alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Catatan: ESTI ARINENG TYAS*

Mengenal Ritual Tari Seblang (Sebele Ilang)

BANYUWANGI dikenal kaya akan adat tradisi budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah tradisi unik yang digelar warga sebagai keperluan bersih desa dan tolak bala agar desa tetap aman dan tenteram yakni, seblang.

Sebenarnya Seblang sudah ada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, sejak tahun 1930. Namun dipercaya, Tari Seblang merupakan tradisi yang sangat tua, berusia ratusan tahun, hingga sulit dilacak bagaimana asal usul dimulainya.

Namun, salah satu teori mengatakan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). (Teori ini diragukan karena sebelum semi lahir, Seblang sudah ada dan Gandrung sebagai buah keturunan Seblang pun sudah ada).

Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Ada perbedaan yang signifikan antara tarian Seblang yang ada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, dengan tarian Seblang yang ada di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Giri. Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan sang penarinya.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua daerah tersebut berbeda waktunya.

Seblang di Desa Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, dengan penari perempuan yang masih perawan. Sedangkan seblang di Kelurahan Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha, dan penarinya harus perempuan yang sudah monopause.

Namun, keduanya juga mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama ditarikan selama tujuh hari berturut-turut dalam kondisi sang penari kerasukan (trance) roh leluhur. Para penarinya dipilih secara supranatural oleh seseorang yang biasa disebut masyarakat sekitar dengan Gambuh atau juga dikenal sebagai pawang. Dan biasanya, penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang Gambuh atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada di belakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bambu). Sang pawang mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantra. Setelah sang penari kesurupan alias tak sadarkan diri (kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tampah tadi, maka pertunjukan pun dimulai.

Penari seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam, dan mengikuti arah sang pawang, serta irama gending yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

Sedangkan Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olehsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olehsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan. Khususnya pada bagian omprog (mahkota), baju, dan selendang. Pada penari Seblang di Desa Olehsari, omprog biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari. Sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprog. Baju berwarna dominan hijau sampai kuning. Dan selendang diselipkan ke pinggang.

Sementara itu, pada penari Seblang di Bakungan, omprog yang dipakai terbuat dari kain kaffan yang disuwir-suwir hingga menutup sebagian wajah penari, atasnya dari bunga kuburan. Baju berwarna dominan kuning kemerah-merahan. Di samping unsur mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat. Di mana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Seblang berarti menghilangkan pengaruh buruk. Karena itu gaya tarian ini membuang tangan ke kanan atau ke kiri. “Seblang ini kalau ikut bahasa Osing singkatan dari Sebele Ilang (hilang sialnya). Jadi, biar semua hal yang tidak menyenangkan seperti penyakit dan bala-bala lain yang tidak menyenangkan ini hilang, dan berharap kemakmuran.

Di akhir tarian nanti, Seblang akan membagikan bunga yang ditancapkan pada lidi yang biasa disebut dengan Kembang Dermo, yang konon bisa mendatangkan kemakmuran. Sedangkan di hari terakhir, Seblang akan ditutup dengan prosesi Ider Bumi, bersih desa. (*)

BANYUWANGI dikenal kaya akan adat tradisi budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah tradisi unik yang digelar warga sebagai keperluan bersih desa dan tolak bala agar desa tetap aman dan tenteram yakni, seblang.

Sebenarnya Seblang sudah ada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, sejak tahun 1930. Namun dipercaya, Tari Seblang merupakan tradisi yang sangat tua, berusia ratusan tahun, hingga sulit dilacak bagaimana asal usul dimulainya.

Namun, salah satu teori mengatakan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). (Teori ini diragukan karena sebelum semi lahir, Seblang sudah ada dan Gandrung sebagai buah keturunan Seblang pun sudah ada).

Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Ada perbedaan yang signifikan antara tarian Seblang yang ada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, dengan tarian Seblang yang ada di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Giri. Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan sang penarinya.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua daerah tersebut berbeda waktunya.

Seblang di Desa Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, dengan penari perempuan yang masih perawan. Sedangkan seblang di Kelurahan Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha, dan penarinya harus perempuan yang sudah monopause.

Namun, keduanya juga mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama ditarikan selama tujuh hari berturut-turut dalam kondisi sang penari kerasukan (trance) roh leluhur. Para penarinya dipilih secara supranatural oleh seseorang yang biasa disebut masyarakat sekitar dengan Gambuh atau juga dikenal sebagai pawang. Dan biasanya, penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang Gambuh atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada di belakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bambu). Sang pawang mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantra. Setelah sang penari kesurupan alias tak sadarkan diri (kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tampah tadi, maka pertunjukan pun dimulai.

Penari seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam, dan mengikuti arah sang pawang, serta irama gending yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

Sedangkan Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olehsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olehsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan. Khususnya pada bagian omprog (mahkota), baju, dan selendang. Pada penari Seblang di Desa Olehsari, omprog biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari. Sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprog. Baju berwarna dominan hijau sampai kuning. Dan selendang diselipkan ke pinggang.

Sementara itu, pada penari Seblang di Bakungan, omprog yang dipakai terbuat dari kain kaffan yang disuwir-suwir hingga menutup sebagian wajah penari, atasnya dari bunga kuburan. Baju berwarna dominan kuning kemerah-merahan. Di samping unsur mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat. Di mana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Seblang berarti menghilangkan pengaruh buruk. Karena itu gaya tarian ini membuang tangan ke kanan atau ke kiri. “Seblang ini kalau ikut bahasa Osing singkatan dari Sebele Ilang (hilang sialnya). Jadi, biar semua hal yang tidak menyenangkan seperti penyakit dan bala-bala lain yang tidak menyenangkan ini hilang, dan berharap kemakmuran.

Di akhir tarian nanti, Seblang akan membagikan bunga yang ditancapkan pada lidi yang biasa disebut dengan Kembang Dermo, yang konon bisa mendatangkan kemakmuran. Sedangkan di hari terakhir, Seblang akan ditutup dengan prosesi Ider Bumi, bersih desa. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/