alexametrics
25 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Apa Kabar Buffer Zone Kita

BANJIR di perkampungan Afdeling Sumbergandeng, Dusun Sumberjambe, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, sudah surut sebulan lalu. Pun di Kelurahan Pakis dan Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. Demikian pula di Wongsorejo.

Warga di tiga wilayah itu kini sudah bisa tidur nyenyak. Tapi, semoga pemerintah tidak seperti mereka. Khushushon, tim BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Mereka tidak boleh gampang lupa. Sebaliknya, harus larut dalam rasa penasaran terhadap apa yang sudah dan akan terjadi. 

Kita sangat ingin punya tim BPBD yang tangguh. Yang tidak larut dalam rutinitas tahunan. Seperti memetakan wilayah rawan bencana (banjir dan longsor) setiap memasuki musim hujan. Juga, menyusun rencana antisipasi: meningkatkan kesiagaan/kesigapan, mitigasi, menyebar peringatan dini, dan koordinasi dengan TNI-Polri.   

Tugas rutin semacam itu memang efektif untuk mengatasi banjir. Setidaknya, meminimalisasi korban jiwa dan kerugian harta. Namun, program-program itu tidak bisa diandalkan untuk mencegah terjadinya banjir. Pencegahan bah membutuhkan program jangka panjang. Bukan short term programs. 

Meski program jangka panjang itu bisa dimulai dari ketika banjir terjadi. ”Lihat air banjirnya. Banyak lumpurnya atau tidak. Lumpurnya pekat atau encer,” kata seorang pejabat pemkab, saat ngobrol santai di sela-sela acara di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, beberapa waktu lalu.

Kalau lumpurnya pekat dan diikuti batang kayu atau tanaman lainnya, lanjut dia, patut ditelusuri dari mana asal lumpur dan kayu-kayu itu sampai ke hulunya. Bisa jadi, kondisi hulunya sudah gundul. Tidak ada lagi akar-akar pohon besar yang mampu menahan air hujan. Hujan langsung mengalir begitu saja. Ngeloyor pergi karena tidak ada lagi yang ”dihampiri”. Dengan mudah air hujan itu membawa serta tanah ke sepanjang aliran sungai.

Kontan saja, luberan air bercampur tanah itu menjadi bencana bagi warga di hilir. Atau, malah mereka yang tinggal sebelum hilir pun kena getahnya juga. Areal wilayahnya dari genangan air bah. Berikut barang dan benda ikutannya. Bukan hanya lumpur pekat. Melainkan juga batang kayu dan konco-konco-nya.

Menginspeksi kondisi hulu itu menjadi solusi konkret. Bila pemerintah serius ingin menangani banjir secara permanen. Setelah ketemu biangnya langsung dieksekusi cara memulihkannya. Misal, melakukan reboisasi besar-besaran. Melakukan penanaman massal pohon-pohon naungan dan memperbanyak rumpun bambu.

Jujur, sekarang sulit sekali menemukan tanaman bambu di pinggir sungai. Bambunya terus dieksplotasi jadi berbagai macam produk. Memotongnya ngawur. Bukan hanya bambu yang sudah tua. Rebungnya (tunas-tunas mudanya) ikutan dibabat. Dijual ke pasar. Atau dikonsumsi sendiri. Menjadi  sayur yang nikmat. Jadinya, tidak ditinggalkan sedikit pun calon-calon batang barunya.

Kita berharap, pemkab dan pemangku kepentingan sudah menginspeksi kondisi buffer zone kota Banyuwangi. Seingat saya, sabuk pengaman Kota Gandrung ada di kaki Gunung Ijen sampai wilayah Kalibendo. Bagimana kondisinya?

Harus dibentuk tim khusus. Bila perlu melibatkan pihak independen. Yang tegas dan bisa membuat penilaian objektif. Bila, misalnya, menemukan kondisi hutan di sekitar Ijen dan Kalibendo sudah rusak dan gundul, mereka akan membuat rekomendasi. Mulai dari yang ringan seperti harus segera dilakukan penanaman kembali pepohonan secara masif, sampai rekomendasi paling berat: membawanya ke jalur hukum.

Langkah tegas memang harus diambil. Bila terbukti kondisi buffer zone sudah kritis, warga di Kecamatan Licin, Glagah, Kalipuro, dan Banyuwangi dalam bahaya besar. Longsoran dan juga banjir endut akan menyapu warga di empat kecamatan yang berada di bawah Gunung Ijen itu.

Sekarang pilihannya dua: inspeksi buffer zone atau pasrah menerima nasib. Kalau pilihannya jatuh pada yang nomor dua, itu sama saja dengan membiarkan perbuatan dholim di depan mata. Yakni, membabati kayu-kayu besar yang selama ini efektif menyerap dan menahan air hujan dengan alasan yang dibuat-buat—karena sudah terlalu tua dan lapuk sehingga membahayakan kesalamatan. Membahayakan siapa? Hutan atau kebun kan bukan tempat umum. Parahnya lagi, bila mereka enggan melakukan upaya menanam pohon kembali sebagai pengganti tanaman yang sudah ditebangnya.

Semoga pemerintah dan pihak terkait tidak lalai.

Wa ba’du. Soal bencana akibat ulah manusia sudah tergariskan dalam Alquran. Yang paling sering dipakai rujukan orang adalah surah Ar-Rum, ayat 41: ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali”.

Ada dua kata kunci dari ayat itu. Pertama, kata zhahara yang menjadi pembuka ayat tersebut. Pada mulanya, zhahara berarti: ”terjadinya sesuatu di permukaan bumi”. Itu sebabnya, kejadiannya bisa diketahui dengan jelas. Beda dengan bathana (lawan zhahara) yang berarti:  ”terjadinya sesuatu di dalam perut bumi”, makanya tidak tampak mata. Begitu kata Ashfahani dalam maqayis-nya seperti dikutip Prof M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, volume 10.

Kata kunci kedua adalah al-fasad. Ashfahani mengartikan sebagai:  ”keluarnya sesuatu dari keseimbangan, baik sedikit maupun banyak”. Meliputi apa saja: jasmani, jiwa, maupun hal lain. Ulama kontemporer memahaminya sebagai kerusakan lingkungan. Sebab, ayat di atas mengaitkan fasad dengan kata ”darat” dan ”laut’.

Yang terjadi saat ini, sebagian daratan dan lautan mengalami kerusakan. Maka, ketidakseimbangan pun terjadi. Seperti di lautan yang tercemar banyak ikan mati. Pelan tapi pasti, hasil laut berkurang. Sementara daratan (meliputi hutan, kebun, dan ladang) mulai gundul, sehingga cuaca makin panas dan kemarau panjang.

Penebangan hutan yang sembarangan terbukti telah mengacaukan keseimbangan lingkungan. Terganggunya keseimbangan lingkungan berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Bencana terus terjadi. Terutama banjir dan tanah longsor.

Padahal, kata Ibnu ’Asyur seperti dinukil Porf Quraish Shihab: alam raya diciptakan Allah dalam satu sistem yang sangat serasi. Sesuai dengan kehidupan manusia. Namun, kemudian manusia melakukan kegiatan buruk yang merusak. Akibatnya, terjadi kepincangan yang sangat parah. Kepincangan itu menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem kerja alam.

Dari tadabbur surah Ar-Rum ayat 41, yang singkat ini, kita dapat pelajaran penting. Bahwa semakin banyak dan masif perusakan lingkungan hidup, makin besar pula dampak buruknya yang harus diterima manusia. Bukan hanya mereka yang melakukan perusakan, orang yang tidak melakukannya pun terkena dampaknya.

Betapa jahatnya orang yang merusak alam. Menebang pohon seenaknya udelnya!

*) Pekolom Banyuwangi

BANJIR di perkampungan Afdeling Sumbergandeng, Dusun Sumberjambe, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, sudah surut sebulan lalu. Pun di Kelurahan Pakis dan Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. Demikian pula di Wongsorejo.

Warga di tiga wilayah itu kini sudah bisa tidur nyenyak. Tapi, semoga pemerintah tidak seperti mereka. Khushushon, tim BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Mereka tidak boleh gampang lupa. Sebaliknya, harus larut dalam rasa penasaran terhadap apa yang sudah dan akan terjadi. 

Kita sangat ingin punya tim BPBD yang tangguh. Yang tidak larut dalam rutinitas tahunan. Seperti memetakan wilayah rawan bencana (banjir dan longsor) setiap memasuki musim hujan. Juga, menyusun rencana antisipasi: meningkatkan kesiagaan/kesigapan, mitigasi, menyebar peringatan dini, dan koordinasi dengan TNI-Polri.   

Tugas rutin semacam itu memang efektif untuk mengatasi banjir. Setidaknya, meminimalisasi korban jiwa dan kerugian harta. Namun, program-program itu tidak bisa diandalkan untuk mencegah terjadinya banjir. Pencegahan bah membutuhkan program jangka panjang. Bukan short term programs. 

Meski program jangka panjang itu bisa dimulai dari ketika banjir terjadi. ”Lihat air banjirnya. Banyak lumpurnya atau tidak. Lumpurnya pekat atau encer,” kata seorang pejabat pemkab, saat ngobrol santai di sela-sela acara di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, beberapa waktu lalu.

Kalau lumpurnya pekat dan diikuti batang kayu atau tanaman lainnya, lanjut dia, patut ditelusuri dari mana asal lumpur dan kayu-kayu itu sampai ke hulunya. Bisa jadi, kondisi hulunya sudah gundul. Tidak ada lagi akar-akar pohon besar yang mampu menahan air hujan. Hujan langsung mengalir begitu saja. Ngeloyor pergi karena tidak ada lagi yang ”dihampiri”. Dengan mudah air hujan itu membawa serta tanah ke sepanjang aliran sungai.

Kontan saja, luberan air bercampur tanah itu menjadi bencana bagi warga di hilir. Atau, malah mereka yang tinggal sebelum hilir pun kena getahnya juga. Areal wilayahnya dari genangan air bah. Berikut barang dan benda ikutannya. Bukan hanya lumpur pekat. Melainkan juga batang kayu dan konco-konco-nya.

Menginspeksi kondisi hulu itu menjadi solusi konkret. Bila pemerintah serius ingin menangani banjir secara permanen. Setelah ketemu biangnya langsung dieksekusi cara memulihkannya. Misal, melakukan reboisasi besar-besaran. Melakukan penanaman massal pohon-pohon naungan dan memperbanyak rumpun bambu.

Jujur, sekarang sulit sekali menemukan tanaman bambu di pinggir sungai. Bambunya terus dieksplotasi jadi berbagai macam produk. Memotongnya ngawur. Bukan hanya bambu yang sudah tua. Rebungnya (tunas-tunas mudanya) ikutan dibabat. Dijual ke pasar. Atau dikonsumsi sendiri. Menjadi  sayur yang nikmat. Jadinya, tidak ditinggalkan sedikit pun calon-calon batang barunya.

Kita berharap, pemkab dan pemangku kepentingan sudah menginspeksi kondisi buffer zone kota Banyuwangi. Seingat saya, sabuk pengaman Kota Gandrung ada di kaki Gunung Ijen sampai wilayah Kalibendo. Bagimana kondisinya?

Harus dibentuk tim khusus. Bila perlu melibatkan pihak independen. Yang tegas dan bisa membuat penilaian objektif. Bila, misalnya, menemukan kondisi hutan di sekitar Ijen dan Kalibendo sudah rusak dan gundul, mereka akan membuat rekomendasi. Mulai dari yang ringan seperti harus segera dilakukan penanaman kembali pepohonan secara masif, sampai rekomendasi paling berat: membawanya ke jalur hukum.

Langkah tegas memang harus diambil. Bila terbukti kondisi buffer zone sudah kritis, warga di Kecamatan Licin, Glagah, Kalipuro, dan Banyuwangi dalam bahaya besar. Longsoran dan juga banjir endut akan menyapu warga di empat kecamatan yang berada di bawah Gunung Ijen itu.

Sekarang pilihannya dua: inspeksi buffer zone atau pasrah menerima nasib. Kalau pilihannya jatuh pada yang nomor dua, itu sama saja dengan membiarkan perbuatan dholim di depan mata. Yakni, membabati kayu-kayu besar yang selama ini efektif menyerap dan menahan air hujan dengan alasan yang dibuat-buat—karena sudah terlalu tua dan lapuk sehingga membahayakan kesalamatan. Membahayakan siapa? Hutan atau kebun kan bukan tempat umum. Parahnya lagi, bila mereka enggan melakukan upaya menanam pohon kembali sebagai pengganti tanaman yang sudah ditebangnya.

Semoga pemerintah dan pihak terkait tidak lalai.

Wa ba’du. Soal bencana akibat ulah manusia sudah tergariskan dalam Alquran. Yang paling sering dipakai rujukan orang adalah surah Ar-Rum, ayat 41: ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali”.

Ada dua kata kunci dari ayat itu. Pertama, kata zhahara yang menjadi pembuka ayat tersebut. Pada mulanya, zhahara berarti: ”terjadinya sesuatu di permukaan bumi”. Itu sebabnya, kejadiannya bisa diketahui dengan jelas. Beda dengan bathana (lawan zhahara) yang berarti:  ”terjadinya sesuatu di dalam perut bumi”, makanya tidak tampak mata. Begitu kata Ashfahani dalam maqayis-nya seperti dikutip Prof M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, volume 10.

Kata kunci kedua adalah al-fasad. Ashfahani mengartikan sebagai:  ”keluarnya sesuatu dari keseimbangan, baik sedikit maupun banyak”. Meliputi apa saja: jasmani, jiwa, maupun hal lain. Ulama kontemporer memahaminya sebagai kerusakan lingkungan. Sebab, ayat di atas mengaitkan fasad dengan kata ”darat” dan ”laut’.

Yang terjadi saat ini, sebagian daratan dan lautan mengalami kerusakan. Maka, ketidakseimbangan pun terjadi. Seperti di lautan yang tercemar banyak ikan mati. Pelan tapi pasti, hasil laut berkurang. Sementara daratan (meliputi hutan, kebun, dan ladang) mulai gundul, sehingga cuaca makin panas dan kemarau panjang.

Penebangan hutan yang sembarangan terbukti telah mengacaukan keseimbangan lingkungan. Terganggunya keseimbangan lingkungan berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Bencana terus terjadi. Terutama banjir dan tanah longsor.

Padahal, kata Ibnu ’Asyur seperti dinukil Porf Quraish Shihab: alam raya diciptakan Allah dalam satu sistem yang sangat serasi. Sesuai dengan kehidupan manusia. Namun, kemudian manusia melakukan kegiatan buruk yang merusak. Akibatnya, terjadi kepincangan yang sangat parah. Kepincangan itu menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem kerja alam.

Dari tadabbur surah Ar-Rum ayat 41, yang singkat ini, kita dapat pelajaran penting. Bahwa semakin banyak dan masif perusakan lingkungan hidup, makin besar pula dampak buruknya yang harus diterima manusia. Bukan hanya mereka yang melakukan perusakan, orang yang tidak melakukannya pun terkena dampaknya.

Betapa jahatnya orang yang merusak alam. Menebang pohon seenaknya udelnya!

*) Pekolom Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/