu Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan bukanlah untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan, melainkan diarahkan kepada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dan kehidupan bersama untuk mewujudkan aspirasi dan cita-cita negara.

Dengan menerapkan sikap implementasi dari kandungan Bhinneka Tunggal Ika merupakan satu di antara cara untuk mempersatukan keberagaman yang ada. Karena pada dasarnya, Bhinneka Tunggal Ika merupakan manifestasi dari nilai persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, mari kita bersatu tanpa memandang keragaman yang berbeda untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar ber-Bhinneka Tunggal Ika. (*)

*) Siswa SMA Ibrahimy Situbondo, Pegiat Literasi ISWASS.

MANUSIA sebagai satu di antara sekian banyak makhluk Tuhan Yang Maha Esa di dalam kehidupan ini mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan beberapa makhluk lainnya. Jika dicermati sekaligus dihayati dengan saksama, perbedaan ini terjadi karena manusia dikaruniai kemampuan jiwa yaitu akal, rasa, kehendak, serta keyakinan.

Manusia juga disebut dengan hewan yang berakal. Mana kala lebih dispesifikkan lagi manusia dengan akalnya bisa membedakan antara sesuatu yang diketahuinya dengan sesuatu yang tidak diketahuinya dengan titah atas nama ”ilmu” yang dimilikinya. Hal inilah yang sangat jauh dominan perbedaan antara manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya.

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap rasa perbedaan dan keragaman yang berbeda. Dengan perbedaan tersebut kita patut bersyukur bisa membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Mulai dari perbedaan budaya, bahasa, agama, etnis, serta lainnya. Hal ini bukan hanya kehidupan individu yang diselimuti perbedaan bahkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, negara A dengan negara B pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda.

Negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama di antara yang berupa elemen-elemen negara yang berupa suku, ras, kelompok, golongan, maupun kelompok agama. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keragaman yang mencolok, mulai dari keragaman suatu pulau sampai pada ranah desa pun memiliki keragaman yang berbeda. Kendati demikian, pada hakikatnya keragaman tersebut adalah suatu kesatuan corak ragam budaya yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa dibawa seloka Bhinneka Tunggal Ika.

Berbicara perihal Bhinneka Tunggal Ika pastinya tidak akan terlepas dengan lambang negara Republik Indonesia yakni Garuda Pancasila. Pada lambang negara tersebut Indonesia memiliki semboyan atau asas Bhinneka Tunggal Ika. Seloka Bhinneka Tunggal Ika melambangkan realitas bangsa dan negara Indonesia yang tersusun dari berbagai unsur rakyat yang terdiri atas berbagai macam suku, adat istiadat, golongan, kebudayaan, dan agama. Wilayah yang terdiri atas beribu-ribu pulau menyatu atas nama persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

Jika dilakukan kajian melalui filsafat analitika bahasa (suatu metode analisis terhadap makna penggunaan ungkapan bahasa era kontemporer Eropa), seloka Bhinneka Tunggal Ika pada hakikatnya merupakan suatu frase. Secara morfologis kata ’BHIN-NEKA’ berasal dari kata polimorfesis yaitu ’bhinna’ dan ’ika’.

Kata bhinna berasal dari bahasa sanskerta ’bhid’ yang dapat diterjemahkan menjadi beda. Dalam proses linguistik karena digabungkan dengan morfem ’ika’ maka menjadi ’bhinna’. ’Ika’ artinya itu, ’bhin-neka’ artinya beda itu, sedangkan ’tunggal ika’ artinya satu itu. Oleh karena itu, jika diterjemahkan secara bebas maka makna Bhinneka Tunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda akan tetapi satu jua (baca: Pendidikan Kewarganegaran untuk Perguruan Tinggi).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan manifestasi dari nilai persatuan dan kesatuan. Dengan adanya asas Bhinneka Tunggal Ika kehidupan Negara akan terjaga keseimbangannya. Dengan catatan semua warga Negara dengan keragaman, saling mengerti dan memahami baik dari kebudayaan yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan agama lainnya. Apalagi dari sikap toleransi (tasammuh) sangat harus melekat bagi setiap warga negara.

Dengan adanya sikap tersebut yakni saling menghargai, menghormati, dan toleransi antar sesama, tentu saja bangsa ini akan menjadi bangsa yang penuh persatuan, perdamaian, lagi kesejahteraan. Implementasi dari kandungan Bhinneka Tunggal Ika pun tidak boleh di tinggalkan.

Karena selain dari beberapa sikap yang sudah dijelaskan, implementasi dari kandungan makna semboyan negara ini juga akan mempengaruhi masa depan bangsa. Tetapi pembaca yang budiman, berdasar pada realitas serta fakta yang ada, banyak yang sudah tidak selaras dengan apa yang ada pada kandungan Bhinneka Tunggal Ika.

Satu budaya dengan budaya lain saling membenci, satu agama dengan agama lain saling mencaci, entah siapa yang sudah memprovokasi, bahkan lebih parahnya lagi satu desa dengan desa yang lain sudah tidak jadi sahabat sejati, tetapi malah menjadi musuh abadi. Hal ini adalah persepsi yang memang nyata adanya terjadi.

Seharusnya semua warga negara, termasuk kita harus pandai mengambil sikap tanpa saling menodai. Serta juga harus berusaha mengimplementasi dari kandungan Bhinneka Tunggal Ika. Mari kita belajar menghormati, belajar menghargai, serta toleransi antarsesama tanpa saling berkontroversi.

Ingatkah kepada perjuangan para pendahulu kita? Mereka semua rela berkorban bahkan nyawa taruhannya untuk terus membuat ideologi agar semua aspirasi terealisasi. Mari kita berusaha menghilangkan rasa benci, rasa memusuhi antarsesama, hilangkan semua yang membahayakan terutama yang mengakibatkan hancurnya bangsa ini. Tanamkan sikap integritas pada bangsa ini dengan mengimplementasi kandungan dari asas bangsa Indonesia.

Perbedaan merupakan rahmat dari Tuhan, merupakan bawaan kodrat manusia dan merupakan ciri khas elemen yang membentuk negara. Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi satu, merantai diri dalam suatu persatuan yang dititah dalam suatu Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan bukanlah untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan, melainkan diarahkan kepada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dan kehidupan bersama untuk mewujudkan aspirasi dan cita-cita negara.

Dengan menerapkan sikap implementasi dari kandungan Bhinneka Tunggal Ika merupakan satu di antara cara untuk mempersatukan keberagaman yang ada. Karena pada dasarnya, Bhinneka Tunggal Ika merupakan manifestasi dari nilai persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, mari kita bersatu tanpa memandang keragaman yang berbeda untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar ber-Bhinneka Tunggal Ika. (*)

*) Siswa SMA Ibrahimy Situbondo, Pegiat Literasi ISWASS.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/