alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Momentum Maulid, Sarana Perbaikan Akhlak dan Ibadah

MENYOAL kehidupan dan kepribadian Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah ada habisnya. Beberapa literatur baik yang berbahasa Arab, Inggris, atau pun dalam bentuk bahasa Indonesia banyak kita jumpai. Tradisi di pondok pesantren ketika bulan Maulid tiba, selalu dihiasi dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa keagamaan (baca: addiniyyah al-khassah).

Dimulai dengan khataman kitab barzanji, maulid ad-diba’iy, khulasah nur al-yaqin, dan beberapa kitab lainnya yang dianggap relevan dengan momentum Maulid Nabi. Di beberapa perguruan tinggi, ada mata kuliah khusus yang membahas tentang sejarah dan kepribadian Rasulullah SAW yaitu as-sirah an-bawaiyyah. Hal semacam ini tujuannya tidak lain agar kecintaan kepada sang Baginda Rasul semakin meningkat tajam.  

Kelahiran Rasulullah SAW membawa nuansa baru bagi peradaban dunia kala itu, khususnya di semenanjung Arab. Disebutkan dalam sejarah misalnya, pada saat Raja Abrahah ingin menghancurkan Kakbah, ia diserang oleh burung Ababil dengan melemparkan batu atau kerikil (yang diambil dari neraka) sehingga Raja Abrahah dan pasukannya mati terkapar layaknya dedaunan yang dimakan ulat. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah penduduk Makkah kala itu akan mengubah tatanan atau kebiasaan yang awalnya kurang baik menjadi sesuatu yang lebih baik.

Selain itu, ada peristiwa menarik yang juga mengiringi kelahiran sang Baginda Rasulullah SAW yaitu Istana Kisra berguncang dan beberapa ruangannya banyak yang roboh. Api di Negeri Persia yang disembah oleh kaum Majusi pada saat itu juga padam seketika, padahal api tersebut ribuan tahun sebelumnya tidak pernah padam. Tanda-tanda ini semakin nyata bahwa Rasulullah akan menjadi pelita pada saat dunia berada dalam lubang kezaliman.

Disebutkan dalam Alquran bahwa Nabi Muhammad menjadi suri teladan yang baik bagi seluruh umat manusia. Ada sesuatu yang sangat menarik dari kepribadian sang nabi ini yaitu, kalaupun beliau dilahirkan di Kota Makkah, menyebarkan agama Islam di sana dan di Madinah, tapi eksistensi ajaran beliau bisa mendunia. Keberadaan beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya Islam saja yang menikmati rahmat dari beliau, tapi seluruh manusia sejagat raya bisa menikmati kucuran rahmat dari lahirnya beliau di muka bumi ini.

Keberadaan beliau pun sudah diisyaratkan di beberapa kitab terdahulu. Alquran sudah menjelaskan secara detail bahwa kaum Yahudi dan Nasrani sebenarnya memahami dan mengetahui tentang risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, hanya saja mereka menyembunyikan kebenaran itu. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 146 ”Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahuinya”.

Tafsir dan penjelasan ayat yang dikutip dari Kemenag menyebutkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat mengenal kenabian dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW karena telah disebutkan secara gamblang dalam Taurat dan Injil. Ayat ini menjadi sandaran bagi kita bahwa risalah yang diemban oleh Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir nyata adanya dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pengakuan pendeta Yahudi akan kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan di kitab-kitab mu’tabarah menjadi landasan kuat akan kepribadian beliau. Tepat di umur sembilan tahun sang paman membawa Muhammad kecil ke Kota Bushra, Negeri Syam untuk mencari pencaharian sebagai pedagang. Di sana, ia bertemu dengan salah satu pendeta terkemuka Bahirah. Ia menyebutkan bahwa kelak Muhammad akan menjadi pemimpin umat dan akan mengubah tatanan dan peradaban dunia menjadi sangat dahsyat. Tidak ada alasan yang bisa dijadikan sandaran untuk tidak cinta dan hormat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang muslim, kita sudah punya tameng yang sangat kuat untuk tetap menambah mahabbah dan cinta kepada Rasulullah SAW yaitu kisah-kisah yang tertuang dalam kitab suci atau pun cerita-cerita yang tertutur dari pendeta-pendeta sebelum datangnya Islam.

Kejadian-kejadian di atas tentunya akan berpengaruh terhadap kerisalahan yang diemban oleh Rasulullah SAW.

Dalam arti, lahirnya saja sudah ada bukti-bukti nyata, maka sudah barang tentu ia akan membawa risalah Tuhan yang terkonsep dengan rapi dan sempurna. Terlepas dari itu semua, risalah paling pokok yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW adalah akhlak dan ibadah.

Akhlak sebagai poin penting yang semestinya seluruh elemen masyarakat harus mengedepankan hal itu. Pendidikan yang dibangun di negeri ini harus bernuansa moral (akhlak), agar tercipta kader-kader atau penerus bangsa yang mampu mengubah tatanan ke arah yang lebih baik. Rasulullah SAW menjadikan misi utamanya diutus oleh Allah untuk memperbaiki kualitas akhlak manusia kala itu. Ia berani mendobrak tatanan jahiliah menuju tatanan yang sesuai dengan aturan-aturan dalam Islam.

Risalah ini bisa kita rasakan dampaknya sampai detik ini. Maulid sebisa mungkin jangan hanya dijadikan sebagai serangkaian formalitas belaka. Lebih dari itu kualitas akhlak harus semakin diperbaiki agar Rasulullah SAW bisa tersenyum melihat umatnya yang selalu mengidolakan dirinya. 

Ibadah sebagai bentuk hubungan langsung antara makhluk dengan Khaliq juga dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Kalaupun beliau aktivitas sehari-harinya berdagang kala itu, ia tidak henti-hentinya untuk tetap beribadah kepada Allah SWT. Padahal beliau sudah dijamin oleh Allah untuk menempati surga, tapi beliau tetap rajin melaksanakan ibadah. Kita sebagai umatnya punya kewajiban untuk mencontoh kepribadian beliau. Jangan lengah untuk selalu beribadah dan mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. (*)

 *) Dosen Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung, Banyuwangi.

MENYOAL kehidupan dan kepribadian Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah ada habisnya. Beberapa literatur baik yang berbahasa Arab, Inggris, atau pun dalam bentuk bahasa Indonesia banyak kita jumpai. Tradisi di pondok pesantren ketika bulan Maulid tiba, selalu dihiasi dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa keagamaan (baca: addiniyyah al-khassah).

Dimulai dengan khataman kitab barzanji, maulid ad-diba’iy, khulasah nur al-yaqin, dan beberapa kitab lainnya yang dianggap relevan dengan momentum Maulid Nabi. Di beberapa perguruan tinggi, ada mata kuliah khusus yang membahas tentang sejarah dan kepribadian Rasulullah SAW yaitu as-sirah an-bawaiyyah. Hal semacam ini tujuannya tidak lain agar kecintaan kepada sang Baginda Rasul semakin meningkat tajam.  

Kelahiran Rasulullah SAW membawa nuansa baru bagi peradaban dunia kala itu, khususnya di semenanjung Arab. Disebutkan dalam sejarah misalnya, pada saat Raja Abrahah ingin menghancurkan Kakbah, ia diserang oleh burung Ababil dengan melemparkan batu atau kerikil (yang diambil dari neraka) sehingga Raja Abrahah dan pasukannya mati terkapar layaknya dedaunan yang dimakan ulat. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah penduduk Makkah kala itu akan mengubah tatanan atau kebiasaan yang awalnya kurang baik menjadi sesuatu yang lebih baik.

Selain itu, ada peristiwa menarik yang juga mengiringi kelahiran sang Baginda Rasulullah SAW yaitu Istana Kisra berguncang dan beberapa ruangannya banyak yang roboh. Api di Negeri Persia yang disembah oleh kaum Majusi pada saat itu juga padam seketika, padahal api tersebut ribuan tahun sebelumnya tidak pernah padam. Tanda-tanda ini semakin nyata bahwa Rasulullah akan menjadi pelita pada saat dunia berada dalam lubang kezaliman.

Disebutkan dalam Alquran bahwa Nabi Muhammad menjadi suri teladan yang baik bagi seluruh umat manusia. Ada sesuatu yang sangat menarik dari kepribadian sang nabi ini yaitu, kalaupun beliau dilahirkan di Kota Makkah, menyebarkan agama Islam di sana dan di Madinah, tapi eksistensi ajaran beliau bisa mendunia. Keberadaan beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya Islam saja yang menikmati rahmat dari beliau, tapi seluruh manusia sejagat raya bisa menikmati kucuran rahmat dari lahirnya beliau di muka bumi ini.

Keberadaan beliau pun sudah diisyaratkan di beberapa kitab terdahulu. Alquran sudah menjelaskan secara detail bahwa kaum Yahudi dan Nasrani sebenarnya memahami dan mengetahui tentang risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, hanya saja mereka menyembunyikan kebenaran itu. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 146 ”Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahuinya”.

Tafsir dan penjelasan ayat yang dikutip dari Kemenag menyebutkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat mengenal kenabian dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW karena telah disebutkan secara gamblang dalam Taurat dan Injil. Ayat ini menjadi sandaran bagi kita bahwa risalah yang diemban oleh Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir nyata adanya dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pengakuan pendeta Yahudi akan kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan di kitab-kitab mu’tabarah menjadi landasan kuat akan kepribadian beliau. Tepat di umur sembilan tahun sang paman membawa Muhammad kecil ke Kota Bushra, Negeri Syam untuk mencari pencaharian sebagai pedagang. Di sana, ia bertemu dengan salah satu pendeta terkemuka Bahirah. Ia menyebutkan bahwa kelak Muhammad akan menjadi pemimpin umat dan akan mengubah tatanan dan peradaban dunia menjadi sangat dahsyat. Tidak ada alasan yang bisa dijadikan sandaran untuk tidak cinta dan hormat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang muslim, kita sudah punya tameng yang sangat kuat untuk tetap menambah mahabbah dan cinta kepada Rasulullah SAW yaitu kisah-kisah yang tertuang dalam kitab suci atau pun cerita-cerita yang tertutur dari pendeta-pendeta sebelum datangnya Islam.

Kejadian-kejadian di atas tentunya akan berpengaruh terhadap kerisalahan yang diemban oleh Rasulullah SAW.

Dalam arti, lahirnya saja sudah ada bukti-bukti nyata, maka sudah barang tentu ia akan membawa risalah Tuhan yang terkonsep dengan rapi dan sempurna. Terlepas dari itu semua, risalah paling pokok yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW adalah akhlak dan ibadah.

Akhlak sebagai poin penting yang semestinya seluruh elemen masyarakat harus mengedepankan hal itu. Pendidikan yang dibangun di negeri ini harus bernuansa moral (akhlak), agar tercipta kader-kader atau penerus bangsa yang mampu mengubah tatanan ke arah yang lebih baik. Rasulullah SAW menjadikan misi utamanya diutus oleh Allah untuk memperbaiki kualitas akhlak manusia kala itu. Ia berani mendobrak tatanan jahiliah menuju tatanan yang sesuai dengan aturan-aturan dalam Islam.

Risalah ini bisa kita rasakan dampaknya sampai detik ini. Maulid sebisa mungkin jangan hanya dijadikan sebagai serangkaian formalitas belaka. Lebih dari itu kualitas akhlak harus semakin diperbaiki agar Rasulullah SAW bisa tersenyum melihat umatnya yang selalu mengidolakan dirinya. 

Ibadah sebagai bentuk hubungan langsung antara makhluk dengan Khaliq juga dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Kalaupun beliau aktivitas sehari-harinya berdagang kala itu, ia tidak henti-hentinya untuk tetap beribadah kepada Allah SWT. Padahal beliau sudah dijamin oleh Allah untuk menempati surga, tapi beliau tetap rajin melaksanakan ibadah. Kita sebagai umatnya punya kewajiban untuk mencontoh kepribadian beliau. Jangan lengah untuk selalu beribadah dan mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. (*)

 *) Dosen Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/