alexametrics
27 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Kupat, Ngaku Lepat, dan Laku Papat

Setelah satu bulan lamanya melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan, hari raya Idul Fitri atau Lebaran telah tiba. Idul Fitri mengandung makna fitrah atau kembali suci. Saat Idul Fitri atau Lebaran adalah momen setiap orang untuk saling bertemu dan saling maaf memaafkan, meminta maaf atas kesalahan yang di sengaja maupun tidak sengaja, baik lisan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin, dalam momen ini penerima maaf akan memberikan maaf dengan sukarela dan rasa ikhlas. Idul Fitri merupakan rekonsiliasi masif dan masal yang menciptakan suasana tenteram dan akrab di tengah – tengah masyarakat. Tradisi ini bukan hanya dapat dimaknai sebagai peristiwa teologis, tapi juga fenomena budaya yang dimiliki oleh masyarakat muslim pada umumnya.

Idul Fitri atau Lebaran selain identik setiap orang untuk saling maaf memaafkan, juga identik dengan makanan khas yang adanya cuma di momen Lebaran. Yaitu ketupat atau orang Banyuwangi menyebutnya kupat. Kupat sangat identik dengan hari raya Idul Fitri. Hampir setiap ada ucapan selamat Idul Fitri tertera gambar kupat. Di mana-mana kupat selalu ada pada waktu Hari Raya Idul Fitri. Ada yang menjumpai adanya kupat pas Hari Raya Idul Fitri menginjak tujuh hari dengan istilah Lebaran Kupatan.

Di Banyuwangi, setiap rumah bila menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, semua orang disibukkan dengan membuat kupat. Jadi pas hari raya tiba, ketika kita bersilaturahmi selalu ada suguhan kupat. Kupat di balik rasanya yang enak bila dimakan dengan sate, proses membuatnya pun terbilang susah bagi orang yang tidak biasa.

Kupat terbuat dari beras yang dibalut janur kelapa yang dianyam menjadi bentuk kubus. Setelah beras dimasukkan di dalam anyaman janur kelapa tersebut proses selanjutnya adalah kupat direbus dengan memakan waktu berjam-jam. Butuh waktu sekitar empat jam untuk merebus kupat hingga bisa dinyatakan matang dengan sempurna. Meskipun proses pembuatan kupat tidak mudah, namun tradisi kupat setiap Lebaran tidak pernah pudar hingga kini. Lantas, apakah kupat ini hanya sekadar hidangan pelengkap saat Lebaran?

Baca Juga :  Mari Bangkit dan Berprogres

 

Sejarah dan Filosofi Kupat

Kupat tidak hanya sekadar pelengkap hidangan saat Lebaran. Kupat memiliki sejarah dan filosofi tersendiri. Ternyata kupat sudah ada sejak zaman Hindu – Buddha. Jauh sebelum kupat menjadi tradisi Lebaran masyarakat Indonesia, kupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Asimilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan kupat menjadi tradisi Islami.

Dalam filosofi Jawa, ketupat atau kupat memiliki makna khusus. Kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Tradisi sungkem kepada orang yang lebih tua saat hari raya Lebaran menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan). Maka tidak salah, bila Lebaran tiba saat setelah kita melaksanakan salat ied kita dianjurkan untuk sungkem kepada orang tua. Terkhusus kepada kedua orang tua kita, proses sungkem di sini bermaksud memohon ampun atau meminta maaf. Barangkali selama ini mempunyai banyak salah baik yang disengaja atau tidak, baik tindakan maupun ucapan. Sungkeman mengajarkan kita akan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan ampunan.

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut antara lain lebaran, luberan, liburan, dan laburan. Lebaran berasal dari lebar memiliki arti selesai. Di sini dimaksudkan bahwa tugas sudah selesai dilaksanakan dengan baik. Lebaran terjadi karena kewajiban melaksanakan puasa Ramadan telah ditunaikan dengan baik. Namun menurut para sepuh, bukan berarti semuanya sudah rampung. Ada implikasi dari itu, mengingat bulan Ramadan adalah bulan tarbiyah, harus ada hasil nyata dari puasa yang dilakoninya, kesyukuran. Di antara implikasi itu adalah leburan, luberan, dan laburan.

Baca Juga :  Peran Pemuda Islam di Era Zaman Now

Leburan dari kata lebur yang artinya larut atau hilang. Selesainya pelaksanaan tugas puasa akan meleburkan semua kesalahan orang lain kepadanya. Maaf diberikan kepada semua orang lain yang bersalah kepadanya, bahkan sebelum diminta. Tidak lagi teringat dendam, kemarahan apalagi keinginan balas dendam. Semua itu sudah lebur. Harapannya sesudah itu dia akan menjadi pemaaf dan tidak mengingat-ingat lagi kesalahan orang.

Luberan dari kata luber yang artinya melimpah. Dari orang yang berpuasa yang sudah merasa laparnya mereka yang kesulitan, maka dia membayar zakat fitrah sebagai langkah awal yang akan diikuti oleh pemberian – pemberian lain sesudahnya. Diharapkan dia akan menjadi dermawan yang selalu melimpahkan rezekinya kepada yang membutuhkan.

Laburan dari kata labur, yang biasa dipakai untuk membuat putih tembok. Orang yang selesai berpuasa, yang sudah sukses berhubungan dengan Tuhan, akan menjadi pemaaf, menjadi dermawan maka jiwanya menjadi putih, sebersih jiwanya ketika dilahirkan dari rahim ibunya.

Itulah makna dari kupat yang selama ini kita jumpai di saat Lebaran tiba, jadi jangan asal membuat dan makan saja, pahami sejarah dan filosofi yang terkandungnya. harapannya setelah Lebaran ini kita semua kembali fitrah. Jangan ada permusuhan dan dendam lagi di antara kita, baik sesama muslim maupun nonmuslim, kita harus bersatu. Terlebih setelah Lebaran ini, kita masih dalam cobaan hidup, yaitu dengan masih merebaknya virus Covid–19.  Satu dua tiga empat, hari Lebaran makan kupat. Mumpung momen Lebaran, kesalahan penulis mohon untuk dimaafkan. Mohon Maaf lahir Batin. (*)

*) Pegiat di Forum Belajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (FBM2B) Banyuwangi.

Setelah satu bulan lamanya melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan, hari raya Idul Fitri atau Lebaran telah tiba. Idul Fitri mengandung makna fitrah atau kembali suci. Saat Idul Fitri atau Lebaran adalah momen setiap orang untuk saling bertemu dan saling maaf memaafkan, meminta maaf atas kesalahan yang di sengaja maupun tidak sengaja, baik lisan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin, dalam momen ini penerima maaf akan memberikan maaf dengan sukarela dan rasa ikhlas. Idul Fitri merupakan rekonsiliasi masif dan masal yang menciptakan suasana tenteram dan akrab di tengah – tengah masyarakat. Tradisi ini bukan hanya dapat dimaknai sebagai peristiwa teologis, tapi juga fenomena budaya yang dimiliki oleh masyarakat muslim pada umumnya.

Idul Fitri atau Lebaran selain identik setiap orang untuk saling maaf memaafkan, juga identik dengan makanan khas yang adanya cuma di momen Lebaran. Yaitu ketupat atau orang Banyuwangi menyebutnya kupat. Kupat sangat identik dengan hari raya Idul Fitri. Hampir setiap ada ucapan selamat Idul Fitri tertera gambar kupat. Di mana-mana kupat selalu ada pada waktu Hari Raya Idul Fitri. Ada yang menjumpai adanya kupat pas Hari Raya Idul Fitri menginjak tujuh hari dengan istilah Lebaran Kupatan.

Di Banyuwangi, setiap rumah bila menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, semua orang disibukkan dengan membuat kupat. Jadi pas hari raya tiba, ketika kita bersilaturahmi selalu ada suguhan kupat. Kupat di balik rasanya yang enak bila dimakan dengan sate, proses membuatnya pun terbilang susah bagi orang yang tidak biasa.

Kupat terbuat dari beras yang dibalut janur kelapa yang dianyam menjadi bentuk kubus. Setelah beras dimasukkan di dalam anyaman janur kelapa tersebut proses selanjutnya adalah kupat direbus dengan memakan waktu berjam-jam. Butuh waktu sekitar empat jam untuk merebus kupat hingga bisa dinyatakan matang dengan sempurna. Meskipun proses pembuatan kupat tidak mudah, namun tradisi kupat setiap Lebaran tidak pernah pudar hingga kini. Lantas, apakah kupat ini hanya sekadar hidangan pelengkap saat Lebaran?

Baca Juga :  Ponsel: Akankah Mewakili Perasaan Kita?

 

Sejarah dan Filosofi Kupat

Kupat tidak hanya sekadar pelengkap hidangan saat Lebaran. Kupat memiliki sejarah dan filosofi tersendiri. Ternyata kupat sudah ada sejak zaman Hindu – Buddha. Jauh sebelum kupat menjadi tradisi Lebaran masyarakat Indonesia, kupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Asimilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan kupat menjadi tradisi Islami.

Dalam filosofi Jawa, ketupat atau kupat memiliki makna khusus. Kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Tradisi sungkem kepada orang yang lebih tua saat hari raya Lebaran menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan). Maka tidak salah, bila Lebaran tiba saat setelah kita melaksanakan salat ied kita dianjurkan untuk sungkem kepada orang tua. Terkhusus kepada kedua orang tua kita, proses sungkem di sini bermaksud memohon ampun atau meminta maaf. Barangkali selama ini mempunyai banyak salah baik yang disengaja atau tidak, baik tindakan maupun ucapan. Sungkeman mengajarkan kita akan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan ampunan.

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut antara lain lebaran, luberan, liburan, dan laburan. Lebaran berasal dari lebar memiliki arti selesai. Di sini dimaksudkan bahwa tugas sudah selesai dilaksanakan dengan baik. Lebaran terjadi karena kewajiban melaksanakan puasa Ramadan telah ditunaikan dengan baik. Namun menurut para sepuh, bukan berarti semuanya sudah rampung. Ada implikasi dari itu, mengingat bulan Ramadan adalah bulan tarbiyah, harus ada hasil nyata dari puasa yang dilakoninya, kesyukuran. Di antara implikasi itu adalah leburan, luberan, dan laburan.

Baca Juga :  Adat Kampung yang Masih Lestari

Leburan dari kata lebur yang artinya larut atau hilang. Selesainya pelaksanaan tugas puasa akan meleburkan semua kesalahan orang lain kepadanya. Maaf diberikan kepada semua orang lain yang bersalah kepadanya, bahkan sebelum diminta. Tidak lagi teringat dendam, kemarahan apalagi keinginan balas dendam. Semua itu sudah lebur. Harapannya sesudah itu dia akan menjadi pemaaf dan tidak mengingat-ingat lagi kesalahan orang.

Luberan dari kata luber yang artinya melimpah. Dari orang yang berpuasa yang sudah merasa laparnya mereka yang kesulitan, maka dia membayar zakat fitrah sebagai langkah awal yang akan diikuti oleh pemberian – pemberian lain sesudahnya. Diharapkan dia akan menjadi dermawan yang selalu melimpahkan rezekinya kepada yang membutuhkan.

Laburan dari kata labur, yang biasa dipakai untuk membuat putih tembok. Orang yang selesai berpuasa, yang sudah sukses berhubungan dengan Tuhan, akan menjadi pemaaf, menjadi dermawan maka jiwanya menjadi putih, sebersih jiwanya ketika dilahirkan dari rahim ibunya.

Itulah makna dari kupat yang selama ini kita jumpai di saat Lebaran tiba, jadi jangan asal membuat dan makan saja, pahami sejarah dan filosofi yang terkandungnya. harapannya setelah Lebaran ini kita semua kembali fitrah. Jangan ada permusuhan dan dendam lagi di antara kita, baik sesama muslim maupun nonmuslim, kita harus bersatu. Terlebih setelah Lebaran ini, kita masih dalam cobaan hidup, yaitu dengan masih merebaknya virus Covid–19.  Satu dua tiga empat, hari Lebaran makan kupat. Mumpung momen Lebaran, kesalahan penulis mohon untuk dimaafkan. Mohon Maaf lahir Batin. (*)

*) Pegiat di Forum Belajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (FBM2B) Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/