alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Catatan: Lailia Nur Hamidah*

Kenali Pecandu Narkoba melalui 3-Ong

NAPZA dengan kepanjangan yang terdiri dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang dilarang. Dunia kesehatan memanfaatkan beberapa jenis di antaranya untuk keperluan tertentu, yang tentunya sesuai dengan takaran yang sudah diperhitungkan oleh tenaga ahli di bidangnya. Bukan sembarang orang diperbolehkan mengonsumsi, apalagi mengedarkannya.

Zat-zat ini diproduksi untuk keperluan tertentu. Namun sayangnya, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kesempatan. Pengedaran zat adiktif dan sejenisnya ini seperti tak terkontrol hingga masuk ke tangan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Mereka mengedarkan barang-barang yang menyebabkan kecanduan bagi pemakainya itu secara tidak terkontrol. Memberikan penawaran-penawaran yang menggiurkan di pasaran, hingga objeknya tertarik. Dari ketertarikan itu secara terus-menerus menimbulkan kecanduan, lalu terus menariknya dengan harga yang tidak tergolong murah.

Para konsumennya pun seperti tak sadarkan diri. Rasa candunya seperti tak dapat ditawar lagi. Hingga apa pun akan mereka lakukan untuk mendapat barang itu. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu. Padahal sebagian besar dari mereka, mengetahui tentang bahayanya narkoba dan sejenisnya. Namun demikian, rasa candu yang lagi-lagi tak dapat dituntaskan hanya dengan pengetahuan semata. Terlebih dalam kondisi seperti ini, tubuh pecandu narkoba seolah sudah dirusak oleh dosis tinggi zat-zat tersebut.

Ikhsan selaku Kepala Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyiaran Narkoba (LRPPN) Bhayangkara Kabupaten Banyuwangi dalam kesempatan pertemuan bersama anggota relawan tangguh menjelaskan ciri umum pecandu narkoba. Berikut ini beberapa ciri yang dapat digunakan sebagai alat deteksi dini pecandu narkoba:

 Bohong

Pada umumnya pecandu narkoba akan sering berbohong. Mereka akan cenderung tertutup. Biasanya mereka mengonsumsi narkoba bersama teman sepergaulan yang juga mengonsumsi barang haram tersebut. Saat orang lain bertanya tentang hal itu mereka akan menutupinya. Pecandu narkoba tentu tak mudah mengakui keterlibatannya pada barang haram tersebut. Kebanyakan dari mereka bicaranya belepotan dan over action. Untuk itu tak cukup jika pemeriksaan hanya dilakukan berdasar ciri fisik saja. Perlu adanya skrining khusus yang hasilnya valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bengong

Bahan kimia yang terkandung pada narkoba dan berbagai macam jenisnya itu menimbulkan efek nge-fly pada penggunanya. Hal ini tentu mempengaruhi psikologis pengguna hingga menyebabkan ketergantungan. Sensasi ini menyebabkan para pecandu narkoba banyak bengong disertai halusinasi yang tak jelas. Bahkan tak jarang bicaranya seringkali tidak nyambung dan suka merancau. Ini juga ada kaitannya dengan poin pertama. Disebabkan karena sensasi nge-fly inilah seorang pecandu narkoba sering kali bengong seakan tidak fokus dengan segala sesuatu yang ada di depannya.

Nyolong

Awalnya pengedar narkoba menawarkan barang haram tersebut pada sasarannya secara cuma-cuma. Apabila sasaran mulai tergiur, pengedar akan kembali menawarinya untuk harga yang tak seberapa. Perlahan si sasaran mulai ketergantungan, harga pun dinaikkan. Hingga saat sasaran merasa benar-benar kecanduan seolah tak dapat hidup tanpa barang haram tersebut, pengedar akan melambungkan harga terus naik dalam jumlah yang fantastis. Dalam kondisi seperti ini, si pengguna narkoba akan melakukan segala cara untuk mendapatkan barang haram tersebut. Termasuk jika harus membelinya dengan harga yang cukup mahal. Bahkan tak peduli jika harus menghabiskan harta kekayaannya demi mendapatkan barang haram tersebut.

Tentunya untuk memastikan apakah seseorang benar-benar mengonsumsi narkoba harus dilakukan skrining menggunakan tes urine serta beberapa assessment masalah yang juga melibatkan keluarga yang bersangkutan. Jika memang dari beberapa cara tersebut yang bersangkutan dinyatakan positif sebagai pengguna narkoba, selanjutnya akan dilakukan proses rehabilitasi yang tentunya juga hanya bisa dilakukan oleh pihak yang ahli dan memiliki kewenangan di dalamnya.

Penentuan sukses dan tidaknya proses rehabilitasi, dan apakah yang bersangkutan telah dinyatakan pulih atau belum juga memerlukan proses assessment masalah. Baru kemudian jika yang bersangkutan dinyatakan pulih dilakukan pendampingan oleh pihak yang melaksanakan rehabilitasi bersama keluarganya. (*)

NAPZA dengan kepanjangan yang terdiri dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang dilarang. Dunia kesehatan memanfaatkan beberapa jenis di antaranya untuk keperluan tertentu, yang tentunya sesuai dengan takaran yang sudah diperhitungkan oleh tenaga ahli di bidangnya. Bukan sembarang orang diperbolehkan mengonsumsi, apalagi mengedarkannya.

Zat-zat ini diproduksi untuk keperluan tertentu. Namun sayangnya, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kesempatan. Pengedaran zat adiktif dan sejenisnya ini seperti tak terkontrol hingga masuk ke tangan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Mereka mengedarkan barang-barang yang menyebabkan kecanduan bagi pemakainya itu secara tidak terkontrol. Memberikan penawaran-penawaran yang menggiurkan di pasaran, hingga objeknya tertarik. Dari ketertarikan itu secara terus-menerus menimbulkan kecanduan, lalu terus menariknya dengan harga yang tidak tergolong murah.

Para konsumennya pun seperti tak sadarkan diri. Rasa candunya seperti tak dapat ditawar lagi. Hingga apa pun akan mereka lakukan untuk mendapat barang itu. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu. Padahal sebagian besar dari mereka, mengetahui tentang bahayanya narkoba dan sejenisnya. Namun demikian, rasa candu yang lagi-lagi tak dapat dituntaskan hanya dengan pengetahuan semata. Terlebih dalam kondisi seperti ini, tubuh pecandu narkoba seolah sudah dirusak oleh dosis tinggi zat-zat tersebut.

Ikhsan selaku Kepala Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyiaran Narkoba (LRPPN) Bhayangkara Kabupaten Banyuwangi dalam kesempatan pertemuan bersama anggota relawan tangguh menjelaskan ciri umum pecandu narkoba. Berikut ini beberapa ciri yang dapat digunakan sebagai alat deteksi dini pecandu narkoba:

 Bohong

Pada umumnya pecandu narkoba akan sering berbohong. Mereka akan cenderung tertutup. Biasanya mereka mengonsumsi narkoba bersama teman sepergaulan yang juga mengonsumsi barang haram tersebut. Saat orang lain bertanya tentang hal itu mereka akan menutupinya. Pecandu narkoba tentu tak mudah mengakui keterlibatannya pada barang haram tersebut. Kebanyakan dari mereka bicaranya belepotan dan over action. Untuk itu tak cukup jika pemeriksaan hanya dilakukan berdasar ciri fisik saja. Perlu adanya skrining khusus yang hasilnya valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bengong

Bahan kimia yang terkandung pada narkoba dan berbagai macam jenisnya itu menimbulkan efek nge-fly pada penggunanya. Hal ini tentu mempengaruhi psikologis pengguna hingga menyebabkan ketergantungan. Sensasi ini menyebabkan para pecandu narkoba banyak bengong disertai halusinasi yang tak jelas. Bahkan tak jarang bicaranya seringkali tidak nyambung dan suka merancau. Ini juga ada kaitannya dengan poin pertama. Disebabkan karena sensasi nge-fly inilah seorang pecandu narkoba sering kali bengong seakan tidak fokus dengan segala sesuatu yang ada di depannya.

Nyolong

Awalnya pengedar narkoba menawarkan barang haram tersebut pada sasarannya secara cuma-cuma. Apabila sasaran mulai tergiur, pengedar akan kembali menawarinya untuk harga yang tak seberapa. Perlahan si sasaran mulai ketergantungan, harga pun dinaikkan. Hingga saat sasaran merasa benar-benar kecanduan seolah tak dapat hidup tanpa barang haram tersebut, pengedar akan melambungkan harga terus naik dalam jumlah yang fantastis. Dalam kondisi seperti ini, si pengguna narkoba akan melakukan segala cara untuk mendapatkan barang haram tersebut. Termasuk jika harus membelinya dengan harga yang cukup mahal. Bahkan tak peduli jika harus menghabiskan harta kekayaannya demi mendapatkan barang haram tersebut.

Tentunya untuk memastikan apakah seseorang benar-benar mengonsumsi narkoba harus dilakukan skrining menggunakan tes urine serta beberapa assessment masalah yang juga melibatkan keluarga yang bersangkutan. Jika memang dari beberapa cara tersebut yang bersangkutan dinyatakan positif sebagai pengguna narkoba, selanjutnya akan dilakukan proses rehabilitasi yang tentunya juga hanya bisa dilakukan oleh pihak yang ahli dan memiliki kewenangan di dalamnya.

Penentuan sukses dan tidaknya proses rehabilitasi, dan apakah yang bersangkutan telah dinyatakan pulih atau belum juga memerlukan proses assessment masalah. Baru kemudian jika yang bersangkutan dinyatakan pulih dilakukan pendampingan oleh pihak yang melaksanakan rehabilitasi bersama keluarganya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/