alexametrics
32.1 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Re-Branding Banyuwangi Rebound

BANYUWANGI Rebound. Dua kata yang menggelitik. Sebuah kata yang dari permainan olahraga basket, yang diadopsi menjadi sebuah gerakan perubahan. Pandemi Covid-19 bisa menimbulkan berbagai macam tantangan persoalan. Ini waktunya untuk move on, menuju langkah baru yang mengantarkan masyarakat ke depan gerbang kemakmuran. 

Istilah Rebound, mereka pemain basket salah satu kemampuan, saat jump shot dilakukan, namun bola tak masuk keranjang, bola akan memantul keluar. Rebound menjadi krusial, untuk meraih point dalam setiap quarter berlangsung. Siapa pemain merebut bola pantulan, berjibaku dengan lawan tanding. Siapa yang mampu melompat paling tinggi, ia akan mendapatkan rebound. Bola akan masuk, dan mendapatkan point. Semakin mendapatkan point dalam setiap quarter, maka ia akan memenangkan pertandingan.

Permainan olahraga basket, telah menjadi inspirasi manusia dalam aktivitas sehari-hari. Kehidupan yang kita rasakan, ada banyak problematika, selalu mengisi ruang relung pikiran kita. Gara-gara Pandemi, ekonomi lesu, aktivitas pendidikan terhenti, utang menumpuk, dan mungkin masih banyak persoalan yang lain.   

Apakah kita hanya berhenti di tengah jalan? Tidak ada niat untuk berubah ke depan. Pandemi sudah cukup banyak menghukum kita. Tidak ada alasan untuk berdiam diri atau meratapi kesedihan terus-menerus. Semakin kita tidak berubah, maka semakin banyak kehilangan point. Hidup kita semakin sengsara, pontang-panting, tidak ada tujuan yang jelas, dan hanya menyusahkan orang lain.

Refleksi pelajaran Pandemi Covid-19, sebelum musibah terjadi. Banyuwangi merupakan kawasan pariwisata, banyak wisatawan domestik atau mancanegara yang menghabiskan waktu, mengunjungi berbagai macam destinasi wisata. Banyuwangi merupakan daerah pertanian, banyak hasil komoditas unggulan, mulai dari buah lokal yang diekspor di luar negeri, harganya tinggi hingga menjadi lumbung pangan di Jawa timur.  Banyuwangi merupakan penghasil perikanan, hasil tangkapan ikan berlimpah, banyak yang dikirim di luar negeri, dengan harga jual yang tinggi. Terakhir, Banyuwangi pusat ekonomi kreatif. Tempatnya penggiat UMKM berkumpul, berbagai macam produk unggulan laris manis di pasar. Mulai dari produk tekstil, makanan, hingga digital.

Potensi demikian, kita bangkitkan. Masyarakat Banyuwangi tak semestinya diam, melainkan bergerak secara pasti. Ke depan untuk mencapai target diraih. Memulihkan kehidupan normal seperti sedia kala, tidak semudah mengembalikan telapak tangan, persoalan terbesar keengganan masing-masing untuk melangkah bersama, mereka terkesan bahwa tugas pandemi secara otoritas pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Faktanya, Mereka saling menyalahkan, komentar tidak sehat, saling sindir menyindir, membuat telinga panas, kritik yang tidak membuat reda, malah justru saling serang.

Baca Juga :  Tumbuhkan Empati untuk Generasi Era Globalisasi

Langkah demikian, tampaknya dibangun ulang oleh pemerintah Banyuwangi. Melalui Banyuwangi Rebound, ada banyak pesan tersirat atau tersurat kepada rakyat.

Seorang kepala daerah ingin mengemas dalam warna baru yang kekinian, agar seluruh elemen masyarakat bergetar, berubah, dan bergerak untuk melompat lebih tinggi, dalam rangka menyambut kemenangan pasca pandemi.

Gerakan suatu daerah, tentu tidak lepas dari konteks atau waktu. Masih dalam ingatan, gerakan I Love Banyuwangi, sebuah pesan kultural, salah satunya mengajak rakyat ingin mencintai daerah. Efeknya berbagai macam respons yang teraktualisasi dalam bentuk tindakan. Mulai dari banyak masyarakat dari segala macam profesi, perantauan atau dalam daerah, mereka secara partisipatif bergerak mencintai Banyuwangi berbagai macam tindakan. Mulai dari sarjana pulang ke kampung untuk membangun desanya, para perantau yang sukses di daerah kembali pulang ke Banyuwangi menjadi investor yang membuka banyak lapangan kerja, para bikrokrat bekerja keras tanpa mengenal waktu untuk melayani setulus hati kepada masyarakat.

Hasilnya, kita menikmati dengan seksama. Prestasi Banyuwangi, ibarat seperti air mengalir yang tanpa dikendalikan. Penghargaan dari kelas provinsi, nasional, hingga penghargaan internasional silih berganti. Jagad pemberitaan nasional atau internasional, banyak yang meliput Banyuwangi. Rasa kebanggaan menjadi wong Banyuwangi, menjadi nyata. Orang-orang Banyuwangi lebih percaya diri, tanpa ada rasa malu untuk mengenalkan Banyuwangi kepada dunia luar.

Sekarang, waktu berbeda, tidak sama dengan konteks yang lalu. Peristiwa pandemi, seperti mimpi buruk yang menyeramkan. Berlarut-larut yang sekejap menghilangkan segala rencana yang telah disusun secara rapi.

Kini, Ibu Bupati melakukan semacam Re-Branding, tujuan utama membangunkan tidur panjang orang Banyuwangi, untuk kembali lagi beraktivitas sedia kala. Kesuksesan Banyuwangi from zero to hero menjadi petunjuk, bahwa segala macam dilakukan secara bersama-sama, maka segala macam kesuksesan dalam sekejap kita pasti meraih.

Baca Juga :  Phobia Kerahasiaan Data Pribadi

Re-Branding kata Muzzelec dan Lambkin (2006) penciptaan nama, istilah, simbol, desain, atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang baru untuk sebuah brand yang sudah mapan dengan mengembangkan suatu posisi, yang baru dan berbeda di benak para pemangku kepentingan dan pesaing.

Pemerintah Banyuwangi memaparkan langkah teknis dalam Banyuwangi Rebound, tiga menjadi fokus utama: Tangani Pandemi, Pulihkan Ekonomi, dan Merajut Harmoni. Beberapa poin yang menggambarkan skala prioritas, untuk menjawab tantangan problematika hari ini.

Tangani Pandemi, Pemkab Banyuwangi telah mendesain bahwa perangkat OPD menjadi dinas kesehatan. Mereka cekatan untuk terus berkoordinasi merumuskan kebijakan untuk mengurangi lonjakan kasus COVID-19. Mulai dari vaksinasi di berbagai macam usia, penyediaan ruang isolasi mandiri, hingga kebiasaan adaptasi baru.

Pulihkan Ekonomi, pemerintah daerah menyiapkan beberapa program, mulai dari bantuan sosial, penyertaan modal usaha, dan yang lainnya.

Terakhir, merajut harmoni. Secara spesifik kekuatan masyarakat, menjadi faktor keberhasilan dalam menjalankan setiap program kerja. Masyarakat yang aman, damai dan sentosa penentu dalam setiap jalannya program pemerintah. Realitanya, masyarakat Banyuwangi beragam, sudah sepatutnya kita menjahit benang kebhinnekaan, untuk menyamakan persepsi dalam pembangunan daerah.

Tiga pilar telah menjadi soko guru dalam meletakkan setiap kebijakan. Pertanyaan sekarang, sehebat apa pun seorang pemimpin dalam membuat program, tetapi partisipasi masyarakat rendah, maka sebuah gerakan Banyuwangi Rebound hanya pernak-pernik saja. Tantangan ke depan, bagaimana gagasan Banyuwangi Rebound sebagai gerakan kultural, yang menginternalisasi tiga pilar kebijakan dalam setiap aktivitas masyarakat.

Perlu waktu untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan ekspektasi kita. Semoga gerakan Banyuwangi Rebound, membawa Banyuwangi semakin melambung dari cengkeraman Pandemi Covid-19. (*)

*) Aktivis asal Banyuwangi, menimba ilmu di Jogjakarta.

BANYUWANGI Rebound. Dua kata yang menggelitik. Sebuah kata yang dari permainan olahraga basket, yang diadopsi menjadi sebuah gerakan perubahan. Pandemi Covid-19 bisa menimbulkan berbagai macam tantangan persoalan. Ini waktunya untuk move on, menuju langkah baru yang mengantarkan masyarakat ke depan gerbang kemakmuran. 

Istilah Rebound, mereka pemain basket salah satu kemampuan, saat jump shot dilakukan, namun bola tak masuk keranjang, bola akan memantul keluar. Rebound menjadi krusial, untuk meraih point dalam setiap quarter berlangsung. Siapa pemain merebut bola pantulan, berjibaku dengan lawan tanding. Siapa yang mampu melompat paling tinggi, ia akan mendapatkan rebound. Bola akan masuk, dan mendapatkan point. Semakin mendapatkan point dalam setiap quarter, maka ia akan memenangkan pertandingan.

Permainan olahraga basket, telah menjadi inspirasi manusia dalam aktivitas sehari-hari. Kehidupan yang kita rasakan, ada banyak problematika, selalu mengisi ruang relung pikiran kita. Gara-gara Pandemi, ekonomi lesu, aktivitas pendidikan terhenti, utang menumpuk, dan mungkin masih banyak persoalan yang lain.   

Apakah kita hanya berhenti di tengah jalan? Tidak ada niat untuk berubah ke depan. Pandemi sudah cukup banyak menghukum kita. Tidak ada alasan untuk berdiam diri atau meratapi kesedihan terus-menerus. Semakin kita tidak berubah, maka semakin banyak kehilangan point. Hidup kita semakin sengsara, pontang-panting, tidak ada tujuan yang jelas, dan hanya menyusahkan orang lain.

Refleksi pelajaran Pandemi Covid-19, sebelum musibah terjadi. Banyuwangi merupakan kawasan pariwisata, banyak wisatawan domestik atau mancanegara yang menghabiskan waktu, mengunjungi berbagai macam destinasi wisata. Banyuwangi merupakan daerah pertanian, banyak hasil komoditas unggulan, mulai dari buah lokal yang diekspor di luar negeri, harganya tinggi hingga menjadi lumbung pangan di Jawa timur.  Banyuwangi merupakan penghasil perikanan, hasil tangkapan ikan berlimpah, banyak yang dikirim di luar negeri, dengan harga jual yang tinggi. Terakhir, Banyuwangi pusat ekonomi kreatif. Tempatnya penggiat UMKM berkumpul, berbagai macam produk unggulan laris manis di pasar. Mulai dari produk tekstil, makanan, hingga digital.

Potensi demikian, kita bangkitkan. Masyarakat Banyuwangi tak semestinya diam, melainkan bergerak secara pasti. Ke depan untuk mencapai target diraih. Memulihkan kehidupan normal seperti sedia kala, tidak semudah mengembalikan telapak tangan, persoalan terbesar keengganan masing-masing untuk melangkah bersama, mereka terkesan bahwa tugas pandemi secara otoritas pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Faktanya, Mereka saling menyalahkan, komentar tidak sehat, saling sindir menyindir, membuat telinga panas, kritik yang tidak membuat reda, malah justru saling serang.

Baca Juga :  Slow Living saat Pandemi

Langkah demikian, tampaknya dibangun ulang oleh pemerintah Banyuwangi. Melalui Banyuwangi Rebound, ada banyak pesan tersirat atau tersurat kepada rakyat.

Seorang kepala daerah ingin mengemas dalam warna baru yang kekinian, agar seluruh elemen masyarakat bergetar, berubah, dan bergerak untuk melompat lebih tinggi, dalam rangka menyambut kemenangan pasca pandemi.

Gerakan suatu daerah, tentu tidak lepas dari konteks atau waktu. Masih dalam ingatan, gerakan I Love Banyuwangi, sebuah pesan kultural, salah satunya mengajak rakyat ingin mencintai daerah. Efeknya berbagai macam respons yang teraktualisasi dalam bentuk tindakan. Mulai dari banyak masyarakat dari segala macam profesi, perantauan atau dalam daerah, mereka secara partisipatif bergerak mencintai Banyuwangi berbagai macam tindakan. Mulai dari sarjana pulang ke kampung untuk membangun desanya, para perantau yang sukses di daerah kembali pulang ke Banyuwangi menjadi investor yang membuka banyak lapangan kerja, para bikrokrat bekerja keras tanpa mengenal waktu untuk melayani setulus hati kepada masyarakat.

Hasilnya, kita menikmati dengan seksama. Prestasi Banyuwangi, ibarat seperti air mengalir yang tanpa dikendalikan. Penghargaan dari kelas provinsi, nasional, hingga penghargaan internasional silih berganti. Jagad pemberitaan nasional atau internasional, banyak yang meliput Banyuwangi. Rasa kebanggaan menjadi wong Banyuwangi, menjadi nyata. Orang-orang Banyuwangi lebih percaya diri, tanpa ada rasa malu untuk mengenalkan Banyuwangi kepada dunia luar.

Sekarang, waktu berbeda, tidak sama dengan konteks yang lalu. Peristiwa pandemi, seperti mimpi buruk yang menyeramkan. Berlarut-larut yang sekejap menghilangkan segala rencana yang telah disusun secara rapi.

Kini, Ibu Bupati melakukan semacam Re-Branding, tujuan utama membangunkan tidur panjang orang Banyuwangi, untuk kembali lagi beraktivitas sedia kala. Kesuksesan Banyuwangi from zero to hero menjadi petunjuk, bahwa segala macam dilakukan secara bersama-sama, maka segala macam kesuksesan dalam sekejap kita pasti meraih.

Baca Juga :  Hari Kartini, Peringatan Perjuangan Hak Perempuan

Re-Branding kata Muzzelec dan Lambkin (2006) penciptaan nama, istilah, simbol, desain, atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang baru untuk sebuah brand yang sudah mapan dengan mengembangkan suatu posisi, yang baru dan berbeda di benak para pemangku kepentingan dan pesaing.

Pemerintah Banyuwangi memaparkan langkah teknis dalam Banyuwangi Rebound, tiga menjadi fokus utama: Tangani Pandemi, Pulihkan Ekonomi, dan Merajut Harmoni. Beberapa poin yang menggambarkan skala prioritas, untuk menjawab tantangan problematika hari ini.

Tangani Pandemi, Pemkab Banyuwangi telah mendesain bahwa perangkat OPD menjadi dinas kesehatan. Mereka cekatan untuk terus berkoordinasi merumuskan kebijakan untuk mengurangi lonjakan kasus COVID-19. Mulai dari vaksinasi di berbagai macam usia, penyediaan ruang isolasi mandiri, hingga kebiasaan adaptasi baru.

Pulihkan Ekonomi, pemerintah daerah menyiapkan beberapa program, mulai dari bantuan sosial, penyertaan modal usaha, dan yang lainnya.

Terakhir, merajut harmoni. Secara spesifik kekuatan masyarakat, menjadi faktor keberhasilan dalam menjalankan setiap program kerja. Masyarakat yang aman, damai dan sentosa penentu dalam setiap jalannya program pemerintah. Realitanya, masyarakat Banyuwangi beragam, sudah sepatutnya kita menjahit benang kebhinnekaan, untuk menyamakan persepsi dalam pembangunan daerah.

Tiga pilar telah menjadi soko guru dalam meletakkan setiap kebijakan. Pertanyaan sekarang, sehebat apa pun seorang pemimpin dalam membuat program, tetapi partisipasi masyarakat rendah, maka sebuah gerakan Banyuwangi Rebound hanya pernak-pernik saja. Tantangan ke depan, bagaimana gagasan Banyuwangi Rebound sebagai gerakan kultural, yang menginternalisasi tiga pilar kebijakan dalam setiap aktivitas masyarakat.

Perlu waktu untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan ekspektasi kita. Semoga gerakan Banyuwangi Rebound, membawa Banyuwangi semakin melambung dari cengkeraman Pandemi Covid-19. (*)

*) Aktivis asal Banyuwangi, menimba ilmu di Jogjakarta.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/