Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Sehat di Tengah Pandemi ala Tradisi Suku Osing

Oleh: Ikhlas Bekti Dermawan*

21 Oktober 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Sehat di Tengah Pandemi ala Tradisi Suku Osing

Share this      

CORONA Virus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2). Virus ini menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan infeksi saluran pernapasan ringan, termasuk infeksi paru-paru serius hingga kematian.

Terdapat beberapa kategori individu yang terkonfirmasi Covid-19, antara lain positif tanpa gejala, gejala ringan, sedang, hingga gejala berat. Infeksi virus ini berisiko berkembang menjadi penyakit yang lebih serius, di mana tingkat infeksi cenderung terjadi pada lansia dan individu dengan riwayat penyakit kronis seperti kanker, diabetes, kardiovaskuler, dan penyakit pernapasan.

Adanya faktor risiko tersebut membuat banyak orang melakukan beragam cara untuk dapat menjaga kesehatan tubuhnya. Termasuk mereka yang telah menginjak usia lanjut atau lansia. Seperti yang telah dilakukan oleh suku Osing Banyuwangi.

Baca juga: Memboosting Banyuwangi saat Pandemi

Suku Osing memiliki tradisi tersendiri yang sering dilakukan agar mereka dapat meningkatkan imun dan kesehatan selama musim pandemi. Kekentalan prinsip suku Osing yang masih memegang teguh pada tradisi nenek moyang membuat masyarakat tersebut memiliki tingkat kesehatan yang optimal dan produktif.

Langkah yang dilakukan masyarakat suku Osing yaitu dengan menjaga kesehatan holistic care. Ketika awal terdiagnosis mengalami gejala Covid-19, strategi yang mereka gunakan yaitu melakukan pengurangan rasa cemas dan menerima kenyataan bahwa memang kondisi tubuhnya sedang terjangkit virus korona. Mereka membangun koping adaptif serta ketahanan psikologis untuk terus berpikir positif dengan menghindari berita yang kurang terfilter di media sosial.

Selalu Berpikir Positif

Selalu berpikir positif merupakan salah satu tradisi Suku Osing yang diajarkan oleh nenek moyang dan dilestarikan tetua adat suku Osing kepada setiap generasi secara turun-temurun. Dampak positif yang dirasakan adalah minimnya ditemukannya perilaku emosional dari masyarakat yang telah terkonfirmasi Covid-19 atau penyintas. Tertanam sebuah mindset bahwa apa pun yang terjadi kepada setiap manusia, merupakan sebuah kehendak dari Sang Pencipta. Serta menunjukkan ketidakseimbangan hubungan antara manusia, hewan, dan tumbuhan yang ada di muka bumi.

Menjalankan Tradisi

Yang dilakukan oleh masyarakat suku Osing yakni aktif menjalankan tradisi. Melaksanakan tradisi adalah hal pantang untuk ditinggalkan. Mereka percaya dengan tetap melakukan tradisi budaya nenek moyang dan upacara spiritual akan menyeimbangkan kehidupan manusia, tumbuhan, serta alam. Muncul rasa takut (baca: kuwalat) akan terjadi bencana selalu muncul apabila sebuah tradisi budaya dan upacara spiritual tidak lagi dilaksanakan.

Beberapa contoh tradisi ala Suku Osing yang sering digelar sebagai rangkaian tolak bala adalah tarian Seblang (Desa Olehsari) dan Barong Ider Bumi (Desa Kemiren).

Kepercayaan tradisi yang telah diyakini, secara psikologis memberikan dampak pada kesehatan fisik (biologis) masyarakat Osing. Secara objektif, efeknya dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis pada sumbu Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal (HPA). Kemudian menghasilkan kejadian fisiologis dan spektrum manifestasi klinis biologis psikoneuroimunologi, akan ada eksplorasi interaksi antara psikologis, proses/sistem saraf dan kekebalan tubuh, semuanya menjadi meningkat.

Penggunaan Obat Tradisional

Perawatan lain yang menjadi faktor pendukung kesembuhan dari masyarakat suku Osing adalah pengonsumsian obat herbal, mantera, dan rajah. Saat pandemi ini banyak masyarakat luas atau masyarakat Indonesia juga menggunakan pengobatan tradisional atau herbal, seperti olahan kunyit, jahe merah, curcumin, buah delima, serta jamu lainnya yang ber-BPOM.

Hal serupa juga dilakukan masyarakat suku Osing. Hal yang mereka terapkan adalah menyelaraskan penerapan antara tradisi (budaya), biologis, psikologis, dan spiritual.  Menurut mereka, apabila hal tersebut seimbang dan harmoni akan meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi setiap individu. Suku Osing juga menggunakan obat herbal olahan rempah-rempah, seperti kunyit, jahe, jahe merah, sirih merah, serai, dan bawang putih.

Saling Memberi Dukungan Positif

Adanya dukungan positif dari lingkungan sekitar juga menjadi faktor penyembuhan bagi penyintas Covid-19 di suku Osing. Mereka selalu mendapat dukungan dan saling menguatkan dari keluarga, kerabat, tetangga, ketua adat, petugas kesehatan hingga aparat desa setempat. Dukungan yang diberikan tidak hanya dukungan secara emosional melainkan juga dukungan secara instrumental dan juga dukungan informasi.

Dengan adanya sikap gotong royong di antara mereka, maka akan terhindar dari bala atau bencana, tatanan keharmonisan alam dan manusia tidak akan rusak.

Beberapa hal yang telah dilakukan oleh penyintas Covid-19 suku Osing secara tidak langsung telah menggunakan pendekatan biopsikososial­-spiritual. Hal ini dibuktikan dengan kesehatan yang holistik pada mereka, terwujudnya pemikiran yang positif didasarkan pada tradisi-tradisi yang telah diturunkan secara turun menurun. Secara tidak langsung pula, yang telah dilakukan oleh masyarakat suku Osing merupakan cermin keseimbangan dari seluruh aspek. Bahkan faktor-faktor tersebut juga intens dilakukan oleh masyarakat.

Maka dari itu, pembahasan di atas diharapkan dapat menjadi wawasan dan ilmu baru bagi masyarakat lain dalam menjaga kesehatan diri di era pandemi. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi dalam bidang Riset Sosial Humaniora (RSH).

Dengan mengangkat tema ”Eksplorasi Pengalaman Hidup Penyitas Covid-19 dengan Zero Death Cases pada Suku Osing”, tim PKM-RSH berusaha ingin berbagi informasi tentang pengalaman hidup mereka. Setiap suku, daerah, serta individu juga memiliki cara yang berbeda untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Yang terpenting juga adalah, tetap menjaga kolaborasi dengan instansi kesehatan terdekat apabila terjadi kondisi yang gawat atau darurat.

Selain itu, penerapan protokol kesehatan juga penting dilakukan bagi setiap orang, kapan saja, dan di mana saja. (*)

*) Ketua Tim PKM RSH, Stikes Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia